5 Ciri-Ciri Bayi Kuning dan Cara Mengatasinya

Menjadi ibu baru tentu membawa banyak kebahagiaan, tetapi ada kalanya Mommy merasa khawatir ketika Si Kecil terlalu sering tidur dan jarang terbangun untuk menyusu. Kondisi ini perlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda bahwa asupan ASI bayi belum mencukupi dan berisiko berkaitan dengan bayi kuning atau ikterus.
Dengan mengenali tanda-tandanya sejak awal, Mommy bisa lebih cepat mengetahui kapan Si Kecil membutuhkan perhatian ekstra. Yuk, kenali gejala bayi kuning dan cara mengatasinya agar Mommy bisa mendampingi Si Kecil dengan lebih tenang.
DAFTAR ISI
Bahaya Bayi yang Jarang Menyusu
Pada bayi baru lahir, kadar bilirubin memang cenderung meningkat karena fungsi hati yang belum matang. Kondisi ini umumnya bersifat sementara, tetapi perlu diperhatikan jika bayi jarang menyusu atau asupan ASI belum mencukupi.
Ada beberapa risiko yang perlu Mommy ketahui.
Risiko Peningkatan Bilirubin
Frekuensi menyusu yang rendah pada awal kehidupan dapat meningkatkan risiko breastfeeding jaundice, yaitu kondisi bayi kuning yang berkaitan dengan asupan ASI yang belum mencukupi. Kondisi ini umumnya dapat membaik dengan perbaikan pola dan efektivitas menyusu (CDC, 2025).
Selain itu, bayi kuning juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi atau inkompatibilitas ABO. Kondisi ini dapat menyebabkan sel darah merah bayi lebih cepat terurai sehingga kadar bilirubin meningkat (Zelelew et al., 2024).
Bayi Tampak Kurang Responsif
Jika kadar bilirubin meningkat terlalu tinggi, bayi dapat terlihat sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kurang responsif. Kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai tidur biasa karena peningkatan bilirubin yang berat dapat membahayakan bayi. Karena itu, deteksi dini dan pemantauan tenaga kesehatan sangat penting (Kemper et al., 2022).
Dehidrasi dan Penurunan Berat Badan
Bayi yang jarang menyusu juga berisiko mengalami dehidrasi dan penurunan berat badan berlebih pada hari-hari awal setelah lahir. Kurangnya asupan ASI dapat menghambat pengeluaran bilirubin dari tubuh sehingga kadar bilirubin bertahan lebih lama (Woodgate & Jardine, 2015).
Mommy perlu memperhatikan tanda-tanda kemungkinan dehidrasi berikut:
- Popok basah lebih sedikit dari yang seharusnya sesuai usia bayi.
- Urine hanya keluar sedikit atau tampak seperti bercak berwarna oranye kemerahan.
- Bayi mengalami demam.
- Mulut dan bibir tampak kering.
- Mata terlihat cekung.
- Bayi tampak sangat mengantuk atau mudah tertidur saat menyusu.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, terutama jika bayi sulit dibangunkan atau tidak mampu menyusu dengan baik, segera bawa Si Kecil ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa.
Sebagian besar kasus bayi kuning dapat membaik dengan dukungan menyusui yang tepat dan pemantauan rutin. Namun, Mommy tetap perlu memastikan Si Kecil mendapatkan asupan yang cukup dan tidak menunda pemeriksaan jika muncul tanda bahaya.
Baca Juga:
5 Tanda Bayi Kuning yang Harus Mommy Waspadai
Agar bisa mengenali kondisi Si Kecil sejak dini, perhatikan lima tanda berikut.
1. Bayi Terlalu Banyak Tidur dan Sulit Dibangunkan
Bayi yang mengalami peningkatan bilirubin dapat terlihat lebih mengantuk dan kurang aktif. Mommy perlu waspada jika Si Kecil terus tidur lebih dari tiga jam tanpa menunjukkan tanda lapar atau mudah tertidur kembali meskipun baru menyusu sebentar.
Jika bayi sangat sulit dibangunkan atau tidak cukup kuat untuk menyusu, segera cari pertolongan medis.
2. Isapan Bayi Lemah
Perhatikan cara Si Kecil menyusu. Bayi yang mengalami gangguan akibat peningkatan bilirubin dapat tampak enggan menyusu, mengisap dengan lemah, atau sering berhenti setelah beberapa kali mengisap.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat membentuk siklus yang merugikan. Bayi membutuhkan asupan ASI yang cukup untuk membantu mengeluarkan bilirubin melalui urine dan tinja, tetapi rasa lemas dapat membuatnya semakin sulit menyusu secara efektif.
