
Momuung.com – Bayi yang tiba-tiba menolak payudara setelah terbiasa minum dari botol tentu bisa membuat Mommy bingung dan sedih. Si Kecil mungkin terlihat lebih memilih dot, sulit melekat pada payudara, atau rewel ketika kembali menyusu langsung.
Kondisi yang sering disebut bingung puting berkaitan dengan perbedaan cara bayi mengisap dan mengatur aliran susu dari payudara dan botol. Namun, penolakan payudara tidak selalu disebabkan oleh dot. Faktor seperti aliran ASI yang terlalu deras atau lambat, posisi menyusui yang kurang nyaman, nyeri, hingga pengalaman menyusu sebelumnya juga dapat berperan (Zimmerman & Thompson, 2015; Cleveland Clinic, 2024).
Kabar baiknya, Mommy tidak perlu langsung menyerah. Dengan pendekatan yang tenang, mengurangi faktor yang membuat bayi tidak nyaman, dan memberikan kesempatan untuk kembali mengenal payudara, proses menyusu langsung dapat perlahan dibangun kembali.
Istilah bingung puting biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi mengalami kesulitan beralih antara menyusu langsung dari payudara dan menggunakan dot. Bayi perlu melakukan koordinasi gerakan mulut, lidah, rahang, dan pernapasan yang berbeda saat menyusu dari kedua sumber tersebut.
Saat menyusu langsung, bayi perlu melakukan pelekatan yang baik pada payudara dan menggunakan gerakan lidah serta rahang untuk membantu mengeluarkan ASI. Sementara itu, botol dapat memberikan aliran susu dengan pola yang berbeda sehingga sebagian bayi menjadi lebih terbiasa dengan cara tersebut (Zimmerman & Thompson, 2015).
Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap bayi yang menolak payudara pasti mengalami bingung puting. Penolakan payudara merupakan kondisi yang cukup kompleks dan dapat memiliki banyak penyebab.
Beberapa faktor yang mungkin berperan antara lain:
Karena itu, tujuan utamanya bukan sekadar “menghilangkan dot”, tetapi membantu bayi kembali merasa nyaman dan aman saat berada di payudara.
Tidak ada satu metode yang pasti berhasil untuk semua bayi. Mommy dapat mencoba beberapa pendekatan berikut dan melihat mana yang paling nyaman untuk Si Kecil.
Jika memungkinkan, Mommy dapat mengurangi penggunaan botol dot, terutama ketika bayi sedang belajar kembali menyusu langsung.
ASI perah tetap dapat diberikan dengan metode alternatif seperti:
Cup feeding dapat menjadi salah satu pilihan ketika bayi perlu mendapatkan ASI perah tetapi Mommy ingin mengurangi penggunaan dot. Dalam penelitian Praborini et al. (2016), pendekatan cup feeding digunakan sebagai bagian dari proses pemulihan menyusui pada bayi yang mengalami masalah terkait nipple confusion.
Namun, metode pemberian ASI alternatif juga perlu dilakukan dengan teknik yang aman. Jika Mommy belum pernah melakukannya, sebaiknya minta contoh langsung dari konselor laktasi atau tenaga kesehatan.
Jangan sampai karena ingin menghindari dot, Mommy justru memberikan ASI perah dengan cara yang berisiko membuat bayi tersedak.
Salah satu hal yang dapat membuat bayi frustrasi adalah ketika ia harus mengisap beberapa kali sebelum ASI mulai mengalir, terutama jika sebelumnya terbiasa dengan botol.
Mommy dapat mencoba membantu ASI mulai mengalir terlebih dahulu sebelum menawarkan payudara.
Caranya:
Cara ini dapat membantu mengurangi jeda antara bayi mulai mengisap dan ASI mulai keluar.
Namun, tidak perlu memerah dalam jumlah banyak. Tujuannya hanya membantu memicu let-down reflex, bukan mengosongkan payudara sebelum menyusui.
Ketika bayi terus menolak payudara, jangan menjadikan setiap kontak dengan payudara sebagai “sesi latihan”. Terkadang, bayi justru membutuhkan pengalaman yang menyenangkan terlebih dahulu.
Cobalah melakukan skin-to-skin dengan santai:
Jika bayi mulai membuka mulut, mencari puting, atau menunjukkan tanda ingin menyusu, barulah Mommy dapat menawarkan payudara.
Hindari memaksa puting masuk ke mulut bayi ketika ia sedang menangis atau menolak. Tujuannya adalah membangun kembali asosiasi bahwa payudara merupakan tempat yang nyaman, bukan sesuatu yang membuatnya tertekan.
Dalam kondisi tertentu, penggunaan botol mungkin masih diperlukan, misalnya ketika Mommy harus bekerja atau bayi membutuhkan ASI perah.
Jika demikian, Mommy dapat mencoba paced bottle-feeding agar pengalaman minum dari botol tidak terlalu berbeda dengan menyusu langsung.
