
Momuung.com – Payudara terasa nyeri saat menyusui cukup sering dialami, terutama pada minggu-minggu awal ketika Mommy dan Si Kecil masih belajar menemukan posisi serta pelekatan yang nyaman. Namun, nyeri yang terus-menerus atau semakin berat sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian yang harus ditahan.
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari pelekatan yang kurang tepat, puting mengalami luka, payudara terlalu penuh (engorgement), hingga peradangan seperti Mastitis/" title="Pengertian Mastitis dalam konteks kehamilan dan menyusui | Mom Uung" class="glossary-link">mastitis. Karena penyebabnya berbeda, cara mengatasinya juga perlu disesuaikan.
Yuk, kenali penyebab payudara sakit dan langkah yang bisa Mommy lakukan agar menyusui tetap nyaman.
Nyeri payudara tidak selalu berarti Mommy mengalami infeksi. Bahkan, beberapa keluhan justru berawal dari proses menyusui yang kurang efektif atau payudara terlalu penuh.
Beberapa penyebab yang cukup sering antara lain:
Saat bayi belum melekat dengan baik, tekanan isapan bisa lebih banyak tertumpu pada puting sehingga puting terasa nyeri, lecet, atau bahkan terluka. Pelekatan yang baik (latch) membantu bayi mengambil ASI dengan lebih efektif sekaligus mengurangi tekanan berlebih pada puting.
Jika Mommy terus merasa nyeri setiap kali Si Kecil mulai menyusu, coba evaluasi kembali posisi dan latch. Mommy juga bisa mempelajari lebih lanjut tentang deep latch dan cara membantu bayi mendapatkan pelekatan yang lebih optimal.
Payudara dapat terasa penuh, keras, berat, dan nyeri ketika ASI menumpuk lebih cepat daripada yang dikeluarkan. Kondisi ini cukup umum terutama pada awal masa menyusui.
Pada kondisi ringan, Mommy biasanya tetap dapat menyusui seperti biasa. Jika payudara terlalu penuh sehingga bayi sulit melekat, Mommy dapat mengeluarkan ASI secukupnya untuk membuat areola lebih lunak dan memudahkan pelekatan. Hindari memerah atau memompa berlebihan hanya untuk membuat payudara terasa benar-benar kosong karena stimulasi berlebihan dapat mempertahankan produksi ASI yang terlalu tinggi.
Mastitis merupakan kondisi ketika jaringan payudara mengalami peradangan dan dapat disertai gejala seperti:
Mastitis dapat terjadi ketika ASI tidak keluar secara efektif, misalnya akibat bayi sulit melekat, sesi menyusu terlewat, atau produksi ASI berlebih. Jadi, mastitis tidak semata-mata disebabkan oleh payudara yang “kurang bersih”.
Nyeri payudara atau puting juga bisa muncul karena penggunaan breast pump yang kurang sesuai. Misalnya, ukuran flange terlalu kecil atau besar, posisi corong tidak pas, atau tingkat isapan terlalu tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat puting dan areola tertarik atau bergesekan berlebihan sehingga muncul rasa nyeri, lecet, atau iritasi.
Jika keluhan justru muncul setelah pumping, coba evaluasi kembali ukuran corong, posisi breast pump, tingkat isapan, serta durasi setiap sesi. Mommy juga perlu memastikan teknik pumping dilakukan dengan nyaman dan tidak memaksakan payudara terus dipompa ketika sudah terasa sakit.
Terlebih jika Mommy melakukan pumping dengan pola tertentu untuk meningkatkan stimulasi, seperti power pumping, pastikan teknik dan durasinya tetap disesuaikan dengan kondisi tubuh. Mommy bisa membaca panduan cara melakukan teknik power pumping untuk memahami pola pumping yang tepat dan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Setelah mengetahui kemungkinan penyebabnya, Mommy bisa mencoba beberapa langkah berikut.
Jika nyeri muncul saat bayi menyusu, periksa kembali posisi dan latch-nya.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan:
Jika Mommy masih merasa sakit setiap kali menyusui, jangan ragu meminta dokter, bidan, atau konselor laktasi mengamati langsung proses menyusu. Evaluasi langsung dapat membantu menemukan penyebab nyeri yang tidak selalu terlihat hanya dari keluhan Mommy.
Jika Mommy mengalami payudara penuh atau mastitis, berhenti menyusui secara tiba-tiba justru dapat membuat kondisi semakin tidak nyaman.
