3 Hal Setelah Melahirkan yang Bisa Menghambat Proses Menyusui

Momuung.com – Hari-hari pertama setelah melahirkan memang penuh penyesuaian. Mommy masih belajar memahami tubuh sendiri, sementara Si Kecil juga sedang belajar menyusu. Wajar kalau muncul banyak pertanyaan, seperti “ASI-ku kok masih sedikit?”, “Bolehkah bayi pakai empeng?”, atau “Haruskah langsung pumping?”
Ternyata, ada beberapa anggapan dan praktik di awal menyusui yang belum tentu perlu dilakukan secara rutin. Yuk, kenali 3 hal yang perlu Mommy ketahui agar tidak salah langkah di 72 jam pertama setelah melahirkan. Baca artikel selengkapnya di sini!
DAFTAR ISI
- Menganggap Kolostrum Tidak Cukup untuk Bayi
- Menganggap Empeng Harus Selalu Dilarang agar ASI Berhasil
- Menganggap Harus Langsung Menggunakan Pompa ASI Elektrik agar ASI Cepat Banyak
- Bagaimana dengan Kolostrum yang Hanya Keluar Sedikit?
- Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan pada 72 Jam Pertama?
- Jangan Menyalahkan Diri Sendiri Saat ASI Belum Terlihat Banyak
- Kesimpulan
1. Menganggap Kolostrum Tidak Cukup untuk Bayi
Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul setelah melahirkan adalah melihat kolostrum keluar sedikit lalu berpikir, “ASI-ku kok cuma segini? Cukup nggak untuk Si Kecil?”
Tenang dulu, Mommy. Kolostrum memang diproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan ASI matur yang biasanya mulai meningkat setelah beberapa hari. Jumlah yang sedikit ini merupakan bagian normal dari proses menyusui di awal kehidupan dan sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
Kolostrum juga bukan sekadar “ASI yang masih sedikit”. ASI pertama ini mengandung berbagai zat gizi dan komponen imun yang penting untuk bayi. Jadi, jangan hanya melihat banyak atau sedikitnya kolostrum yang keluar, tetapi perhatikan juga apakah Si Kecil mendapatkan ASI secara efektif.
Yang bisa Mommy pantau antara lain:
- Bayi mau menyusu dan melekat dengan baik pada payudara.
- Ada tanda bayi menelan selama proses menyusu.
- Bayi tetap aktif dan responsif sesuai kondisi usianya.
- Pola buang air kecil dan besar berkembang sesuai usia, terutama selama hari-hari pertama.
- Berat badan dipantau secara berkala untuk melihat kecukupan asupan dan pertumbuhannya.
Selain itu, menyusui atau memerah ASI secara efektif juga memberikan stimulasi pada payudara sehingga membantu tubuh membangun produksi ASI sesuai kebutuhan bayi.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan ASI kurang hanya karena kolostrum terlihat sedikit. Bila Mommy merasa bayi belum menyusu efektif atau memiliki kekhawatiran mengenai kecukupan ASI, lebih baik minta bantuan tenaga kesehatan atau konselor laktasi untuk mengevaluasinya.
Apakah Berarti Bayi Tidak Boleh Mendapatkan Susu Tambahan?
Bukan begitu, Mommy. ASI tetap menjadi pilihan utama selama bayi dapat menyusu dan tidak memiliki kondisi medis yang membutuhkan tambahan asupan. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, sementara makanan atau cairan tambahan pada bayi baru lahir sebaiknya diberikan hanya bila ada indikasi medis.
Jadi, yang perlu dihindari bukan sekadar “susu tambahan”, tetapi pemberiannya secara rutin tanpa menilai apakah Si Kecil memang membutuhkannya. Pemberian tambahan yang tidak diperlukan dapat mengurangi frekuensi menyusu dan stimulasi payudara, sehingga berpotensi mengganggu pembentukan produksi ASI.
Kapan susu tambahan memang bisa dibutuhkan?
Keputusan tersebut sebaiknya dibuat setelah kondisi Mommy dan Si Kecil dinilai oleh tenaga kesehatan. Beberapa situasi yang dapat membutuhkan tambahan asupan, misalnya:
- Bayi prematur atau berat lahir sangat rendah yang belum mampu menyusu secara efektif.
- Bayi mengalami kondisi medis tertentu, misalnya hipoglikemia yang tidak membaik meski sudah mendapatkan ASI secara optimal.
- Asupan bayi dinilai tidak mencukupi atau bayi berisiko mengalami gangguan pertumbuhan setelah dilakukan evaluasi menyeluruh.
- Kondisi medis pada ibu membuat ASI belum dapat diberikan dalam jumlah yang mencukupi untuk sementara waktu.
