
Momuung.com – PCOS selama ini dikenal sebagai salah satu gangguan hormonal yang dapat memengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, hingga kesehatan metabolik perempuan. Kini, istilah PCOS resmi diperbarui menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) agar lebih menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Lalu, apa Perbedaan PCOS dan PMOS, serta apa artinya bagi kesehatan Mommy? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PCOS merupakan gangguan hormonal yang ditandai dengan kadar hormon androgen yang lebih tinggi dari normal. Kondisi ini dapat menyebabkan:
Diperkirakan sekitar 10 hingga 13 persen perempuan usia reproduksi mengalami PCOS. Sayangnya, hingga 70 persen penderitanya belum menyadari bahwa mereka memiliki kondisi ini.
Berdasarkan publikasi di jurnal The Lancet pada Mei 2026, para ahli dari berbagai negara sepakat mengganti istilah PCOS menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome).
Alasannya karena istilah PCOS dinilai sudah tidak lagi menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Selama ini, banyak orang mengira PCOS hanya berkaitan dengan adanya “kista” pada ovarium. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks karena melibatkan gangguan hormon, metabolisme tubuh, kesehatan reproduksi, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Dr. Rekha Kumar, ahli endokrinologi dari NewYork-Presbyterian/Weill Cornell Medical Center, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah pada ovarium.
“PMOS adalah gangguan hormonal multisistem yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi, metabolisme, kesehatan mental, kulit, hingga meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik.”
Dengan nama baru ini, diharapkan diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, penelitian menjadi lebih terarah, dan masyarakat lebih memahami bahwa kondisi ini bukan hanya soal ovarium.
Pergantian istilah ini ternyata bukan keputusan yang dibuat dalam waktu singkat.
Prosesnya berlangsung selama lebih dari satu dekade dan melibatkan sekitar 22.000 orang dari berbagai negara, mulai dari dokter, peneliti, organisasi profesi, pasien, hingga kelompok advokasi.
Sebenarnya usulan pergantian nama sudah muncul sejak tahun 2012. Namun saat itu belum tercapai kesepakatan global mengenai nama yang paling tepat.
Melalui berbagai survei internasional, mayoritas peserta akhirnya sepakat memilih nama Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) karena dianggap paling mampu menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Nama PMOS terdiri dari tiga istilah yang masing-masing menjelaskan bagian penting dari penyakit ini.
Artinya kondisi ini tidak hanya memengaruhi satu hormon saja, tetapi melibatkan berbagai sistem hormon di dalam tubuh.
Akibatnya, perempuan dengan PMOS dapat mengalami berbagai keluhan yang tidak hanya berkaitan dengan menstruasi atau ovarium.
Bagian ini menunjukkan bahwa PMOS juga berkaitan dengan proses metabolisme tubuh.
Banyak perempuan dengan PMOS mengalami:
PMOS tetap memengaruhi fungsi ovarium sebagai organ reproduksi.
Akibatnya, perempuan dapat mengalami:
Hingga saat ini penyebab pasti PMOS masih belum diketahui.
Namun, para ahli menduga kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, seperti:
Pada sebagian perempuan, pemeriksaan USG juga dapat menunjukkan banyak folikel kecil di ovarium. Folikel ini sebenarnya berisi sel telur yang belum matang, tetapi tidak berkembang hingga terjadi ovulasi secara normal.
Gejala PMOS bisa berbeda pada setiap perempuan. Ada yang mengalami keluhan cukup berat, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan gejala.
Secara umum, diagnosis PMOS ditegakkan bila terdapat minimal dua dari tiga tanda berikut.
Beberapa tandanya meliputi:
Kondisi ini dapat menyebabkan:
Melalui pemeriksaan USG, dokter dapat menemukan banyak folikel kecil di sepanjang tepi ovarium.
Folikel tersebut sebenarnya bukan kista yang berbahaya, tetapi merupakan sel telur yang belum berkembang dan belum berhasil dilepaskan saat ovulasi.
Meskipun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, PMOS dapat dikelola dengan penanganan yang tepat.
Dokter biasanya akan menyesuaikan pengobatan dengan keluhan yang dialami setiap pasien, misalnya untuk membantu mengatur siklus haid, meningkatkan peluang kehamilan, atau mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung.
Selain itu, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga berperan penting dalam membantu mengendalikan gejala PMOS.
Perubahan istilah dari PCOS menjadi PMOS bukan sekadar pergantian nama. Istilah baru ini membantu menggambarkan bahwa kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi ovarium, tetapi juga berkaitan dengan sistem hormon dan metabolisme tubuh secara menyeluruh.
Karena gejalanya sering kali muncul secara bertahap atau bahkan tidak disadari, Mommy sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami haid yang tidak teratur, sulit hamil, jerawat yang cukup berat, atau pertumbuhan rambut berlebih di area tertentu. Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serta menjaga kesehatan reproduksi dan metabolik dalam jangka panjang.
Menjaga kesehatan sejak sebelum hamil juga penting untuk mendukung kehamilan yang lebih sehat. Jika Mommy sedang merencanakan kehamilan atau sudah hamil, jangan lewatkan juga artikel “Jangan Abaikan! 6 Kebiasaan yang Bisa Meningkatkan Risiko Preeklampsia Saat Hamil” untuk mengetahui kebiasaan sehari-hari yang perlu dihindari agar kesehatan Mommy dan Si Kecil tetap terjaga.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Gejala PMOS dapat berbeda pada setiap perempuan, tetapi yang paling sering meliputi: