
Momuung.com – Si Kecil sering tersedak atau rewel saat menyusu? Bisa jadi penyebabnya bukan ASI kurang, melainkan ASI terlalu deras. Jangan buru-buru panik ya, Mom.
Kenali penyebab dan Cara mengatasi ASI terlalu deras agar proses menyusui tetap nyaman untuk Mommy dan Si Kecil.
Setiap Mommy bisa mengalami kondisi yang berbeda, sehingga tidak ada satu cara yang paling ampuh untuk mengatasi aliran ASI yang terlalu deras. Biasanya, kondisi ini dapat membaik dengan mengombinasikan beberapa cara berikut.
Salah satu posisi yang sering direkomendasikan adalah uphill nursing atau menyusui sambil bersandar. Pada posisi ini, kepala Si Kecil berada sedikit lebih tinggi daripada puting sehingga gravitasi membantu memperlambat aliran ASI. Dengan begitu, bayi dapat menyusu lebih nyaman dan risiko tersedak pun berkurang (Trimeloni & Spencer, 2016).
Selain memperbaiki posisi menyusui, Mommy juga sebaiknya tidak memompa ASI terlalu sering jika memang tidak diperlukan. Pasalnya, semakin sering payudara dikosongkan, tubuh akan menganggap kebutuhan ASI meningkat sehingga produksi ASI ikut bertambah.
Kalau payudara terasa sangat penuh, Mommy cukup:
Perah sedikit ASI sebelum menyusui.
Hanya keluarkan ASI hingga rasa penuh berkurang.
Hindari mengosongkan seluruh payudara karena dapat merangsang produksi ASI semakin banyak.
Pada sebagian Mommy, aliran ASI paling deras terjadi beberapa detik setelah refleks let-down muncul. Jika Si Kecil tampak mulai tersedak, batuk, atau kewalahan, Mommy tidak perlu panik.
Coba lakukan langkah sederhana berikut:
Cara ini membantu bayi menyusu dengan lebih nyaman tanpa harus menghadapi semburan ASI yang terlalu kuat. Selain itu, Mommy juga tidak perlu memerah terlalu banyak karena justru dapat merangsang produksi ASI menjadi semakin banyak.
Payudara yang terlalu penuh sering terasa bengkak, keras, dan tidak nyaman. Untuk membantu meredakannya, Mommy dapat mencoba:
Kalau Mommy masih bingung kapan sebaiknya menggunakan kompres dingin atau justru kompres hangat saat payudara terasa penuh, yuk baca juga artikel “Payudara Bengkak Saat Menyusui? Ketahui Kapan Harus Pakai Kompres Hangat atau Dingin” agar penanganannya lebih tepat sesuai kondisi yang dialami.
Selain itu, terapkan juga responsive feeding, yaitu menyusui setiap kali Si Kecil menunjukkan tanda lapar tanpa harus menunggu jadwal tertentu (Lillis & Akers, 2024).
Saat menyusu, biarkan Si Kecil berhenti sejenak jika ia membutuhkan jeda. Cara sederhana ini dapat membantu bayi tidak kewalahan menghadapi aliran ASI yang terlalu deras sekaligus mengurangi risiko:
Jika produksi ASI memang sangat berlebihan, tenaga kesehatan mungkin akan menyarankan block feeding.
Caranya yaitu:
Teknik ini membantu tubuh menerima sinyal bahwa produksi ASI tidak perlu terlalu banyak sehingga lama-kelamaan produksi menjadi lebih seimbang (Van Veldhuizen-Staas, 2007).
Selama payudara yang lain sedang “diistirahatkan”, usahakan tidak memompanya kecuali benar-benar terasa sangat penuh dan nyeri.
| Fast Let-down | Hiperlaktasi |
| Aliran ASI deras hanya di awal menyusu | Produksi ASI berlebihan sepanjang waktu |
| Umumnya terjadi secara normal pada awal menyusui | Produksi ASI melebihi kebutuhan bayi |
| Payudara kembali nyaman setelah let-down selesai | Payudara sering terasa penuh, keras, dan bengkak |
| Biasanya akan membaik seiring waktu | Memerlukan penanganan agar produksi ASI lebih terkontrol |
Hiperlaktasi sendiri dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti:
Jika tidak dikelola, kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan menyusui.
Aliran ASI yang terlalu deras dapat menyebabkan:
Jika berlangsung terus-menerus, kenaikan berat badan bayi juga bisa menjadi kurang optimal (Trimeloni & Spencer, 2016).
Sementara itu, pada Mommy kondisi ini dapat menyebabkan:
Pada banyak kasus, aliran ASI yang terlalu deras akan membaik setelah Mommy mengubah posisi menyusui, menyusui secara responsif, atau menerapkan teknik seperti block feeding sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun, jika keluhan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat, sebaiknya jangan menunda untuk berkonsultasi.
Segera periksakan diri ke dokter atau konselor laktasi apabila Mommy mengalami salah satu atau beberapa kondisi berikut:
Keluhan tersebut dapat menjadi tanda mastitis, yaitu peradangan pada payudara yang memerlukan penanganan medis. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan terapi untuk membantu mengendalikan produksi ASI secara aman tanpa mengganggu proses menyusui.
Saat sedang berusaha menstabilkan produksi ASI, bukan berarti Mommy perlu mengurangi makan atau membatasi asupan nutrisi, ya. Justru sebaliknya, tubuh tetap membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup untuk membantu proses pemulihan, menjaga kesehatan payudara, sekaligus mempertahankan kualitas ASI bagi Si Kecil.
Beberapa nutrisi yang perlu Mommy perhatikan antara lain:
Selain mengutamakan makanan bergizi seimbang, Mommy juga dapat melengkapi kebutuhan nutrisi harian dengan Susu Mylkflow Mom Uung. Kandungan protein yang lebih tinggi, dipadukan dengan vitamin, mineral, DHA, omega-3, omega-6, serta ekstrak daun katuk dan daun kelor, dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu menyusui sekaligus mendukung kualitas ASI selama masa pemulihan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: