
Momuung.com – Si Kecil yang biasanya lahap menyusu tiba-tiba menolak payudara? Jangan langsung berpikir ASI Mommy kurang, ya! Bayi menolak menyusu bisa terjadi karena berbagai hal dan dikenal sebagai Nursing strike. Kondisi ini juga bisa berkaitan dengan bingung puting, terutama pada bayi yang terbiasa menggunakan botol.
Yuk, cari tahu penyebab dan cara mengatasinya agar Si Kecil bisa kembali menyusu dengan nyaman. Lanjut baca artikel berikutnya untuk tipsnya, Mom!
Saat Si Kecil tiba-tiba menolak payudara, Mommy mungkin langsung khawatir ada yang salah dengan ASI. Padahal, breast refusal atau penolakan menyusu dapat terjadi karena berbagai kondisi dan tidak selalu berarti produksi ASI bermasalah (Australian Breastfeeding Association [ABA], n.d.).
Beberapa penyebab yang perlu Mommy perhatikan antara lain:
Jika Si Kecil belum dapat menyusu langsung secara efektif, jangan langsung memilih metode pemberian ASIP sendiri, ya, Mom. Konsultasikan terlebih dahulu dengan konselor laktasi, dokter, atau tenaga kesehatan untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan cara pemberian asupan yang paling sesuai dengan kondisi bayi.
Dalam kondisi tertentu, bayi mungkin tetap membutuhkan ASI, tetapi untuk sementara mendapatkannya melalui metode suplementasi. Pemilihan metode, jumlah tambahan asupan, posisi, hingga penggunaan alat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing bayi dan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan. Tujuannya bukan hanya memastikan kebutuhan asupan dan cairan terpenuhi, tetapi juga tetap mempertahankan kesempatan Si Kecil untuk kembali menyusu langsung ketika kondisinya sudah memungkinkan (World Health Organization [WHO], 2023).
Beberapa metode yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Supplemental Nursing System (SNS) menggunakan selang kecil yang ditempatkan di dekat puting. Saat bayi tetap menyusu di payudara, ASI perah atau tambahan asupan yang direkomendasikan tenaga kesehatan dapat dialirkan melalui selang tersebut.
Dengan cara ini, bayi tetap mendapatkan asupan sambil melakukan stimulasi mengisap di payudara. SNS dapat dipertimbangkan ketika bayi masih mampu melekat dan mengisap, tetapi membutuhkan tambahan asupan selama proses menyusu (Çalıkuşu İncekar et al., 2021).
Secara sederhana, prosesnya dilakukan dengan:
Finger feeding merupakan metode pemberian ASI atau asupan menggunakan jari dan alat bantu tertentu. Bayi melakukan gerakan mengisap pada jari, sementara ASI atau cairan diberikan melalui alat bantu yang sesuai.
Metode ini dapat menjadi salah satu alternatif ketika bayi sementara belum mampu melekat atau menyusu langsung secara efektif. Namun, teknik pemberiannya perlu disesuaikan dengan kemampuan bayi agar proses mengisap, menelan, dan bernapas tetap berlangsung dengan aman.
Dalam penelitian Karabayir et al. (2022) terhadap 41 bayi yang mengikuti program relaktasi, 30 bayi atau sekitar 73,2% mampu melakukan gerakan mengisap saat menggunakan finger feeding. Meski menunjukkan potensi sebagai metode alternatif, penelitian tersebut masih melibatkan jumlah bayi yang terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut pada populasi yang lebih besar.
Tidak ada satu metode yang otomatis paling baik untuk semua bayi. SNS, finger feeding, maupun metode pemberian ASI perah lainnya perlu dipilih berdasarkan kondisi dan kemampuan Si Kecil.
Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:
Karena itu, Mommy sebaiknya tidak menentukan sendiri metode, dosis atau jumlah tambahan ASIP, maupun durasi pemberiannya. Konselor laktasi, dokter, atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan metode, posisi, jenis alat, serta jumlah asupan tambahan yang sesuai dengan kondisi Mommy dan Si Kecil.
Selain SNS dan finger feeding, ada beberapa pilihan media lain yang dapat digunakan untuk memberikan ASI perah tanpa harus langsung menggunakan botol. Kalau Mommy ingin mengetahui alternatifnya dan memahami kapan masing-masing metode bisa dipertimbangkan, yuk baca juga artikel Anti Bingung Puting! Ini 4 Alternatif Media Pemberian ASIP untuk Bayi.
