5 Pantangan Masa Nifas yang Perlu Dihindari Ibu Baru

Mommy, masa nifas adalah periode setelah melahirkan ketika tubuh mulai memulihkan diri. Pada fase ini, rahim perlahan kembali ke ukuran semula, tubuh menjalani proses penyembuhan, dan produksi ASI mulai meningkat untuk memenuhi kebutuhan Si Kecil.
Selama masa pemulihan, Mommy mungkin sering mendengar berbagai pantangan masa nifas. Mulai dari larangan mengonsumsi makanan tertentu hingga aturan aktivitas yang terkadang membingungkan.
Supaya tidak salah langkah, yuk, kenali berbagai hal yang sebaiknya dihindari setelah melahirkan berdasarkan anjuran medis. Buibu, simak sampai selesai, ya!
DAFTAR ISI
1. Membuang Kolostrum
Saat pertama kali menyusui, Mommy mungkin melihat ASI yang keluar berwarna kekuningan dan memiliki tekstur lebih kental. Sebagian orang mengira cairan ini adalah ASI lama yang harus dibuang. Padahal, cairan tersebut merupakan kolostrum, yaitu ASI pertama yang diproduksi tubuh pada hari-hari awal setelah melahirkan.
Kolostrum sering disebut sebagai emas cair karena kaya akan antibodi dan protein yang membantu mendukung daya tahan tubuh bayi serta melindungi saluran pencernaannya yang masih berkembang (World Health Organization, 2023).
Penelitian Ballard dan Morrow (2013) juga menjelaskan bahwa kolostrum mengandung imunoglobulin A (IgA) dalam kadar tinggi. Zat ini berperan membantu melindungi bayi dari berbagai kuman penyebab penyakit (Ballard & Morrow, 2013).
Karena manfaatnya tersebut, kolostrum sebaiknya tidak dibuang. Berikan kolostrum kepada Si Kecil sejak awal menyusui agar ia mendapatkan manfaatnya pada hari-hari pertama kehidupannya.
Baca Juga:
2. Membersihkan Puting dengan Alkohol
Sebagian Mommy mungkin merasa perlu membersihkan puting menggunakan alkohol atau sabun antiseptik agar tetap higienis selama menyusui. Padahal, cara ini tidak dianjurkan.
Produk yang mengandung alkohol dapat membuat kulit puting menjadi kering dan mudah pecah-pecah. Akibatnya, risiko puting lecet dan rasa tidak nyaman saat menyusui bisa meningkat (Physician Guide to Breastfeeding, n.d.).
Lalu, bagaimana cara menjaga kebersihan puting yang tepat?
- Bersihkan puting dengan air bersih saat mandi.
- Hindari penggunaan alkohol atau produk antiseptik yang dapat membuat kulit menjadi kering.
- Jika puting terasa kering, gunakan nipple cream berbahan alami yang bebas alkohol atau organic oil yang aman jika tertelan bayi untuk membantu menjaga kelembapan kulit.
Dengan perawatan yang tepat, Mommy bisa menjaga kenyamanan kulit puting selama masa menyusui.
3. Menggunakan Korset yang Terlalu Ketat
Setelah melahirkan, sebagian Mommy memilih menggunakan bengkung atau korset untuk menopang perut yang masih kendur. Namun, korset yang terlalu ketat atau memiliki rangka keras tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan membatasi gerakan selama masa pemulihan.
Tekanan yang berlebihan juga dapat mengganggu aliran darah dan memperparah rasa nyeri pada area perut, terutama bagi Mommy yang menjalani persalinan caesar. Selain itu, tekanan pada perut dapat menambah beban pada otot panggul yang masih dalam proses pemulihan.
Korset yang terlalu ketat juga berisiko menekan payudara sehingga dapat menyebabkan sumbatan saluran ASI dan bendungan ASI.
Cara menggunakan korset setelah melahirkan
Agar lebih nyaman selama masa pemulihan, perhatikan beberapa hal berikut:
- Pilih korset yang elastis dan nyaman.
- Gunakan korset untuk membantu menopang area perut, bukan menekan perut hingga membuat Mommy sesak napas.
- Jika kulit terasa sensitif atau gatal, gunakan korset di luar baju tipis agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit.
- Hindari menggunakan korset sepanjang hari. Penggunaannya perlu dilakukan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dan otot perut tetap bekerja secara alami (VinMec International Hospital, 2024).
Dalam draft panduan ini, durasi penggunaan korset dibagi menjadi beberapa tahap:
- Sekitar 1 jam per hari setelah kurang lebih 20 hari postpartum.