- Terdapat kondisi khusus pada bayi atau ibu yang membuat ASI tidak dapat diberikan atau membutuhkan jenis susu tambahan tertentu berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Artinya, kebutuhan susu tambahan sebaiknya tidak ditentukan hanya karena kolostrum terlihat sedikit atau bayi lebih sering menyusu. Kondisi dan kebutuhan setiap bayi perlu dinilai terlebih dahulu agar tambahan asupan diberikan pada saat yang tepat dan tidak mengurangi kesempatan bayi mendapatkan ASI secara optimal.
Mommy juga perlu memahami bahwa pemberian susu formula tanpa indikasi dapat memengaruhi frekuensi menyusu dan stimulasi payudara. Untuk memahami lebih lanjut mengenai hal tersebut, Mommy bisa membaca artikel Dampak Pemberian Susu Formula Tanpa Indikasi yang Bisa Mengganggu Produksi ASI agar lebih memahami kapan pemberian susu tambahan memang diperlukan dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses menyusui.
2. Menganggap Empeng Harus Selalu Dilarang agar ASI Berhasil
Empeng atau pacifier juga sering membuat orang tua baru bingung. Ada anggapan bahwa bayi yang menggunakan empeng pasti akan mengalami bingung puting dan akhirnya lebih sulit menyusu.
Padahal, bukti yang ditinjau dalam review terbaru menunjukkan bahwa pada bayi cukup bulan dan sehat, penggunaan empeng tidak terbukti secara konsisten menurunkan durasi atau keberhasilan ASI eksklusif. Artinya, empeng tidak otomatis membuat proses menyusui gagal.
Namun, bukan berarti empeng harus selalu diberikan juga. Waktu, tujuan, dan kondisi bayi tetap perlu dipertimbangkan.
Sebelum memberikan empeng, Mommy bisa bertanya pada diri sendiri:
- Apakah Si Kecil sudah menyusu dengan efektif?
- Apakah kebutuhan ASI dan nutrisinya sudah terpenuhi?
- Apakah bayi sudah menunjukkan bahwa ia kenyang setelah menyusu?
- Apakah empeng digunakan untuk membantu bayi tenang, atau justru diberikan setiap kali bayi menangis tanpa mencari tahu penyebabnya?
- Apakah ada masalah menyusui yang belum teratasi, seperti pelekatan kurang baik atau bayi sulit mentransfer ASI?
Pada bayi baru lahir, terutama yang masih belajar menyusu, prioritas utamanya tetap memastikan pelekatan dan transfer ASI berjalan efektif.
Misalnya, ketika bayi mulai rewel tidak lama setelah menyusu, Mommy sebaiknya tidak langsung menganggap ia hanya membutuhkan empeng. Coba perhatikan terlebih dahulu apakah Si Kecil sebenarnya masih lapar, belum menyusu efektif, atau sedang membutuhkan kenyamanan.
3. Menganggap Harus Langsung Menggunakan Pompa ASI Elektrik agar ASI Cepat Banyak
Setelah melahirkan, sebagian Mommy mungkin berpikir, semakin cepat mulai pumping, semakin cepat pula ASI akan banyak. Padahal, proses produksi ASI tidak sesederhana itu.
Review terbaru yang membahas praktik menyusui pada 48-72 jam pertama setelah melahirkan menemukan bahwa bukti untuk penggunaan pompa ASI elektrik secara rutin pada semua ibu di hari-hari awal masih terbatas. Artinya, pompa elektrik tidak harus langsung digunakan hanya karena Mommy merasa ASI belum banyak.
Pada fase ini, kolostrum memang masih keluar dalam jumlah sedikit. Karena itu, ketika hasil pumping hanya beberapa tetes, Mommy bisa saja mengira produksi ASI bermasalah. Padahal, jumlah ASI yang keluar dari pompa tidak selalu menggambarkan berapa banyak ASI yang sebenarnya dapat diproduksi tubuh atau didapatkan bayi saat menyusu langsung.
Jadi, jangan menjadikan hasil pumping semata-mata sebagai patokan apakah ASI Mommy cukup atau tidak.
Lalu, Kapan Memerah ASI Memang Dibutuhkan?
Bukan berarti Mommy tidak boleh pumping setelah melahirkan, ya. Memerah ASI tetap penting pada kondisi tertentu, terutama ketika ASI perlu dikeluarkan tetapi bayi belum bisa menyusu secara efektif.
Misalnya ketika:
- Bayi sulit melekat atau belum mampu menyusu dengan efektif.
- Mommy dan bayi harus terpisah sementara, sehingga stimulasi payudara tetap perlu dipertahankan.
