
Momuung.com – Setelah melahirkan, salah satu hal yang sering membuat Ibu kepikiran adalah, “ASI-ku cukup nggak, ya?”
Apalagi pada hari-hari pertama setelah persalinan, ASI yang keluar mungkin terlihat sedikit. Kondisi ini sebenarnya belum tentu berarti produksi ASI Ibu kurang. Pada awal menyusui, payudara memang menghasilkan kolostrum dalam jumlah kecil, tetapi kandungannya sangat kaya akan zat gizi dan antibodi yang dibutuhkan bayi.
Jika ASI terasa sedikit setelah melahirkan, jangan langsung menyimpulkan bahwa tubuh Ibu tidak bisa memproduksi ASI.
Pada hari-hari pertama, tubuh memang menghasilkan kolostrum dalam jumlah relatif sedikit karena lambung bayi masih berukuran kecil. Setelah beberapa hari, produksi ASI biasanya mulai meningkat seiring perubahan hormonal dan meningkatnya stimulasi payudara.
Namun, produksi ASI dapat mengalami kendala jika pengeluaran ASI tidak efektif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Jika Ibu merasa produksi ASI memang rendah atau bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk mencari bantuan.
Konselor laktasi atau dokter dapat membantu mengevaluasi posisi menyusui, pelekatan, frekuensi menyusui, transfer ASI, serta kondisi kesehatan Ibu dan bayi.
Seiring berjalannya waktu, produksi ASI akan meningkat dan menyesuaikan kebutuhan bayi. Namun, ada beberapa cara yang bisa Ibu lakukan untuk membantu meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan secara alami, terutama dengan memastikan payudara mendapatkan stimulasi yang cukup, menjaga kondisi tubuh, serta memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Yuk, simak langkah-langkahnya berikut ini.
Salah satu langkah yang dapat membantu memulai perjalanan menyusui adalah melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setelah persalinan. IMD dilakukan dengan meletakkan bayi di dada atau perut Ibu dalam posisi tengkurap sehingga terjadi kontak kulit ke kulit segera setelah lahir, selama kondisi Ibu dan bayi memungkinkan secara medis.
Kontak kulit ke kulit ini bukan hanya membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim, tetapi juga dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin pada tubuh Ibu. Hormon oksitosin berperan dalam refleks pengeluaran ASI atau milk ejection reflex, yaitu proses yang membantu ASI mengalir ketika bayi mulai menyusu.
WHO dan UNICEF merekomendasikan agar proses menyusui mulai dilakukan dalam satu jam pertama setelah kelahiran, selama tidak ada kondisi medis yang mengharuskan Ibu atau bayi mendapatkan penanganan terlebih dahulu.
Pada proses IMD, bayi juga diberikan kesempatan untuk mengikuti insting alaminya. Setelah diletakkan di dada Ibu, bayi biasanya akan mulai melakukan gerakan seperti mencari puting, mendekatkan mulut ke payudara, hingga akhirnya mulai menyusu.
Selain membantu memulai proses menyusui, kontak kulit ke kulit juga dapat mendukung kedekatan atau bonding antara Ibu dan bayi sejak awal kehidupan. Jika Mom ingin memahami lebih jauh mengenai manfaat dan pelaksanaan IMD, yuk, baca juga artikel 3 Manfaat IMD bagi Bayi Baru Lahir dan Tips Melakukannya.
Satu hal yang juga penting untuk Mom ketahui, ASI pertama yang keluar disebut kolostrum. Kolostrum biasanya diproduksi dalam jumlah yang relatif sedikit dibandingkan ASI yang keluar beberapa hari setelah melahirkan. Namun, jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan awal bayi dan kolostrum mengandung berbagai komponen penting, termasuk antibodi yang membantu mendukung sistem kekebalan tubuh Si Kecil.
Jadi, jika setelah melahirkan kolostrum yang keluar terlihat sedikit, jangan langsung berpikir bahwa ASI Mom tidak cukup, ya. Pada fase awal ini, yang lebih penting adalah memastikan bayi mendapatkan kesempatan untuk menyusu secara efektif dan payudara mendapatkan stimulasi secara rutin.
