Kesehatan Anak
Ditulis oleh:
Elsa Yuni KartikaElsa Yuni Kartika
Direview oleh:
dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.Adr. Natasya Ayu Andamari, Sp.AVerified

Suplementasi Anak yang Direkomendasikan IDAI untuk Dukung Tumbuh Kembang

Mommin
Mommin
1 Juni 2026·7 min baca
0
Suplementasi Anak yang Direkomendasikan IDAI untuk Dukung Tumbuh Kembang

Menjaga tumbuh kembang si Kecil agar tetap sehat dan aktif tentu jadi perhatian setiap orang tua ya, Mom. Meski anak sudah mendapatkan ASI dan makan dengan lahap, ternyata ada beberapa zat gizi penting yang tetap perlu diperhatikan sejak dini untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

Karena itu, IDAI juga memiliki rekomendasi suplementasi tertentu yang penting diberikan sesuai usia dan kebutuhan anak. Yuk Mom, cari tahu apa saja jenis suplementasi yang direkomendasikan dan kenapa perannya penting untuk kesehatan si Kecil. Baca selengkapnya di artikel ini ya!

DAFTAR ISI

Pentingnya Suplementasi Nutrisi Mikro Menurut IDAI

Selain protein, karbohidrat, dan lemak, tubuh si Kecil juga membutuhkan vitamin dan mineral dalam jumlah cukup untuk mendukung tumbuh kembangnya. Walaupun jumlahnya kecil, zat gizi mikro punya peran besar untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, perkembangan otak, kesehatan tulang, hingga mendukung anak tetap aktif dan tidak mudah sakit.

Karena itu, IDAI mengingatkan pentingnya pemenuhan beberapa nutrisi mikro tertentu sejak dini supaya pertumbuhan si Kecil bisa berjalan lebih optimal. Berikut beberapa suplementasi penting yang perlu Mommy perhatikan:

1. Vitamin D Penting Dipenuhi Sejak Bayi Baru Lahir

Banyak orang tua mengira bayi cukup dijemur di bawah sinar matahari pagi untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Padahal, kebutuhan vitamin D bayi sering kali belum tercukupi hanya dari paparan sinar matahari saja, terutama karena kulit newborn masih sangat sensitif dan waktu berjemur setiap bayi juga berbeda-beda.

Karena itu, IDAI merekomendasikan pemberian vitamin D tambahan sejak bayi lahir, termasuk pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif (Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI], 2017). Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium agar pertumbuhan tulang dan gigi si Kecil berjalan optimal. Selain itu, vitamin D juga membantu menjaga daya tahan tubuh agar anak tidak mudah terkena infeksi atau sakit.

2. Panduan Dosis Vitamin D Harian yang Tepat

Kebutuhan vitamin D pada anak ternyata berbeda-beda tergantung usianya, Mom. Nutrisi ini penting untuk membantu penyerapan kalsium agar pertumbuhan tulang dan gigi si Kecil berjalan optimal. Selain itu, vitamin D juga membantu menjaga daya tahan tubuh anak supaya tidak mudah sakit.

Menurut rekomendasi IDAI dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2026), kebutuhan vitamin D harian anak dibagi berdasarkan usia seperti berikut:

  • Bayi usia 0-12 bulan: membutuhkan sekitar 400 IU vitamin D per hari
  • Anak usia di atas 1 tahun: membutuhkan sekitar 600 IU vitamin D per hari untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas fisiknya yang semakin aktif.

Selain dari suplemen, Mommy juga bisa membantu memenuhi kebutuhan vitamin D si Kecil lewat makanan bergizi yang mengandung vitamin D alami, seperti:

  • Ikan salmon
  • Sarden
  • Kuning telur
  • Hati sapi
  • Susu fortifikasi vitamin D

Namun, jumlah vitamin D alami dalam makanan biasanya belum terlalu tinggi, terutama pada bayi yang masih ASI eksklusif atau anak yang pola makannya masih pilih-pilih. Karena itu, dokter sering tetap merekomendasikan suplementasi vitamin D untuk membantu memenuhi kebutuhan harian anak secara optimal.

