
Momuung.com – Pernah melihat grafik pertumbuhan Si Kecil di Buku KIA lalu bertanya-tanya, “Garis dan angka di sini sebenarnya artinya apa, ya, Mom?”
Grafik tersebut merupakan bagian penting dari pemantauan pertumbuhan anak. Melalui pencatatan yang dilakukan secara rutin, Mommy dan tenaga kesehatan dapat melihat apakah berat badan Si Kecil bertambah sesuai dengan pola pertumbuhannya atau justru menunjukkan tanda yang perlu diperhatikan.
Salah satu alat yang digunakan untuk membantu memantau pertumbuhan ini adalah Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS membantu mencatat dan melihat pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, sehingga perubahan berat badan dapat diketahui lebih dini.
Nah, supaya Mommy tidak hanya melihat apakah titik grafik berada di warna tertentu, yuk pahami fungsi KMS dan cara membacanya dengan lebih tepat.
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah alat yang digunakan untuk mencatat dan memantau pertumbuhan balita secara berkala. Dalam penggunaannya, berat badan anak dicatat setiap kali melakukan penimbangan sehingga perubahan berat badan dapat dilihat dari waktu ke waktu.
KMS memuat kurva pertumbuhan berat badan menurut umur (BB/U) yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Karena itu, membaca KMS bukan sekadar melihat satu angka berat badan, tetapi juga memperhatikan arah dan pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.
Saat ini, pemantauan pertumbuhan anak juga dilakukan secara lebih menyeluruh melalui pengukuran antropometri, seperti berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala dan lingkar lengan atas sesuai usia. Hasil pengukuran tersebut membantu tenaga kesehatan menilai kondisi pertumbuhan dan status gizi Si Kecil secara lebih lengkap.
Dengan begitu, KMS sebaiknya dipandang sebagai alat pemantauan, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis kondisi kesehatan tertentu hanya dari satu titik atau satu kali pengukuran.
Setelah memahami pengertiannya, sekarang mari kenali bagaimana KMS membantu Mommy memantau pertumbuhan Si Kecil.
Fungsi utama KMS adalah membantu melihat apakah berat badan Si Kecil bertambah sesuai pola pertumbuhannya.
Misalnya, berat badan anak dicatat setiap bulan. Dari titik-titik tersebut akan terbentuk garis pertumbuhan. Garis inilah yang perlu diperhatikan, bukan hanya angka berat badan pada satu bulan tertentu.
Jika berat badan terus meningkat mengikuti pola pertumbuhan, ini merupakan salah satu tanda pertumbuhan yang baik. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa salah satu ciri balita sehat adalah berat badannya naik mengikuti garis pertumbuhan di KMS atau bergerak ke pita warna di atasnya.
Sebaliknya, jika berat badan tidak naik, tetap, atau justru turun, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan dapat memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan. Penilaian seperti ini memang menjadi bagian penting dalam pemantauan gangguan pertumbuhan.
Pemantauan KMS secara rutin membantu Mommy dan tenaga kesehatan melihat perubahan pertumbuhan sejak lebih awal.
Contohnya, jika berat badan Si Kecil beberapa kali tidak bertambah seperti biasanya, hal ini dapat menjadi tanda bahwa perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari asupan yang tidak mencukupi, kesulitan makan atau menyusu, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, hasil KMS tidak sebaiknya langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami gizi kurang atau masalah kesehatan tertentu. Tenaga kesehatan akan melihat tren pertumbuhan dan hasil pengukuran lainnya sebelum menentukan apakah memang terdapat gangguan pertumbuhan.
KMS membantu menyimpan riwayat pertumbuhan Si Kecil sehingga perkembangannya dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
Data ini juga bermanfaat saat Mommy membawa anak ke Posyandu, Puskesmas, dokter, atau fasilitas kesehatan lainnya. Buku KIA sendiri memang dianjurkan untuk selalu dibawa saat anak mendapatkan pelayanan kesehatan agar catatan pertumbuhan dan pelayanan kesehatan dapat digunakan sebagai bahan pemantauan.
Dengan catatan yang lengkap, tenaga kesehatan dapat lebih mudah melihat perubahan yang terjadi dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau tindak lanjut.
KMS bukan hanya bermanfaat untuk Mommy, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari pemantauan pertumbuhan di Posyandu.