Kalau Mom ingin membantu meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan, jangan hanya fokus mencari makanan atau minuman yang dipercaya bisa memperbanyak ASI. Salah satu hal yang paling penting justru adalah memastikan payudara mendapatkan stimulasi secara rutin dan efektif.
Produksi ASI bekerja dengan prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering dan efektif ASI dikeluarkan melalui proses menyusui atau memerah, semakin kuat pula sinyal yang diterima tubuh untuk terus memproduksi ASI.
Pada masa awal menyusui, Mom tidak perlu terlalu terpaku pada jadwal menyusui yang kaku. Sebaliknya, tawarkan ASI ketika Si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda lapar. Beberapa tanda awal yang bisa Mom perhatikan antara lain:
Menangis biasanya sudah menjadi tanda lapar yang lebih lanjut. Karena itu, Mom bisa mencoba menawarkan ASI sebelum Si Kecil sampai menangis. Dengan mengenali tanda lapar sejak awal, proses menyusui juga bisa terasa lebih tenang bagi Ibu maupun bayi. Mom bisa mengenali tanda-tanda tersebut lebih lengkap melalui artikel Jangan Tunggu Nangis! Yuk Kenali Refleks Rooting dan Tanda Bayi Lapar.
Selain memperhatikan kapan bayi mulai lapar, pastikan proses menyusu berlangsung efektif. Jika bayi menyusu langsung, perhatikan pelekatan atau latch. Pelekatan yang kurang optimal dapat membuat bayi kesulitan mendapatkan ASI dan membuat payudara tidak mendapatkan stimulasi yang cukup.
Sementara itu, jika Mom memerah ASI, lakukan secara teratur sesuai kebutuhan dan kondisi menyusui. Prinsipnya tetap sama, yaitu memberikan stimulasi dan mengeluarkan ASI secara efektif agar tubuh mendapatkan sinyal untuk mempertahankan produksinya.
Jadi, daripada terlalu fokus menghitung berapa banyak ASI yang harus keluar setiap kali menyusui atau memompa, Mom bisa lebih dulu memastikan Si Kecil menyusu secara efektif dan mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya.
Terkadang Ibu merasa produksi ASI sedikit, padahal masalah utamanya bukan tubuh tidak mampu menghasilkan ASI, melainkan ASI belum dikeluarkan secara efektif.
Salah satu penyebabnya bisa berupa pelekatan bayi yang kurang tepat.
Saat menyusui, mulut bayi sebaiknya tidak hanya menempel pada puting, tetapi juga mengambil bagian areola yang cukup. Posisi tubuh bayi juga perlu menghadap ke tubuh Ibu agar bayi dapat menyusu dengan lebih nyaman.
Pelekatan yang baik biasanya membuat proses menyusui terasa nyaman. Sebaliknya, jika puting terasa sangat sakit, bayi sering terlepas, atau terdengar suara mengecap selama menyusu, Ibu bisa meminta bantuan konselor laktasi untuk mengevaluasi posisi dan pelekatan.
Dengan pelekatan yang lebih efektif, bayi dapat mengambil ASI dengan lebih optimal sekaligus memberikan stimulasi yang lebih baik kepada payudara.
Pijat oksitosin cukup sering digunakan sebagai salah satu bentuk pendamping dalam proses menyusui. Pijatan lembut di area punggung dapat membantu Ibu merasa lebih rileks, terutama ketika tubuh sedang tegang atau lelah.
Kondisi yang lebih rileks dapat membantu mendukung refleks pengeluaran ASI karena hormon oksitosin berperan dalam proses tersebut. Namun, perlu dipahami bahwa pijat oksitosin bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi ASI. Stimulasi payudara melalui menyusui atau memerah ASI secara efektif tetap menjadi faktor utama dalam menjaga produksi ASI.
