
Momuung.com – Melihat kulit Si Kecil tiba-tiba kemerahan, muncul bintik, atau terasa kasar tentu bisa bikin Mommy khawatir. Apalagi kulit bayi memang masih sensitif sehingga lebih mudah mengalami berbagai masalah kulit.
Beberapa kondisi seperti ruam popok, biang keringat, eksim, atau cradle cap cukup umum terjadi dan sering kali bisa ditangani dengan perawatan sederhana di rumah. Namun, ada juga kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dokter, terutama jika ruam cepat menyebar, bernanah, disertai demam, atau bayi terlihat sakit.
Yuk, kenali 10 masalah kulit yang sering muncul pada bayi, mulai dari ciri-cirinya hingga cara merawatnya.
Kulit bayi masih dalam proses berkembang sehingga fungsi pelindung kulit atau skin barrier-nya belum sekuat kulit orang dewasa. Kondisi ini membuat kulit Si Kecil lebih mudah mengalami kehilangan kelembapan dan mengalami iritasi ketika terkena keringat, urine, feses, sabun, detergen, atau bahan tertentu.
Karena itu, perawatan kulit bayi sebaiknya dilakukan dengan lembut. Pilih produk yang minim pewangi, hindari menggosok kulit terlalu keras, dan segera bersihkan kulit ketika terkena keringat atau kotoran.

Ruam popok biasanya terlihat sebagai kulit kemerahan, iritasi, atau lecet di area yang tertutup popok. Kondisi ini dapat terjadi ketika kulit terlalu lama terkena urine atau feses, ditambah gesekan dari popok yang digunakan.
Untuk membantu meredakannya, Mommy bisa:
Jika ruam semakin parah, muncul lepuhan atau nanah, disertai demam, atau tidak kunjung membaik, sebaiknya periksakan Si Kecil ke dokter.
Biang keringat atau miliaria muncul sebagai bintik-bintik kecil yang dapat berwarna kemerahan atau tampak seperti gelembung kecil. Ruam ini sering muncul di leher, dada, punggung, garis rambut, atau lipatan kulit, terutama ketika cuaca panas dan lembap.
Bayi lebih mudah mengalami biang keringat karena kemampuan tubuhnya dalam mengatur suhu belum sebaik orang dewasa. Keringat yang terperangkap di saluran keringat kemudian dapat memicu ruam.
Mommy bisa membantu meredakannya dengan menjaga Si Kecil tetap sejuk, mengenakan pakaian tipis dan longgar, serta menghindari penggunaan produk yang terlalu tebal atau berminyak di area yang mengalami biang keringat.
Karena ruam di area lipatan bisa memiliki berbagai penyebab, jangan langsung menganggap semua kemerahan di leher, ketiak, atau lipatan paha sebagai biang keringat. Mommy bisa mengenali penyebab lainnya melalui artikel Ruam di Lipatan Bayi? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya.
Eksim atau dermatitis atopik membuat kulit bayi menjadi kering, gatal, bersisik, dan meradang. Pada bayi, ruam sering muncul di pipi, dahi, kulit kepala, atau bagian tubuh lainnya.
Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Beberapa pemicu yang dapat memperburuk eksim antara lain keringat, udara kering, sabun, detergen, pewangi, atau bahan pakaian tertentu.
Untuk merawat kulit Si Kecil, gunakan pelembap secara rutin, terutama setelah mandi. Pilih pelembap yang lembut dan bebas pewangi, lalu hindari produk yang membuat kulit semakin kering atau teriritasi.
Jika kulit mengeluarkan cairan, muncul kerak kekuningan, bernanah, terasa nyeri, atau ruam semakin parah, konsultasikan dengan dokter karena bisa terjadi infeksi pada kulit.
Pernah melihat kerak atau sisik kekuningan yang menempel di kulit kepala Si Kecil? Bisa jadi itu adalah cradle cap, salah satu bentuk dermatitis seboroik yang cukup umum pada bayi.
Cradle cap biasanya terlihat sebagai sisik yang berminyak atau berkerak di kulit kepala. Pada beberapa bayi, kondisi ini juga dapat muncul di alis, belakang telinga, lipatan leher, atau area tubuh lainnya. Umumnya, cradle cap tidak terasa gatal dan tidak mengganggu bayi.
Penyebab pastinya belum diketahui. Jadi, cradle cap tidak sebaiknya dijelaskan hanya sebagai akibat hormon Mommy setelah melahirkan.
Perawatan sederhana di rumah dapat dilakukan dengan membantu melunakkan sisik menggunakan emolien atau sedikit minyak kelapa, kemudian menyisirnya perlahan menggunakan sikat lembut dan mencuci rambut bayi dengan sampo bayi yang lembut. Jangan mengelupas kerak dengan paksa karena dapat melukai kulit.
Jerawat bayi atau neonatal acne dapat terlihat seperti bintik merah, komedo, atau jerawat kecil, terutama di pipi dan hidung. Kondisi ini biasanya muncul pada beberapa minggu pertama setelah lahir dan umumnya dapat membaik sendiri tanpa pengobatan khusus.
Kalau Si Kecil mengalaminya, Mommy cukup menjaga wajahnya tetap bersih dan menghindari menggosok atau memencet bintik tersebut. Jangan memberikan obat jerawat untuk orang dewasa pada kulit bayi kecuali atas anjuran dokter.
Jika jerawat baru muncul setelah usia 6 minggu atau terlihat semakin berat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan penyebabnya.