- Menjadi 2 jam per hari setelah sekitar 3 bulan.
- Hingga 4-6 jam per hari setelah sekitar 6 bulan, sesuai kenyamanan.
Pastikan penggunaan korset tetap disesuaikan dengan kondisi tubuh dan proses pemulihan Mommy.
4. Melakukan Aktivitas Fisik Berat dan Berhubungan Intim Terlalu Dini
Setelah melahirkan, tubuh Mommy membutuhkan waktu untuk pulih. Proses pemulihan umumnya berlangsung sekitar 6 minggu, meskipun setiap orang bisa memiliki waktu pemulihan yang berbeda.
Karena itu, aktivitas fisik berat sebaiknya ditunda sampai tubuh benar-benar siap, terutama jika Mommy masih mengalami nyeri atau memiliki luka jahitan setelah persalinan.
Olahraga berat
Hindari aktivitas yang memberikan tekanan besar pada area perut dan panggul, seperti:
- Sit-up.
- Mengangkat beban berat.
- Posisi tengkurap yang menekan area perut.
Aktivitas tersebut dapat mengganggu kenyamanan dan memperparah nyeri, terutama jika luka jahitan belum pulih.
Bagi Mommy yang menjalani persalinan caesar, pembatasan aktivitas perlu lebih diperhatikan karena luka operasi pada perut membutuhkan waktu pemulihan lebih lama, biasanya lebih dari 6 minggu.
Berhubungan intim
Mommy juga perlu memperhatikan kesiapan tubuh sebelum kembali berhubungan intim setelah melahirkan.
Sebaiknya tunggu hingga perdarahan nifas berhenti dan luka jahitan pulih. Umumnya, dokter akan mengevaluasi kondisi Mommy saat pemeriksaan kontrol sekitar 6 minggu setelah persalinan.
Alternatif aktivitas yang lebih ringan
Selama masa pemulihan, Mommy bisa mempertimbangkan beberapa aktivitas ringan berikut:
- Jalan santai di sekitar rumah.
- Latihan pernapasan perut.
- Postnatal yoga.
- Peregangan ringan.
- Senam Kegel.
Untuk olahraga yang lebih intens, tunggu sampai tubuh benar-benar pulih dan pastikan aktivitas tersebut sesuai dengan kondisi Mommy.
5. Menempelkan Daun Sirih Langsung ke Area Kewanitaan
Sebagian orang percaya bahwa daun sirih dapat membantu membersihkan area kewanitaan setelah melahirkan. Namun, menempelkan daun sirih langsung pada area intim tidak disarankan.
Daun yang tidak steril berisiko membawa bakteri dan memicu infeksi, terutama jika terdapat luka jahitan setelah persalinan.
Jika ingin menjaga kebersihan area kewanitaan, Mommy dapat melakukan beberapa hal berikut:
- Bersihkan area kewanitaan menggunakan air bersih yang mengalir.
- Hindari menempelkan daun sirih yang tidak steril langsung pada area intim.
- Jika ingin menggunakan air rebusan daun sirih, gunakan hanya untuk membasuh bagian luar sesuai arahan tenaga kesehatan.
Sementara itu, untuk membantu menguatkan kembali otot dasar panggul, Mommy bisa melakukan latihan Kegel. Latihan ini biasanya dapat mulai dilakukan sekitar 6 minggu setelah persalinan, setelah kondisi tubuh dinyatakan pulih oleh dokter.
Nutrisi Masa Nifas yang Perlu Diperhatikan
Selain menghindari kebiasaan yang tidak dianjurkan, Mommy juga perlu memperhatikan asupan nutrisi selama masa nifas. Nutrisi yang cukup membantu mendukung pemulihan tubuh setelah melahirkan sekaligus memenuhi kebutuhan selama menyusui.
Pada fase ini, Mommy juga perlu berhati-hati saat mengonsumsi jamu atau obat-obatan, terutama produk yang tidak direkomendasikan dokter. Kandungannya dapat memengaruhi produksi dan kualitas ASI.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Perbanyak makanan tinggi protein
Protein membantu proses perbaikan jaringan dan penyembuhan luka setelah persalinan.
Mommy bisa mendapatkan protein dari berbagai makanan, seperti:
- Ikan.
- Telur.
- Daging rendah lemak.
Usahakan mengonsumsi makanan tinggi protein sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang selama masa pemulihan.
2. Cukupi asupan zat besi
Saat melahirkan, tubuh Mommy kehilangan darah. Karena itu, asupan zat besi perlu diperhatikan untuk membantu mencegah anemia dan menjaga energi tubuh tetap stabil.