Jika Mom ingin mencoba pijat oksitosin, mintalah bantuan pasangan atau tenaga yang sudah terlatih. Pastikan pijatan dilakukan dengan tekanan yang nyaman dan tidak menimbulkan rasa sakit.
Selain pijat oksitosin, ada pula teknik pijat pada area payudara yang dapat membantu ketika Ibu mengalami payudara terasa penuh atau bengkak. Jika Mom sedang menghadapi kondisi tersebut, yuk, kenali juga 3 Langkah Pijat Limfatik Payudara agar ASI Lancar Saat Bengkak agar pijatan yang dilakukan tetap lembut dan sesuai kondisi payudara.
Sementara itu, sebelum menyusui atau memerah ASI, Mom bisa mencoba beberapa cara sederhana untuk membantu tubuh lebih rileks, seperti:
Kadang, yang dibutuhkan tubuh bukan tambahan usaha, tetapi kesempatan untuk sedikit lebih tenang. Jadi, tidak apa-apa jika Mom mengambil waktu sejenak untuk bernapas, beristirahat, dan meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Menyusui membutuhkan energi dan cairan tambahan. Karena itu, Ibu tetap perlu memperhatikan pola makan dan minum selama masa menyusui.
Tidak ada satu jenis makanan yang secara pasti dapat membuat ASI langsung “banjir”. Beberapa makanan memang secara tradisional dikenal sebagai galactagogue atau makanan yang dipercaya dapat mendukung produksi ASI, tetapi bukti ilmiahnya masih bervariasi.
Yang lebih penting adalah memastikan pola makan Ibu cukup dan seimbang.
Usahakan menu harian mengandung:
Ibu juga tidak perlu memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan dengan harapan ASI akan semakin banyak. Minumlah sesuai rasa haus dan pastikan tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Beberapa makanan seperti daun katuk, oat, kacang-kacangan, dan sayuran hijau sering digunakan sebagai bagian dari pola makan ibu menyusui.
Daun katuk, misalnya, telah banyak diteliti dalam konteks laktasi dan mengandung berbagai zat gizi serta senyawa bioaktif. Namun, respons setiap Ibu terhadap makanan tertentu dapat berbeda.
Jadi, Mom tidak perlu hanya mengandalkan satu jenis makanan untuk meningkatkan produksi ASI.
Lebih baik jadikan makanan tersebut sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi.
Contohnya:
Sarapan: nasi atau oat + telur + buah
Makan siang: nasi + ikan/ayam + sayur + buah
Camilan: kacang-kacangan, buah, yoghurt, atau camilan bernutrisi
Makan malam: nasi/kentang + protein + sayuran
Dengan pola makan yang lebih beragam, kebutuhan energi dan zat gizi Ibu dapat lebih mudah terpenuhi selama masa menyusui.
Kesibukan mengurus bayi membuat sebagian Ibu tidak selalu sempat menyiapkan makanan lengkap setiap waktu.
Jika kebutuhan nutrisi sulit terpenuhi hanya dari makanan utama, Ibu dapat mempertimbangkan pilihan makanan atau minuman yang praktis untuk melengkapi pola makan sehari-hari.
Namun, penting untuk dipahami bahwa susu atau produk pelengkap nutrisi bukan pengganti makanan utama dan bukan obat untuk meningkatkan produksi ASI.
Yang tetap menjadi fondasi adalah pola makan seimbang, stimulasi payudara yang efektif, cukup istirahat, serta kondisi kesehatan Ibu secara keseluruhan.
Menjadi ibu baru bisa sangat melelahkan. Ibu mungkin harus menyusui berkali-kali dalam sehari, memompa ASI, mengganti popok, menenangkan bayi, sekaligus mengurus pekerjaan rumah.
Padahal, tubuh juga membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah melahirkan.
Kurang tidur dan kelelahan tidak selalu secara langsung menyebabkan produksi ASI turun, tetapi kondisi tubuh yang sangat lelah dapat membuat proses menyusui terasa lebih berat. Ibu juga mungkin menjadi lebih jarang menyusui atau memerah karena terlalu lelah.