3. Kekurangan Zat Besi Bisa Mengganggu Tumbuh Kembang Anak

Selain vitamin D, zat besi juga menjadi salah satu nutrisi mikro yang sangat penting pada masa pertumbuhan anak. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.

Menurut WHO (2025), kekurangan zat besi pada anak usia dini dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga perilaku anak sehari-hari. Karena itu, pemenuhan zat besi sejak bayi sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak agar lebih optimal.

Beberapa tanda anak kekurangan zat besi yang perlu Mommy perhatikan antara lain:

  • Anak terlihat lebih pucat dari biasanya
  • Mudah lelah atau cepat lesu saat bermain
  • Nafsu makan menurun
  • Lebih rewel dan sulit fokus
  • Terlihat kurang aktif
  • Berat badan sulit naik optimal

Mengenal Fase Kritis Penurunan Cadangan Zat Besi pada Bayi

Banyak orang tua bertanya, kenapa masalah kekurangan zat besi sering mulai muncul setelah bayi berusia 6 bulan? Ternyata, hal ini berkaitan dengan cadangan zat besi alami yang sudah dibawa si Kecil sejak masih di dalam kandungan, Mom.

Selama hamil, bayi mendapatkan “tabungan” zat besi dari tubuh ibu melalui plasenta. Cadangan inilah yang membantu memenuhi kebutuhan zat besi bayi selama beberapa bulan pertama kehidupannya. Karena itu, pada masa ASI eksklusif usia 0–6 bulan, kebutuhan zat besi bayi umumnya masih bisa tercukupi dari simpanan alami tersebut.

Namun seiring pertumbuhan bayi yang semakin cepat, kebutuhan zat besi tubuh juga ikut meningkat. Di usia sekitar 4 bulan, cadangan zat besi bawaan lahir mulai berkurang sedikit demi sedikit. Lalu saat memasuki usia 6 bulan, kebutuhan zat besi bayi meningkat jauh lebih tinggi karena perkembangan otak, otot, dan aktivitas tubuhnya semakin pesat.

Karena itu, fase MPASI menjadi momen penting untuk mulai memperhatikan asupan zat besi si Kecil agar kebutuhan hariannya tetap tercukupi.

Ada dua hal yang biasanya terjadi saat bayi mulai memasuki usia 4-6 bulan:

  • Cadangan zat besi alami yang dibawa sejak lahir mulai menurun
  • Kebutuhan zat besi meningkat karena pertumbuhan dan perkembangan otak bayi semakin cepat

Kalau kebutuhan zat besi tidak terpenuhi dengan baik, bayi bisa lebih berisiko mengalami kekurangan zat besi atau anemia yang dapat memengaruhi tumbuh kembangnya, termasuk kemampuan belajar dan perkembangan motoriknya nanti.

Cara Praktis Memenuhi Nutrisi Si Kecil Lewat MPASI

Saat si Kecil mulai masuk fase MPASI, kualitas menu makanannya jadi semakin penting, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi hariannya. Karena itu, Mommy bisa mulai lebih fokus memilih bahan makanan yang kaya nutrisi agar tumbuh kembang anak tetap optimal.

Supaya lebih mudah diterapkan sehari-hari, berikut beberapa tips sederhana yang bisa Mommy coba di rumah:

Pilih MPASI yang Kaya Zat Besi

Di usia 6 bulan ke atas, bayi mulai membutuhkan tambahan zat besi dari makanan pendamping ASI. Karena itu, jangan takut mengenalkan protein hewani sejak awal MPASI ya, Mom. Justru sumber protein hewani mengandung zat besi yang lebih mudah diserap tubuh si Kecil.

