
Momuung.com – Bagi Mommy yang baru memiliki bayi, merawat tali pusat mungkin terasa sedikit menegangkan. Wajar saja, bagian ini terlihat kecil tetapi tetap perlu dirawat dengan benar sampai akhirnya mengering dan puput.
Kabar baiknya, perawatan Tali pusat bayi baru lahir sebenarnya cukup sederhana. Prinsip utamanya adalah menjaga tali pusat tetap bersih dan kering, tidak menarik atau melepasnya secara paksa, serta memperhatikan tanda-tanda infeksi.
Yuk, kenali cara merawat tali pusat Si Kecil sekaligus memahami perubahan yang normal dan tanda yang perlu diperiksakan.
Setelah bayi lahir, tali pusat akan dijepit dan dipotong oleh tenaga kesehatan. Sebagian kecil tali pusat akan tetap menempel di bagian perut bayi dan disebut stump tali pusat.
Tali pusat sendiri tidak memiliki ujung saraf seperti kulit, sehingga proses pemotongan tali pusat tidak terasa sakit pada bayi. Setelah dipotong, stump akan perlahan mengering, berubah warna, kemudian terlepas dengan sendirinya.
Umumnya, tali pusat akan puput dalam waktu sekitar 1 sampai 3 minggu setelah lahir.
Mommy mungkin pernah mendengar istilah delayed cord clamping atau penundaan pemotongan tali pusat. Ini bukan sekadar tradisi, karena memang memiliki manfaat medis.
WHO merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusat setidaknya 1 menit setelah lahir pada bayi yang tidak membutuhkan tindakan resusitasi segera. Penundaan ini memungkinkan aliran darah dari plasenta ke bayi berlanjut dan dapat membantu meningkatkan cadangan zat besi bayi.
Jadi, keputusan mengenai kapan tali pusat dijepit dan dipotong sebaiknya mengikuti kondisi Mommy dan Si Kecil serta pertimbangan tenaga kesehatan yang menangani persalinan.
Selama stump tali pusat belum puput, Mommy tidak perlu melakukan perawatan yang rumit. Justru, semakin sederhana perawatannya, semakin baik.
Sebelum mengganti popok atau melakukan perawatan tali pusat, cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi risiko kuman berpindah ke area tali pusat. Mommy juga sebaiknya mencuci tangan setelah selesai merawatnya.
Pada kondisi normal, tali pusat tidak perlu diberikan alkohol, Betadine, salep, minyak, bedak, atau bahan lainnya. WHO merekomendasikan clean, dry cord care, yaitu menjaga tali pusat tetap bersih dan kering tanpa mengoleskan sesuatu secara rutin.
Kalau tali pusat terkena urine, feses, atau kotoran, bersihkan dengan lembut menggunakan air bersih dan sabun, kemudian keringkan dengan hati-hati.
Usahakan bagian atas popok tidak menutupi stump tali pusat. Mommy bisa melipat bagian depan popok ke bawah sehingga tali pusat tetap berada di luar area popok.
Cara ini membantu menjaga tali pusat tetap kering sekaligus mengurangi kemungkinan terkena urine atau feses.
Kenakan pakaian bayi yang bersih dan nyaman. Tidak perlu menutup tali pusat dengan perban atau plester agar tetap “terlindungi”.
Yang terpenting, area tali pusat tidak terus-menerus bergesekan atau tertutup rapat.
Walaupun stump sudah terlihat hampir puput, jangan pernah menarik, mencabut, atau memutarnya agar lebih cepat lepas.
Biarkan tali pusat mengering dan terlepas secara alami. Menariknya secara paksa dapat menyebabkan perdarahan dan melukai jaringan yang belum sepenuhnya sembuh.
Setelah tali pusat puput, bentuk pusar Si Kecil juga bisa terlihat berbeda pada setiap bayi. Ada yang tampak masuk ke dalam, sementara sebagian lainnya terlihat lebih menonjol. Jika Mommy penasaran dengan kondisi pusar yang menonjol, yuk kenali lebih lanjut lewat artikel Kenapa Pusar Ibu Hamil Menonjol? Ini Penjelasannya untuk memahami penyebab pusar menonjol dan kapan kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Iya, Mommy tidak perlu panik melihat warna tali pusat berubah.
Saat mulai mengering, stump bisa berubah dari warna kekuningan menjadi cokelat, abu-abu, kemudian semakin gelap hingga akhirnya berwarna hitam sebelum terlepas. Perubahan warna tersebut merupakan bagian dari proses pengeringan alami.
Beberapa tetes darah di sekitar tali pusat ketika stump mulai terlepas juga dapat terjadi. Namun, bila darah keluar terus-menerus atau perdarahan tidak berhenti, segera hubungi dokter.
