
Momuung.com – Memasuki fase MPASI menjadi momen yang menyenangkan sekaligus penuh tantangan bagi Mommy. Sudah semangat menyiapkan berbagai menu, Si Kecil justru kadang hanya makan sedikit atau menutup mulut saat disuapi.
Kondisi seperti ini sering membuat Mommy bertanya-tanya, “Apakah makanannya terlalu hambar? Perlu ditambah garam atau gula, nggak, ya?”
Padahal, bayi masih memiliki sensitivitas rasa yang tinggi dan rasa alami dari bahan makanan sebenarnya sudah cukup untuk dikenalkan sejak awal.
Sebelum menambahkan gula atau garam ke dalam MPASI, yuk pahami batasan dan cara membuat makanan tetap lezat dengan bahan alami agar Si Kecil bisa menikmati berbagai rasa dengan lebih sehat.
Menambahkan sedikit gula atau garam mungkin terasa seperti cara sederhana untuk membuat makanan lebih mudah diterima Si Kecil. Namun, pemberiannya tetap perlu diperhatikan, terutama pada masa awal kehidupan.
Terlalu banyak gula dan garam dapat memberikan dampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang dan berpotensi membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat.
Ginjal bayi di bawah usia 12 bulan belum sepenuhnya matang. Kemampuannya dalam menyaring dan mengatur kadar natrium atau garam juga belum sebaik orang dewasa.
Asupan garam yang berlebihan dapat membuat ginjal bekerja lebih berat dan memengaruhi keseimbangan cairan serta elektrolit dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi garam berlebihan juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Karena itu, pedoman kesehatan menganjurkan agar tambahan garam pada makanan bayi dibatasi (CDC, 2025).
Gula tambahan pada dasarnya hanya memberikan kalori tanpa menyumbang banyak zat gizi penting seperti vitamin, mineral, dan protein.
Pemberian gula berlebihan sejak dini juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas dan gangguan metabolik di kemudian hari.
Karena itu, makanan dan minuman untuk anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak mengandung gula tambahan secara berlebihan (CDC, 2025).
Bayi sudah mulai mengenal berbagai rasa sejak berada di dalam kandungan melalui cairan ketuban. Setelah lahir, Si Kecil juga terus mengenal rasa melalui ASI.
Saat mulai MPASI, Mommy bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan berbagai rasa alami dari makanan. Hindari memberikan rasa yang terlalu manis atau terlalu asin secara berlebihan karena dapat membuat bayi lebih terbiasa dengan rasa yang kuat.
Sebaliknya, Mommy bisa memperkenalkan rasa gurih alami dari bahan makanan agar Si Kecil belajar menikmati beragam rasa sejak dini.
Bayi dan anak kecil sebenarnya hanya membutuhkan sedikit garam dan gula karena kebutuhan nutrisinya berasal dari ASI dan berbagai bahan makanan yang diberikan.
Karena itu, penambahan gula dan garam tetap perlu dibatasi sesuai usia.
Perlu diingat, bahan makanan seperti keju, butter, dan produk olahan lainnya yang sudah mengandung garam juga tetap perlu diperhitungkan dalam total asupan garam harian.
Pembatasan ini dilakukan untuk membantu menurunkan risiko hipertensi, obesitas, dan gangguan metabolik sejak usia dini.

Tak perlu khawatir MPASI akan terasa hambar, Mommy. Si Kecil justru bisa mengenal banyak rasa dari bahan makanan yang digunakan sehari-hari.
Beberapa cara yang bisa dicoba:
Wortel, labu, ubi, dan jagung memiliki rasa manis alami yang bisa membantu membuat makanan lebih mudah diterima bayi.
Pengenalan rasa alami ini juga dapat membantu Si Kecil terbiasa dengan variasi makanan tanpa harus mengandalkan gula tambahan (WHO, 2023).
Bawang putih, bawang merah, daun salam, dan serai dapat digunakan untuk memperkaya aroma dan rasa MPASI.
Aroma makanan juga berperan dalam membantu meningkatkan ketertarikan bayi terhadap makanan tanpa perlu menambahkan banyak gula atau garam (Mennella et al., 2016).
Tambahan lemak sehat seperti extra virgin oil, santan, atau mentega tawar dapat membantu meningkatkan kepadatan energi dan membuat tekstur makanan lebih sesuai untuk Si Kecil.
Lemak juga membantu membawa rasa alami dari makanan sehingga MPASI tetap terasa gurih tanpa perlu banyak tambahan garam.
Memasuki fase MPASI, kebutuhan nutrisi Si Kecil juga terus berkembang. Selain memastikan menu hariannya beragam dan bergizi seimbang, Mommy perlu memperhatikan apakah Si Kecil mendapatkan asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Pada kondisi tertentu, anak bisa saja membutuhkan suplementasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Karena itu, selain memperhatikan Menu MPASI, Mommy juga bisa memahami lebih lanjut tentang Suplementasi Anak yang Direkomendasikan IDAI untuk Dukung Tumbuh Kembang agar kebutuhan nutrisi Si Kecil dapat dipenuhi sesuai kondisinya.
MPASI tidak harus dibuat manis atau asin agar terasa lezat. Justru, semakin dini Si Kecil dikenalkan dengan rasa alami dari makanan, semakin banyak variasi rasa yang bisa ia eksplorasi.
Terutama sebelum usia 1 tahun, penambahan gula dan garam sebaiknya dibatasi. Ginjal bayi masih berkembang dan belum mampu mengolah natrium seperti orang dewasa, sementara gula tambahan berlebihan tidak memberikan manfaat nutrisi yang dibutuhkan Si Kecil.
Mommy tetap bisa membuat MPASI terasa lezat dengan memanfaatkan:
Dengan begitu, Si Kecil bisa menikmati berbagai rasa sekaligus belajar mengenal makanan sejak dini.
Kalau Mommy masih memiliki pertanyaan seputar menyusui atau nutrisi anak, Mom Uung menyediakan layanan konsultasi menyusui gratis 24 jam bersama konselor profesional.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan dan bagikan kepada sesama Mommy agar semakin banyak orang tua yang mendapatkan informasi seputar MPASI dan nutrisi Si Kecil.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.