
Momuung.com – Menjelang persalinan, Mommy mungkin pernah mendengar bahwa berhubungan intim dapat membantu Si Kecil lahir lebih cepat. Anggapan ini cukup populer, terutama ketika usia kehamilan sudah memasuki trimester ketiga.
Secara medis, hubungan intim selama kehamilan pada umumnya aman selama kehamilan berjalan normal dan dokter tidak memberikan larangan khusus. Namun, Seks Saat Hamil belum terbukti secara meyakinkan dapat mempercepat atau memicu persalinan. Jadi, hubungan intim tidak sebaiknya dianggap sebagai cara pasti untuk menginduksi persalinan.
Meski begitu, ada beberapa hal menarik yang terjadi pada tubuh saat Mommy berhubungan intim, terutama menjelang akhir kehamilan. Yuk, pahami manfaat dan faktanya supaya Mommy tidak lagi bingung membedakan antara mitos dan bukti medis.
Ada alasan mengapa hubungan intim sering dianggap dapat membantu memulai persalinan. Saat orgasme, tubuh dapat melepaskan oksitosin, yaitu hormon yang berperan dalam merangsang kontraksi rahim. Aktivitas seksual juga dapat menyebabkan kontraksi ringan atau rasa mulas sementara pada sebagian ibu hamil.
Selain itu, air mani mengandung prostaglandin, yaitu senyawa yang secara biologis berperan dalam proses pematangan serviks. Karena kedua hal tersebut, hubungan seksual kemudian dianggap berpotensi membantu mempersiapkan tubuh menuju persalinan.
Namun, mekanisme tersebut tidak berarti bahwa berhubungan intim pasti akan membuat persalinan segera dimulai. Bukti penelitian mengenai hubungan seksual sebagai metode induksi persalinan masih belum cukup untuk memastikan adanya manfaat tersebut. Tinjauan Cochrane juga menyimpulkan bahwa efektivitas hubungan seksual untuk pematangan serviks dan induksi persalinan masih belum pasti.
Jadi, tidak perlu menjadwalkan hubungan intim pada usia kehamilan tertentu dengan harapan persalinan pasti menjadi lebih cepat. Untuk mempersiapkan tubuh menghadapi persalinan, Mommy dapat mempertimbangkan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi kehamilan. Salah satunya adalah melakukan 8 Gerakan Senam Hamil Trimester 3 Agar Persalinan Lancar & Bebas Nyeri Pinggang yang dapat membantu Mommy tetap aktif sekaligus mempersiapkan tubuh menjelang persalinan.
Saat mengalami orgasme, rahim dapat mengalami kontraksi ringan. Pada kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga, kontraksi ini terkadang terasa seperti rahim mengencang atau perut menjadi keras untuk sementara waktu.
Kondisi tersebut berbeda dengan persalinan aktif. Kontraksi setelah orgasme biasanya berlangsung singkat dan kemudian mereda. ACOG juga menjelaskan bahwa kram ringan setelah penetrasi atau orgasme dapat terjadi selama kehamilan.
Karena itu, Mommy tidak perlu langsung panik apabila setelah berhubungan intim perut terasa kencang sebentar. Namun, jika kram terasa berat atau terus berlangsung, sebaiknya segera hubungi dokter.
Pada kehamilan yang sehat tanpa komplikasi tertentu, hubungan seksual umumnya tetap dapat dilakukan, termasuk pada trimester ketiga. Bayi terlindungi oleh kantung ketuban dan otot rahim, sehingga penetrasi tidak akan menyentuh bayi secara langsung.
Seiring perut semakin besar, Mommy mungkin merasa beberapa posisi menjadi kurang nyaman. Tidak ada keharusan untuk menggunakan posisi tertentu. Pilih posisi yang membuat tubuh terasa nyaman dan hindari tekanan berlebihan pada perut.
Yang tidak kalah penting, hubungan intim seharusnya dilakukan berdasarkan kenyamanan dan keinginan Mommy. Libido memang dapat berubah selama kehamilan, sehingga wajar jika ada masa ketika Mommy ingin berhubungan intim atau justru tidak ingin melakukannya.
Walaupun umumnya aman, ada kondisi tertentu yang membuat dokter mungkin menyarankan untuk menghindari hubungan seksual atau aktivitas penetrasi.
Mommy sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter jika mengalami:
Perdarahan pada kehamilan, terutama pada trimester akhir, perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Begitu pula dengan kebocoran cairan ketuban atau tanda-tanda persalinan prematur.

Kalau tujuan utamanya adalah mempercepat persalinan, Mommy perlu meluruskan ekspektasi. Belum ada bukti kuat bahwa hubungan intim dapat membuat persalinan berlangsung lebih cepat atau pasti dimulai lebih awal.
Namun, hubungan intim tetap dapat menjadi bagian yang nyaman dan menyenangkan dalam kehamilan selama tidak ada larangan medis. Bagi sebagian pasangan, aktivitas seksual juga dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kedekatan dan keintiman sebelum memasuki fase persalinan dan masa setelah bayi lahir.
Jadi, Mommy boleh berhubungan intim selama merasa nyaman dan kondisi kehamilan memungkinkan. Tidak perlu melakukannya semata-mata karena ingin “memancing kontraksi”.
Setelah berhubungan intim atau orgasme, sebagian ibu hamil dapat merasakan rahim mengencang atau muncul kram ringan. Kondisi ini dapat terjadi karena aktivitas rahim selama orgasme dan biasanya akan mereda dengan sendirinya.
Namun, Mommy perlu lebih waspada jika kontraksi menjadi teratur, semakin kuat, tidak mereda, atau disertai perdarahan maupun keluarnya cairan dari vagina. Kondisi tersebut perlu dibedakan dari kontraksi ringan setelah aktivitas seksual dan dapat menjadi tanda bahwa persalinan atau komplikasi tertentu sedang terjadi.
Hubungan intim saat hamil pada umumnya aman bila kehamilan berjalan normal dan tidak ada larangan dari dokter. Pada trimester ketiga, orgasme atau aktivitas seksual memang dapat menyebabkan kontraksi ringan sementara, tetapi hal tersebut tidak berarti seks terbukti dapat mempercepat persalinan.
Jadi, Mommy tidak perlu merasa harus rutin berhubungan intim sejak usia kehamilan 8 atau 9 bulan untuk “membuka jalan lahir”. Lakukan hanya jika Mommy merasa nyaman dan kondisi kehamilan memungkinkan.
Jika ada perdarahan, air ketuban merembes atau pecah, kontraksi yang teratur dan semakin kuat, atau dokter pernah menyarankan untuk menghindari hubungan seksual, sebaiknya jangan memaksakan diri dan segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter kandungan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.