Beberapa sumber zat besi yang bisa dikonsumsi meliputi:
- Daging merah.
- Hati ayam atau sapi.
- Ikan dan telur.
- Bayam dan brokoli.
- Kacang merah.
Jika asupan zat besi dari makanan belum mencukupi atau terdapat risiko anemia, dokter dapat merekomendasikan suplemen zat besi sesuai kebutuhan.
3. Penuhi kebutuhan kalsium
Kalsium dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang Mommy sekaligus mendukung kebutuhan nutrisi selama menyusui.
Ibu menyusui umumnya membutuhkan sekitar 1.200–1.300 mg kalsium per hari sesuai rekomendasi yang dicantumkan dalam draft ini dan kebutuhan masing-masing individu.
Sumber kalsium bisa diperoleh dari:
- Susu, yoghurt, dan keju.
- Ikan dengan tulang lunak, seperti sarden.
- Tahu dan tempe.
- Sayuran hijau, seperti brokoli dan bayam.
Jika asupan kalsium dari makanan belum mencukupi, Mommy dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai kebutuhan suplemen tambahan.
4. Hindari minum jamu atau obat tanpa anjuran dokter
Selama masa nifas dan menyusui, Mommy perlu berhati-hati dalam memilih obat maupun produk herbal. Sebagian kandungannya dapat masuk ke dalam ASI dan berpotensi memengaruhi bayi.
Karena itu, hindari mengonsumsi produk berikut tanpa berkonsultasi dengan dokter:
- Jamu pelangsing.
- Jamu peluruh darah nifas.
- Ramuan herbal dengan dosis atau kandungan yang tidak jelas.
- Obat pereda nyeri dan antibiotik tanpa resep atau anjuran tenaga kesehatan.
Jika Mommy ingin mengonsumsi jamu tradisional, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan keamanannya selama menyusui.
5. Hindari diet ketat
Mengurangi asupan kalori secara berlebihan selama masa nifas dapat membuat tubuh mudah lelah dan berisiko memengaruhi produksi ASI.
Daripada menjalani diet ketat, Mommy sebaiknya fokus pada pola makan bergizi seimbang yang mencakup:
- Nasi atau sumber karbohidrat lainnya.
- Ikan, telur, atau sumber protein lain.
- Sayuran hijau dan buah-buahan.
- Kacang-kacangan dan produk susu.
Pola makan yang seimbang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh selama pemulihan sekaligus mendukung kebutuhan selama menyusui.
Kesimpulan
Masa nifas merupakan periode penting bagi tubuh Mommy untuk pulih setelah persalinan. Selama fase ini, ada beberapa kebiasaan yang perlu dihindari, mulai dari membuang kolostrum, membersihkan puting dengan alkohol, menggunakan korset terlalu ketat, melakukan aktivitas berat atau berhubungan intim terlalu dini, hingga menempelkan daun sirih langsung pada area kewanitaan.
Selain itu, pastikan Mommy memenuhi kebutuhan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi asupan protein, zat besi, dan kalsium, serta menghindari penggunaan jamu atau obat tanpa anjuran dokter.
Jangan lupa, setiap Mommy memiliki proses pemulihan yang berbeda. Jika mengalami keluhan atau ragu mengenai aktivitas dan perawatan selama masa nifas, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Setelah produksi ASI mulai stabil, Mommy juga bisa mempelajari 5 Tips Menyimpan ASI Perah yang Benar agar Nutrisi Tetap Terjaga agar ASI perah tetap ditangani dengan tepat untuk Si Kecil.
Semangat pulih dan semangat mengASIhi, Mommy!
FAQ Seputar Topik Ini
Apa saja pantangan masa nifas yang perlu dihindari?
Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama masa nifas adalah membuang kolostrum, membersihkan puting dengan alkohol, menggunakan korset terlalu ketat, melakukan aktivitas fisik berat atau berhubungan intim sebelum tubuh siap, serta menempelkan daun sirih langsung ke area kewanitaan. Mommy juga perlu menghindari diet ketat dan penggunaan obat atau jamu tanpa anjuran tenaga kesehatan.
Berapa lama masa nifas setelah melahirkan?
Masa nifas umumnya berlangsung sekitar 6 minggu setelah persalinan. Namun, waktu pemulihan setiap ibu dapat berbeda, bergantung pada kondisi tubuh, proses persalinan, dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Apakah ibu nifas boleh makan semua jenis makanan?
Pada umumnya, ibu nifas dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Tidak semua makanan perlu dihindari setelah melahirkan. Pantangan tertentu sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan ibu dan arahan tenaga kesehatan.




Komentar / Tanya Dokter Spesialist
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!