
Momuung.com – Melihat payudara Si Kecil tampak membengkak atau bahkan keluar cairan putih mirip ASI tentu bisa membuat Mommy kaget. Tidak sedikit orang tua yang langsung khawatir dan bertanya-tanya apakah kondisi ini normal atau menjadi tanda adanya masalah kesehatan.
Tenang, Mom. Meski terdengar mengejutkan, kondisi ini cukup sering terjadi pada bayi baru lahir dan umumnya merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh setelah lahir. Namun, penting juga bagi Mommy untuk mengetahui penyebabnya serta mengenali tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian lebih.
Yuk, baca artikel ini sampai selesai untuk memahami kenapa bayi baru lahir bisa mengeluarkan cairan seperti ASI, apakah kondisi ini berbahaya, dan kapan sebaiknya Si Kecil diperiksakan ke dokter.
Melihat payudara Si Kecil sedikit membengkak atau mengeluarkan cairan putih dari puting memang bisa membuat Mommy khawatir. Namun, kondisi ini dapat terjadi secara normal pada bayi baru lahir, baik laki-laki maupun perempuan (Cleveland Clinic, 2022).
Dalam istilah medis, keluarnya cairan seperti susu dari payudara bayi disebut neonatal galactorrhea atau witch’s milk. Cairan yang keluar biasanya:
Penyebab yang paling umum adalah paparan hormon maternal dari ibu selama kehamilan. Hormon estrogen dari ibu dapat melewati plasenta dan memengaruhi jaringan payudara bayi. Setelah lahir, pengaruh hormon tersebut masih dapat bertahan sementara sehingga payudara bayi terlihat membesar dan pada sebagian bayi dapat menghasilkan cairan seperti susu (Healthline, 2021).
Selain paparan hormon selama kehamilan, hormon dalam ASI juga diduga dapat berkontribusi. Namun, kondisi ini bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI atau menyapih Si Kecil lebih awal.
Pada kasus yang lebih jarang, neonatal galactorrhea dapat berkaitan dengan kondisi seperti hipotiroidisme, kadar prolaktin yang tinggi (hiperprolaktinemia), atau penggunaan obat tertentu. Namun, penyebab hormonal fisiologis jauh lebih umum pada bayi baru lahir.
Tidak perlu, Mom. Ketika melihat cairan putih keluar dari puting, Mommy mungkin merasa perlu memencetnya agar cairan tersebut segera keluar. Padahal, payudara bayi sebaiknya tidak dipijat, diremas, atau ditekan.
Jaringan payudara bayi masih sangat sensitif. Manipulasi pada area tersebut dapat menyebabkan iritasi atau trauma pada jaringan dan meningkatkan risiko bakteri masuk melalui kulit yang mengalami luka. Kondisi tersebut dapat memicu infeksi seperti mastitis neonatal, bahkan pada kasus tertentu dapat berkembang menjadi abses payudara (Healthline, 2021).
Jadi, jika payudara Si Kecil tampak sedikit membengkak atau mengeluarkan cairan putih, Mommy cukup menjaga area tersebut tetap bersih dan membiarkannya pulih secara alami. Hindari memijat atau menekan area payudara, karena justru dapat meningkatkan risiko iritasi dan infeksi. Sementara itu, jika Mommy sedang mencari teknik pijat yang aman untuk membantu Si Kecil lebih nyaman saat tumbuh gigi, simak panduannya di artikel Bayi Rewel Saat Tumbuh Gigi? Coba 3 Teknik Pijat Ini untuk Redakan Nyerinya.

Jika Si Kecil mengalami pembengkakan payudara atau keluar sedikit cairan putih dari puting, Mommy cukup melakukan perawatan sederhana dan hindari memberikan stimulasi pada area tersebut. Beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah yaitu:
Menurut Healthline, neonatal galactorrhea biasanya menghilang dengan sendirinya dan umumnya sudah berhenti pada sekitar usia 2 bulan. Namun, durasinya dapat berbeda pada setiap bayi (Healthline, 2021).
Meskipun umumnya tidak berbahaya, Mommy sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika:
Kondisi seperti kemerahan, nyeri, dan pembengkakan yang semakin berat perlu dievaluasi karena dapat menjadi tanda infeksi, termasuk mastitis neonatal. Mastitis pada bayi memang jarang terjadi, tetapi jika muncul biasanya membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Jadi, Mom, payudara bayi baru lahir yang sedikit membengkak atau mengeluarkan cairan putih seperti ASI umumnya merupakan kondisi normal yang berkaitan dengan perubahan hormon setelah lahir. Pada sebagian besar kasus, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya seiring tubuh Si Kecil beradaptasi.
Yang terpenting, Mommy tidak perlu memijat, memencet, atau mencoba mengeluarkan cairan dari payudara bayi. Cukup jaga area tersebut tetap bersih, gunakan pakaian yang nyaman, dan pantau kondisinya dari waktu ke waktu. Selama Si Kecil tetap aktif, menyusu dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda infeksi, Mommy tidak perlu terlalu khawatir.
Namun, segera konsultasikan ke dokter jika payudara bayi tampak semakin merah, terasa panas, bengkaknya bertambah besar, keluar nanah atau darah, disertai demam, atau Si Kecil terlihat lemas dan tidak mau menyusu.
Kalau Mommy masih ragu apakah kondisi yang dialami Si Kecil masih tergolong normal atau perlu diperiksakan lebih lanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Konselor Laktasi Mom Uung GRATIS 24 Jam. Mommy bisa mendapatkan pendampingan dan informasi yang tepat kapan saja, sehingga tidak perlu menebak-nebak atau merasa cemas sendirian.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.