
Momuung.com – Saat abu vulkanik menyebar akibat erupsi gunung berapi, Mommy tentu lebih waswas karena Si Kecil masih harus beraktivitas di rumah maupun di luar. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan, sehingga anak perlu mendapat perlindungan ekstra. Anak-anak juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik, terutama jika memiliki asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru lainnya.
Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa Mommy lakukan untuk melindungi anak dari abu vulkanik, mulai dari membatasi aktivitas di luar rumah hingga menjaga udara di dalam rumah tetap sebersih mungkin.
Abu vulkanik terdiri dari partikel halus yang dapat terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan. Paparan juga dapat mengiritasi mata dan kulit. Pada anak yang memiliki asma atau gangguan pernapasan lain, abu vulkanik dapat membuat gejalanya menjadi lebih berat.
Beberapa keluhan yang dapat muncul setelah terpapar abu vulkanik antara lain:
Karena ukuran tubuh dan saluran napas anak masih berkembang, menjaga Si Kecil agar tidak terlalu banyak menghirup abu menjadi salah satu langkah perlindungan yang penting.
Cara paling efektif untuk mengurangi paparan adalah membatasi anak berada di luar ruangan selama abu vulkanik masih menyebar.
Jika tidak ada kebutuhan mendesak, aktivitas bermain, olahraga, atau bepergian sebaiknya dilakukan di dalam rumah terlebih dahulu. Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas luar ruangan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak.
Tetap pantau informasi resmi mengenai kondisi udara dan arahan dari pemerintah daerah sebelum mengajak Si Kecil keluar rumah.
Saat hujan abu terjadi, tutup pintu dan jendela rumah dengan rapat. Tujuannya untuk mengurangi masuknya partikel abu dan udara dari luar ke dalam rumah.
Bila ada celah yang cukup besar, Mommy dapat menutupnya sementara dengan bahan yang sesuai. Matikan pula sistem ventilasi atau pendingin udara yang memasukkan udara dari luar jika memang memungkinkan. CDC juga merekomendasikan menutup jendela dan pintu serta menghentikan sistem yang menarik udara luar masuk ke rumah setelah terjadi erupsi.
Namun, jangan mengabaikan keselamatan rumah. Jika petugas berwenang meminta evakuasi, ikuti arahan tersebut dan segera tinggalkan area terdampak.
Saat abu sudah menumpuk di lantai, teras, atau halaman, sebaiknya jauhkan Si Kecil dari area tersebut saat proses pembersihan berlangsung.
Menyapu abu dalam kondisi kering dapat membuat partikel kembali beterbangan dan lebih mudah terhirup. Karena itu, pembersihan sebaiknya dilakukan dengan metode basah, seperti mengepel atau membasahi permukaan terlebih dahulu sesuai kondisi setempat.
Bila memungkinkan, anak tetap berada di ruangan lain yang bersih sampai proses pembersihan selesai.
Jika Si Kecil memang harus keluar rumah, penggunaan pelindung pernapasan perlu dipertimbangkan sesuai usia dan kemampuan anak memakainya dengan benar.
Untuk anak yang lebih besar dan mampu menggunakan masker dengan tepat, respirator partikulat seperti N95 dapat memberikan perlindungan terhadap abu. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk melindungi paru-paru dari paparan abu vulkanik.
Namun, jangan memaksakan penggunaan masker pada bayi atau anak kecil yang belum mampu menggunakannya dengan aman. Pedoman penggunaan masker anak menekankan bahwa kemampuan anak, usia, dan pengawasan orang dewasa perlu dipertimbangkan.
Untuk bayi dan balita yang belum bisa memakai pelindung pernapasan dengan aman, langkah paling penting tetap mengurangi paparan dengan menjaga mereka di dalam rumah dan mengikuti arahan evakuasi bila diperlukan.
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik dapat mengiritasi mata dan kulit.
Bila anak harus berada di luar, gunakan pakaian yang menutupi kulit sebanyak mungkin dan pelindung mata yang sesuai. CDC juga merekomendasikan kacamata pelindung untuk membantu mencegah abu mengenai mata.
Setelah kembali ke rumah, Mommy dapat membersihkan tubuh dan wajah Si Kecil agar sisa abu yang menempel tidak terlalu lama berada di kulit.
Kalau Si Kecil mengeluh matanya perih atau terasa seperti kemasukan debu setelah terpapar abu, jangan digosok.
Bilas mata dengan air bersih secara perlahan. Hindari menggunakan tangan yang masih kotor untuk menyentuh mata karena dapat menambah iritasi.
Jika mata tetap merah, nyeri, terus berair, atau penglihatan terganggu setelah dibersihkan, segera periksakan Si Kecil ke tenaga kesehatan. Debu vulkanik dapat menyebabkan iritasi dan pada paparan tertentu dapat melukai permukaan mata.
