
Momuung.com – Apakah Si Kecil mulai sering mengeluarkan suara seperti “aaah” atau “oooh”, Mommy? Kondisi ini biasanya menandakan bayi sedang memasuki fase cooing, yaitu tahap awal perkembangan bahasa yang penting sebelum ia belajar mengucapkan kata pertamanya.
Lalu, kapan Bayi mulai cooing dan bagaimana cara menstimulasi perkembangannya? Yuk, baca penjelasan lengkapnya di artikel ini, Mommy!
Saat Si Kecil mulai mengeluarkan suara sepertoi “aaah”, “oooh”, atau “uuuh”, mungkin Mommy menganggapnya sebagai ocehan lucu yang menggemaskan. Padahal, suara-suara sederhana ini merupakan bagian dari fase cooing, yaitu salah satu tahapan awal perkembangan bahasa bayi.
Fase cooing umumnya mulai muncul saat bayi berusia sekitar 2 bulan. Pada tahap ini, Si Kecil mulai menghasilkan suara vokal yang lembut sebagai cara berkomunikasi selain melalui tangisan.
Meski terdengar sederhana, sebenarnya Si Kecil sedang belajar banyak hal sekaligus. Setiap kali ia mengeluarkan suara, tubuhnya sedang melatih koordinasi berbagai organ yang berperan dalam menghasilkan suara, seperti:
Latihan kecil ini menjadi bekal penting sebelum nantinya Si Kecil belajar mengucapkan suku kata, kata pertama, hingga berbicara dengan lancar.
Tidak hanya itu, saat bayi melakukan cooing, otaknya juga sedang membangun banyak koneksi saraf yang berperan dalam perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, serta keterampilan berkomunikasi. Semakin sering Si Kecil mendapatkan kesempatan untuk “berlatih” mengeluarkan suara dan mendapatkan respons dari orang-orang di sekitarnya, semakin optimal pula perkembangan kemampuan bahasanya.
Karena itu, jangan ragu untuk membalas setiap ocehan Si Kecil, ya, Mommy. Saat Mommy tersenyum, mengajak mengobrol, atau menirukan suara yang ia buat, sebenarnya sedang terjadi proses yang disebut serve and return, yaitu interaksi dua arah antara bayi dan pengasuh yang sangat penting untuk perkembangan otak dan kemampuan komunikasinya.
Jadi, meskipun saat ini Si Kecil baru bisa mengucapkan “aaah” atau “oooh”, setiap suara kecil yang ia keluarkan sebenarnya adalah langkah awal menuju kemampuan berbicara di kemudian hari.
Setiap bayi berkembang dengan kecepatannya masing-masing. Jadi, tidak apa-apa jika perkembangan Si Kecil sedikit berbeda dari bayi seusianya. Namun, secara umum berikut tahapan perkembangan suara bayi pada enam bulan pertama kehidupannya:
Pada awal kehidupannya, tangisan adalah cara utama Si Kecil menyampaikan berbagai kebutuhannya, seperti saat lapar, mengantuk, buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB), atau ingin digendong.
Memasuki usia sekitar 2 bulan, bayi biasanya mulai mengeluarkan suara vokal sederhana seperti “aa”, “oo”, atau “uu”, terutama ketika ia merasa nyaman, kenyang, atau sedang melihat wajah Mommy. Suara inilah yang menjadi awal fase cooing (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2026).
Pada usia ini, Si Kecil mulai menikmati interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Mommy mungkin akan menyadari bahwa ia sering mengeluarkan suara ketika diajak berbicara atau saat melakukan kontak mata.
Misalnya, ketika Mommy tersenyum atau mengajaknya mengobrol, Si Kecil akan mencoba membalas dengan suara cooing, tersenyum, atau menggerakkan tangan dan kakinya. Momen sederhana ini menjadi latihan penting bagi perkembangan kemampuan komunikasi dan ikatan emosional antara Mommy dan Si Kecil (ASHA, n.d.).
Memasuki usia 4 hingga 6 bulan, kemampuan vokal Si Kecil mulai berkembang lebih pesat. Selain suara cooing, Mommy mungkin akan mendengar berbagai suara baru, seperti:
Hal ini menunjukkan bahwa Si Kecil sedang belajar mengendalikan organ bicaranya dan mencoba berbagai cara untuk menghasilkan suara.
