
Momuung.com – Melihat Si Kecil gumoh setelah menyusu memang bisa bikin Mommy panik, apalagi kalau masih newborn. Wajar kalau langsung muncul banyak pertanyaan, seperti apakah ASI tidak cocok atau ada yang salah saat menyusui.
Tenang dulu, Mom. Gumoh pada newborn cukup umum terjadi dan sering kali berkaitan dengan sistem pencernaan bayi yang masih berkembang. Namun, Mommy tetap perlu tahu penyebab, cara mengatasinya, dan tanda gumoh yang perlu diwaspadai.
Buibu, baca artikel ini sampai selesai untuk tahu penyebab dan cara mengatasi gumoh pada newborn, ya.
Gumoh atau spitting up merupakan hal yang sangat umum pada bayi, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Dalam istilah medis, kondisi ini termasuk gastroesophageal reflux (GER), yaitu ketika sebagian isi lambung naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut.
Lalu, berapa banyak atau seberapa sering gumoh yang masih dianggap normal? Sebenarnya, tidak ada patokan pasti dalam mililiter atau jumlah gumoh yang berlaku untuk semua bayi. Cairan yang terlihat juga sering tampak lebih banyak daripada volume sebenarnya karena sedikit susu yang bercampur dengan air liur dapat menyebar dan membasahi kain atau pakaian bayi (American Academy of Pediatrics [AAP], 2025).
Jadi, Mommy tidak perlu menghitung gumoh berdasarkan volumenya saja. Yang lebih penting adalah melihat kondisi Si Kecil secara keseluruhan. Gumoh umumnya masih termasuk normal jika:
Gumoh juga dapat terjadi beberapa kali dalam sehari. Frekuensinya biasanya lebih sering pada bulan-bulan pertama dan berangsur berkurang seiring sistem pencernaan bayi semakin matang (Curien-Chotard & Jantchou, 2020).
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menjelaskan bahwa gumoh merupakan kondisi yang umum pada bayi. GER biasanya mulai muncul pada usia sekitar 2 hingga 3 minggu, mencapai puncak sekitar usia 4 hingga 5 bulan, kemudian berangsur membaik ketika fungsi saluran pencernaan semakin matang. Pada sebagian besar bayi cukup bulan, keluhan ini membaik pada usia 9 hingga 12 bulan.
Jadi, Mommy tidak perlu langsung panik ketika Si Kecil beberapa kali gumoh setelah menyusu, selama bayi tetap terlihat sehat, menyusu dengan baik, dan tumbuh sesuai perkembangannya.
Tidak semua gumoh berarti bayi mengalami penyakit refluks. GER merupakan refluks yang umum dan biasanya tidak membutuhkan pengobatan khusus. Sementara itu, gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika refluks menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi.
Beberapa tanda yang perlu Mommy perhatikan antara lain:
Kalau Mommy masih bingung membedakan gumoh yang normal dengan kondisi yang perlu diperiksakan, yuk baca juga Gumoh Normal vs GERD, Apa Bedanya? agar Mommy bisa lebih mudah mengenali tanda-tandanya.
Khusus pada newborn, muntah yang menyemprot, muntahan berwarna hijau atau berdarah, bayi tampak sakit, atau adanya gangguan pertumbuhan perlu mendapat perhatian medis. Tidak semua tanda tersebut berarti GERD, karena bisa juga disebabkan oleh kondisi lain yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

Gumoh bisa terjadi bahkan pada bayi yang sehat dan biasanya akan semakin jarang seiring bertambahnya usia. Penelitian menunjukkan bahwa gejala refluks memang lebih sering ditemukan pada bulan-bulan awal kehidupan dan cenderung menurun saat sistem pencernaan bayi semakin matang (Curien-Chotard & Jantchou, 2020; Pados & Yamasaki, 2020).
Beberapa hal berikut dapat membuat Si Kecil lebih mudah gumoh:
Pada newborn, mekanisme yang membantu mencegah isi lambung naik kembali masih belum matang sepenuhnya. Salah satunya adalah lower esophageal sphincter (LES), yaitu otot berbentuk seperti katup yang berada di antara kerongkongan dan lambung.
Ketika LES belum bekerja secara optimal, isi lambung lebih mudah naik kembali, terutama setelah bayi menyusu. Kondisi ini merupakan salah satu alasan mengapa GER sangat umum terjadi pada bayi muda dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia (Chabra & Peeples, 2020).
Kapasitas lambung bayi yang masih terbatas membuatnya lebih mudah terasa penuh. Ketika lambung terlalu penuh, sebagian isi lambung dapat kembali naik ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh.