Ketika ditemukan kecenderungan pertumbuhan yang kurang baik, tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut menggunakan pengukuran antropometri dan indeks status gizi yang sesuai. Dengan cara ini, masalah pertumbuhan dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Nah, ini bagian yang sering membuat Mommy bingung. Saat melihat KMS, jangan hanya fokus pada warna area tempat titik berada. Mommy juga perlu melihat usia, berat badan, dan terutama arah garis pertumbuhannya.
KMS menggunakan kurva pertumbuhan yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Karena itu, pastikan Mommy menggunakan grafik yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia Si Kecil.
Setiap kali dilakukan penimbangan, berat badan anak akan dicatat pada titik yang sesuai dengan usianya. Titik-titik tersebut kemudian membentuk garis yang menunjukkan pola pertumbuhan.
Misalnya, Si Kecil memiliki berat badan 6,5 kg pada usia tertentu. Angka tersebut kemudian diplot pada grafik sesuai dengan usianya.
Namun, satu angka saja belum cukup untuk menilai pertumbuhan anak. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana berat badan berubah dari waktu ke waktu.
Sebagai contoh:
Pola seperti ini perlu diperhatikan meskipun satu titik masih berada pada area yang dianggap normal. Dalam pemantauan pertumbuhan, kecenderungan arah kurva menjadi bagian penting untuk menentukan apakah anak memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Pada KMS, area grafik diberi pita atau zona warna untuk membantu pemantauan pertumbuhan. Secara umum, pita hijau menunjukkan area pertumbuhan yang diharapkan, sedangkan area di bawahnya menunjukkan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Namun, warna pada KMS tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan status gizi Si Kecil. Hasil pengukuran perlu dinilai bersama data lainnya oleh tenaga kesehatan.
Jadi, kalau titik pertumbuhan Si Kecil berada di luar area hijau, Mommy tidak perlu langsung panik. Begitu juga sebaliknya, berada di area tertentu bukan berarti anak otomatis bebas dari masalah pertumbuhan.
Dalam penilaian pertumbuhan, tenaga kesehatan tidak hanya melihat berat badan menurut umur. WHO menggunakan beberapa indikator pertumbuhan, termasuk berat badan menurut umur (BB/U), panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U), dan berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB).
Artinya, berat badan yang terlihat cukup baik belum tentu menggambarkan seluruh kondisi pertumbuhan anak. Begitu pula, tinggi badan yang sesuai usia tidak dapat dinilai hanya dari satu pengukuran tanpa melihat pola pertumbuhannya.

KMS dapat membantu memantau pertumbuhan, tetapi stunting tidak ditentukan hanya dari satu grafik KMS.
Stunting dinilai berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut usia (PB/U atau TB/U). Menurut standar pertumbuhan WHO, anak dikategorikan stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median standar pertumbuhan WHO.
Karena itu, apabila Mommy ingin mengetahui apakah Si Kecil mengalami stunting, pemeriksaan panjang atau tinggi badan serta penilaian status gizi oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan.
Hal yang sama berlaku untuk kelebihan berat badan atau obesitas.
BB/U saja tidak cukup untuk menentukan apakah anak mengalami obesitas. Untuk menilai kelebihan berat badan, tenaga kesehatan dapat menggunakan indikator seperti berat badan menurut panjang/tinggi badan atau indeks massa tubuh menurut usia, sesuai kelompok usia anak. WHO menggunakan BB/PB atau BB/TB untuk menilai overweight dan obesitas pada anak di bawah 5 tahun.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan Si Kecil mengalami obesitas hanya karena berat badannya terlihat tinggi pada KMS.
KMS membantu Mommy mengenali perubahan yang perlu diperhatikan. Beberapa kondisi yang sebaiknya dikonsultasikan lebih lanjut antara lain:
Jika berat badan Si Kecil tidak bertambah sesuai pola pertumbuhannya, tetap pada angka yang sama, atau justru turun, kondisi tersebut perlu dievaluasi.
Penyebabnya bisa bermacam-macam. Pada bayi, misalnya, perlu dilihat apakah proses menyusu berjalan efektif, apakah asupan mencukupi, atau apakah ada kondisi kesehatan yang memengaruhi pertumbuhan. Karena penyebabnya tidak selalu sama, sebaiknya jangan langsung memberikan kesimpulan hanya berdasarkan grafik KMS.