Biduran atau urticaria biasanya terlihat sebagai bentol atau bercak menonjol yang terasa gatal. Bentol bisa muncul di berbagai bagian tubuh, berubah ukuran, lalu menghilang dalam waktu relatif singkat dan muncul kembali di area lain.
Biduran tidak selalu berarti bayi mengalami alergi. Berbagai hal dapat menjadi pemicu, termasuk infeksi, obat, makanan, atau paparan tertentu.
Jika Si Kecil mengalami biduran, perhatikan apakah ada pembengkakan pada bibir, mulut, lidah, atau tenggorokan. Bila disertai kesulitan bernapas, sulit menelan, tampak lemas, atau tidak responsif seperti biasanya, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut bisa menjadi tanda reaksi alergi berat.
Impetigo merupakan infeksi kulit akibat bakteri yang sangat menular. Awalnya, kondisi ini dapat terlihat seperti luka atau lepuhan kecil yang kemudian pecah dan meninggalkan kerak berwarna kuning kecokelatan atau seperti madu.
Impetigo sering muncul di sekitar hidung dan mulut, tetapi dapat terjadi di bagian tubuh lainnya.
Karena merupakan infeksi bakteri, Si Kecil sebaiknya diperiksa oleh dokter untuk menentukan pengobatan yang sesuai. Hindari berbagi handuk, pakaian, atau barang yang bersentuhan langsung dengan kulit bayi untuk membantu mencegah penularan.
Dermatitis kontak terjadi ketika kulit bereaksi setelah bersentuhan dengan zat tertentu. Pada bayi, pemicunya bisa berupa sabun, detergen, pewangi, bahan pakaian, karet, atau produk perawatan kulit tertentu.
Ruam dapat terlihat sebagai kulit kemerahan, kering, bersisik, atau muncul bintil dan lepuhan di area yang terkena pemicu.
Langkah pertama yang bisa Mommy lakukan adalah menghentikan penggunaan produk yang dicurigai sebagai pemicu dan menjaga kulit tetap bersih serta lembap. Pilih produk perawatan bayi yang lembut dan minim pewangi.
Selain produk sehari-hari, lingkungan sekitar juga perlu diperhatikan. Partikel dari abu vulkanik dapat mengiritasi kulit, terutama jika terjadi paparan langsung. Jadi, saat daerah sekitar sedang mengalami hujan abu, penting untuk membatasi paparan dan menjaga kulit Si Kecil tetap terlindungi. Mommy bisa membaca panduan lengkap Cara Melindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik untuk mengetahui langkah perlindungannya.
Scabies merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada bayi, ruam dapat muncul di telapak tangan, telapak kaki, kulit kepala, dan bagian tubuh lainnya. Bayi juga bisa menjadi lebih rewel karena rasa gatal, terutama pada malam hari.
Kondisi ini dapat menular melalui kontak kulit yang dekat dan berkepanjangan. Karena itu, jika Si Kecil didiagnosis scabies, anggota keluarga atau kontak erat mungkin juga perlu diperiksa dan ditangani secara bersamaan untuk mencegah penularan kembali.
Pengobatan sebaiknya mengikuti anjuran dokter. Jangan menggunakan obat scabies sembarangan pada bayi karena beberapa obat tidak aman untuk usia tertentu.
Hemangioma adalah pertumbuhan pembuluh darah yang dapat terlihat sebagai bercak atau benjolan merah, merah tua, atau kebiruan pada kulit. Hemangioma jenis infantil sering mulai terlihat dalam beberapa minggu pertama kehidupan dan dapat tumbuh cukup cepat pada awalnya sebelum perlahan mengecil.
Sebagian besar hemangioma tidak berbahaya dan tidak membutuhkan pengobatan. Namun, lokasinya tetap perlu diperhatikan. Hemangioma yang tumbuh di sekitar mata, hidung, atau mulut, berukuran besar, mengalami luka, atau berpotensi mengganggu fungsi tertentu perlu dievaluasi lebih awal oleh dokter.
Karena hemangioma bisa berubah cukup cepat pada bulan-bulan awal, sebaiknya Mommy tidak menunggu terlalu lama untuk membicarakannya saat kontrol Si Kecil.
Tidak semua ruam atau perubahan kulit berarti kondisi yang serius. Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak Mommy abaikan.
Segera konsultasikan dengan dokter jika:
Pada bayi, tampilan ruam saja tidak selalu cukup untuk menentukan penyebabnya. Jadi, bila Mommy ragu dengan perubahan pada kulit Si Kecil, lebih baik konsultasikan dengan dokter daripada mencoba berbagai obat sendiri.
Kulit bayi memang masih sensitif, sehingga berbagai masalah seperti ruam popok, biang keringat, eksim, hingga cradle cap cukup sering muncul.
Sebagian kondisi dapat membaik dengan perawatan kulit yang sederhana, seperti menjaga kulit tetap bersih dan kering, menggunakan pelembap yang lembut, serta menghindari produk yang dapat memicu iritasi. Namun, kondisi seperti impetigo, scabies, atau ruam yang disertai tanda bahaya membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Jadi, Mommy tidak perlu langsung panik saat melihat perubahan pada kulit Si Kecil. Kenali cirinya, perhatikan kondisi bayi secara keseluruhan, dan jangan ragu mencari bantuan tenaga kesehatan jika ada tanda yang membuat Mommy khawatir.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.