
Momuung.com – Bayi susah tidur atau sering terbangun di malam hari memang bisa bikin Mommy ikut kurang istirahat. Apalagi, pola tidur bayi memang masih terus berkembang dan belum sama seperti orang dewasa.
Secara umum, bayi usia 0-3 bulan membutuhkan sekitar 14-17 jam tidur per hari, termasuk tidur siang. Memasuki usia 4-11 bulan, kebutuhan tidurnya sekitar 12-16 jam per hari, termasuk tidur siang.
Jadi, kalau Si Kecil masih sering bangun malam, jangan langsung menganggap tidurnya bermasalah, ya, Mom. Bayi memang masih belajar mengenali pola siang dan malam.
Meski begitu, Mommy tetap bisa membantu Si Kecil mendapatkan tidur yang lebih nyaman dengan membangun rutinitas dan suasana tidur yang konsisten.
Ada beberapa alasan yang bisa membuat bayi sulit tidur atau mudah terbangun di malam hari. Beberapa di antaranya masih merupakan bagian normal dari perkembangan bayi.
Bayi baru lahir belum memiliki pola tidur yang teratur. Siklus tidurnya juga lebih pendek dibandingkan orang dewasa sehingga ia lebih mudah terbangun.
Pada awal kehidupan, bayi juga belum memiliki ritme sirkadian yang matang. Karena itu, Si Kecil belum benar-benar memahami bahwa malam adalah waktunya tidur lebih lama.
Seiring bertambahnya usia, pola terang dan gelap membantu tubuh bayi membentuk ritme tidur yang semakin teratur.
Lambung bayi masih kecil sehingga ia perlu menyusu lebih sering, termasuk pada malam hari. Ketika lapar, bayi tentu bisa terbangun dan menangis.
Popok yang basah atau kotor, pakaian yang tidak nyaman, maupun suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin juga bisa membuat bayi sulit kembali tidur.
Suara yang ramai, lampu terang, bermain terlalu aktif, atau terlalu banyak interaksi menjelang tidur bisa membuat bayi justru semakin sulit rileks.
Kondisi ini disebut overstimulasi. Bayi bisa terlihat lelah dan mengantuk, tetapi malah rewel, sulit ditenangkan, atau semakin susah tidur.
Pernah Si Kecil sebelumnya tidur cukup baik, tetapi tiba-tiba jadi sering bangun dan sulit tidur lagi?
Bisa saja ia sedang mengalami sleep regression, yaitu perubahan sementara pada pola tidur yang sering muncul bersamaan dengan perkembangan tertentu.
Salah satu yang paling dikenal adalah sleep regression sekitar usia 4 bulan. Namun, perubahan pola tidur juga dapat terjadi pada tahap perkembangan lainnya.
Tidak semua bayi mengalaminya dengan cara yang sama dan durasinya pun bisa berbeda.
Ketika mengalami growth spurt, kebutuhan energi bayi dapat meningkat. Akibatnya, Si Kecil mungkin lebih sering lapar dan meminta menyusu, termasuk pada malam hari.
Jadi, kalau bayi yang biasanya tidur lebih panjang tiba-tiba sering terbangun untuk menyusu, salah satu kemungkinannya adalah ia sedang mengalami fase pertumbuhan.
Kebutuhan tidur setiap bayi bisa berbeda. Namun, rekomendasi umum berdasarkan usia dapat menjadi gambaran bagi Mommy:
Pada tahun pertama kehidupan, bayi masih bisa terbangun beberapa kali di malam hari. Terbangun untuk menyusu, perubahan siklus tidur, growth spurt, atau sleep regression masih dapat menjadi bagian dari perkembangan normal.
Jadi, jangan hanya melihat berapa lama bayi tidur dalam satu waktu. Perhatikan juga total waktu tidur dalam 24 jam dan kondisi Si Kecil secara keseluruhan.
Sebelum bayi terlalu lelah, coba perhatikan tanda-tanda ia mulai mengantuk, seperti:
Waktu terbaik untuk mulai menenangkan bayi biasanya ketika tanda-tanda mengantuk mulai terlihat. Jangan menunggu sampai ia sudah terlalu lelah karena kondisi tersebut justru bisa membuat bayi semakin sulit tidur.