- Bayi belum dapat menyusu langsung karena kondisi medis tertentu.
- Ada kebutuhan medis yang membuat ASI perlu diperah untuk diberikan kepada bayi.
Dalam kondisi tertentu, pumping juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk membantu meningkatkan stimulasi payudara. Namun, teknik dan frekuensinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi Mommy. Kalau Mommy ingin memahami lebih lanjut bagaimana melakukan Cara Power Pumping yang Tepat untuk Bantu Meningkatkan Produksi ASI, yuk baca panduan lengkapnya agar teknik pumping yang dilakukan lebih tepat dan tidak sekadar mengejar banyaknya hasil perahan.
Bagaimana dengan Kolostrum yang Hanya Keluar Sedikit?
Pada hari-hari pertama, hand expression atau pemerahan dengan tangan sering menjadi salah satu pilihan yang praktis untuk mengeluarkan kolostrum.
Teknik ini dapat membantu karena kolostrum memang masih diproduksi dalam jumlah kecil, sehingga kadang lebih mudah dikumpulkan dengan tangan dibandingkan menggunakan pompa. Hand expression juga bisa menjadi keterampilan yang berguna ketika bayi belum menyusu efektif atau Mommy dan Si Kecil harus terpisah sementara.
Kalau Mommy memang membutuhkan bantuan untuk memerah kolostrum, minta tenaga kesehatan atau konselor laktasi menunjukkan teknik yang benar agar lebih nyaman dan efektif.
Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan pada 72 Jam Pertama?
Daripada terlalu fokus mengejar hasil pumping atau mengikuti satu aturan yang berlaku untuk semua ibu, Mommy bisa lebih dulu memperhatikan hal-hal yang mendukung proses menyusui sejak awal:
- Lakukan skin-to-skin sesering mungkin jika kondisi Mommy dan bayi memungkinkan.
- Tawarkan ASI sesuai tanda lapar bayi, bukan hanya berdasarkan jadwal yang kaku.
- Pastikan pelekatan dan transfer ASI efektif.
- Pantau kondisi Si Kecil, termasuk pola menyusu, popok, dan perkembangan berat badan.
- Pelajari hand expression jika perlu mengeluarkan kolostrum.
- Cari bantuan lebih awal jika bayi sulit melekat, menyusu terasa sakit, atau Mommy khawatir ASI belum cukup.
- Gunakan pompa sesuai kebutuhan, bukan semata-mata karena takut produksi ASI kurang.
Jangan Menyalahkan Diri Sendiri Saat ASI Belum Terlihat Banyak
Hari-hari pertama setelah melahirkan memang menjadi masa belajar bagi Mommy dan Si Kecil. Jadi, tidak apa-apa kalau prosesnya belum langsung terasa lancar.
Kolostrum masih keluar sedikit, bayi masih belajar melekat, atau Mommy masih belajar memerah ASI dengan tangan. Semua itu bukan berarti Mommy gagal menyusui. Setiap ibu dan bayi membutuhkan waktu yang berbeda untuk beradaptasi.
Yang penting, Mommy tidak perlu menghadapi semuanya sendirian. Cari informasi yang terpercaya dan minta bantuan ketika mulai merasa bingung atau khawatir.
Segera konsultasikan dengan dokter, bidan, atau konselor laktasi jika:
- bayi sulit melekat atau tidak menyusu efektif;
- jumlah popok basah lebih sedikit dari yang diharapkan;
- berat badan bayi tidak bertambah sesuai pemantauan;
- bayi tampak lemas atau sulit dibangunkan untuk menyusu;
- Mommy merasa produksi ASI terus menurun atau ada masalah saat menyusui.
Dengan mendapatkan bantuan lebih awal, penyebab masalah bisa dievaluasi dan solusi dapat disesuaikan dengan kondisi Mommy dan Si Kecil.

Kesimpulan
72 jam pertama setelah melahirkan memang penting, tetapi Mommy tidak perlu menjalaninya dengan penuh tekanan.
Kolostrum yang terlihat sedikit belum tentu berarti ASI tidak cukup. Empeng juga tidak otomatis menghambat keberhasilan menyusui, sementara pumping elektrik tidak harus langsung dilakukan rutin sejak hari pertama.
Yang paling penting adalah memastikan Si Kecil menyusu secara efektif, kebutuhan asupannya terpenuhi, dan Mommy mendapatkan dukungan yang tepat ketika membutuhkannya.
Karena perjalanan menyusui bukan tentang seberapa cepat ASI terlihat banyak, tetapi tentang bagaimana Mommy dan Si Kecil mendapatkan waktu, informasi, dan pendampingan yang tepat sejak awal.
Komentar
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