Sekitar usia 6 bulan, kebanyakan bayi mulai memasuki tahap babbling atau berceloteh. Pada fase ini, Si Kecil tidak lagi hanya mengeluarkan suara vokal, tetapi mulai menggabungkan huruf vokal dan konsonan.
Mommy mungkin mulai sering mendengar celotehan seperti:
Walaupun belum memiliki arti, babbling merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan bahasa. Tahap ini menjadi latihan sebelum Si Kecil mulai mengucapkan kata pertamanya, yang umumnya terjadi sekitar usia 10-12 bulan (CDC, 2026).
Saat Si Kecil mulai memasuki fase cooing, Mommy sebenarnya sudah bisa mulai memberikan stimulasi sederhana untuk mendukung perkembangan kemampuan bicaranya. Kabar baiknya, stimulasi terbaik tidak membutuhkan alat khusus atau mainan yang mahal. Justru, interaksi hangat yang Mommy lakukan setiap hari menjadi “makanan” terbaik bagi perkembangan otak dan kemampuan bahasa Si Kecil.
Yuk, coba tiga cara sederhana berikut!
Saat Si Kecil mengeluarkan suara seperti “aaah”, “ooh”, atau “uuuh”, usahakan jangan hanya tersenyum lalu diam, ya, Mommy. Sebisa mungkin, balas kembali ocehannya.
Misalnya dengan mengatakan, “Iya ya, Sayang? Lagi cerita sama Mommy?”, atau menirukan suara yang baru saja ia keluarkan.
Interaksi seperti ini dikenal dengan istilah serve and return, yaitu komunikasi dua arah antara bayi dan orang tua. Saat bayi “mengajak bicara melalui suara, tatapan, atau ekskpresi wajah, lalu Mommy memberikan respons yang hangat, otaknya akan membentuk koneksi saraf yang penting untuk perkembangan bahasa, kemampuan belajar, dan keterampilan sosialnya.
Agar manfaatnya lebih optimal, lakukan sambil bertatap muka. Saat melihat wajah Mommy dari dekat, Si Kecil belajar memperhatikan gerakan bibir, ekspresi wajah, hingga cara Mommy mengucapkan setiap kata. Pengalaman sederhana inilah yang nantinya membantu bayi memahami bagaimana suara dibentuk sebelum akhirnya ia bisa berbicara.
Meskipun belum bisa menjawab, bukan berarti Si Kecil belum belajar, lho, Mommy.
Sejak lahir, bayi sudah mulai menyerap suara dan bahasa yang ia dengar setiap hari. Semakin sering ia mendengar Mommy berbicara, semakin banyak pula kosakata dan pola bahasa yang tersimpan di dalam otaknya.
Karena itu, biasakan mengajak Si Kecil mengobrol selama melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya saat:
Mommy tidak perlu menggunakan kalimat yang rumit. Ceritakan saja apa yang sedang dilakukan, misalnya,
“Sekarang kita ganti popok dulu ya.”
“Wah, hari ini cuacanya cerah sekali.”
“Sebentar lagi kita mandi supaya badan Si Kecil segar.”
Selain mengobrol, Mommy juga bisa mulai membacakan buku bergambar sejak dini. Walaupun belum memahami isi ceritanya, Si Kecil tetap belajar mengenali bunyi bahasa, intonasi, ritme berbicara, dan berbagai kosakata baru yang akan menjadi bekal saat ia mulai berbicara nanti (ASHA, n.d.).
Saat berbicara dengan bayi, banyak orang tua tanpa sadar menggunakan bahasa yang “dicadelkan”, misalnya mengatakan “mamam dulu yuk”, “cucu”, atau “bobok”. Cara berbicara seperti ini dikenal sebagai baby talk.
Padahal, para ahli lebih menyarankan menggunakan parentese.
Parentese adalah cara berbicara kepada bayi dengan menggunakan kata-kata yang benar, tetapi diucapkan dengan suara yang lebih lembut, intonasi yang lebih tinggi, tempo yang lebih pelan, dan ekspresi yang hangat.
Misalnya,
“Halo, Si Kecil. Mommy senang sekali hari ini bermain sama kamu.”
Cara berbicara seperti ini membuat bayi lebih mudah memperhatikan suara Mommy sekaligus belajar mengenali bunyi dan pola bahasa yang benar. Karena itu, parentese dinilai lebih baik untuk mendukung perkembangan bahasa dibandingkan mengubah pelafalan kata menjadi tidak sesuai (ASHA, n.d.).