Kondisi ini salah satunya dapat terjadi ketika bayi mendapatkan asupan lebih banyak dari yang dibutuhkannya dalam satu waktu atau mengalami overfeeding. Pemberian asupan yang berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan bayi mengalami gumoh.
Meski begitu, Mommy tidak perlu langsung mengurangi pemberian ASI hanya karena Si Kecil sering gumoh. Yang lebih penting adalah mengenali sinyal lapar dan kenyang bayi serta menyesuaikan pemberian asupan dengan kebutuhannya. Jika Si Kecil menggunakan botol, perhatikan juga jumlah asupan dalam setiap kali minum agar tidak berlebihan.
Setiap bayi memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, jumlah asupan sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa sering atau banyak Bayi gumoh, tetapi juga dari pola menyusu, tanda kenyang, kondisi bayi, dan pertambahan berat badannya.
Saat menyusu, bayi bisa ikut menelan udara. Kondisi ini disebut aerophagia dan dapat membuat perut terasa lebih penuh atau tidak nyaman.
Udara yang tertelan biasanya akan keluar ketika bayi bersendawa. Namun, pada saat yang sama, sedikit ASI juga dapat ikut naik sehingga terlihat sebagai gumoh. Gumoh dalam jumlah kecil setelah bersendawa merupakan hal yang cukup umum pada bayi.
Untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman, Mommy bisa memberikan kesempatan Si Kecil untuk bersendawa setelah atau selama menyusu, terutama jika ia terlihat menelan banyak udara (American Academy of Pediatrics, 2025).
Pada sebagian Mommy, produksi ASI yang tinggi (oversupply) dapat membuat aliran ASI menjadi lebih deras. Bagi bayi yang koordinasi mengisap, menelan, dan bernapasnya masih berkembang, aliran yang terlalu cepat bisa membuatnya kesulitan mengikuti ritme menyusu.
Si Kecil mungkin terlihat sering melepas pelekatan, batuk, tersedak, atau menyusu dengan terburu-buru, terutama ketika sedang sangat lapar. Kondisi tersebut dapat membuat bayi menelan lebih banyak udara sehingga berpotensi memicu gumoh setelah menyusu.
Namun, bayi yang sering gumoh tidak otomatis berarti Mommy mengalami oversupply atau memiliki masalah pelekatan. Perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk pola menyusu, respons bayi saat menyusu, karakter aliran ASI, serta pertumbuhan Si Kecil.
Gumoh memang lebih sering terjadi selama atau tidak lama setelah bayi menyusu. Salah satu hal yang dapat membuat isi lambung lebih mudah naik kembali adalah perubahan posisi atau aktivitas yang terlalu banyak segera setelah menyusu.
Setelah menyusu, Mommy bisa menjaga Si Kecil tetap tenang dan menggendongnya dalam posisi tegak selama beberapa saat sambil tetap diawasi. Hindari mengguncang, mengajak bermain terlalu aktif, atau melakukan perubahan posisi secara tiba-tiba setelah bayi selesai menyusu.
Meski begitu, bayi tetap perlu tidur telentang di permukaan yang rata dan kokoh, bukan dalam posisi tidur tegak atau dimiringkan untuk mencegah gumoh.
Untuk membantu mengurangi gumoh dan menjaga Si Kecil tetap nyaman setelah menyusu, Mommy bisa mencoba beberapa langkah berikut.
Saat menyusu, bayi yang pelekatannya kurang optimal cenderung lebih banyak menelan udara (air swallowing). Udara yang terperangkap di dalam lambung dapat meningkatkan tekanan sehingga ASI lebih mudah naik kembali ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh.
Karena itu, penting untuk memastikan pelekatan (latch-on) sudah tepat. Beberapa tanda pelekatan yang baik antara lain:
Menyendawakan bayi dapat membantu mengeluarkan udara yang tertelan selama menyusu. Namun, Mommy tidak perlu khawatir jika Si Kecil tidak selalu bersendawa setelah menyusu.
Yang lebih penting adalah memperhatikan kenyamanan bayi. Jika Si Kecil tampak tenang, tidak kembung, dan tidak rewel, tidak bersendawa bukan berarti ada masalah.
