Kenapa Bayi Tiba-Tiba Tidak Mau Menyusu? Ini Penyebabnya

Momuung.com – Si Kecil yang biasanya lahap menyusu tiba-tiba menolak payudara? Jangan langsung berpikir ASI Mommy kurang, ya! Bayi menolak menyusu bisa terjadi karena berbagai hal dan dikenal sebagai Nursing strike. Kondisi ini juga bisa berkaitan dengan bingung puting, terutama pada bayi yang terbiasa menggunakan botol.
Yuk, cari tahu penyebab dan cara mengatasinya agar Si Kecil bisa kembali menyusu dengan nyaman. Lanjut baca artikel berikutnya untuk tipsnya, Mom!
DAFTAR ISI
Memahami Kenapa Bayi Mendadak Menolak Menyusu
Saat Si Kecil tiba-tiba menolak payudara, Mommy mungkin langsung khawatir ada yang salah dengan ASI. Padahal, breast refusal atau penolakan menyusu dapat terjadi karena berbagai kondisi dan tidak selalu berarti produksi ASI bermasalah (Australian Breastfeeding Association [ABA], n.d.).
Beberapa penyebab yang perlu Mommy perhatikan antara lain:
- Pelekatan (latch) kurang tepat
Jika mulut bayi belum melekat dengan baik pada payudara, Si Kecil bisa kesulitan mengisap dan mendapatkan ASI secara efektif. Akibatnya, bayi mungkin sering melepas payudara, tampak frustrasi, atau cepat lelah meski baru sebentar menyusu. Jika Mommy melihat tanda seperti ini, coba perhatikan kembali posisi dan pelekatan bayi. Mommy juga bisa membaca artikel Bayi Susah Deep Latch karena Rewel Saat Menyusu? Bisa Jadi Ini Penyebabnya untuk mengenali kemungkinan masalah latch. - Aliran ASI terlalu lambat atau terlalu deras
Ketika let-down reflex berlangsung lebih lambat, bayi yang sudah lapar bisa menjadi tidak sabar karena ASI belum segera mengalir. Sebaliknya, aliran ASI yang terlalu deras dapat membuat bayi kewalahan, misalnya batuk, tersedak, atau berulang kali melepas payudara untuk mengatur napas. - Bayi sedang merasa tidak nyaman
Hidung tersumbat, sariawan, tumbuh gigi, refluks, atau kondisi kesehatan tertentu dapat membuat proses mengisap terasa tidak nyaman. Bayi akhirnya bisa memilih berhenti menyusu meskipun sebenarnya masih membutuhkan ASI. - Ada perubahan dalam pengalaman menyusu
Bayi yang terbiasa mendapatkan susu dengan cara tertentu dapat menunjukkan preferensi atau menolak metode pemberian susu lainnya. Namun, kondisi ini tidak selalu tepat disebut nipple confusion. Penolakan menyusu dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi fisik bayi, pengalaman saat menyusu, serta situasi ketika pemberian susu berlangsung. Karena itu, penyebabnya sebaiknya dilihat secara menyeluruh, bukan langsung menyalahkan satu metode pemberian susu.
Jika Bayi Belum Bisa Menyusu Langsung, Apa yang Bisa Dilakukan?
Jika Si Kecil belum dapat menyusu langsung secara efektif, jangan langsung memilih metode pemberian ASIP sendiri, ya, Mom. Konsultasikan terlebih dahulu dengan konselor laktasi, dokter, atau tenaga kesehatan untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan cara pemberian asupan yang paling sesuai dengan kondisi bayi.
Dalam kondisi tertentu, bayi mungkin tetap membutuhkan ASI, tetapi untuk sementara mendapatkannya melalui metode suplementasi. Pemilihan metode, jumlah tambahan asupan, posisi, hingga penggunaan alat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing bayi dan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan. Tujuannya bukan hanya memastikan kebutuhan asupan dan cairan terpenuhi, tetapi juga tetap mempertahankan kesempatan Si Kecil untuk kembali menyusu langsung ketika kondisinya sudah memungkinkan (World Health Organization [WHO], 2023).
Beberapa metode yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Supplemental Nursing System (SNS)
Supplemental Nursing System (SNS) menggunakan selang kecil yang ditempatkan di dekat puting. Saat bayi tetap menyusu di payudara, ASI perah atau tambahan asupan yang direkomendasikan tenaga kesehatan dapat dialirkan melalui selang tersebut.
Dengan cara ini, bayi tetap mendapatkan asupan sambil melakukan stimulasi mengisap di payudara. SNS dapat dipertimbangkan ketika bayi masih mampu melekat dan mengisap, tetapi membutuhkan tambahan asupan selama proses menyusu (Çalıkuşu İncekar et al., 2021).
Secara sederhana, prosesnya dilakukan dengan:
- Bayi diposisikan dan dilekatkan ke payudara seperti saat menyusu biasa.
- Selang tipis dari sistem SNS ditempatkan di dekat puting dan berada di area mulut bayi.
- Ketika bayi mengisap, cairan dari wadah SNS dapat mengalir melalui selang.
