
Momuung.com – Melihat Si Kecil mulai cooing, menirukan suara, hingga mengucapkan kata pertamanya memang menyenangkan. Namun, bagaimana jika anak seusianya sudah mulai berbicara, sementara Si Kecil belum?
Tenang, setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Meski begitu, perkembangan bicara dan bahasa tetap perlu dipantau agar Mommy dapat mengenali tanda keterlambatan dan memberikan stimulasi yang sesuai.
Yuk, kenali perbedaan speech delay dan language delay, faktor yang dapat memengaruhi perkembangan komunikasi, serta stimulasi sederhana yang bisa dilakukan di rumah.
Speech delay dan language delay sama-sama berkaitan dengan kemampuan komunikasi, tetapi keduanya tidak sama.
Jadi, anak yang mengalami speech delay belum tentu mengalami language delay. Misalnya, Si Kecil mungkin sudah memahami ketika Mommy mengatakan “ambil bola”, tetapi belum mampu mengucapkan kata tersebut dengan jelas.
Sebaliknya, anak dengan language delay dapat mengalami kesulitan memahami perkataan atau menggunakan kata untuk berkomunikasi.
Setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Namun, developmental milestones dapat membantu Mommy memantau perkembangan komunikasi Si Kecil. Jika anak tidak menunjukkan keterampilan baru, memiliki beberapa milestone yang belum tercapai, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut (American Speech-Language-Hearing Association [ASHA], n.d.).
Kemampuan bicara dan bahasa berkembang melalui berbagai faktor, termasuk pendengaran, perkembangan otak dan saraf, kondisi kesehatan, serta interaksi sehari-hari.
Anak belajar berkomunikasi melalui interaksi, bukan hanya dengan mendengar orang berbicara. Ketika Si Kecil mengeluarkan suara atau menunjuk sesuatu, coba respons dengan kata-kata sederhana dan beri kesempatan untuk merespons kembali.
Misalnya, ketika Si Kecil menunjuk mobil, Mommy bisa mengatakan, “Mau mobil?” atau ketika ia mengeluarkan suara, Mommy dapat menirukannya lalu menunggu respons berikutnya.
Interaksi sederhana ini membantu anak belajar bahwa suara, kata, ekspresi, dan gestur dapat digunakan untuk berkomunikasi. Interaksi orang tua dan bayi yang responsif juga berkaitan dengan perkembangan bahasa selama tahun pertama kehidupan (Rocha et al., 2020).
Mommy bisa memasukkan stimulasi bahasa ke dalam rutinitas sehari-hari, seperti:
Pendengaran merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan bicara dan bahasa. Anak perlu mendengar suara di sekitarnya untuk belajar mengenali dan menirukan suara maupun kata.
Perhatikan jika Si Kecil:
Jika ada kekhawatiran, pemeriksaan pendengaran dapat menjadi bagian dari evaluasi. Mommy tidak perlu menunggu Si Kecil bisa berbicara untuk memastikan pendengarannya baik (ASHA, n.d.).
Beberapa kondisi, seperti autism spectrum disorder (ASD), cerebral palsy, atau global developmental delay, dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa.
Namun, speech delay tidak otomatis berarti anak mengalami autisme atau gangguan neurologis tertentu. Dokter akan menilai perkembangan Si Kecil secara menyeluruh, termasuk kemampuan bahasa, komunikasi, interaksi sosial, motorik, perilaku, dan perkembangan lainnya.
Penggunaan layar juga perlu diperhatikan, terutama jika mulai menggantikan waktu untuk berinteraksi langsung. Penelitian Madigan et al. (2020) menemukan adanya hubungan antara durasi penggunaan layar yang lebih tinggi dan kemampuan bahasa yang lebih rendah pada anak.
Namun, temuan tersebut menunjukkan asosiasi, bukan berarti penggunaan gadget secara otomatis menyebabkan speech delay. Yang penting, pastikan screen time tidak mengurangi kesempatan Si Kecil untuk bermain, bercakap-cakap, membaca, bernyanyi, dan berinteraksi secara langsung.