Pada beberapa bayi, terutama yang menyusu dengan cepat atau masih perlu memperbaiki pelekatan, mengeluarkan udara yang terperangkap di lambung dapat membantu membuatnya lebih nyaman setelah menyusu. Kalau Mommy masih bingung bagaimana cara menyendawakan Si Kecil dengan nyaman, yuk pelajari Bayi sering gumoh? Ini 3 Cara Menyendawakan Bayi Setelah Menyusu agar Tidak Rewel yang bisa Mommy coba sesuai respons Si Kecil.
Setelah menyusu, berikan waktu agar Si Kecil tetap nyaman dan tidak terlalu banyak bergerak. Beberapa hal sederhana yang bisa Mommy lakukan:
Lambung bayi masih relatif kecil sehingga lebih mudah terasa penuh. Ketika lambung terlalu penuh, gumoh bisa terjadi lebih sering.
Daripada berfokus pada durasi menyusu, Mommy bisa memperhatikan tanda-tanda kenyang pada bayi, seperti:
Tummy time tetap penting untuk mendukung perkembangan motorik bayi. Namun, jangan langsung dilakukan setelah menyusu, terutama jika Si Kecil mudah gumoh.
Tunggu hingga bayi sudah cukup nyaman dan tidak terlalu penuh. Lakukan tummy time ketika bayi terjaga dan dalam pengawasan Mommy, misalnya di waktu terpisah dari sesi menyusu.
Jika bayi tampak mudah gumoh atau tidak nyaman saat tummy time, hentikan dan coba lagi di waktu lain.
Jika Si Kecil tampak kembung setelah banyak menelan udara saat menyusu, Mommy bisa mencoba pijatan perut lembut, salah satunya dengan gerakan yang dikenal sebagai pijat I-L-U (ILU). Pijatan ini dilakukan untuk membantu memberikan rasa nyaman pada perut bayi, bukan sebagai pengobatan utama untuk mengatasi kembung.
Sebelum memijat, pastikan bayi sedang tenang dan tidak baru selesai menyusu. Mommy bisa menunggu sekitar 30 menit setelah menyusu agar perut Si Kecil tidak terlalu penuh.
Cara melakukan pijat I-L-U:
Meski Si Kecil sering gumoh, jangan menggunakan bantal, ganjalan, atau posisi miring untuk membuat kepala bayi lebih tinggi saat tidur.
Saat waktunya tidur, tetap:
Sebagian besar bayi yang gumoh tetap aktif, nyaman, dan berat badannya naik sesuai usianya. Kondisi ini sering disebut sebagai happy spitter, yaitu bayi yang sering gumoh tetapi tetap sehat dan tumbuh dengan baik.
Namun, Mommy sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak jika gumoh disertai salah satu tanda berikut:
Gumoh biasanya keluar perlahan dan dalam jumlah sedikit. Berbeda dengan muntah menyemprot, yang keluar dengan tekanan kuat dan dapat terdorong cukup jauh.
Jika kondisi ini terjadi berulang, terutama pada bayi yang masih sangat kecil, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk mencari tahu penyebabnya.
Perhatikan juga warna cairan yang keluar. Muntahan berwarna hijau, kuning kehijauan, atau bercampur darah bukanlah ciri gumoh biasa dan membutuhkan evaluasi medis.
Jika Mommy menemukan kondisi tersebut, jangan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis, terutama jika bayi juga tampak sakit atau lemas.
Gumoh yang normal umumnya tidak mengganggu asupan maupun pertumbuhan bayi. Karena itu, jika berat badan Si Kecil sulit bertambah, tidak mengikuti kurva pertumbuhan, atau justru menurun, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.
Dokter dapat menilai apakah bayi mendapatkan asupan yang cukup dan apakah gumoh berkaitan dengan masalah lain.
Sesekali rewel setelah menyusu masih bisa terjadi. Namun, Mommy perlu lebih memperhatikan jika Si Kecil berulang kali tampak kesakitan atau sangat tidak nyaman, misalnya:
Gejala tersebut tidak otomatis berarti bayi mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Namun, jika terjadi berulang dan mengganggu proses menyusu atau keseharian bayi, dokter perlu melakukan evaluasi lebih lanjut.
Gumoh atau muntah yang berlebihan dapat menyebabkan bayi kehilangan cairan. Segera periksakan Si Kecil jika Mommy melihat tanda seperti:
Tetap semangat, Mom! Gumoh pada newborn umumnya merupakan bagian dari proses perkembangan sistem pencernaan dan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Selama Si Kecil tetap nyaman, aktif, mau menyusu, dan berat badannya bertambah sesuai kurva pertumbuhan, Mommy tidak perlu terlalu khawatir.
Pantau terus kondisinya dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika ada tanda yang membuat Mommy khawatir.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.