
Momuung.com – Setelah menyusu, banyak Mommy langsung menunggu Si Kecil bersendawa. Tapi bagaimana kalau sudah digendong dan ditepuk cukup lama, kok belum juga keluar sendawa? Tenang, Mom. Kondisi ini sebenarnya cukup sering terjadi dan tidak selalu berbahaya.
Yuk, cari tahu kapan bayi memang perlu disendawakan dan apa yang harus Mommy lakukan jika Si Kecil tidak kunjung bersendawa.
Setelah menyusu, baik melalui direct breastfeeding (DBF) ataupun media pemberian ASI perah (ASIP), sebagian bayi dapat ikut menelan sedikit udara bersama ASI. Udara yang terperangkap di dalam lambung bisa membuat perut terasa penuh sehingga beberapa bayi menjadi lebih mudah gumoh, rewel, atau tampak kurang nyaman setelah menyusu. Namun, tidak semua bayi mengalami kondisi ini.
Karena itu, tujuan menyendawakan bayi bukan sekadar menunggu bunyi sendawa, tetapi membantu mengeluarkan udara yang tertelan agar Si Kecil merasa lebih nyaman (American Academy of Pediatrics, 2024).
Beberapa manfaat menyendawakan bayi antara lain:
Banyak Mommy mengira proses menyendawakan bayi baru berhasil jika terdengar bunyi “heuk”. Padahal, faktanya tidak selalu demikian.
Tujuan menyendawakan bayi adalah membantu mengeluarkan udara yang tertelan saat menyusu, bukan menghasilkan suara sendawa.
Pada sebagian bayi, udara dapat keluar secara perlahan tanpa bunyi yang terdengar. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran lambung bayi yang masih kecil, sehingga jumlah udara yang tertelan umumnya tidak terlalu banyak dan dapat keluar dengan sendirinya. Selain melalui sendawa, sebagian bayi juga dapat mengeluarkan gas melalui kentut. Jadi, jika Si Kecil tidak bersendawa tetapi tampak nyaman, tidak rewel, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kembung, Mommy tidak perlu terlalu khawatir karena udara yang tertelan kemungkinan sudah keluar secara alami.
Bayi yang menyusu langsung dari payudara (direct breastfeeding atau DBF) umumnya menelan lebih sedikit udara dibandingkan bayi yang minum menggunakan botol, terutama jika pelekatan (latch-on) sudah baik. Saat mulut bayi terbuka lebar dan melekat dengan baik pada payudara, proses mengisap menjadi lebih efektif sehingga udara yang ikut tertelan dapat lebih sedikit (National Health Service, 2023).
Karena itu, bayi yang menyusu langsung dengan pelekatan yang baik biasanya:
Banyak Mommy tetap menggendong dan menepuk punggung Si Kecil cukup lama karena menunggu bunyi sendawa. Padahal, hal tersebut tidak selalu diperlukan.
Menurut panduan American Academy of Pediatrics, Mommy cukup mencoba menyendawakan bayi selama sekitar 1-2 menit setelah selesai menyusu. Jika belum juga bersendawa, Mommy tidak perlu memaksakan proses tersebut. Bila Si Kecil masih tampak kurang nyaman, Mommy dapat mencoba kembali beberapa saat kemudian dengan posisi yang berbeda (HealthyChildren.org, 2024).
Selama proses menyendawakan, Mommy bisa mencoba beberapa langkah sederhana berikut:

Daripada hanya menunggu bunyi sendawa, Mommy bisa memperhatikan kondisi Si Kecil setelah menyusu. Jika tanda-tanda berikut muncul, biasanya proses menyendawakan sudah cukup dilakukan meski tidak terdengar bunyi “heuk”.
Setelah digendong dalam posisi tegak selama beberapa menit, Si Kecil terlihat lebih rileks dan mudah ditenangkan.
Beberapa tanda yang bisa Mommy amati antara lain:
Udara yang masih terperangkap di lambung biasanya membuat bayi tampak tidak nyaman. Sebaliknya, bila udara sudah keluar atau memang tidak banyak yang tertelan, bayi umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda berikut:
Setelah menyusu, sebagian bayi langsung tertidur, sementara yang lain tetap terjaga dan aktif. Keduanya sama-sama normal selama Si Kecil tampak nyaman.
Mommy tidak perlu melanjutkan proses menyendawakan apabila bayi:
Sebenarnya, cara terbaik untuk mengurangi risiko bayi menelan udara dimulai sejak proses menyusu berlangsung. Semakin baik pelekatan menyusu, semakin sedikit udara yang ikut masuk ke lambung Si Kecil. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko perut kembung, gumoh, maupun rasa tidak nyaman setelah menyusu.
Beberapa tanda pelekatan menyusu sudah tepat, antara lain:
Jika Mommy masih sering mendengar bunyi “klik”, bayi mudah lepas dari puting, atau merasa pelekatan belum nyaman, jangan ragu meminta bantuan konselor laktasi. Pelekatan yang baik bukan hanya membantu mengurangi udara yang tertelan, tetapi juga membuat proses menyusui lebih efektif dan nyaman bagi Mommy maupun Si Kecil
Selain memastikan cara menyusui yang benar, Mommy juga tetap dapat menyendawakan Si Kecil setelah menyusu sesuai kebutuhannya. Jika ingin mengetahui langkah-langkahnya, yuk lanjut baca artikel Bayi Sering Gumoh? Ini 3 Cara menyendawakan bayi Setelah Menyusu agar Tidak Rewel.
Tidak semua bayi harus mengeluarkan bunyi sendawa setelah menyusu, Mommy. Yang lebih penting adalah memperhatikan kondisi Si Kecil secara keseluruhan. Jika bayi tampak tenang, tidak menunjukkan tanda perut tidak nyaman, dan pelekatan menyusunya sudah baik, Mommy tidak perlu khawatir meski tidak terdengar bunyi sendawa.
Setiap bayi memiliki kebiasaan menyusu yang berbeda. Jadi, tidak perlu membandingkan Si Kecil dengan bayi lain. Yang terpenting, pastikan proses menyusui berjalan nyaman dan kebutuhan ASI Si Kecil tetap terpenuhi.
Kalau Mommy masih memiliki pertanyaan, misalnya bayi sering gumoh, sulit menyusu, pelekatan belum optimal, atau bingung apakah cara menyusui sudah benar, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung. Bersama konselor yang berpengalaman, Mommy bisa mendapatkan pendampingan sesuai kondisi Si Kecil, mulai dari evaluasi pelekatan menyusu, teknik menyendawakan bayi, hingga solusi untuk berbagai tantangan selama menyusui. Mommy tidak perlu melewati perjalanan menyusui sendirian, karena selalu ada yang siap mendampingi setiap langkahnya.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.