
Momuung.com – Saat bencana alam terjadi, seperti banjir, gempa bumi, atau tanah longsor, banyak keluarga harus mengungsi dengan fasilitas yang serba terbatas. Akses terhadap air bersih, makanan bergizi, sanitasi, hingga layanan kesehatan pun sering kali terganggu. Dalam kondisi seperti ini, bayi menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan.
Karena itulah, pemberian ASI menjadi semakin penting. Tidak hanya sebagai sumber nutrisi utama, ASI juga membantu melindungi Si Kecil dari berbagai penyakit yang lebih mudah menyebar di lingkungan pengungsian. Yuk, cari tahu mengapa ASI sangat penting saat bencana dan bagaimana cara tetap menyusui dengan aman selama situasi darurat, Mommy!
Saat terjadi bencana, akses terhadap air bersih, makanan bergizi, listrik, hingga layanan kesehatan sering kali menjadi terbatas. Kondisi ini membuat bayi menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami dehidrasi, infeksi, hingga kekurangan gizi. Karena itu, berbagai organisasi kesehatan seperti WHO, UNICEF, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa menyusui tetap menjadi cara paling aman untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi selama situasi darurat.
Berikut beberapa alasan mengapa ASI menjadi pilihan terbaik untuk Si Kecil saat terjadi bencana.
Saat berada di pengungsian, tidak semua keluarga memiliki akses terhadap air bersih, peralatan makan yang higienis, atau fasilitas untuk menyiapkan susu formula dengan aman. Padahal, penggunaan air yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko infeksi pada bayi.
Berbeda dengan susu formula, ASI memiliki beberapa keunggulan berikut.
Karena itulah, ASI menjadi sumber makanan paling aman bagi bayi selama kondisi darurat.
Lingkungan pengungsian sering kali dipenuhi banyak orang dalam ruang yang terbatas. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit, seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga penyakit yang ditularkan melalui sanitasi yang kurang baik.
ASI mengandung berbagai komponen pelindung yang membantu memperkuat sistem imun bayi, seperti:
Berkat berbagai kandungan tersebut, bayi yang mendapatkan ASI memiliki risiko lebih rendah mengalami infeksi saluran cerna maupun infeksi saluran pernapasan dibandingkan bayi yang tidak disusui
Di tengah keterbatasan makanan selama bencana, ASI tetap mampu menyediakan nutrisi yang dibutuhkan Si Kecil agar tumbuh dan berkembang dengan optimal.
ASI mengandung kombinasi zat gizi penting, seperti:
Bahkan, pada bayi usia 0-6 bulan, ASI eksklusif sudah mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi dan cairan tanpa tambahan makanan maupun minuman lain, termasuk air putih.
Selain memenuhi kebutuhan gizi, menyusui juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi Si Kecil. Kontak kulit serta pelukan selama menyusui dapat membantu menenangkan bayi yang sedang menghadapi situasi penuh tekanan akibat bencana, sehingga ia merasa lebih tenang dan terlindungi.
Meski sedang berada di situasi darurat, Mommy tetap bisa memberikan ASI kepada Si Kecil. Bahkan, menyusui justru menjadi cara paling aman untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan membantu melindungi bayi dari berbagai risiko penyakit selama berada di pengungsian.
Agar proses menyusui tetap berjalan dengan aman dan nyaman, berikut beberapa hal yang direkomendasikan oleh para ahli.
Jika Si Kecil masih berusia di bawah 6 bulan, usahakan tetap memberikan ASI eksklusif meskipun sedang berada di lokasi pengungsian.
ASI tidak memerlukan air, botol, maupun proses sterilisasi sehingga menjadi sumber makanan yang paling aman dalam kondisi darurat. Selain memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan, ASI juga membantu memperkuat daya tahan tubuh bayi sehingga risiko infeksi dapat berkurang.
