
Momuung.com – Bayi tidak BAB selama beberapa hari sering kali membuat orang tua langsung khawatir. Apalagi jika Si Kecil biasanya BAB setiap hari, lalu tiba-tiba popoknya tetap bersih hingga berhari-hari. Tidak heran jika banyak Mommy bertanya-tanya, apakah ini normal atau justru tanda adanya masalah pada pencernaan bayi?
Sebenarnya, frekuensi BAB setiap bayi bisa berbeda-beda, tergantung usia, jenis asupan, dan kondisi tubuhnya. Pada beberapa bayi, terutama yang mendapatkan ASI, jarang BAB tidak selalu berarti sembelit. Namun, ada juga kondisi tertentu yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Agar tidak panik berlebihan, yuk pahami penyebab bayi tidak BAB selama berhari-hari, tanda-tanda yang masih tergolong normal, serta kapan Mommy perlu membawa Si Kecil ke dokter. Buibu, baca selengkapnya di sini, ya!
Saat Si Kecil masih baru lahir, Mommy mungkin melihat ia BAB beberapa kali dalam sehari, bahkan hampir setiap kali selesai menyusu. Namun seiring bertambahnya usia, pola BAB bayi bisa berubah dan menjadi lebih jarang.
Menurut panduan dari La Leche League International (2024), setelah usia sekitar 4 hingga 6 minggu, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sering kali mulai mengalami perubahan frekuensi BAB. Hal ini terjadi karena sistem pencernaannya semakin matang dan mampu mengolah nutrisi dengan lebih efisien dibandingkan saat baru lahir.
Karena itu, sebagian bayi ASI eksklusif bisa saja tidak BAB selama beberapa hari dan tetap berada dalam kondisi yang normal. Selama Si Kecil tetap menyusu dengan baik, tampak nyaman, aktif, dan pertambahan berat badannya sesuai, Mommy tidak perlu langsung panik hanya karena frekuensi BAB-nya berkurang.
Salah satu alasan mengapa bayi ASI bisa BAB lebih jarang adalah karena ASI merupakan makanan yang sangat mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kandungan nutrisi dalam ASI dirancang secara alami untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi. Sebagian besar nutrisi tersebut dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh secara optimal untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, serta kebutuhan energi Si Kecil (CDC, 2026).
Karena banyak nutrisi yang terserap oleh tubuh, jumlah sisa yang perlu dikeluarkan sebagai feses menjadi lebih sedikit. Inilah yang membuat beberapa bayi ASI eksklusif bisa memiliki frekuensi BAB yang lebih jarang dibandingkan sebelumnya tanpa mengalami sembelit atau gangguan pencernaan (HealthyChildren.org, 2024).
Yang perlu Mommy perhatikan bukan hanya seberapa sering Si Kecil BAB, tetapi juga kondisi tubuhnya secara keseluruhan. Jika bayi tetap aktif, menyusu dengan lahap, tidak tampak kesakitan, perutnya tidak kembung, dan berat badannya terus bertambah sesuai usia, maka BAB yang lebih jarang sering kali masih termasuk variasi normal pada bayi ASI.
Kalau Mommy melihat bayi lain seusia Si Kecil bisa BAB setiap hari, sementara Si Kecil yang minum ASI justru jarang BAB, tidak perlu langsung khawatir ya.
Dikutip dari HealthyChildren.org (2024), bayi yang mendapatkan ASI eksklusif memang sering memiliki pola BAB yang lebih bervariasi dibandingkan bayi yang mengonsumsi susu formula. Ada bayi yang BAB beberapa kali sehari, ada juga yang hanya beberapa kali dalam seminggu.
Salah satu alasannya adalah karena ASI lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh bayi. Sementara itu, bayi yang mengonsumsi susu formula umumnya memiliki pola BAB yang lebih teratur, karena sistem pencernaannya memproses kandungan nutrisi dengan cara yang berbeda (National Health Service [NHS], 2023).
Karena itu, frekuensi BAB setiap bayi tidak selalu sama. Mommy tidak perlu terlalu sering membandingkan Si Kecil dengan bayi lain. Yang lebih penting adalah memastikan Si Kecil tetap nyaman, aktif, dan tumbuh sesuai usianya.