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan:

Teknik ini membantu bayi belajar mengatur sendiri ritme mengisap, menelan, dan bernapas, alih-alih terus menerima susu secara pasif. Namun, jika Mommy ingin mengurangi penggunaan botol selama proses mengembalikan bayi ke payudara, ada beberapa pilihan media lain yang bisa digunakan untuk memberikan ASIP. Mommy bisa melihat panduannya melalui artikel Anti Bingung Puting! Ini 4 Alternatif Media Pemberian ASIP untuk Bayi agar bisa memilih metode yang paling sesuai dengan usia dan kondisi Si Kecil.
Belum tentu, Mom.
Empeng (pacifier) sering dianggap sebagai penyebab utama Bayi menolak payudara. Padahal, bukti ilmiahnya tidak sesederhana itu. Zimmerman dan Thompson (2015) menjelaskan bahwa hubungan antara penggunaan empeng dan nipple confusion masih perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas.
Cleveland Clinic (2024) juga menekankan bahwa istilah nipple confusion sendiri sering digunakan terlalu luas untuk menjelaskan berbagai masalah menyusu.
Jadi, Mommy tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri hanya karena Si Kecil pernah menggunakan empeng atau botol.
Yang lebih penting adalah memperhatikan bagaimana bayi menyusu dan apa yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman.
Jika bayi mulai menolak payudara setelah penggunaan botol, perhatikan apakah:
Dengan mengetahui pemicunya, Mommy bisa memilih strategi yang lebih tepat daripada sekadar menghentikan semua alat bantu.
Jika bayi jarang menyusu langsung, yang perlu diperhatikan bukan hanya masalah pelekatan, tetapi juga asupan bayi dan stimulasi produksi ASI Mommy.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Semakin jarang payudara mendapatkan stimulasi atau pengosongan yang efektif, tubuh dapat menerima sinyal bahwa ASI yang diproduksi tidak perlu sebanyak sebelumnya.
Karena itu, jika bayi belum bisa menyusu langsung secara efektif, Mommy tetap perlu memastikan payudara mendapatkan stimulasi yang cukup melalui menyusui atau memerah ASI sesuai kebutuhan.
Ketika ASI tidak dikeluarkan secara efektif, payudara dapat terasa penuh, keras, atau nyeri. Jika kondisi ini berlanjut dan disertai peradangan, Mommy perlu mewaspadai tanda-tanda mastitis.
Jangan hanya fokus membuat bayi kembali mau menyusu langsung. Pastikan kebutuhan ASI Si Kecil tetap terpenuhi selama proses tersebut.
Perhatikan tanda seperti:
Jika Mommy merasa asupan bayi tidak terpenuhi, jangan menunggu terlalu lama untuk mencari bantuan.
Untuk memastikan asupan Si Kecil tetap terpenuhi selama proses kembali menyusu langsung, Mommy juga bisa memantau pertambahan berat badannya secara berkala. Cari tahu apakah kenaikan berat badan Si Kecil sudah sesuai melalui artikel 5 Panduan Kenaikan Berat Badan Bayi Sesuai Buku KIA agar Mommy punya gambaran yang lebih jelas tentang tumbuh kembangnya.
Jika bayi terus menolak payudara, prosesnya tidak harus Mommy jalani sendirian. Konselor laktasi dapat membantu mencari tahu apakah masalahnya benar-benar berkaitan dengan penggunaan dot atau justru ada faktor lain yang membuat bayi sulit menyusu.
Segera cari bantuan profesional jika:
Penilaian langsung juga penting untuk mencari kemungkinan masalah lain, misalnya kesulitan pelekatan, tongue-tie, atau kondisi yang membuat bayi tidak nyaman saat menyusu.
Dalam penelitian Praborini et al. (2016), dukungan intensif terhadap ibu dan bayi menunjukkan hasil yang positif dalam membantu memulihkan proses menyusui pada kasus nipple confusion. Artinya, dukungan yang tepat dapat membuat proses kembali menyusui menjadi lebih terarah.
Menghadapi bayi yang menolak payudara memang bisa membuat Mommy merasa sedih, apalagi jika muncul pikiran, “Kok bayi aku nggak mau menyusu dari aku?”
Tenang, Mom. Penolakan payudara bukan berarti bayi menolak Mommy. Si Kecil mungkin sedang kesulitan beradaptasi dengan perbedaan aliran, posisi, atau cara mengisap.
Fokuslah pada beberapa hal sederhana:
Dengan pendekatan yang konsisten dan penuh kesabaran, bayi dapat memiliki kesempatan untuk kembali mengenali payudara sebagai tempat yang nyaman untuk menyusu.
Bingung puting adalah istilah yang digunakan ketika bayi mengalami kesulitan beralih antara menyusu langsung dari payudara dan minum menggunakan dot. Bayi perlu menyesuaikan gerakan mulut, lidah, rahang, dan cara mengatur aliran susu pada kedua metode tersebut.
Cobalah menawarkan payudara ketika bayi belum terlalu lapar atau rewel, lakukan skin-to-skin, dan pastikan posisi menyusu nyaman. Mommy juga dapat memerah sedikit ASI terlebih dahulu agar aliran ASI sudah mulai keluar saat bayi mulai mengisap. Hindari memaksa bayi ketika ia menangis atau menolak.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.