
Momuung.com – Pernah melihat napas Si Kecil yang cepat, tersengal, atau terdengar bunyi seperti “ngik-ngik”? Jangan langsung panik, Mommy. Pernapasan bayi memang berbeda dengan orang dewasa karena sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan.
Bayi baru lahir umumnya bernapas sekitar 40-60 kali per menit saat sedang tenang dan terjaga. Polanya pun belum selalu teratur. Sesekali napas bisa menjadi lebih cepat, kemudian melambat, atau berhenti sebentar sebelum kembali bernapas seperti biasa.
Meski begitu, ada kondisi tertentu yang perlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda bayi mengalami gangguan pernapasan. Yuk, kenali seperti apa Napas bayi yang masih normal dan kapan Mommy perlu segera mencari pertolongan medis.
Sistem pernapasan bayi masih beradaptasi setelah lahir. Saluran napasnya juga jauh lebih kecil dibandingkan orang dewasa sehingga suara napas atau perubahan ritmenya bisa terlihat lebih jelas.
Beberapa karakteristik yang masih bisa dianggap normal pada bayi baru lahir antara lain:
Selama bayi tetap terlihat nyaman, warna kulit dan bibirnya normal, aktif, serta dapat menyusu dengan baik, perubahan pola napas tersebut umumnya tidak perlu membuat Mommy panik.
Untuk mengetahui apakah napas Si Kecil terlalu cepat, Mommy bisa menghitung jumlah napasnya selama satu menit penuh saat bayi sedang tenang.
Pada bayi baru lahir, frekuensi napas umumnya sekitar 40-60 kali per menit. Saat tidur, frekuensinya bisa lebih lambat. Sebaliknya, ketika bayi sedang menangis, menyusu, atau banyak bergerak, napasnya memang bisa menjadi lebih cepat untuk sementara.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan bayi sesak hanya karena napasnya terlihat cepat. Perhatikan juga kondisi bayi secara keseluruhan dan apakah napas cepat tersebut menetap setelah bayi sudah tenang.
Menurut IDAI, napas dikategorikan cepat jika lebih dari 60 kali per menit pada bayi usia kurang dari 2 bulan, sedangkan pada bayi usia 2-11 bulan batasnya adalah 50 kali per menit atau lebih.
Pernah melihat Si Kecil seperti bernapas cepat beberapa kali, kemudian berhenti sebentar, lalu bernapas normal lagi? Kondisi ini dapat disebut periodic breathing dan cukup umum pada bayi, terutama bayi prematur.
Pada kondisi ini, bayi dapat mengalami jeda napas singkat, kemudian mengambil beberapa napas yang lebih cepat sebelum kembali ke pola normal.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya jeda, tetapi bagaimana kondisi bayi selama mengalaminya. Jika jedanya singkat dan bayi tetap terlihat nyaman, warna kulitnya normal, serta tetap aktif dan menyusu dengan baik, biasanya kondisi tersebut masih dalam batas normal.
Sebaliknya, bila bayi berhenti bernapas cukup lama, tampak kesulitan mengambil napas, berubah warna menjadi kebiruan, atau sulit dibangunkan, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Bunyi napas bayi memang bisa membuat Mommy khawatir. Namun, tidak semua suara napas menandakan bayi sedang sesak.
Karena saluran napas bayi masih kecil, sedikit lendir di hidung saja bisa membuat suara napas terdengar lebih jelas. Bayi yang sedang pilek juga dapat terdengar seperti “grok-grok” karena hidungnya tersumbat. Kalau suara grok-grok justru lebih sering terdengar saat Si Kecil sedang menyusu, Mommy bisa cari tahu penyebab dan cara mengatasinya lewat artikel Hidung Bayi Grok-Grok Saat Menyusu? Ini Penyebab & Solusinya.
Selain itu, ada kondisi bernama laryngomalacia, yaitu jaringan di saluran napas bagian atas yang masih lebih lunak sehingga dapat menimbulkan suara napas, terutama ketika bayi menarik napas. Pada banyak kasus, kondisi ini membaik seiring pertumbuhan bayi.
Namun, Mommy perlu lebih waspada jika suara napas:
Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya Si Kecil diperiksa oleh dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Supaya lebih mudah mengenalinya, Mommy bisa memperhatikan beberapa tanda berikut.
Masih dapat normal:
Perlu diwaspadai:
Kuncinya, Mommy, jangan hanya melihat angka frekuensi napas. Kondisi bayi secara keseluruhan juga penting untuk menentukan apakah pernapasannya masih normal atau membutuhkan pemeriksaan.

Kalau Mommy merasa napas Si Kecil lebih cepat dari biasanya, jangan langsung menghitung saat bayi sedang menangis. Tunggu sampai bayi lebih tenang, lalu lakukan pemeriksaan sederhana.
Caranya, perhatikan gerakan dada atau perut bayi dan hitung berapa kali naik-turun dalam satu menit penuh. Satu kali naik dan turun dihitung sebagai satu napas.
Kalau hasilnya lebih dari batas normal secara terus-menerus, terutama jika disertai tanda seperti dada cekung, hidung kembang-kempis, perubahan warna kulit, atau bayi sulit menyusu, jangan hanya dipantau di rumah. Sebaiknya segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Bayi memang lebih mudah mengalami perubahan pola napas karena saluran napasnya masih kecil. Hidung tersumbat, lendir, pilek, atau kondisi tertentu setelah lahir juga dapat membuat napasnya terdengar berbeda.
Jika bayi hanya mengalami hidung tersumbat ringan tanpa tanda sesak, beberapa langkah sederhana dapat membantu membuatnya lebih nyaman.
Mommy bisa membersihkan lendir di hidung menggunakan cairan saline yang sesuai untuk bayi. Pastikan kamar tetap bersih dari debu dan asap rokok karena kedua hal tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Bayi juga sebaiknya tetap tidur dalam posisi telentang di permukaan tidur yang rata dan kokoh. Tidak perlu menggunakan bantal atau meninggikan posisi kepala bayi untuk mengatasi hidung tersumbat.
Jika udara di rumah terasa sangat kering, Mommy dapat mempertimbangkan menjaga kelembapan ruangan dengan cara yang aman. Yang terpenting, hindari paparan asap rokok, vape, parfum yang menyengat, maupun bahan lain yang dapat mengganggu saluran napas bayi.
Jangan menunggu terlalu lama jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas. Segera cari pertolongan medis jika bayi mengalami:
Jadi, Mommy, napas bayi yang cepat atau berbunyi tidak selalu berarti sesak. Yang lebih penting adalah melihat pola napas, warna kulit, respons bayi, kemampuan menyusu, dan ada atau tidaknya tanda kerja napas yang berat.
Kalau Mommy masih ragu apakah napas Si Kecil normal, terutama pada bayi baru lahir, lebih baik diperiksakan daripada menunggu sampai kondisinya memburuk.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.