
Momuung.com – Saat menyusui, Mommy mungkin pernah melihat bibir Si Kecil tampak pecah-pecah, warnanya sedikit berbeda, atau muncul lepuhan kecil setelah menyusu. Kondisi seperti ini cukup sering bikin Mommy khawatir dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi?
Lepuhan pada bibir bayi ini dikenal sebagai lip blister atau lepuhan laktasi. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tetapi tetap perlu diperhatikan karena bisa berkaitan dengan cara bayi melekat dan menyusu. Yuk, kenali lip blister dan cara mengatasinya agar menyusui tetap nyaman untuk Mommy dan Si Kecil!
Lip blister pada bayi merupakan kondisi yang cukup sering ditemukan, terutama pada periode awal menyusui. Kondisi ini terjadi akibat aktivitas hisapan yang kuat dan berulang. Saat menyusu, bibir bayi, terutama bibir atas, mengalami tekanan dan tarikan ketika membentuk segel (seal) di sekitar payudara.
Jika pelekatan sudah optimal, bibir bayi akan terlipat ke luar dan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut. Tekanan hisapan pun dapat tersebar lebih merata sehingga proses menyusu berlangsung dengan nyaman. Dalam kondisi ini, lip blister umumnya merupakan respons normal dan tidak berbahaya. Biasanya, lepuhan akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia dan kemampuan menyusu bayi yang semakin matang.
Sebaliknya, jika pelekatan bayi masih dangkal atau bibir bayi terlipat ke dalam, tekanan tidak terdistribusi dengan baik. Gesekan yang berulang pada satu titik dapat membuat lepuhan di bibir bayi terlihat lebih jelas, bahkan disertai iritasi. Kondisi ini juga dapat muncul bersamaan dengan puting Mommy yang terasa nyeri atau lecet.
Iritasi ringan pada awal masa menyusu masih dapat terjadi sebagai bagian dari proses adaptasi. Namun, Mommy perlu lebih waspada jika lepuhan tidak kunjung membaik, muncul perubahan warna yang mencolok, kulit terasa mengeras, atau bayi tampak tidak nyaman saat menyusu.
Perhatikan juga kondisi Mommy, terutama jika puting terus mengalami lecet atau terasa nyeri saat menyusui. Trauma yang berlangsung dalam waktu lama umumnya berkaitan dengan pelekatan yang belum optimal atau adanya gangguan fungsi oral bayi, seperti gerakan lidah, bibir, maupun rahang. Kondisi tersebut sebaiknya segera dievaluasi dan diperbaiki dengan pendampingan tenaga kesehatan agar proses menyusui tetap nyaman dan dapat berjalan optimal (Wang et al., 2021).
Salah satu cara membantu mencegah lip blister adalah memastikan pelekatan dalam (deep latch) dilakukan dengan tepat.
Sebelum memasukkan puting ke mulut bayi, pastikan posisi hidung bayi dan puting Mommy sejajar. Posisi ini akan membantu bayi sedikit mendongak dan membuka mulut lebih lebar secara alami.
Tunggu sampai Si Kecil membuka mulut selebar mungkin. Momen ini biasanya ditandai dengan gerakan bayi seperti “geleng-geleng” kepala sebagai tanda bahwa ia sudah siap menyusu. Jadi, Mommy tidak perlu terburu-buru, ya.
Saat mulut bayi sudah terbuka lebar, dekatkan bayi ke payudara, bukan mendorong payudara ke mulut bayi. Biarkan dagu bayi menyentuh payudara terlebih dahulu agar pelekatan dapat terjadi dengan lebih optimal.
Pelekatan yang baik dapat dilihat dari beberapa tanda. Bibir bayi terlipat keluar sehingga bagian dalam bibir yang kemerahan terlihat sedikit. Dagu bayi juga menempel pada payudara, yang menunjukkan pelekatan cukup dalam sehingga bayi dapat mengisap ASI dengan stabil dan nyaman.
Selain itu, hidung bayi tetap bebas dan tidak tertutup payudara sehingga bayi dapat bernapas dengan lega saat menyusu. Mulut bayi juga terbuka lebar sehingga ia dapat mengambil lebih banyak areola, bukan hanya puting. Areola biasanya akan terlihat lebih banyak di bagian atas bibir karena bagian bawah payudara masuk lebih dalam ke mulut bayi. Pipi bayi pun tampak penuh dan membulat, yang menandakan isapan berlangsung efektif tanpa menjepit puting.
Dengan pelekatan yang baik, proses menyusui dapat terasa lebih nyaman bagi Mommy maupun Si Kecil. Namun, ada kalanya Mommy tetap perlu mengeluarkan ASI dengan tangan, misalnya saat payudara terasa penuh atau ketika ingin membantu mengeluarkan ASI sebelum bayi menyusu. Dalam kondisi seperti ini, Mommy bisa mempelajari Teknik Marmet, Cara Memerah ASI dengan Tangan Agar Lebih Lancar, sehingga proses memerah ASI dapat dilakukan dengan teknik yang tepat dan tetap nyaman.
Jika Si Kecil sudah mengalami lip blister, Mommy tidak perlu memecahkan lepuhannya. Kulit pada lepuhan tersebut akan mengelupas dengan sendirinya seiring dengan perbaikan teknik pelekatan.
Mommy juga dapat mengoleskan ASI pada area bibir bayi. ASI mengandung zat antibakteri alami yang dapat membantu menjaga kelembapan dan mendukung pemulihan bibir bayi yang melepuh.
Selain itu, Mommy dapat mencoba mengevaluasi posisi menyusui. Beberapa posisi, seperti cross-cradle atau football hold, dapat dicoba untuk menemukan posisi yang membantu bayi membuka mulut lebih lebar dan mendapatkan pelekatan yang lebih baik.
Mommy, munculnya lip blister pada bayi bukan berarti Mommy gagal menyusui, ya. Kondisi ini dapat menjadi bagian dari proses belajar bersama antara Mommy dan Si Kecil. Dengan memperbaiki pelekatan secara konsisten, bibir bayi dapat kembali nyaman, puting Mommy tetap sehat, dan proses menyusui pun dapat terasa lebih tenang.
Terus semangat memberikan nutrisi terbaik untuk Si Kecil, ya, Mom. Jika Mommy masih merasa khawatir atau memiliki pertanyaan seputar proses menyusui, Mommy dapat memanfaatkan layanan konsultasi gratis 24 jam bersama konselor menyusui Mom Uung yang telah tersertifikasi untuk mendapatkan pendampingan yang tepat dan berbasis medis.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan menyusui dan bagikan kepada Buibu lain yang mungkin sedang mengalami hal serupa. Dukungan kecil dapat membantu membuat perjalanan menyusui terasa lebih nyaman.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.