
Momuung.com – Cara memBedong bayi sering menjadi salah satu cara yang dilakukan orang tua agar Si Kecil tidur lebih nyenyak. Namun, bagaimana jika bayi justru menangis, berontak, atau tidak mau dibedong? Tenang ya, Mommy. Kondisi ini cukup sering terjadi dan bukan berarti Si Kecil tidak suka dibedong. Bisa jadi, cara membedong yang digunakan belum sesuai dengan posisi alami tubuh bayi sehingga ia merasa kurang nyaman.
Yuk, cari tahu penyebab bayi tidak mau dibedong serta cara membedong yang lebih nyaman agar Si Kecil bisa tidur lebih tenang di artikel ini. Buibu, baca sampai selesai ya!
Pada dasarnya, tidak ada satu metode bedong yang paling baik untuk semua bayi. Sebagian bayi lebih nyaman dengan posisi tangan di samping tubuh, sementara sebagian lainnya lebih tenang dengan posisi hands-up. Yang terpenting adalah memilih posisi yang membuat Si Kecil nyaman sekaligus tetap mengikuti prinsip safe swaddling.
Jika dilakukan dengan benar, membedong dapat memberikan beberapa manfaat, seperti:
AAP juga menegaskan bahwa bedong hanya aman digunakan pada bayi yang belum dapat berguling dan harus selalu disertai posisi tidur telentang di atas kasur yang datar tanpa bantal, guling, maupun selimut tebal (AAP, 2026).
Selain membantu bayi merasa nyaman, Cara membedong bayi yang benar juga penting untuk menjaga kesehatan sendi panggul. Karena itu, bagian kaki dan pinggul tidak boleh dibedong terlalu rapat.
Teknik ini dikenal sebagai hip-healthy swaddling, yaitu membedong dengan memberikan ruang agar kedua kaki bayi tetap bisa menekuk dan bergerak secara alami. Posisi ini membantu mendukung perkembangan sendi panggul serta mengurangi risiko developmental dysplasia of the hip (DDH), yaitu gangguan perkembangan sendi panggul pada bayi (International Hip Dysplasia Institute, n.d.).
Agar tetap aman, pastikan setelah dibedong Si Kecil masih bisa:
Mommy juga perlu menghentikan penggunaan bedong ketika Si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda bisa berguling, yang umumnya terjadi pada usia sekitar 2-4 bulan. Pada tahap ini, bayi membutuhkan ruang gerak yang lebih bebas untuk melatih kekuatan otot, koordinasi tubuh, dan kemampuan motoriknya.
Setelah tidak lagi dibedong, Si Kecil akan semakin aktif digendong saat beraktivitas bersama Mommy maupun Ayah. Nah, agar posisi tubuh bayi tetap nyaman sekaligus mendukung perkembangan tulang belakang dan panggulnya, pastikan Mommy juga menggunakan teknik menggendong yang tepat. Yuk, baca artikel “4 Posisi Gendongan Bayi yang Benar agar Si Kecil Tenang dan Tidak Rewel” untuk mengetahui posisi gendong yang aman, nyaman, dan sesuai dengan tahap tumbuh kembang bayi.
Tidak perlu khawatir jika Mommy baru pertama kali mencoba metode hands-up. Langkah-langkah berikut mudah dilakukan di rumah dan tetap mengikuti prinsip bedong yang aman untuk bayi.
Pilih kain bedong berbahan katun yang lembut, ringan, dan memiliki sedikit elastisitas agar bayi tidak mudah kepanasan. Bentangkan kain, lalu lipat sedikit bagian atasnya sebelum meletakkan bayi dengan posisi bahu sejajar lipatan tersebut. Pastikan kain tidak menutupi leher atau wajah agar hidung Si Kecil tetap bernapas dengan lega (Moon et al., 2022).
Berbeda dengan bedong konvensional, metode hands-up mempertahankan posisi tangan bayi tetap menekuk secara alami di dekat dada atau pipinya.
Beberapa manfaat posisi ini antara lain:
Setelah posisi tangan Si Kecil sudah nyaman di dekat wajah, Mommy bisa mulai membungkus tubuhnya secara perlahan. Bedong sebaiknya terasa pas sehingga memberikan sensasi hangat seperti dipeluk, tetapi tidak sampai menekan dada atau membatasi gerakan bayi saat bernapas.