Karena itu, jangan ragu meminta bantuan pasangan atau keluarga.
Bantuan sederhana seperti:
bisa membuat perbedaan besar.
Ibu tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.
Stres memang tidak otomatis membuat ASI berhenti. Namun, ketika Ibu sangat cemas atau tegang, refleks pengeluaran ASI dapat menjadi lebih sulit terjadi pada sebagian Ibu.
Inilah mengapa Ibu mungkin merasa payudara penuh, tetapi ASI terasa sulit keluar ketika sedang stres atau terburu-buru.
Cobalah menciptakan suasana yang lebih nyaman ketika menyusui atau memerah.
Ibu bisa mencoba:
Setiap perjalanan menyusui berbeda, Mom. Jumlah ASI yang diperah juga tidak selalu menggambarkan seluruh produksi ASI Ibu, terutama jika bayi lebih sering menyusu langsung.
Selain mengetahui Cara meningkatkan produksi asi, Ibu juga perlu memahami beberapa hal yang dapat membuat proses menyusui menjadi kurang optimal.
Jika bayi membutuhkan ASI, jangan terlalu membatasi waktu atau frekuensi menyusui hanya karena takut payudara “kehabisan” ASI.
Payudara terus memproduksi ASI dan pengeluaran ASI secara rutin justru membantu memberikan sinyal kepada tubuh untuk terus memproduksi.
Makanan atau herbal tertentu mungkin populer sebagai ASI booster, tetapi bukan berarti semuanya terbukti efektif atau aman untuk setiap Ibu.
Terlebih jika Ibu ingin mengonsumsi suplemen atau herbal dalam jumlah tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi.
Menyusui seharusnya tidak terus-menerus terasa sangat sakit.
Jika puting lecet, payudara terasa sangat nyeri, atau bayi sulit melekat, jangan hanya menahannya. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah pelekatan atau kondisi lain yang membutuhkan bantuan tenaga kesehatan.
Jumlah ASI yang keluar saat pumping tidak selalu menunjukkan berapa banyak ASI yang sebenarnya dapat diperoleh bayi saat menyusu langsung.
Bayi yang menyusu efektif dapat mengeluarkan ASI dengan cara yang berbeda dibandingkan pompa.
Karena itu, penilaian kecukupan ASI sebaiknya tidak hanya berdasarkan hasil pumping, tetapi juga melihat kondisi bayi secara keseluruhan, seperti frekuensi buang air kecil, pola menyusu, dan pertumbuhan berat badan.
Tidak perlu menunggu sampai masalah menyusui menjadi berat untuk meminta bantuan.
Ibu bisa berkonsultasi jika mengalami:
Mendapatkan bantuan lebih awal justru dapat membuat masalah lebih mudah ditangani.
Cara meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan secara alami bukan hanya tentang mencari makanan atau minuman tertentu yang dipercaya sebagai ASI booster.
Produksi ASI dipengaruhi oleh banyak hal, tetapi salah satu prinsip terpenting adalah semakin efektif dan rutin ASI dikeluarkan, semakin kuat sinyal tubuh untuk memproduksi ASI.
Karena itu, fokuslah pada beberapa hal utama:
Jika Ibu sudah melakukan berbagai langkah tersebut tetapi tetap merasa produksi ASI rendah, jangan menyalahkan diri sendiri, ya, Mom. Bisa jadi ada faktor lain yang perlu diperiksa.
Dengan mendapatkan bantuan dari konselor laktasi atau tenaga kesehatan, Ibu dapat mengetahui penyebabnya dan mendapatkan solusi yang lebih sesuai dengan kondisi Ibu dan Si Kecil.
Pada akhirnya, perjalanan menyusui setiap Ibu memang berbeda. Tidak harus sempurna, yang penting Ibu dan Si Kecil mendapatkan dukungan yang dibutuhkan sepanjang prosesnya.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.