3. Perubahan Warna Kulit dan Mata
Salah satu tanda bayi kuning adalah perubahan warna kulit menjadi kekuningan. Warna ini biasanya pertama kali terlihat pada wajah, kemudian dapat meluas ke dada, perut, hingga kaki seiring meningkatnya kadar bilirubin.
Bagian putih mata bayi juga dapat terlihat kuning. Jika warna kuning semakin jelas atau mencapai telapak tangan dan kaki, segera bawa Si Kecil untuk diperiksa. Tingkat bilirubin tidak bisa dipastikan hanya dari warna kulit, sehingga pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan.
4. Frekuensi Buang Air Sangat Sedikit
Frekuensi pipis dan buang air besar dapat membantu Mommy memantau kecukupan asupan bayi. Jika bayi kurang menyusu, pengeluaran urine dan tinja bisa berkurang sehingga bilirubin lebih sulit dikeluarkan dari tubuh.
Secara umum, frekuensi popok basah bayi meningkat secara bertahap pada minggu pertama:
| Usia bayi | Perkiraan minimal popok basah |
| Hari ke-1 | 1 popok |
| Hari ke-2 | 2 popok |
| Hari ke-3 | 3 popok |
| Hari ke-4 | 4 popok |
| Hari ke-5 | 5 popok |
| Hari ke-6 dan seterusnya | 6 popok per hari |
Pada minggu pertama, bayi umumnya juga mulai buang air besar beberapa kali sehari, sekitar 3–4 kali. Frekuensinya dapat berubah seiring bertambahnya usia dan kematangan sistem pencernaan.
Jika popok basah Si Kecil lebih sedikit daripada perkiraan tersebut, urine sangat pekat, atau bayi kesulitan menyusu, konsultasikan kondisinya dengan tenaga kesehatan.
5. Bayi Tampak Lemas
Bayi kuning dengan kadar bilirubin yang tinggi bisa terlihat sangat lemas, kurang aktif, atau lebih sering tertidur. Jika Si Kecil tampak lemah dan tidak menyusu seperti biasanya, jangan menunggu hingga kondisinya memburuk.
Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Berikan Asupan ASI yang Cukup
ASI membantu tubuh bayi mengeluarkan bilirubin melalui urine dan tinja. Karena itu, Mommy perlu memastikan Si Kecil menyusu secara rutin dan efektif, idealnya sekitar 8–12 kali dalam 24 jam atau setiap 2–3 jam pada periode awal kehidupan, sesuai kondisi bayi dan arahan tenaga kesehatan.
Menyusu lebih sering membantu memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung pengeluaran bilirubin dari tubuh. Mommy perlu memberikan perhatian ekstra jika Si Kecil lahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah (BBLR), atau masih jarang buang air kecil.
Jika bayi kuning tampak sangat mengantuk atau sulit menyusu, jangan hanya mengandalkan penambahan frekuensi menyusu di rumah. Segera minta penilaian tenaga kesehatan untuk memastikan kadar bilirubin dan kecukupan asupannya.
Cara Membangunkan Bayi yang Jarang Menyusu
Bayi baru lahir memang bisa mudah tertidur saat menyusu. Jika Si Kecil sulit terbangun pada waktunya menyusu, Mommy dapat mencoba beberapa cara berikut dengan lembut.
Lepaskan Bedong Sementara
Mommy bisa membuka bedong agar bayi tidak terlalu hangat dan lebih mudah terjaga.
Ganti Popok
Gerakan lembut saat mengganti popok dapat membantu membuat Si Kecil lebih terjaga sebelum menyusu.
Usap Tubuh Bayi dengan Lembut
Mommy dapat mengusap tubuh bayi secara perlahan menggunakan tangan atau waslap hangat untuk membantu membangunkannya. Pastikan suhu air nyaman dan bayi tidak sampai kedinginan.
Lakukan Kontak Kulit ke Kulit
Dekap Si Kecil dengan posisi kulit ke kulit sambil tetap memastikan jalan napasnya aman. Kontak kulit ke kulit dapat membantu bayi lebih terjaga dan mendukung proses menyusui.
Teteskan Sedikit ASI pada Bibir Bayi
Mommy dapat memerah sedikit ASI dan menyentuhkannya pada bibir Si Kecil untuk membantu merangsang respons menyusu.
Lakukan setiap langkah dengan lembut dan perhatikan respons bayi. Jika Si Kecil tetap sulit dibangunkan atau tidak mampu menyusu dengan baik, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda masalah yang serius.
Penuhi Nutrisi untuk Menjaga Kesehatan Mommy
Menyusui membutuhkan energi, terutama ketika Mommy masih beradaptasi dengan rutinitas merawat bayi baru lahir. Karena itu, penting untuk menjaga asupan makanan dan cairan agar kebutuhan tubuh tetap terpenuhi.