Tidak ada stimulasi yang dapat menjamin Si Kecil terhindar dari speech delay. Namun, Mommy dan Papa dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan komunikasi melalui aktivitas sederhana sehari-hari.
Tidak perlu menunggu Si Kecil mengucapkan kata pertama. Sejak bayi, ia sudah belajar mengenali suara, ekspresi, dan pola interaksi dari orang-orang di sekitarnya.
Coba:
Suara “aaa” atau “ooo” merupakan bagian dari fase cooing, salah satu tahap awal perkembangan komunikasi bayi. Mommy bisa membaca artikel Fase Cooing pada Bayi: Ciri, Timeline, dan Cara Menstimulasinya untuk mengetahui lebih lanjut.
Pola interaksi seperti ini membantu Si Kecil mulai mengenal konsep komunikasi dua arah, yaitu ketika ia memberikan respons dan orang dewasa menanggapinya. Interaksi orang tua dan bayi yang responsif juga ditemukan berkaitan dengan perkembangan bahasa selama tahun pertama kehidupan (Rocha et al., 2020).
Membaca buku bersama dapat dilakukan sejak bayi, bahkan sebelum Si Kecil memahami cerita. Aktivitas ini membantu mengenalkan suara, kata, gambar, dan pola bahasa.
Agar lebih interaktif, Mommy bisa:
Selain membaca, Mommy juga bisa bernyanyi atau bermain suara bersama Si Kecil. Lagu sederhana yang mudah diulang sudah cukup untuk membuat interaksi menjadi menyenangkan.
Bayi belajar melalui interaksi nyata, seperti melihat wajah, mendengar suara, bermain, bergerak, dan merespons orang di sekitarnya.
American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan media digital untuk anak di bawah 18 bulan, kecuali video call bersama keluarga (AAP, 2024).
Jadi, bukan berarti melihat layar sekali akan menyebabkan speech delay. Yang perlu diperhatikan adalah apakah penggunaan layar membuat waktu Si Kecil untuk:
menjadi berkurang.
Jika melakukan video call dengan keluarga, Mommy atau Papa dapat mendampingi Si Kecil agar aktivitas tersebut tetap menjadi komunikasi dua arah.
Selain memberikan stimulasi, Mommy juga perlu memantau developmental milestones. Milestone membantu melihat kemampuan yang umumnya sudah muncul pada usia tertentu, tetapi bukan diagnosis dan tidak berarti semua anak harus mencapai kemampuan tersebut tepat pada waktu yang sama (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025).
CDC menggunakan milestone untuk menggambarkan kemampuan yang sudah dilakukan oleh sekitar 75% atau lebih anak pada usia tertentu.
Usia sekitar 0-3 bulan
Mommy dapat memperhatikan apakah Si Kecil:
Usia sekitar 4-6 bulan
Si Kecil biasanya mulai:
Usia sekitar 7-12 bulan
Menjelang usia 1 tahun, Mommy dapat memperhatikan apakah Si Kecil:
Milestone tersebut dapat menjadi panduan untuk memantau perkembangan, bukan patokan tunggal untuk menentukan apakah perkembangan Si Kecil normal atau mengalami keterlambatan (CDC, 2025).

Jangan hanya melihat apakah Si Kecil sudah bisa mengucapkan kata tertentu. Perhatikan juga bagaimana ia berkomunikasi secara keseluruhan.
Mommy sebaiknya berdiskusi dengan dokter jika:
Jika Si Kecil tampak tidak merespons suara, evaluasi pendengaran juga penting karena kemampuan mendengar berperan dalam proses mengenali dan belajar menggunakan suara serta bahasa.
Mendukung perkembangan bicara Si Kecil tidak membutuhkan stimulasi yang rumit. Mommy dan Papa dapat memulainya dari aktivitas sehari-hari, seperti mengajak ngobrol, merespons ocehan, membacakan buku, bernyanyi, dan memberikan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.
Tetap pantau developmental milestones dan perhatikan kemampuan mendengar Si Kecil. Jika ada milestone yang belum tercapai, kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai menghilang, atau Mommy memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan komunikasi Si Kecil, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter.
Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda, jadi tidak perlu membandingkan Si Kecil dengan anak lain, ya, Mom.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.