
Momuung.com – Ketika proses menyusui belum optimal dan berat badan bayi belum bertambah sesuai harapan, beberapa ibu memilih memberikan ASI perah (ASIP) sebagai tambahan. Namun, karena khawatir Si Kecil tersedak saat menggunakan cup feeder, botol dot akhirnya menjadi pilihan yang terasa lebih praktis.
Padahal, penggunaan botol dot secara rutin dapat membuat bayi terbiasa dengan cara mengisap dan aliran ASI yang berbeda dari payudara. Pada beberapa bayi, hal ini bisa membuat proses menyusu langsung menjadi lebih menantang, seperti mudah melepas payudara, rewel, atau menolak menyusu.
Jadi, jika ASIP perlu diberikan, apakah Mommy harus selalu menggunakan botol dot? Yuk, kenali pengaruh botol dot terhadap proses menyusui dan alternatif pemberian ASIP yang bisa membantu Si Kecil tetap nyaman menyusu langsung.
Bingung puting atau nipple confusion merupakan istilah yang sering digunakan ketika bayi mengalami kesulitan menyusu langsung di payudara setelah terbiasa minum menggunakan botol. Kondisi ini tidak selalu ditandai dengan bayi yang menolak payudara atau menangis ketika ditawarkan untuk menyusu. Pada beberapa bayi, bingung puting dapat terlihat dari perubahan cara menyusu, seperti bayi menjadi lebih sulit melekat (latch), sering melepas payudara, rewel selama menyusu, atau menarik-narik puting. Bayi juga dapat terlihat mudah tertidur saat menyusu di payudara, tetapi tetap mau dan mampu menghabiskan susu ketika diberikan melalui dot.
Istilah nipple confusion sebenarnya masih cukup kontroversial. Bayi bukan berarti benar-benar “bingung” membedakan payudara dan dot. Sebagian bayi justru mengalami kesulitan menyesuaikan pola mengisap dan menghadapi perbedaan aliran susu antara botol dan payudara (La Leche League Great Britain [LLLGB], 2026).
Saat menyusu langsung, Si Kecil perlu melakukan beberapa gerakan secara terkoordinasi untuk mendapatkan ASI, seperti:
Sementara itu, saat minum dari botol, mekanismenya berbeda. ASI dapat lebih mudah mengalir dari dot sehingga bayi tidak perlu melakukan gerakan mulut yang sama seperti ketika menyusu langsung. Bayi juga tidak perlu melakukan pelekatan sedalam saat menyusu di payudara (Timmons, 2018).
Ada beberapa perbedaan antara menyusu dari botol dan menyusu langsung di payudara yang perlu Mommy pahami.
Saat menyusu langsung, bayi perlu membuka mulut dengan cukup lebar dan melakukan latch yang dalam agar sebagian besar areola masuk ke dalam mulut. Lidah dan rahang kemudian bekerja untuk membantu mengeluarkan ASI dari payudara.
Sementara itu, dot memiliki bentuk dan tekstur yang berbeda dari payudara sehingga bayi dapat menggunakan pola gerakan mulut yang berbeda saat menyusu. Perbedaan tersebut meliputi:
Pada sebagian bayi, terutama yang masih belajar menyusu langsung, perubahan pola ini dapat membuat mereka lebih sulit mempertahankan latch atau mengisap secara efektif ketika kembali ke payudara (LLLGB, 2026).
Perbedaan lainnya ada pada cara susu mengalir. Aliran dari botol dapat terasa lebih cepat atau lebih konsisten bagi bayi, tergantung pada jenis dot, posisi botol, dan cara pemberiannya.
Ketika bayi terbiasa mendapatkan susu dengan aliran yang relatif mudah, sebagian bayi dapat menjadi kurang sabar saat menyusu langsung. Di payudara, bayi perlu melakukan pelekatan dan mengisap secara efektif untuk mendapatkan serta mempertahankan aliran ASI. Jika aliran ASI belum langsung deras, bayi mungkin menjadi frustrasi, melepaskan payudara, atau tampak lebih nyaman kembali ke botol.
Kondisi ini sering disebut sebagai flow preference atau bottle preference. Namun, bukan berarti bayi sengaja “memilih” botol. Bisa saja bayi sedang mencari cara yang lebih mudah untuk mendapatkan susu ketika menyusu langsung terasa lebih sulit (LLLGB, 2026).
