
Momuung.com – “Setelah menikah, Kapan Bisa Hamil, ya?”
Pertanyaan seperti ini mungkin juga pernah muncul di benak Mommy, terutama saat sudah mulai merencanakan kehamilan. Wajar kalau Mommy ingin tahu berapa lama biasanya perlu menunggu sampai dua garis muncul di test pack.
Sebenarnya, tidak ada yang bisa memastikan tepatnya kapan Mommy akan hamil. Peluang kehamilan dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari usia, kondisi kesehatan Mommy dan Papa, frekuensi hubungan seksual, hingga apakah hubungan dilakukan pada masa subur.
Kabar baiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya kehamilan secara alami. Yuk, cari tahu kapan Peluang Hamil paling besar, bagaimana cara mengetahuinya, dan kapan sebaiknya mulai berkonsultasi dengan dokter.
Setiap pasangan membutuhkan waktu yang berbeda untuk mendapatkan kehamilan. Ada yang berhasil hamil dalam beberapa bulan pertama, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama.
Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), sekitar 80% pasangan dapat mengalami kehamilan dalam enam bulan pertama mencoba, dengan peluang konsepsi yang umumnya paling tinggi pada beberapa bulan awal.
Jadi, kalau Mommy baru beberapa bulan mencoba dan belum hamil, bukan berarti ada masalah kesuburan.
Namun, waktu tunggu juga perlu mempertimbangkan usia. Pada perempuan, peluang kehamilan cenderung menurun seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 35 tahun.
Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar menghitung berapa bulan sudah mencoba, tetapi memahami masa subur dan faktor yang dapat memengaruhi peluang kehamilan.
Peluang hamil paling besar terjadi ketika hubungan seksual dilakukan selama masa subur, yaitu beberapa hari menjelang ovulasi hingga sekitar waktu ovulasi.
ASRM mendefinisikan fertile window sebagai enam hari yang berakhir pada hari ovulasi. Peluang kehamilan paling tinggi ketika hubungan seksual dilakukan dalam beberapa hari sebelum ovulasi, terutama sekitar dua hari sebelumnya.
Hal ini terjadi karena sperma dapat bertahan hidup selama beberapa hari di saluran reproduksi, sedangkan sel telur hanya dapat dibuahi dalam waktu yang lebih singkat setelah ovulasi.
Jadi, Mommy tidak perlu menunggu tepat pada hari ovulasi untuk berhubungan. Justru, berhubungan secara teratur menjelang ovulasi dapat membantu memperbesar peluang terjadinya kehamilan.
Mengetahui kapan ovulasi terjadi dapat membantu Mommy menentukan waktu yang lebih tepat untuk berhubungan.
Beberapa cara yang bisa digunakan antara lain:
Jika siklus menstruasi Mommy cukup teratur, pencatatan tanggal haid dapat membantu memperkirakan kapan ovulasi mungkin terjadi.
Namun, perkiraan berdasarkan kalender tidak selalu tepat karena waktu ovulasi dapat berubah dari satu siklus ke siklus lainnya.
Menjelang ovulasi, lendir serviks biasanya menjadi lebih banyak, licin, dan elastis. Perubahan ini dapat menjadi salah satu tanda bahwa tubuh sedang memasuki masa subur.
Ovulation predictor kit atau tes ovulasi dapat mendeteksi peningkatan hormon luteinizing hormone (LH) yang biasanya terjadi menjelang ovulasi.
Metode pelacakan masa subur seperti pemantauan lendir serviks dan alat deteksi ovulasi dapat membantu pasangan menentukan waktu berhubungan dengan lebih tepat.

Tidak ada jumlah hubungan seksual tertentu yang menjamin kehamilan. Namun, berhubungan secara teratur selama masa subur dapat membantu memaksimalkan peluang.
ASRM menyebutkan bahwa hubungan seksual setiap 1-2 hari selama masa subur dapat memberikan peluang kehamilan yang tinggi. Bagi pasangan yang tidak dapat menentukan masa subur dengan tepat, berhubungan sekitar 2-3 kali seminggu juga dapat memberikan hasil yang hampir setara.
Jadi, Mommy tidak perlu terlalu stres menghitung hari secara sempurna. Yang penting adalah menjaga hubungan seksual tetap teratur, terutama mendekati masa ovulasi.
Waktu hubungan seksual memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah kehamilan akan terjadi.
Usia merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kesuburan perempuan. Seiring bertambahnya usia, peluang kehamilan dan kelahiran hidup cenderung menurun, sementara risiko keguguran dan kelainan kromosom juga meningkat.
Artinya, Mommy yang berusia 35 tahun ke atas tidak berarti tidak bisa hamil. Namun, jika kehamilan belum terjadi setelah beberapa waktu mencoba, evaluasi kesuburan sebaiknya dilakukan lebih awal.
Ovulasi yang terjadi secara tidak teratur atau tidak terjadi dapat membuat kehamilan lebih sulit.
Siklus menstruasi yang sangat tidak teratur, terlalu jarang, atau tidak datang sama sekali dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi lebih awal dengan dokter. ASRM juga memasukkan gangguan ovulasi dan menstruasi tidak teratur sebagai kondisi yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi kesuburan.
Kondisi seperti endometriosis, gangguan pada rahim, atau masalah pada saluran tuba dapat memengaruhi peluang terjadinya kehamilan.
Karena itu, bila Mommy memiliki riwayat kondisi tertentu yang dapat memengaruhi kesuburan, jangan menunggu terlalu lama untuk berdiskusi dengan dokter.
Kesuburan bukan hanya urusan Mommy. Kondisi sperma Papa juga dapat memengaruhi peluang terjadinya kehamilan.