Selain melihat pola pertumbuhan pada KMS, Mommy juga dapat memahami kenaikan berat badan yang sesuai dengan usia Si Kecil sebagai salah satu bagian dari pemantauan tumbuh kembang. Dengan begitu, Mommy bisa lebih mudah mengenali apakah pertambahan berat badan Si Kecil masih sesuai dengan tahap perkembangannya.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai patokan kenaikan berat badan bayi, Mommy bisa membaca 5 Panduan Kenaikan Berat Badan Bayi Sesuai Buku KIA.
Pertumbuhan panjang atau tinggi badan juga perlu dipantau secara berkala. Jika pertumbuhannya terlihat melambat atau hasil pengukuran berada di bawah standar, tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian lebih lanjut.
Pemantauan tinggi atau panjang badan penting karena gangguan pertumbuhan yang berlangsung dalam waktu lama dapat berhubungan dengan masalah gizi kronis, termasuk stunting.
Pertumbuhan anak tidak hanya dipengaruhi oleh asupan makanan. Infeksi berulang, gangguan kesehatan tertentu, dan kondisi lain juga dapat memengaruhi pertumbuhan.
Mommy sebaiknya berkonsultasi apabila Si Kecil sering sakit, tampak sangat lemas atau kurang aktif, mengalami kesulitan makan atau menyusu, atau menunjukkan perubahan kondisi yang berbeda dari biasanya.
Pemantauan KMS sebaiknya tidak berhenti pada membaca grafik. Hasilnya bisa menjadi pengingat bagi Mommy untuk menjaga kebutuhan nutrisi, kesehatan, dan perkembangan Si Kecil sejak dini.
Untuk bayi usia 0-6 bulan, ASI eksklusif merupakan bagian penting dari pemenuhan kebutuhan nutrisi. Setelah usia 6 bulan, Si Kecil mulai membutuhkan MPASI yang diberikan secara tepat dan tetap disertai ASI sesuai kebutuhan.
Pemberian makanan sebaiknya disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan kondisi Si Kecil agar pertumbuhan dapat berlangsung optimal.
Bawa Si Kecil ke Posyandu atau fasilitas kesehatan secara rutin untuk ditimbang dan diukur.
Kementerian Kesehatan menganjurkan pemantauan pertumbuhan balita secara berkala. Pengukuran dapat mencakup berat badan, panjang atau tinggi badan, serta pengukuran lain sesuai usia dan kebutuhan.
Jangan lupa membawa Buku KIA saat berkunjung sehingga riwayat pertumbuhan dan pelayanan kesehatan Si Kecil dapat terus tercatat.
Pertumbuhan Si Kecil tidak hanya berkaitan dengan berat dan tinggi badan. Perkembangan kemampuan bergerak, berkomunikasi, dan bersosialisasi juga perlu diperhatikan.
Karena itu, berikan stimulasi yang sesuai dengan usia, seperti mengajak Si Kecil bermain, berbicara, bernyanyi, membaca buku, atau melakukan aktivitas sederhana bersama. Interaksi rutin dengan orang tua juga menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan anak.
Selain membantu Si Kecil belajar berinteraksi dengan lingkungan, stimulasi yang sesuai usia juga dapat mendukung perkembangan otak dan berbagai kemampuan barunya. Mommy bisa memberikan stimulasi melalui aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin sesuai tahap perkembangan Si Kecil.
Untuk mengetahui berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di masa penting perkembangan anak, Mommy juga bisa membaca Cara Stimulasi Otak Bayi di Golden Period agar Tumbuh Cerdas.
KMS bukan sekadar grafik yang menunjukkan apakah berat badan Si Kecil berada di zona hijau atau tidak. Yang paling penting adalah melihat perubahan berat badan dari waktu ke waktu dan memperhatikan arah garis pertumbuhannya.
Selain itu, penilaian pertumbuhan anak perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berat badan, panjang atau tinggi badan, serta indikator pertumbuhan lain yang sesuai.
Jadi, saat membuka KMS Si Kecil, Mommy bisa mulai dengan tiga langkah sederhana:
Lihat usianya, lihat perubahan berat badannya dari waktu ke waktu, lalu perhatikan apakah ada pola pertumbuhan yang perlu dievaluasi.
Kalau Mommy menemukan berat badan Si Kecil tidak naik, justru turun, atau pertumbuhannya terlihat berbeda dari biasanya, jangan langsung panik. Bawa hasil pencatatan KMS ke Posyandu, dokter, atau tenaga kesehatan agar kondisi Si Kecil dapat dinilai secara lebih lengkap.
Dengan pemantauan yang rutin, perubahan pertumbuhan dapat dikenali lebih awal sehingga Si Kecil bisa mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.