Penggunaan dot juga perlu dilihat dari seberapa sering botol menggantikan sesi menyusu langsung. Jika bayi lebih sering mendapatkan ASIP melalui botol, kesempatan untuk berlatih menyusu di payudara menjadi lebih sedikit. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika bayi masih membangun kemampuan menyusu langsung.
Dari sisi produksi ASI, penggantian sesi menyusu juga perlu diperhatikan. Jika satu sesi menyusu digantikan dengan botol dan Mommy tidak memerah ASI pada waktu tersebut, stimulasi serta pengeluaran ASI dari payudara dapat berkurang. Padahal, pengeluaran ASI secara rutin membantu mempertahankan produksi ASI.
Karena itu, jika ASIP memang perlu diberikan, Mommy dapat mempertimbangkan metode pemberian yang tetap mendukung tujuan menyusu langsung. WHO merekomendasikan agar bayi yang disusui tidak diberikan botol atau teats dalam konteks pemberian ASI eksklusif. WHO juga merekomendasikan agar tenaga kesehatan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai penggunaan dan risiko botol serta teats (World Health Organization, 2017).

Kalau tidak ada kebutuhan khusus untuk memberikan ASIP melalui botol, menghindari penggunaan dot bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu bayi tetap terbiasa menyusu langsung di payudara.
Hal ini terutama dapat dipertimbangkan ketika:
Namun, bukan berarti bayi yang membutuhkan tambahan ASIP harus dibiarkan lapar demi menghindari dot. Jika ASIP memang diperlukan, kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi. Yang dapat Mommy pertimbangkan adalah cara memberikan ASIP yang sesuai dengan kondisi Si Kecil dan tetap mendukung tujuan menyusu langsung.
Ada beberapa metode pemberian ASIP selain menggunakan botol. Namun, setiap metode memiliki cara penggunaan, pola pemberian, serta pertimbangan keamanan yang berbeda dibandingkan dengan menyusu langsung.
Cup feeding adalah pemberian ASIP menggunakan cangkir. Bahkan bayi prematur dapat belajar minum dari cangkir dengan latihan dan pendampingan yang tepat (La Leche League Great Britain, 2026).
Cara melakukannya secara umum:
Jangan menuangkan ASIP langsung ke dalam mulut bayi. Miringkan cangkir hingga ASIP menyentuh tepi bibir, lalu biarkan bayi mengambil ASIP dengan menyeruputnya sendiri. Cara ini membantu Si Kecil mengatur ritme minumnya dan dapat mengurangi risiko tersedak. Untuk mengenalkan cup feeder, Mommy bisa mulai berlatih saat Si Kecil sedang tenang dan belum terlalu lapar. Dengan begitu, bayi dapat belajar menyeruput secara perlahan sekaligus menyesuaikan diri dengan aliran ASIP yang nyaman baginya.
Untuk bayi yang masih sangat kecil atau membutuhkan ASIP dalam jumlah tertentu, sendok kecil (teaspoon), spuit (syringe), atau dropper dapat menjadi pilihan dalam kondisi tertentu (La Leche League Great Britain, 2026).
Pemberian perlu dilakukan secara perlahan dan mengikuti kemampuan bayi. ASIP tidak sebaiknya disemprotkan atau dituangkan secara paksa ke dalam mulut karena bayi perlu memiliki kesempatan untuk mengatur proses minum dan menelan.
Jika Mommy belum pernah menggunakan metode ini, terutama pada bayi baru lahir, prematur, atau bayi dengan masalah menyusu, sebaiknya minta tenaga kesehatan mengajarkan teknik yang tepat.
Sendok juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk memberikan ASIP. Mommy dapat menggunakan sendok khusus yang memungkinkan ASIP keluar secara perlahan saat bagian ujung atau wadahnya ditekan. Dengan begitu, aliran ASIP dapat diberikan lebih konsisten tanpa perlu berulang kali mengambil ASIP menggunakan sendok, sehingga Si Kecil tidak mudah frustrasi karena aliran yang terputus-putus.
Nursing supplementer merupakan alat yang memungkinkan bayi mendapatkan tambahan ASIP melalui selang kecil saat sedang menyusu langsung di payudara.