Setelah tali pusat puput, terkadang masih terdapat sedikit jaringan merah atau lembap di bagian dalam pusar. Kondisi ini bisa berupa umbilical granuloma dan sebaiknya diperiksakan jika tidak membaik dengan sendirinya.
Infeksi tali pusat atau omphalitis memang tidak sering terjadi, tetapi dapat menjadi kondisi serius pada bayi baru lahir.
Segera konsultasikan dengan dokter jika Mommy menemukan:
Pada bayi baru lahir, jangan menunggu terlalu lama ketika muncul tanda-tanda tersebut karena infeksi dapat berkembang dengan cepat.
Sebagian besar tali pusat akan puput dalam waktu 1 sampai 3 minggu. Jika stump masih menempel setelah 3 minggu, sebaiknya Mommy berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah yang perlu ditangani.
Setelah Si Kecil lahir, biasanya akan ada banyak nasihat dari orang sekitar tentang cara merawat tali pusat. Tidak semuanya benar secara medis, lho, Mommy.
Tali pusat bukanlah kembaran bayi. Secara medis, tali pusat merupakan bagian yang menghubungkan bayi dengan plasenta selama kehamilan dan berperan dalam menyalurkan oksigen serta nutrisi.
Ada keluarga yang memilih mengubur tali pusat sebagai bagian dari tradisi. Hal tersebut merupakan keputusan keluarga dan berbeda dengan manfaat medis tali pusat.
Sementara itu, darah tali pusat memang mengandung sel punca yang dalam kondisi tertentu dapat disimpan atau didonasikan untuk kebutuhan transplantasi. Namun, hal ini merupakan proses tersendiri dan tidak berarti tali pusat yang disimpan di rumah dapat digunakan sebagai pengobatan.
Menempelkan koin pada pusar bayi tidak dapat membuat bentuk pusar menjadi rata atau mencegah umbilical hernia.
Justru, benda yang ditempelkan pada kulit bayi dapat menyebabkan iritasi. AAP juga secara khusus tidak menganjurkan penggunaan koin pada pusar bayi.
Kalau pusar Si Kecil terlihat menonjol ketika menangis atau mengejan, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan umbilical hernia. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan penyebabnya.
Tidak perlu, Mommy. Tali pusat tidak membutuhkan koyo, minyak, bedak, atau bahan tradisional lainnya agar bayi lebih nyaman.
Penggunaan berbagai bahan pada area tali pusat justru dapat meningkatkan risiko iritasi atau kontaminasi. WHO merekomendasikan agar tidak mengoleskan sesuatu pada stump tali pusat secara rutin.
Kalau Si Kecil rewel, cari tahu penyebabnya dari kondisi lain seperti lapar, popok basah, suhu tubuh yang tidak nyaman, atau kebutuhan untuk digendong dan ditenangkan.
Segera cari pertolongan medis jika tali pusat:
Untuk bayi baru lahir, perubahan kondisi tubuh sekecil apa pun tetap perlu diperhatikan. Bila Mommy merasa ada sesuatu yang tidak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak.
Merawat tali pusat bayi baru lahir sebenarnya cukup sederhana. Jaga tetap bersih dan kering, jauhkan dari popok, hindari mengoleskan bahan apa pun tanpa anjuran tenaga kesehatan, dan biarkan tali pusat puput secara alami.
Perubahan warna dan sedikit bercak darah saat tali pusat mulai terlepas bisa menjadi bagian dari proses normal. Namun, kemerahan yang menyebar, nanah, bau tidak sedap, pembengkakan, perdarahan aktif, atau bayi mengalami demam perlu segera diperiksakan.
Dengan perawatan yang tepat dan perhatian pada tanda-tanda infeksi, Mommy bisa membantu Si Kecil melewati fase awal kehidupannya dengan lebih aman dan tenang.
Sebelum memasuki fase setelah persalinan, Mommy tentu juga perlu mempersiapkan berbagai hal menjelang kelahiran Si Kecil. Salah satunya adalah memahami berbagai cara yang aman untuk mempersiapkan tubuh menjelang persalinan. Yuk, baca juga 10 Cara Agar Cepat Kontraksi yang Aman Menjelang Persalinan sebagai bagian dari persiapan menyambut kelahiran Si Kecil.
Tali pusat umumnya mengering dan terlepas dalam sekitar 1 sampai 3 minggu setelah bayi lahir. Waktu puput dapat berbeda pada setiap bayi.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Kesehatan Anak6 Januari 2026
Perawatan Bayi21 Juli 2026
Insight21 Mei 2026
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Tanda yang perlu diwaspadai antara lain kulit di sekitar tali pusat semakin merah atau kemerahannya menyebar, bengkak, keluar nanah, muncul bau tidak sedap, area tersebut terasa nyeri, atau bayi mengalami demam dan tampak tidak sehat. Kondisi tersebut perlu segera diperiksakan.