Jadi, tidak masalah kalau suara Mommy terdengar lebih ceria saat mengajak Si Kecil mengobrol. Yang terpenting, tetap gunakan kata-kata yang benar agar ia mendapatkan contoh bahasa yang baik sejak dini.
Melalui berbagai interaksi sederhana tersebut, kemampuan bahasa Si Kecil akan terus berkembang secara bertahap. Setelah melewati fase cooing, biasanya bayi mulai memasuki tahap babbling, yaitu mengucapkan rangkaian suara seperti “ba-ba-ba”, “ma-ma-ma”, atau “da-da-da” yang umumnya muncul sekitar usia 6 bulan.
Nah, agar stimulasi yang Mommy berikan tetap sesuai dengan tahap perkembangannya, jangan lewatkan juga artikel 5 Stimulasi Bayi 6 Bulan agar Cepat Bicara, Mommy Wajib Tahu!. Di sana, Mommy bisa menemukan berbagai aktivitas sederhana yang dapat membantu melatih kemampuan bicara Si Kecil sekaligus mendukung perkembangan bahasa dan komunikasinya sesuai usianya.
Setiap bayi memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda-beda. Ada yang mulai mengoceh lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Karena itu, Mommy tidak perlu langsung membandingkan perkembangan Si Kecil dengan bayi lain seusianya.
Meski begitu, ada beberapa red flags atau tanda bahaya yang sebaiknya tidak diabaikan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), keterlambatan dalam merespons suara atau belum munculnya kemampuan vokal sesuai usia dapat menjadi tanda bahwa perkembangan pendengaran maupun komunikasi bayi perlu dievaluasi lebih lanjut (CDC, 2026).
Mommy sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak apabila Si Kecil menunjukkan beberapa kondisi berikut.
Pada usia sekitar 2 bulan, sebagian besar bayi mulai merespons suara keras, menatap wajah orang di sekitarnya dengan lebih fokus, dan menunjukkan senyum sosial. Jika Si Kecil tampak tidak bereaksi terhadap suara keras, jarang melakukan kontak mata atau menatap wajah, serta belum tersenyum kepada orang di sekitarnya, Mommy sebaiknya mendiskusikannya saat kontrol rutin dengan dokter agar tumbuh kembangnya dapat dievaluasi lebih lanjut.
Di usia sekitar 4 bulan, bayi umumnya sudah semakin aktif mengoceh dan menikmati “percakapan” sederhana dengan orang di sekitarnya.
Perlu diperhatikan apabila Si Kecil:
Gejala-gejala tersebut memang belum tentu menandakan adanya gangguan tertentu. Namun, bisa menjadi petunjuk awal adanya masalah pada pendengaran atau perkembangan komunikasi sehingga perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter anak.
Yang terpenting, Mommy tidak perlu langsung panik jika menemukan salah satu tanda di atas. Pemeriksaan sejak dini justru membantu dokter mengetahui apakah perkembangan Si Kecil masih termasuk variasi normal atau memang membutuhkan stimulasi maupun penanganan lebih lanjut. Semakin cepat kondisi dikenali, semakin besar pula peluang untuk memberikan intervensi yang tepat sehingga tumbuh kembang Si Kecil dapat berlangsung secara optimal.

Fase cooing merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan bahasa Si Kecil. Melalui suara-suara sederhana seperti “aaah” atau “oooh”, bayi sebenarnya sedang belajar mengendalikan organ bicaranya sekaligus membangun dasar kemampuan berkomunikasi yang akan terus berkembang seiring bertambahnya usia.
Karena itu, jangan ragu untuk membalas setiap ocehan Si Kecil, ya, Mommy. Mengajaknya mengobrol, tersenyum, melakukan kontak mata, atau sekadar merespons suara yang ia keluarkan adalah bentuk stimulasi sederhana yang memberikan manfaat besar bagi perkembangan otak dan kemampuan bahasanya.
Terus semangat mendampingi setiap proses tumbuh kembang Si Kecil, Mommy. Tidak perlu merasa harus selalu sempurna, karena setiap pelukan, senyuman, dan waktu yang Mommy luangkan setiap hari sudah menjadi bagian penting dari proses belajarnya. Bersama Mommy, Si Kecil sedang membangun fondasi terbaik untuk tumbuh menjadi anak yang sehat, percaya diri, dan siap berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.