Agar bedong tetap aman, pastikan beberapa hal berikut:
Setelah kedua sisi kain membungkus tubuh bayi, rapikan sisa kain dengan menyelipkannya di bagian belakang atau bawah tubuh Si Kecil. Cara ini membantu bedong tetap rapi dan tidak mudah terbuka ketika bayi bergerak.
Namun, hindari menarik atau mengikat kain terlalu kuat. Bedong yang terlalu kencang justru dapat membuat bayi merasa tidak nyaman dan menghambat gerakan alaminya. Sebaliknya, bedong yang terlalu longgar juga perlu dihindari karena kain berisiko terlepas dan menutupi wajah bayi saat tidur.
Meski bagian tubuh atas dibedong, area pinggul dan kaki harus tetap longgar. Teknik ini dikenal sebagai hip-healthy swaddling, yaitu cara membedong yang mendukung perkembangan sendi panggul bayi tetap optimal.
Idealnya, setelah dibedong Si Kecil masih bisa:
Memberikan ruang gerak pada area pinggul dapat membantu mengurangi risiko developmental dysplasia of the hip (DDH), yaitu gangguan perkembangan sendi panggul yang dapat terjadi apabila kaki bayi terlalu sering diposisikan lurus dan terikat rapat dalam waktu lama (International Hip Dysplasia Institute, n.d.).

Setiap bayi memiliki kenyamanan yang berbeda saat dibedong. Sebagian bayi justru lebih nyaman tidur dengan tangan menekuk di dekat wajah (hands-up position) karena posisi ini memungkinkan mereka menyentuh pipi atau mulut sebagai bagian dari self-soothing, yaitu cara alami bayi menenangkan diri (Moon et al., 2022).
Sebaliknya, jika cara membedong bayi dilakukan terlalu ketat dengan kedua tangan dipaksa lurus ke bawah, sebagian bayi dapat merasa tidak nyaman, berusaha mengeluarkan tangannya, atau menangis karena ruang geraknya menjadi lebih terbatas. Hal inilah yang sering menjadi penyebab bayi tidak mau dibedong.
AAP menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa posisi tangan tertentu saat dibedong dapat memengaruhi risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Karena itu, posisi tangan dapat disesuaikan dengan kenyamanan Si Kecil, selama praktik bedong tetap dilakukan dengan aman, yaitu:
Cara membedong bayi yang benar tidak hanya membantu Si Kecil tidur lebih nyenyak, tetapi juga membuatnya merasa aman dan nyaman selama beradaptasi dengan dunia di luar rahim. Jika bayi tidak nyaman dengan bedong konvensional, Mommy bisa mencoba metode hands-up selama teknik membedong tetap dilakukan dengan aman, tidak terlalu ketat, dan tetap memberi ruang bagi pinggul serta kaki untuk bergerak bebas.
Yang tidak kalah penting, selalu posisikan bayi tidur telentang dan hentikan penggunaan bedong ketika Si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda bisa berguling agar tidurnya tetap aman. Ingat ya, Mommy, setiap bayi memiliki preferensi yang berbeda. Jadi, tidak masalah memilih metode bedong yang paling sesuai dengan kenyamanan Si Kecil, selama tetap mengikuti prinsip safe swaddling.
Semoga panduan ini membantu Mommy menemukan cara membedong yang paling nyaman untuk Si Kecil. Jangan lupa bagikan artikel ini kepada sesama orang tua agar semakin banyak bayi yang bisa tidur lebih nyenyak dan nyaman sejak hari-hari pertamanya.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung dr. Natasya Ayu Andamari, Sp.A atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Cara membedong bayi yang benar dilakukan dengan membungkus tubuh bayi secara pas, tidak terlalu ketat, menjaga wajah tetap terbuka, serta memberikan ruang agar pinggul dan kaki dapat bergerak bebas. Mommy juga bisa menggunakan teknik hands-up jika Si Kecil lebih nyaman dengan posisi tangan di dekat wajah.