Mommy bisa mengonsumsi sumber protein, baik hewani maupun nabati, seperti ikan, telur, dan kacang-kacangan sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Pastikan juga kebutuhan cairan tercukupi. Kebutuhan cairan setiap ibu bisa berbeda, jadi minumlah secara teratur sesuai rasa haus dan kebutuhan tubuh. Asupan kalsium, zat besi, serta vitamin dan mineral lainnya juga perlu diperhatikan untuk membantu menjaga kesehatan Mommy selama menyusui.
Namun, perlu diingat bahwa pola makan bergizi membantu menjaga kesehatan Mommy, sedangkan kecukupan ASI untuk bayi perlu dinilai melalui efektivitas menyusu, keluaran urine dan tinja, perubahan berat badan, serta pemeriksaan bila diperlukan.
Kesimpulan
Bayi kuning yang berkaitan dengan kurangnya asupan ASI bisa membuat Mommy khawatir, terutama pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Karena itu, penting untuk memperhatikan warna kulit dan mata Si Kecil, kekuatan isapan, tingkat kewaspadaan, serta frekuensi pipis dan buang air besarnya.
Pastikan bayi menyusu secara rutin dan efektif. Jika Si Kecil semakin kuning, sulit dibangunkan, tampak lemas, atau tidak mampu menyusu dengan baik, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan kadar bilirubin dan penanganan yang tepat. Bayi kuning tidak selalu cukup ditangani hanya dengan meningkatkan frekuensi menyusu karena sebagian bayi juga membutuhkan pemeriksaan atau terapi khusus.
Jika Mommy masih memiliki pertanyaan tentang pelekatan, jadwal menyusu, atau cara memastikan asupan ASI Si Kecil cukup, Mommy bisa memanfaatkan layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam bersama konselor kami.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan dan bagikan kepada Mommy lainnya agar semakin banyak ibu yang mendapatkan informasi seputar bayi kuning dan menyusui!
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Jaundice and breastfeeding. Diakses pada 20 Januari 2026. https://www.cdc.gov/breastfeeding-special-circumstances/hcp/illnesses-conditions/jaundice.html
- Kemper, A. R., Newman, T. B., Slaughter, J. L., Maisels, M. J., Watchko, J. F., Downs, S. M., Grout, R. W., Bundy, D. G., Stark, A. R., Bogen, D. L., Holmes, A. V., Feldman-Winter, L. B., Bhutani, V. K., Brown, S. R., Maradiaga Panayotti, G. M., Okechukwu, K., Rappo, P. D., & Russell, T. L. (2022). Clinical practice guideline revision: Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics, 150(3), e2022058859. https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859
- Woodgate, P., & Jardine, L. A. (2015). Neonatal jaundice: Phototherapy. BMJ Clinical Evidence, 2015, 0319. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4440981/
- Zelelew, A. M., Tafere, T. Z., Jemberie, S. M., & Belay, G. M. (2024). Prevalence and associated factors of jaundice among neonates admitted to neonatal intensive care units at public specialized hospitals in Bahir Dar City, Northwest Ethiopia. Global Pediatric Health, 11, 2333794X241286739. https://doi.org/10.1177/2333794X241286739
FAQ Seputar Topik Ini
Apa saja ciri-ciri bayi kuning?
Ciri-ciri bayi kuning antara lain kulit dan bagian putih mata tampak kekuningan, bayi lebih mengantuk, isapannya lemah, serta frekuensi buang air kecil atau besar berkurang. Namun, tingkat bilirubin tidak bisa dipastikan hanya dari tampilan kulit. Bayi perlu diperiksa tenaga kesehatan untuk menentukan apakah pemeriksaan bilirubin diperlukan.
Apakah bayi kuning selalu disebabkan oleh kurang ASI?
Tidak. Asupan ASI yang belum mencukupi dapat meningkatkan risiko breastfeeding jaundice, terutama pada hari-hari awal kehidupan. Namun, bayi kuning juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi. Karena itu, penyebabnya perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.
Bagaimana cara mengatasi bayi kuning pada bayi baru lahir?
Pastikan bayi mendapatkan ASI secara rutin dan efektif, umumnya 8–12 kali dalam 24 jam pada masa awal kehidupan, serta pantau popok basah, buang air besar, dan perubahan berat badan. Bayi juga perlu diperiksa untuk menilai kadar bilirubin. Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan terapi khusus, seperti fototerapi. Menambah frekuensi menyusu saja tidak selalu cukup.




Komentar / Tanya Dokter Spesialist
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!