Tidak ada satu cara yang pasti berhasil untuk semua bayi. Namun, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih mendukung untuk tidur.
Rasa lapar bisa membuat bayi sulit tidur atau cepat terbangun. Karena itu, pastikan kebutuhan menyusu Si Kecil terpenuhi sesuai usianya dan tanda laparnya.
Untuk bayi yang masih menyusu langsung, tawarkan ASI sesuai kebutuhan bayi. Jangan memaksakan bayi minum lebih banyak hanya supaya ia tidur lebih lama.
Bayi akan lebih mudah mengenali waktu tidur jika aktivitas menjelang tidur dilakukan dengan pola yang relatif sama.
Misalnya:
ganti popok → redupkan lampu → menyusu → pelukan → tidur.
Tidak harus memiliki rutinitas yang panjang. Yang penting, urutannya konsisten dan dilakukan dengan suasana yang tenang.
Saat malam hari, gunakan pencahayaan yang lebih redup dan minimalkan cahaya terang.
Jika Mommy perlu menyusui atau mengganti popok, gunakan lampu secukupnya agar bayi tidak kembali terlalu terjaga.
Paparan cahaya yang lebih rendah pada malam hari juga membantu tubuh mengenali perbedaan antara siang dan malam.
Sekitar 30-60 menit sebelum waktu tidur, mulai turunkan aktivitas di sekitar bayi.
Matikan atau jauhkan layar, kurangi suara keras, hindari permainan yang terlalu aktif, dan ciptakan suasana yang lebih tenang.
Tujuannya sederhana: memberi kesempatan bagi tubuh dan otak bayi untuk beralih dari kondisi aktif menuju waktu istirahat.
White noise atau suara latar yang stabil dapat membantu menyamarkan suara dari lingkungan sekitar sehingga sebagian bayi lebih mudah tertidur.
Contohnya suara kipas atau suara hujan yang lembut dan konstan.
Namun, jangan meletakkan perangkat suara terlalu dekat dengan kepala bayi dan hindari volume yang terlalu keras. Jika bayi sudah tertidur, Mommy juga tidak harus terus menggunakan white noise sepanjang malam.
Bayi bisa lebih sulit tidur jika merasa kepanasan, kedinginan, atau tidak nyaman.
Pilih pakaian tidur yang sesuai dengan kondisi ruangan dan perhatikan tanda-tanda bayi kepanasan, seperti berkeringat atau tubuh terasa terlalu panas.
Tidak perlu terpaku pada angka suhu tertentu. Yang lebih penting adalah memastikan ruangan nyaman dan bayi tidak kepanasan.
Pada bayi baru lahir, bedong dapat membantu mengurangi refleks kaget yang terkadang membuat bayi terbangun.
Namun, bedong harus dilakukan dengan benar. Jangan terlalu ketat, terutama di area dada, pinggul, dan kaki.
Hentikan bedong segera ketika bayi mulai menunjukkan tanda-tanda berguling. Setelah itu, bayi tetap harus tidur telentang di tempat tidur yang aman.
Ketika memungkinkan, Mommy bisa mencoba meletakkan bayi di tempat tidurnya saat sudah mengantuk tetapi belum sepenuhnya tertidur.
Dengan cara ini, bayi perlahan belajar mengenali tempat tidurnya sebagai tempat untuk beristirahat.
Namun, setiap bayi memiliki kebutuhan yang berbeda. Tidak perlu memaksakan bayi untuk langsung bisa tidur sendiri, terutama pada usia yang masih sangat kecil.
Pada siang hari, berikan kesempatan bagi bayi untuk berinteraksi dan bergerak sesuai tahap perkembangannya.
Ajak Si Kecil berbicara, bermain, melakukan tummy time sesuai usia, atau beraktivitas bersama.
Namun, hindari aktivitas yang terlalu ramai mendekati waktu tidur karena justru bisa membuat bayi overstimulasi.
Sentuhan lembut seperti mengusap punggung, memeluk, atau melakukan pijatan bayi secara perlahan dapat menjadi bagian dari rutinitas sebelum tidur. Aktivitas ini juga bisa menjadi momen bonding yang membuat bayi merasa lebih nyaman dan aman.