Di tengah situasi bencana, sebagian Mommy mungkin berpikir bahwa susu formula bisa menjadi solusi ketika kondisi terasa sulit. Padahal, susu formula sebaiknya tidak langsung diberikan hanya karena berada di pengungsian atau karena Mommy sedang mengalami stres.
Pemberian susu formula pada bayi, terutama usia di bawah 6 bulan, perlu didasarkan pada indikasi medis dan melalui penilaian tenaga kesehatan, seperti dokter atau konselor laktasi. Hal ini karena sebagian besar Mommy tetap dapat menyusui meskipun sedang berada dalam kondisi darurat, asalkan mendapatkan dukungan yang tepat.
Selain itu, penggunaan susu formula juga membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Agar aman dikonsumsi bayi, diperlukan:
Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, risiko bayi mengalami diare, infeksi saluran cerna, hingga kekurangan cairan (dehidrasi) dapat meningkat. Karena itu, IDAI, WHO, dan UNICEF tetap merekomendasikan ASI sebagai pilihan utama selama kondisi darurat, sedangkan susu formula hanya diberikan apabila memang terdapat alasan medis yang jelas dan berada di bawah pendampingan tenaga kesehatan.
Mengalami rasa cemas, sedih, atau stres saat menghadapi bencana adalah hal yang sangat wajar. Namun, Mommy tidak perlu langsung khawatir karena stres tidak serta-merta menghentikan produksi ASI.
Pada beberapa Mommy, stres memang dapat menghambat let-down reflex, yaitu refleks yang membantu ASI mengalir keluar. Akibatnya, ASI mungkin terasa lebih sulit keluar untuk sementara. Meski begitu, produksi ASI umumnya tetap akan terus berlangsung apabila payudara tetap rutin dikosongkan melalui proses menyusui atau memerah ASI.
Karena itu, usahakan tetap menyusui sesering mungkin, cukup beristirahat jika memungkinkan, serta jangan ragu meminta bantuan keluarga atau tenaga kesehatan agar Mommy tidak menghadapi situasi ini sendirian.
Apabila sebelumnya Mommy sempat berhenti menyusui karena kondisi tertentu, bukan berarti kesempatan memberikan ASI sudah berakhir.
Mommy masih dapat mencoba relaktasi, yaitu proses mengembalikan produksi ASI melalui stimulasi menyusui atau memerah ASI secara rutin. Proses ini biasanya akan lebih optimal jika disertai dengan:
Dengan dukungan yang tepat, banyak Mommy yang berhasil kembali menyusui meskipun sebelumnya sempat berhenti.
Kalau Mommy ingin mengetahui bagaimana langkah-langkah relaktasi dilakukan, kapan waktu terbaik untuk memulainya, serta tips agar peluang keberhasilannya lebih tinggi, yuk lanjutkan membaca artikel “6 Tips Melancarkan ASI Kembali dengan Cara Relaktasi”. Di sana, Mommy bisa menemukan panduan relaktasi yang lebih lengkap dan mudah dipraktikkan di rumah.
Saat terjadi bencana, ASI tetap menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil. Selain selalu tersedia, praktis, dan steril, ASI juga mengandung berbagai zat gizi serta antibodi yang membantu melindungi bayi dari infeksi yang lebih mudah menyebar di lingkungan pengungsian. Karena itu, jika memungkinkan, Mommy tetap dianjurkan untuk terus menyusui secara langsung dan sesering mungkin agar kebutuhan nutrisi maupun cairan Si Kecil tetap terpenuhi.
Jika selama masa bencana Mommy mengalami kendala, seperti produksi ASI terasa menurun, Si Kecil menolak menyusu, atau muncul tantangan menyusui lainnya, jangan ragu untuk mencari bantuan. Mommy juga dapat berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung agar mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kondisi Mommy dan Si Kecil. Dengan dukungan yang tepat, perjalanan menyusui tetap bisa berjalan optimal, bahkan di tengah situasi yang penuh tantangan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.