Beberapa pilihan makanan tinggi zat besi yang bisa Mommy masukkan ke menu MPASI antara lain:

  • Hati ayam atau hati sapi
  • Daging sapi merah
  • Ikan seperti ikan kembung, tuna, atau salmon
  • Telur
  • Kacang-kacangan
  • Sayuran hijau seperti bayam dan brokoli

Protein hewani biasanya menjadi sumber zat besi terbaik untuk membantu mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan anak di masa awal MPASI.

Pasangkan dengan Vitamin C agar Penyerapan Lebih Optimal

Banyak yang belum tahu kalau zat besi akan lebih mudah diserap tubuh saat dipadukan dengan vitamin C. Karena itu, Mommy bisa mengombinasikan menu MPASI tinggi zat besi dengan buah atau makanan yang kaya vitamin C.

Contohnya seperti:

  • Bubur hati ayam + pepaya
  • Daging sapi + tomat
  • Ikan + brokoli
  • Telur + jeruk atau mangga sebagai snack

Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi lebih maksimal sehingga manfaat nutrisinya bisa lebih optimal untuk si Kecil.

Sebaliknya, hindari memberikan teh atau terlalu banyak produk tinggi kalsium bersamaan dengan makanan sumber zat besi karena dapat menghambat proses penyerapannya ya, Mom.

Cara praktis memenuhi nutrisi si kecil lewat MPASI

Kesimpulan

Memenuhi kebutuhan nutrisi mikro seperti vitamin D dan zat besi sejak dini merupakan salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil secara optimal. Saat kebutuhan gizinya tercukupi dengan baik, anak biasanya akan lebih aktif, sehat, dan siap belajar mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Namun, tumbuh kembang anak bukan hanya soal makan dan nutrisi saja ya, Mom. Cara memberikan stimulasi juga perlu disesuaikan dengan kesiapan fisik dan tahap perkembangan si Kecil agar proses belajarnya tetap aman dan nyaman.

Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru memaksa anak mencapai milestone tertentu sebelum tubuhnya benar-benar siap. Misalnya saat melatih bayi berjalan, otot kaki, tulang, dan keseimbangannya perlu berkembang secara bertahap terlebih dahulu.

Nah Mom, supaya tidak salah langkah dalam mendampingi tumbuh kembang si Kecil, yuk lanjut baca juga artikel menarik tentang “5 Risiko Melatih Bayi Berjalan Terlalu Dini yang Jarang Disadari Mommy”. Artikel ini bisa membantu Mommy lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai melatih anak berjalan dengan aman.

Menjadi orang tua memang penuh proses belajar setiap harinya. Tapi tenang, Mommy tidak perlu menjalani semuanya sendirian. Dengan informasi yang tepat, support system yang baik, dan perhatian penuh untuk kebutuhan si Kecil, perjalanan membersamai tumbuh kembang anak pasti akan terasa lebih tenang dan menyenangkan.

Sumber


FAQ Seputar Topik Ini

Kenapa bayi tetap membutuhkan suplementasi meski sudah ASI eksklusif?

Karena beberapa nutrisi mikro seperti vitamin D dan zat besi sering kali belum tercukupi sepenuhnya hanya dari ASI, terutama saat kebutuhan bayi mulai meningkat seiring pertumbuhan.

Kapan bayi mulai membutuhkan tambahan zat besi?

Cadangan zat besi alami bayi mulai menurun sejak usia sekitar 4 bulan dan kebutuhan meningkat pesat saat usia 6 bulan, sehingga MPASI kaya zat besi sangat penting diberikan.

Apa tanda bayi kekurangan zat besi?

Bayi bisa terlihat lebih pucat, mudah lelah, kurang aktif, sulit fokus, rewel, hingga berat badan sulit naik optimal.

Berapa kebutuhan vitamin D harian untuk bayi?

Bayi usia 0–12 bulan umumnya membutuhkan sekitar 400 IU vitamin D per hari sesuai rekomendasi IDAI dan CDC.

Belanja Produk Mom Uung di Official Shopee Store

Komentar / Tanya Dokter Spesialist

dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A

Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚

Tulis komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Share
Mommin

Mommin

Content Writer Mom Uung.