Dalam evaluasi kesuburan, ASRM merekomendasikan agar pasangan laki-laki juga dievaluasi ketika ada dugaan infertilitas. Pemeriksaan dapat mencakup penilaian riwayat kesehatan reproduksi dan analisis sperma.
Jadi, kalau kehamilan belum kunjung terjadi, jangan langsung menyalahkan diri sendiri, ya, Mommy.
Kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Merokok dan penggunaan narkoba sebaiknya dihindari, sedangkan konsumsi alkohol perlu dibatasi. Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat juga penting untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan ketika sedang merencanakan kehamilan.
Selain memperhatikan berbagai faktor tersebut, Mommy dan Papa juga perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk mulai mencari bantuan medis jika kehamilan belum kunjung terjadi. Memahami batas waktu pemeriksaan dapat membantu Mommy mengambil langkah lebih cepat dan tidak perlu terus menebak-nebak penyebabnya sendiri. Yuk, simak juga Sudah 1 Tahun Menikah Belum Hamil, Kapan Harus Periksa? untuk mengetahui kapan sebaiknya Mommy dan Papa mulai berkonsultasi mengenai kesuburan.
Selain mengetahui masa subur, Mommy dan Papa bisa mulai mempersiapkan tubuh sejak sebelum hamil.
Perempuan yang sedang merencanakan kehamilan dianjurkan mengonsumsi asam folat setiap hari untuk membantu menurunkan risiko cacat tabung saraf pada janin.
Usahakan mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Hindari diet ekstrem yang justru dapat mengganggu kesehatan tubuh dan siklus menstruasi.
Bukan hanya Mommy, Papa juga sebaiknya berhenti merokok. Kebiasaan merokok dapat berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi laki-laki maupun perempuan.
Pemeriksaan prakonsepsi dapat membantu Mommy dan Papa mengetahui kondisi kesehatan sebelum mulai menjalani program hamil.
Terutama bila Mommy memiliki penyakit tertentu, sedang mengonsumsi obat rutin, mengalami siklus menstruasi tidak teratur, atau memiliki riwayat masalah kesuburan.
Belum hamil setelah beberapa bulan mencoba bukan berarti langsung mengalami infertilitas. Namun, ada batas waktu tertentu ketika evaluasi kesuburan dianjurkan.
Secara umum:
Misalnya, Mommy memiliki menstruasi yang sangat tidak teratur, pernah menjalani pengobatan tertentu yang dapat memengaruhi kesuburan, memiliki riwayat endometriosis, atau ada dugaan masalah kesuburan pada Papa.
Jadi, jangan merasa harus menunggu selama setahun jika sejak awal memang sudah ada alasan medis untuk berkonsultasi.
Kalau Mommy dan Papa sudah waktunya melakukan evaluasi, dokter akan mencari tahu kemungkinan penyebabnya secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat berbeda pada setiap pasangan, tergantung usia, riwayat kesehatan, lama mencoba hamil, serta kondisi reproduksi Mommy dan Papa.
Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan meliputi:
Karena kesuburan merupakan kondisi yang perlu dilihat dari kedua pasangan, pemeriksaan Papa juga tidak kalah penting. Analisis sperma dapat memberikan gambaran mengenai jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma, sehingga dokter bisa menilai apakah terdapat faktor dari sisi pria yang mungkin memengaruhi peluang kehamilan.
Kalau Mommy dan Papa penasaran seperti apa karakteristik sperma yang umumnya dinilai dalam pemeriksaan kesuburan, yuk baca juga Cara Membedakan Sperma Subur dan Tidak Subur, Pejuang Garis Dua Wajib Tahu agar lebih memahami faktor kesuburan dari sisi Papa.
Tidak ada cara yang bisa menjamin kehamilan terjadi dalam waktu tertentu.
Namun, Mommy dan Papa dapat meningkatkan peluang dengan memahami masa subur, melakukan hubungan seksual secara teratur, menjaga kesehatan, menghindari rokok dan penggunaan narkoba, serta melakukan evaluasi medis bila memang diperlukan.
Jadi, daripada mengejar berbagai metode yang belum terbukti, lebih baik fokus pada langkah yang memang memiliki dasar medis.
Mommy juga tidak perlu terlalu memikirkan posisi tertentu setelah berhubungan atau melakukan rutinitas khusus. ASRM menyatakan bahwa posisi seksual maupun rutinitas setelah berhubungan tidak terbukti meningkatkan kesuburan.
Kapan bisa hamil? Tidak ada jawaban pasti karena waktu yang dibutuhkan setiap pasangan berbeda. Namun, peluang kehamilan umumnya paling tinggi pada beberapa bulan pertama mencoba, terutama jika hubungan seksual dilakukan secara teratur selama masa subur. Sekitar 80% pasangan dapat mengalami kehamilan dalam enam bulan pertama mencoba.
Mommy bisa mulai dengan mengenali siklus menstruasi, memperkirakan masa ovulasi, melakukan hubungan seksual setiap 1-2 hari selama masa subur, serta menjaga pola hidup sehat bersama Papa.
Kalau kehamilan belum terjadi setelah 12 bulan mencoba bagi Mommy di bawah 35 tahun atau 6 bulan bagi Mommy berusia 35 tahun ke atas, sebaiknya mulai berkonsultasi untuk evaluasi kesuburan. Konsultasi juga dapat dilakukan lebih awal bila ada kondisi tertentu yang berpotensi memengaruhi kesuburan.
Tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika kehamilan belum juga datang, ya, Mommy. Kesuburan dipengaruhi oleh kondisi kedua pasangan dan berbagai faktor lainnya. Yang terpenting, lakukan ikhtiar yang tepat dan jangan ragu mencari bantuan medis ketika memang dibutuhkan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.