Kalau Mommy ingin mencoba pijat bayi sebagai bagian dari rutinitas menjelang tidur, pastikan gerakannya lembut dan dilakukan saat Si Kecil dalam kondisi tenang. Mommy bisa melihat panduan lengkapnya di artikel Cara Pijat Bayi agar Cepat Tidur dan Tidak Mudah Rewel.
Lakukan hanya ketika bayi terlihat nyaman. Kalau Si Kecil justru semakin rewel atau tidak menyukai sentuhan tersebut, hentikan dan coba cara lain.
Bagian ini tidak boleh dilewatkan, Mom.
Selalu letakkan bayi tidur dalam posisi telentang, baik untuk tidur siang maupun malam.
Gunakan permukaan tidur yang rata, kokoh, dan tidak miring. Area tidur bayi juga sebaiknya bebas dari bantal, guling, boneka, bumper, dan selimut longgar yang dapat meningkatkan risiko sesak atau kematian mendadak pada bayi.
Jika bayi tertidur saat digendong atau di tempat lain, pindahkan ke permukaan tidur yang aman sesegera mungkin.
Kebutuhan tidur bayi berubah seiring perkembangan. Karena itu, pendekatannya juga bisa disesuaikan dengan usia Si Kecil.
Pada usia ini, pola tidur bayi masih belum teratur dan bayi masih sering terbangun untuk menyusu.
Fokus Mommy bukan membuat bayi tidur sepanjang malam, tetapi membantu bayi mengenali perbedaan siang dan malam.
Pada malam hari, buat suasana lebih tenang dan redup. Saat siang, biarkan bayi mendapatkan cahaya alami dan aktivitas sesuai usianya.
Yang paling penting, tetap prioritaskan kebutuhan menyusu dan tidur yang aman.
Memasuki usia ini, sebagian bayi mulai memiliki pola tidur yang lebih teratur. Namun, perubahan perkembangan seperti sleep regression dapat membuat bayi kembali sering terbangun.
Mommy bisa mulai membangun rutinitas tidur yang lebih konsisten, misalnya mandi, menyusu, membaca buku, lalu tidur.
Tetap perhatikan tanda mengantuk agar bayi tidak sampai terlalu lelah.
Pada usia ini, pola tidur umumnya mulai lebih teratur dan sebagian bayi dapat tidur lebih panjang pada malam hari.
Mommy bisa mempertahankan rutinitas tidur yang konsisten dan memberikan kesempatan bagi bayi untuk belajar tertidur di tempat tidurnya.
Namun, terbangun di malam hari masih bisa terjadi dan tidak selalu berarti ada masalah tidur.

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan berikut dapat membuat bayi semakin sulit beristirahat:
Coba evaluasi satu per satu, Mom. Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Mulai dari satu kebiasaan yang paling mungkin mengganggu tidur Si Kecil.
Sesekali sulit tidur sebenarnya masih wajar. Namun, Mommy perlu lebih waspada jika gangguan tidur disertai tanda lain, seperti:
Jika bayi sulit tidur terus-menerus dan Mommy merasa ada sesuatu yang tidak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk mencari penyebabnya.
Bayi susah tidur tidak selalu berarti ada masalah. Pada tahun pertama kehidupan, Si Kecil masih belajar mengenali pola siang dan malam, memiliki siklus tidur yang lebih pendek, serta dapat lebih sering terbangun karena lapar, growth spurt, atau perubahan perkembangan.
Mommy bisa membantu dengan membuat rutinitas tidur yang konsisten, memenuhi kebutuhan menyusu, mengurangi stimulasi sebelum tidur, menciptakan suasana yang nyaman, dan mengenali tanda-tanda bayi mulai mengantuk.
Yang paling penting, jangan sampai mengejar bayi cepat tidur membuat aspek keselamatan justru terlewat. Pastikan Si Kecil selalu tidur telentang di permukaan yang rata dan kokoh dengan area tidur yang bebas dari benda-benda yang berisiko mengganggu pernapasan.
Setiap bayi punya pola tidur yang berbeda, Mom. Jadi, tidak perlu membandingkan durasi tidur Si Kecil dengan bayi lainnya. Fokus pada kebutuhan, perkembangan, dan kondisi bayi secara keseluruhan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Nutrisi19 Juli 2026
Kesehatan Anak13 Februari 2026
Tumbuh Kembang13 April 2026
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.