Tetap tawarkan payudara sesuai kebutuhan Si Kecil. Jika bayi tidak dapat menyusu dari payudara yang sakit atau menyusui terlalu nyeri, Mommy dapat memerah ASI secukupnya untuk memenuhi kebutuhan bayi dan menjaga pengeluaran ASI.
Namun, Mommy tidak perlu memompa terus-menerus untuk “mengosongkan” payudara. Pengeluaran ASI yang berlebihan dapat mempertahankan produksi yang terlalu tinggi dan berkontribusi pada masalah seperti bengkak dan peradangan.
Ketika payudara terasa bengkak dan nyeri, kompres dingin dapat membantu meredakan rasa sakit dan pembengkakan.
Mommy bisa menggunakan kain bersih yang dibasahi air dingin dan menempelkannya pada area yang terasa nyeri. Kompres dapat digunakan di antara sesi menyusui atau ketika payudara terasa tidak nyaman.
Kompres hangat juga dapat terasa nyaman bagi sebagian Mommy sebelum menyusui, tetapi sebaiknya tidak menggunakan panas berlebihan atau terlalu lama karena dapat memperburuk peradangan.
Kalau Mommy merasakan payudara terasa keras, penuh, atau ada bagian yang tidak nyaman, hindari memijat atau menekan area tersebut dengan kuat. Tekanan berlebihan dapat membuat jaringan payudara semakin teriritasi dan memperburuk peradangan.
Jika Mommy ingin melakukan pijatan, pilih teknik yang lembut dan tidak menimbulkan rasa sakit. Salah satu pendekatan yang bisa dipelajari adalah pijat limfatik, yang menggunakan gerakan ringan untuk membantu mengurangi pembengkakan tanpa memberikan tekanan berlebihan pada jaringan payudara.
Mommy bisa membaca panduan 3 Langkah Pijat Limfatik Payudara agar ASI Lancar Saat Bengkak untuk mengetahui cara melakukan pijatan dengan gerakan yang lebih lembut dan nyaman.
Jadi, saat payudara terasa penuh atau bengkak, semakin kuat dipijat bukan berarti semakin cepat “sumbatannya keluar”, ya, Mom. Yang lebih penting adalah menggunakan teknik yang tepat dan tidak memperburuk rasa nyeri.
Gunakan bra yang menopang payudara tetapi tidak terlalu ketat. Pakaian atau bra yang memberikan tekanan berlebihan pada payudara dapat memperburuk rasa tidak nyaman dan mengganggu aliran ASI.
Saat sedang nyeri atau mengalami gejala peradangan, tubuh Mommy juga membutuhkan waktu untuk pulih.
Usahakan beristirahat sebanyak yang memungkinkan dan tetap minum sesuai kebutuhan tubuh. Mommy tidak perlu memaksakan diri melakukan banyak aktivitas ketika tubuh sedang tidak fit.
Jika rasa sakit cukup mengganggu, obat seperti paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan selama menyusui pada dosis yang sesuai dan bila tidak ada kontraindikasi medis. Obat-obatan tersebut umumnya dianggap kompatibel dengan menyusui. Namun, Mommy tetap sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau apoteker, terutama jika memiliki kondisi medis tertentu atau sedang menggunakan obat lain.
Setelah keluhan membaik, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga proses menyusui tetap nyaman:
Nyeri payudara yang ringan dapat membaik setelah penyebabnya diperbaiki. Namun, Mommy sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi jika:
Jika ditemukan mastitis dan kondisi tidak membaik, dokter dapat menentukan apakah diperlukan pengobatan lebih lanjut. Bila dicurigai terjadi abses payudara, pemeriksaan dan penanganan medis diperlukan karena abses dapat membutuhkan tindakan untuk mengeluarkan nanah.
Payudara sakit saat menyusui bukan berarti Mommy harus berhenti menyusui atau menahan rasa sakit begitu saja. Cari tahu dulu penyebabnya, karena penanganan nyeri akibat pelekatan, payudara terlalu penuh, trauma pumping, dan mastitis bisa berbeda.
Mulailah dari hal sederhana seperti memperbaiki latch, menyusui sesuai kebutuhan bayi, menggunakan kompres dingin untuk nyeri dan bengkak, menghindari pijatan kuat, serta memastikan teknik pumping sudah tepat.
Kalau nyeri menetap, disertai demam, kemerahan, bengkak, atau tidak membaik setelah perawatan awal, jangan ragu meminta bantuan dokter atau konselor laktasi. Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin tepat pula penanganannya dan semakin nyaman perjalanan menyusui Mommy.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.