- Bayi tetap mendapatkan pengalaman menyusu langsung sambil menerima tambahan asupan.
2. Finger Feeding
Finger feeding merupakan metode pemberian ASI atau asupan menggunakan jari dan alat bantu tertentu. Bayi melakukan gerakan mengisap pada jari, sementara ASI atau cairan diberikan melalui alat bantu yang sesuai.
Metode ini dapat menjadi salah satu alternatif ketika bayi sementara belum mampu melekat atau menyusu langsung secara efektif. Namun, teknik pemberiannya perlu disesuaikan dengan kemampuan bayi agar proses mengisap, menelan, dan bernapas tetap berlangsung dengan aman.
Dalam penelitian Karabayir et al. (2022) terhadap 41 bayi yang mengikuti program relaktasi, 30 bayi atau sekitar 73,2% mampu melakukan gerakan mengisap saat menggunakan finger feeding. Meski menunjukkan potensi sebagai metode alternatif, penelitian tersebut masih melibatkan jumlah bayi yang terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut pada populasi yang lebih besar.
Mana yang Lebih Sesuai untuk Si Kecil?
Tidak ada satu metode yang otomatis paling baik untuk semua bayi. SNS, finger feeding, maupun metode pemberian ASI perah lainnya perlu dipilih berdasarkan kondisi dan kemampuan Si Kecil.
Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:
- kemampuan bayi mengisap dan menelan;
- koordinasi sucking, swallowing, dan breathing;
- kemampuan bayi melakukan pelekatan di payudara;
- usia dan kondisi kesehatan bayi, termasuk apakah lahir prematur;
- serta kecukupan asupan yang dibutuhkan bayi.
Karena itu, Mommy sebaiknya tidak menentukan sendiri metode, dosis atau jumlah tambahan ASIP, maupun durasi pemberiannya. Konselor laktasi, dokter, atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan metode, posisi, jenis alat, serta jumlah asupan tambahan yang sesuai dengan kondisi Mommy dan Si Kecil.
Selain SNS dan finger feeding, ada beberapa pilihan media lain yang dapat digunakan untuk memberikan ASI perah tanpa harus langsung menggunakan botol. Kalau Mommy ingin mengetahui alternatifnya dan memahami kapan masing-masing metode bisa dipertimbangkan, yuk baca juga artikel Anti Bingung Puting! Ini 4 Alternatif Media Pemberian ASIP untuk Bayi.
Pada akhirnya, metode pemberian ASIP yang paling tepat, jumlah suplementasi, dan cara penggunaannya dapat berbeda pada setiap ibu dan bayi. Jadi, jika Si Kecil belum bisa menyusu langsung secara efektif, jangan ragu untuk mencari pendampingan tenaga kesehatan agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi sekaligus mendukung proses menyusu langsung ke depannya.
Tips Menghadapi Nursing Strike
Selain mencari tahu penyebab nursing strike, Mommy bisa mencoba beberapa cara sederhana untuk membuat Si Kecil kembali nyaman dengan proses menyusu. Fokusnya bukan memaksa bayi untuk langsung menyusu, tetapi menciptakan suasana yang membuatnya merasa aman dan rileks.
1. Coba Skin-to-Skin Contact
Saat bayi sedang menolak menyusu, jangan langsung mengarahkan mulutnya ke payudara. Mulailah dengan skin-to-skin contact untuk membantu Si Kecil merasa lebih tenang (ABA, n.d.).
Caranya:
- Dekap bayi di dada Mommy dengan hanya menggunakan popok, sementara dada Mommy terbuka.
- Posisikan bayi dengan nyaman dan pastikan hidungnya tetap bebas agar ia dapat bernapas dengan baik.
- Biarkan Si Kecil beristirahat di dada Mommy tanpa diarahkan atau dipaksa untuk menyusu.
- Jika bayi mulai membuka mulut, mencari payudara, atau melakukan gerakan rooting, Mommy bisa menawarkan payudara secara perlahan.
Kontak kulit ke kulit juga menjadi bagian penting dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setelah bayi lahir. Mommy bisa membaca artikel 3 Manfaat IMD bagi Bayi Baru Lahir dan Tips Melakukannya untuk mengetahui manfaat dan cara melakukannya.
2. Tawarkan Payudara Saat Bayi Sedang Tenang
Bayi yang sudah menangis kencang atau terlalu lapar biasanya lebih sulit diajak menyusu. Karena itu, Mommy bisa menawarkan payudara ketika Si Kecil masih tenang, misalnya saat baru bangun tidur, mulai mengantuk, sedang dipeluk dengan nyaman, atau mulai menunjukkan tanda lapar seperti membuka mulut dan mencari puting (ABA, n.d.).
Dekatkan bayi ke payudara dan biarkan ia mencoba melakukan pelekatan (latch) dengan sendirinya. Jika menolak, jangan dipaksa. Tenangkan terlebih dahulu dan coba tawarkan kembali beberapa saat kemudian agar pengalaman menyusu tetap terasa nyaman.