Selama abu masih menyebar, hindari menambah polusi udara di dalam rumah.
Jangan merokok di dalam rumah dan sebisa mungkin hindari sumber asap lain yang dapat memperburuk kualitas udara. Menjaga ruangan tetap tertutup dari abu luar juga penting selama kondisi paparan tinggi.
Kalau menggunakan AC, pilih pengaturan recirculation atau mode yang tidak menarik udara luar, bila tersedia dan sesuai petunjuk perangkat.
Abu vulkanik juga dapat mengotori sumber air dan bahan makanan.
Tutup wadah atau tandon air agar abu tidak masuk. Jika sumber air diduga tercemar abu, gunakan sumber air lain yang aman sampai ada kepastian dari pihak berwenang bahwa air tersebut layak digunakan.
Buah dan sayuran yang terkena abu juga perlu dicuci dengan baik sebelum dikonsumsi.
Paparan abu dan aktivitas di luar ruangan dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman. Tetap tawarkan ASI, susu, atau cairan sesuai usia dan kebutuhan Si Kecil.
Untuk bayi, ASI tetap menjadi sumber cairan utama sesuai tahap usianya. Jangan memberikan air putih kepada bayi di bawah 6 bulan kecuali atas anjuran tenaga kesehatan.
Anak yang memiliki asma atau penyakit saluran pernapasan dapat lebih mudah mengalami perburukan gejala saat terpapar abu vulkanik.
Jika Si Kecil memiliki obat rutin dari dokter, pastikan persediaannya tersedia dan tetap gunakan sesuai petunjuk dokter. Jangan memberikan obat baru untuk mengatasi batuk, sesak, atau gejala lain tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Setelah kondisi memungkinkan, rumah perlu dibersihkan agar abu yang sudah mengendap tidak kembali beterbangan.
Beberapa hal yang bisa Mommy lakukan:
Abu yang sudah terlihat tipis tetap sebaiknya tidak dianggap sama seperti debu rumah biasa.

Sebaiknya Mommy menunda aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih terdampak abu vulkanik atau ketika pemerintah mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar.
Kalau situasi sudah membaik, tetap perhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara dan kondisi abu di wilayah Mommy. Jangan hanya berpatokan pada apakah langit terlihat cerah atau abu tidak lagi tampak tebal.
BMKG mengimbau masyarakat di area yang terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker serta kacamata pelindung bila harus beraktivitas di luar.
Kalau Si Kecil sudah terpapar abu, Mommy tidak perlu langsung panik.
Segera jauhkan Si Kecil dari sumber paparan dan bawa ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Bila abu mengenai kulit, bersihkan tubuh secara perlahan. Jika mata terkena abu, bilas dengan air bersih dan jangan digosok.
Setelah itu, perhatikan kondisi Si Kecil. Keluhan ringan seperti bersin atau iritasi ringan dapat terjadi setelah paparan, tetapi gejala yang lebih berat perlu segera mendapat pertolongan medis.
Segera cari pertolongan medis bila Si Kecil mengalami:
Untuk bayi, perubahan perilaku seperti tampak sangat lemas atau malas menyusu juga perlu diperhatikan, terutama jika disertai gangguan pernapasan.
Jangan menunggu gejala menjadi semakin berat, terutama jika Si Kecil memiliki asma, alergi saluran napas, penyakit paru, atau kondisi medis lain yang membuatnya lebih rentan.
Kondisi abu vulkanik dapat berubah mengikuti aktivitas gunung dan arah angin. Karena itu, Mommy sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau pesan berantai.
Pantau informasi terbaru dari BMKG, PVMBG, BNPB, pemerintah daerah, dan fasilitas kesehatan setempat. Jika ada instruksi untuk mengungsi, segera ikuti arahan tersebut.
Dalam situasi erupsi, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Cara melindungi anak dari abu vulkanik sebenarnya dimulai dari mengurangi paparannya sebanyak mungkin. Mommy bisa menjaga Si Kecil tetap berada di dalam rumah saat kondisi udara buruk, menutup pintu dan jendela, menjauhkan anak saat membersihkan abu, menjaga udara di dalam rumah tetap bersih, serta melindungi mata dan kulit jika anak benar-benar harus keluar.
Untuk anak yang cukup besar dan mampu menggunakannya dengan aman, pelindung pernapasan yang sesuai dapat digunakan saat berada di luar. Namun, pada bayi dan balita yang belum mampu memakai masker dengan aman, mengurangi paparan dan tetap berada di dalam rumah merupakan langkah yang lebih penting.
Yang tidak kalah penting, kenali tanda bahaya seperti sesak napas, mengi, batuk yang semakin berat, atau mata yang mengalami iritasi berat. Bila muncul gejala tersebut, segera periksakan Si Kecil ke tenaga kesehatan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.