Saat Si Kecil tidak BAB selama beberapa hari, wajar jika Mommy mulai menghitung hari dan merasa cemas. Namun sebenarnya, dokter tidak hanya melihat seberapa sering bayi BAB, tetapi juga bagaimana kondisi bayi secara keseluruhan.
Menurut AAP, bayi yang jarang BAB belum tentu mengalami sembelit. Kondisi ini sering kali masih normal selama Si Kecil tetap nyaman dan tidak menunjukkan tanda gangguan pencernaan.
Beberapa tanda yang umumnya menunjukkan kondisi Si Kecil masih baik antara lain:
Selain memperhatikan frekuensi BAB, Mommy juga bisa memantau warna dan tekstur pup Si Kecil untuk membantu menilai kondisi pencernaanya. Untuk panduan yang lebih lengkap, yuk baca artikel Panduan Warna Pup Bayi: Mana yang Normal dan Kapan Harus Waspada?
Walaupun bayi ASI eksklusif bisa saja tidak BAB selama beberapa hari hingga sekitar satu minggu dan tetap tergolong normal, Mommy tetap perlu memperhatikan kondisi Si Kecil secara keseluruhan. Yang terpenting bukan hanya frekuensi BAB, tetapi juga apakah bayi terlihat nyaman dan tidak menunjukkan tanda gangguan pencernaan.
Segera konsultasikan ke dokter anak jika Si Kecil mengalami beberapa tanda berikut:
Perut bayi memang bisa tampak sedikit menonjol, tetapi jika terlihat jauh lebih besar dari biasanya, terasa tegang saat disentuh, atau Si Kecil tampak tidak nyaman saat perutnya dipegang, kondisi ini perlu diperhatikan lebih lanjut. Perut yang kembung dan keras bisa menjadi tanda adanya penumpukan gas atau feses yang sulit dikeluarkan.
Saat akhirnya BAB, perhatikan tekstur feses yang keluar. Jika pup berbentuk bulatan-bulatan kecil dan keras seperti kotoran kambing, sangat padat, atau tampak kering, hal ini lebih mengarah pada konstipasi (sembelit) dibandingkan pola BAB normal pada bayi ASI.
Mengejan sesekali masih normal pada bayi karena otot perut dan dasar panggulnya masih dalam tahap belajar berkoordinasi. Namun, Mommy perlu waspada jika Si Kecil terlihat sangat kesakitan, menangis terus-menerus, wajah memerah dalam waktu lama, atau tampak frustrasi setiap kali mencoba BAB tetapi tidak berhasil mengeluarkan feses.
Munculnya bercak darah segar pada pup atau di sekitar anus tidak boleh diabaikan. Kondisi ini bisa terjadi akibat adanya robekan kecil (anal fissure) karena feses yang terlalu keras saat dikeluarkan. Meski sering kali bukan kondisi yang berbahaya, bayi tetap perlu diperiksa oleh dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Melihat Si Kecil tidak BAB selama beberapa hari memang bisa membuat Mommy khawatir. Namun pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, frekuensi BAB yang lebih jarang sering kali masih termasuk normal karena ASI dapat dicerna dan diserap tubuh dengan sangat baik.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah hari tanpa BAB, tetapi juga kondisi Si Kecil secara keseluruhan. Jika bayi tetap aktif, menyusu dengan lahap, tidak rewel berlebihan, dan feses yang keluar tetap lunak, Mommy umumnya tidak perlu terlalu cemas.
Sebaliknya, jika Si Kecil tampak tidak nyaman, perutnya terasa keras dan kembung, atau mengeluarkan feses yang keras dan kering, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya bisa diketahui lebih cepat.
Selain jarang BAB, keluhan pencernaan lain yang juga cukup sering dialami bayi adalah perut kembung akibat penumpukan gas. Untuk membantu Si Kecil merasa lebih nyaman, Mommy bisa membaca artikel 5 Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi yang Ampuh dan Alami yang membahas berbagai langkah sederhana dan aman yang dapat dilakukan di rumah.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.