
Momuung.com – Air ketuban yang merembes terkadang sulit dibedakan dari urine atau keputihan, apalagi menjelang persalinan. Cairan ketuban umumnya encer seperti air, berwarna bening atau kuning pucat, dan tidak berbau menyengat. Cairan juga dapat keluar sedikit demi sedikit (trickle) atau tiba-tiba dalam jumlah banyak (gush), serta biasanya sulit ditahan seperti ketika Mommy menahan buang air kecil.
Namun, ciri-ciri tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa cairan yang keluar adalah air ketuban. Jika Mommy merasa terus mengalami kebocoran cairan dari vagina, terutama sebelum waktunya melahirkan, sebaiknya segera hubungi dokter atau bidan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Saat pakaian dalam tiba-tiba terasa basah, Mommy tidak perlu langsung panik. Ada beberapa hal sederhana yang bisa diamati untuk membantu mengenali karakter cairan yang keluar.
Gunakan pembalut biasa atau maternity pad untuk menampung cairan, kemudian perhatikan perubahan yang terjadi. Jangan gunakan tampon, karena pembalut lebih memudahkan Mommy maupun tenaga kesehatan untuk melihat warna dan jumlah cairan.
Cairan yang patut dicurigai sebagai air ketuban biasanya:
Namun, jangan menjadikan pengamatan ini sebagai diagnosis pasti. Air ketuban dalam jumlah sedikit bisa sangat sulit dibedakan dari urine atau keputihan hanya berdasarkan warna dan teksturnya.
Coba perhatikan pembalut setelah beberapa saat. Bila cairan kembali membasahi pembalut atau terus keluar tanpa bisa Mommy kendalikan, kondisi tersebut perlu dicurigai sebagai kebocoran air ketuban.
Cairan ketuban memang dapat keluar perlahan dan tidak selalu disertai sensasi “pecah ketuban” yang dramatis. Bahkan, sebagian Mommy hanya merasakan pakaian dalam terus lembap atau mengalami tetesan kecil.
Penting: metode ini hanya membantu Mommy mengamati cairan, bukan memastikan ketuban sudah pecah. Bila Mommy curiga air ketuban merembes, tetap perlu menghubungi dokter atau bidan.
Urine dan air ketuban memang memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi senam Kegel bukanlah tes untuk memastikan apakah cairan yang keluar merupakan air ketuban.
Urine biasanya masih dapat dikontrol dengan kontraksi otot dasar panggul, sedangkan kebocoran air ketuban tidak dapat dihentikan dengan mengencangkan otot tersebut. Meski begitu, Mommy tidak dianjurkan menggunakan kemampuan menahan cairan dengan otot panggul sebagai satu-satunya cara untuk menentukan apakah ketuban telah pecah. Jika masih ragu, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Ketiga cairan ini memang bisa terlihat mirip, terutama saat kehamilan sudah memasuki trimester akhir. Sebagai gambaran awal, Mommy bisa memperhatikan beberapa perbedaannya berikut:
| Ciri | Air ketuban | Urine | Keputihan |
| Warna | Umumnya bening atau kuning pucat | Biasanya kuning dengan tingkat warna yang dapat berbeda | Umumnya putih atau bening |
| Bau | Biasanya tidak berbau menyengat | Memiliki bau khas urine | Biasanya berbau ringan; bau menyengat atau tidak biasa dapat mengarah pada infeksi |
| Tekstur | Sangat encer seperti air | Encer | Dapat lebih kental atau berlendir |
| Aliran | Bisa merembes terus atau keluar sekaligus | Biasanya keluar saat kandung kemih mengosongkan diri | Biasanya keluar dalam jumlah lebih sedikit |
| Bisa ditahan? | Tidak seperti urine | Umumnya dapat dikontrol sampai batas tertentu | Tidak relevan untuk ditahan dengan otot panggul |
Perlu diingat, tidak ada ciri rumahan yang dapat memastikan 100% bahwa cairan tersebut adalah air ketuban. Karena itu, bila Mommy mencurigai ketuban pecah, jangan menunggu sampai cairannya menjadi banyak terlebih dahulu.
Memang, kebocoran urine cukup umum selama kehamilan karena rahim yang membesar dapat memberi tekanan pada kandung kemih. Namun, jika Mommy tidak yakin apakah cairan yang keluar adalah urine atau air ketuban, lebih aman untuk memeriksakannya.
Ketuban pecah tidak selalu terjadi setelah kontraksi dimulai. Selaput ketuban bisa pecah sebelum persalinan, dan bila terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut preterm prelabor rupture of membranes (PPROM). Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian medis karena dapat meningkatkan risiko infeksi dan kelahiran prematur.
Jadi, bila Mommy mengalami cairan yang terus merembes dari vagina sebelum usia kehamilan 37 minggu, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan, meskipun cairannya hanya sedikit dan Mommy tidak merasakan kontraksi.
Bila Mommy merasa air ketuban mungkin merembes, lakukan beberapa langkah berikut sambil menunggu arahan tenaga kesehatan:
Di fasilitas kesehatan, dokter atau bidan dapat melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah cairan tersebut merupakan air ketuban. Pemeriksaan dapat meliputi pemeriksaan menggunakan speculum steril dan, bila diperlukan, tes cairan seperti pemeriksaan pH atau ferning. USG juga dapat membantu menilai jumlah cairan ketuban, meskipun tidak selalu menjadi satu-satunya pemeriksaan untuk memastikan ketuban pecah.
Selain perubahan cairan vagina, memasuki trimester ketiga Mommy juga mungkin merasakan berbagai keluhan fisik lain, termasuk rasa nyeri atau tidak nyaman di area panggul dan selangkangan. Keluhan ini cukup umum terjadi seiring bertambahnya ukuran rahim dan perubahan tubuh menjelang persalinan. Agar Mommy bisa lebih nyaman menjalani trimester akhir, yuk, ketahui juga Cara Mengatasi Nyeri Selangkangan Saat Hamil Trimester 3 dan kapan keluhan tersebut perlu diperiksakan.

Jangan menunda mendapatkan pertolongan medis bila Mommy mengalami kebocoran cairan yang dicurigai sebagai air ketuban, terutama jika disertai:
Cairan berwarna hijau atau cokelat dapat menunjukkan adanya mekonium di dalam air ketuban dan perlu segera dinilai oleh tenaga kesehatan. Sementara itu, demam, menggigil, cairan berbau tidak sedap, atau nyeri dapat menjadi tanda infeksi atau komplikasi lain yang membutuhkan pemeriksaan segera.
Air ketuban yang merembes memang tidak selalu mudah dikenali. Cairannya bisa hanya berupa tetesan kecil dan sekilas tampak seperti urine atau keputihan. Karena itu, pengamatan warna, bau, dan jumlah cairan dapat membantu Mommy memberikan informasi kepada dokter atau bidan, tetapi bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis.
Kalau Mommy merasa ada cairan yang terus merembes dan tidak yakin penyebabnya, lebih baik segera berkonsultasi. Terutama jika usia kehamilan masih di bawah 37 minggu, pemeriksaan lebih cepat dapat membantu memastikan kondisi Mommy dan Si Kecil sekaligus menentukan langkah yang paling tepat.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.