Dengan metode ini, bayi tetap berada di payudara sambil mendapatkan tambahan ASIP yang dibutuhkan. Karena itu, nursing supplementer dapat menjadi salah satu pilihan dalam situasi tertentu, misalnya ketika bayi membutuhkan suplementasi tetapi Mommy juga ingin tetap memberikan kesempatan untuk menyusu langsung (La Leche League Great Britain, 2026).
Namun, penggunaannya membutuhkan teknik dan pengaturan yang tepat. Mommy dapat meminta bantuan konselor laktasi untuk mengetahui apakah metode ini sesuai dengan kondisi Si Kecil.
Ketika Si Kecil sudah lebih besar, mampu duduk, dan dapat menjaga posisi kepala dengan stabil, ASIP atau susu dapat diberikan menggunakan cangkir biasa, cangkir dengan sedotan, atau cangkir bertutup sesuai kemampuan dan kenyamanannya.
Menariknya, bayi tidak harus selalu menggunakan botol untuk belajar minum dari wadah. Si Kecil juga dapat belajar dengan mengamati orang-orang di sekitarnya. Bahkan, beberapa bayi bisa lebih tertarik mencoba minum dari cangkir setelah melihat Mommy atau kakaknya menggunakan cangkir (La Leche League Great Britain, 2026).
Jika Mommy masih ingin mendukung proses menyusu langsung, pilihlah wadah minum yang memungkinkan Si Kecil mengambil cairan tanpa perlu menggigit atau mengisap dengan kuat untuk mendapatkan ASIP.
Menariknya, bayi tidak selalu membutuhkan botol untuk belajar minum dari wadah. Bayi juga dapat belajar dengan mengamati orang di sekitarnya. Beberapa bayi bahkan lebih tertarik minum dari cangkir yang mereka lihat digunakan oleh orang tua atau kakaknya (La Leche League Great Britain, 2026).
Jika Mommy masih ingin mendukung proses menyusu langsung, LLLGB menyarankan untuk mempertimbangkan cangkir yang memungkinkan bayi minum tanpa perlu menggigit atau melakukan isapan kuat untuk mengeluarkan cairan.
Untuk mengetahui langkah-langkah pemberian ASIP dengan metode alternatif, Mommy bisa membaca artikel Anti Bingung Puting! Ini 4 Alternatif Media Pemberian ASIP untuk Bayi untuk panduan lengkapnya.
Mengurangi atau menghindari penggunaan dot memang bisa membantu, tetapi proses kembali menyusu langsung tidak berhenti di situ. Mommy juga perlu membuat payudara kembali menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi Si Kecil.
Jika bayi sudah terbiasa minum dari botol, proses kembali ke payudara mungkin membutuhkan waktu dan kesabaran. Beberapa cara berikut dapat dicoba:
Kalau Si Kecil terus mengalami kesulitan menyusu langsung, jangan ragu meminta bantuan konselor laktasi atau IBCLC (International Board Certified Lactation Consultant). Bantuan profesional dapat membantu mencari tahu apakah masalahnya berkaitan dengan latch, posisi menyusui, aliran ASI, produksi ASI, atau faktor lain yang membuat bayi sulit menyusu.
Mommy sebaiknya mencari bantuan jika:
Konsultasi juga penting jika bayi tampak mengalami kesulitan mengisap, menelan, atau mengatur napas saat menyusu. Evaluasi secara langsung dapat membantu menentukan penyebabnya dan memilih strategi yang paling sesuai untuk Si Kecil.
Penggunaan dot tidak otomatis menyebabkan bingung puting, tetapi perbedaan cara mengisap dan aliran ASI dari dot dapat membuat sebagian bayi lebih sulit kembali menyusu langsung. Karena itu, jika tidak ada kebutuhan khusus, menghindari atau menunda penggunaan dot bisa menjadi pilihan untuk membantu Si Kecil tetap terbiasa menyusu di payudara.
Jika Si Kecil membutuhkan ASIP, Mommy tidak perlu khawatir. ASIP tetap bisa diberikan dengan metode lain, seperti cup feeding, syringe, atau nursing supplementer. Yang terpenting, tetap berikan kesempatan menyusu langsung dan jaga stimulasi payudara.
Kalau Si Kecil terus sulit latch, menolak menyusu, atau Mommy masih bingung menentukan cara pemberian ASIP yang tepat, jangan ragu untuk konsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung yang siap membantu Mommy secara GRATIS 24 jam.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.