Pada akhirnya, metode pemberian ASIP yang paling tepat, jumlah suplementasi, dan cara penggunaannya dapat berbeda pada setiap ibu dan bayi. Jadi, jika Si Kecil belum bisa menyusu langsung secara efektif, jangan ragu untuk mencari pendampingan tenaga kesehatan agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi sekaligus mendukung proses menyusu langsung ke depannya.
Selain mencari tahu penyebab nursing strike, Mommy bisa mencoba beberapa cara sederhana untuk membuat Si Kecil kembali nyaman dengan proses menyusu. Fokusnya bukan memaksa bayi untuk langsung menyusu, tetapi menciptakan suasana yang membuatnya merasa aman dan rileks.
Saat bayi sedang menolak menyusu, jangan langsung mengarahkan mulutnya ke payudara. Mulailah dengan skin-to-skin contact untuk membantu Si Kecil merasa lebih tenang (ABA, n.d.).
Caranya:
Kontak kulit ke kulit juga menjadi bagian penting dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setelah bayi lahir. Mommy bisa membaca artikel 3 Manfaat IMD bagi Bayi Baru Lahir dan Tips Melakukannya untuk mengetahui manfaat dan cara melakukannya.
Bayi yang sudah menangis kencang atau terlalu lapar biasanya lebih sulit diajak menyusu. Karena itu, Mommy bisa menawarkan payudara ketika Si Kecil masih tenang, misalnya saat baru bangun tidur, mulai mengantuk, sedang dipeluk dengan nyaman, atau mulai menunjukkan tanda lapar seperti membuka mulut dan mencari puting (ABA, n.d.).
Dekatkan bayi ke payudara dan biarkan ia mencoba melakukan pelekatan (latch) dengan sendirinya. Jika menolak, jangan dipaksa. Tenangkan terlebih dahulu dan coba tawarkan kembali beberapa saat kemudian agar pengalaman menyusu tetap terasa nyaman.
Lingkungan yang terlalu ramai dapat membuat bayi lebih sulit berkonsentrasi saat menyusu, terutama ketika ia mulai semakin tertarik dengan berbagai hal di sekitarnya. Saat menghadapi nursing strike, Mommy bisa membuat sesi menyusu lebih tenang dengan:
Jika Si Kecil sering melepas payudara atau sulit fokus saat menyusu karena mudah terdistraksi, Mommy bisa membaca artikel Bayi 3 Bulan Mudah Terdistraksi Saat Menyusu? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.
Selama nursing strike, jangan hanya berfokus agar bayi kembali menyusu langsung. Kecukupan asupan tetap menjadi prioritas.
Jika Si Kecil belum dapat menyusu langsung dengan efektif, Mommy dapat:

Nursing strike tidak selalu berarti ada masalah serius, tetapi penolakan menyusu yang berlangsung terus perlu diperhatikan karena bayi tetap membutuhkan asupan yang cukup. Mommy bisa memantau kondisi Si Kecil, terutama pola menyusu, jumlah popok basah, dan respons bayi sehari-hari.
Segera konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan jika Si Kecil:
Jika penolakan menyusu terjadi tanpa tanda bahaya tetapi terus berulang, Mommy juga sebaiknya mencari bantuan konselor laktasi atau tenaga kesehatan.

Menghadapi Si Kecil yang tiba-tiba menolak menyusu memang bisa membuat Mommy khawatir dan lelah. Namun, jangan langsung menyalahkan diri sendiri, ya. Breast refusal atau nursing strike bisa terjadi karena berbagai kondisi, dan setiap bayi membutuhkan waktu yang berbeda untuk kembali menyusu dengan nyaman.
Yang terpenting, tetap pastikan kebutuhan ASI Si Kecil terpenuhi, hindari memaksa bayi untuk menyusu, dan coba kembali menawarkan payudara dengan pendekatan yang lembut. Jika penolakan terus terjadi atau Mommy merasa kesulitan menemukan penyebabnya, jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan atau konselor laktasi.
Kalau Mommy masih bingung menghadapi Si Kecil yang menolak menyusu, mengalami kendala latch, khawatir produksi ASI menurun, atau membutuhkan arahan selama proses menyusui, Mommy bisa konsultasi langsung bersama Konselor Menyusui Mom Uung. Dapatkan pendampingan sesuai kondisi Mommy dan Si Kecil agar perjalanan menyusui terasa lebih tenang dan percaya diri.
Yuk, konsultasikan sekarang dan jangan hadapi perjalanan menyusui ini sendirian.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.