3. Buat Suasana Menyusu Lebih Tenang
Lingkungan yang terlalu ramai dapat membuat bayi lebih sulit berkonsentrasi saat menyusu, terutama ketika ia mulai semakin tertarik dengan berbagai hal di sekitarnya. Saat menghadapi nursing strike, Mommy bisa membuat sesi menyusu lebih tenang dengan:
- memilih ruangan yang minim distraksi,
- mengurangi suara televisi atau percakapan yang terlalu ramai,
- meredupkan lampu jika Si Kecil lebih nyaman dalam suasana redup,
- menggendong bayi dengan nyaman sebelum menawarkan payudara.
Jika Si Kecil sering melepas payudara atau sulit fokus saat menyusu karena mudah terdistraksi, Mommy bisa membaca artikel Bayi 3 Bulan Mudah Terdistraksi Saat Menyusu? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.
4. Pastikan Kebutuhan ASI Bayi Tetap Terpenuhi
Selama nursing strike, jangan hanya berfokus agar bayi kembali menyusu langsung. Kecukupan asupan tetap menjadi prioritas.
Jika Si Kecil belum dapat menyusu langsung dengan efektif, Mommy dapat:
- memberikan ASI perah dengan metode pemberian yang sesuai,
- mengikuti jumlah dan frekuensi pemberian yang direkomendasikan tenaga kesehatan,
- memantau kondisi bayi dan tanda kecukupan asupan, termasuk pola buang air kecil.

Kapan Bayi Perlu Diperiksa?
Nursing strike tidak selalu berarti ada masalah serius, tetapi penolakan menyusu yang berlangsung terus perlu diperhatikan karena bayi tetap membutuhkan asupan yang cukup. Mommy bisa memantau kondisi Si Kecil, terutama pola menyusu, jumlah popok basah, dan respons bayi sehari-hari.
Segera konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan jika Si Kecil:
- terus menolak menyusu dan asupannya semakin berkurang,
- jumlah popok basah jauh lebih sedikit dari biasanya,
- tampak sangat lemas, mengantuk berlebihan, atau sulit dibangunkan,
- kesulitan mengisap, menelan, atau sering berhenti karena kehabisan napas,
- bernapas cepat atau tampak bekerja keras saat bernapas,
- menunjukkan tanda dehidrasi, seperti mulut tampak kering atau tidak buang air kecil dalam waktu yang tidak biasa.
Jika penolakan menyusu terjadi tanpa tanda bahaya tetapi terus berulang, Mommy juga sebaiknya mencari bantuan konselor laktasi atau tenaga kesehatan.

Kesimpulan
Menghadapi Si Kecil yang tiba-tiba menolak menyusu memang bisa membuat Mommy khawatir dan lelah. Namun, jangan langsung menyalahkan diri sendiri, ya. Breast refusal atau nursing strike bisa terjadi karena berbagai kondisi, dan setiap bayi membutuhkan waktu yang berbeda untuk kembali menyusu dengan nyaman.
Yang terpenting, tetap pastikan kebutuhan ASI Si Kecil terpenuhi, hindari memaksa bayi untuk menyusu, dan coba kembali menawarkan payudara dengan pendekatan yang lembut. Jika penolakan terus terjadi atau Mommy merasa kesulitan menemukan penyebabnya, jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan atau konselor laktasi.
Kalau Mommy masih bingung menghadapi Si Kecil yang menolak menyusu, mengalami kendala latch, khawatir produksi ASI menurun, atau membutuhkan arahan selama proses menyusui, Mommy bisa konsultasi langsung bersama Konselor Menyusui Mom Uung. Dapatkan pendampingan sesuai kondisi Mommy dan Si Kecil agar perjalanan menyusui terasa lebih tenang dan percaya diri.
Yuk, konsultasikan sekarang dan jangan hadapi perjalanan menyusui ini sendirian.
Sumber
- Australian Breastfeeding Association. (n.d.). Breast refusal – supporting you and your baby. https://www.breastfeeding.asn.au/resources/breast-refusal
- Australian Breastfeeding Association. (n.d.). Why won’t my baby feed? https://www.breastfeeding.asn.au/resources/why-wont-baby-feed
- Çalıkuşu İncekar, M., Çağlar, S., Kaya Narter, F., Tercan Tarakcı, E., Özpınar, E., & Demirci Ecevit, E. (2021). An alternative supplemental feeding method for preterm infants: the supplemental feeding tube device. Turkish journal of medical sciences, 51(4), 2087–2094. https://doi.org/10.3906/sag-2009-323
- Karabayir, N., Mertturk Potak, E., Karaman, S., Sebirli, M. F., Istanbullu, M. B., Potak, M., & Teber, B. G. (2022). The Finger Feeding Method and Relactation. Cureus, 14(4), e24044. https://doi.org/10.7759/cureus.24044
- World Health Organization. (2023). Feeding of infants unable to breastfeed directly in care facilities. https://www.who.int/tools/elena/interventions/breastfeeding-inability
Komentar / Tanya Dokter Spesialist
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









