
Momuung.com – Pernah membayangkan bagaimana para ibu menyusui menyimpan ASI sebelum ada pompa ASI?
Saat ini, pompa ASI menjadi salah satu perlengkapan yang sangat membantu banyak Mommy. Mulai dari membantu menjaga produksi ASI, menyimpan stok ASI perah, hingga memudahkan Mommy yang harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan.
Namun ternyata, alat yang kini terasa sangat akrab bagi para busui ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Di balik perkembangan pompa ASI modern yang praktis dan canggih, ada satu nama yang sering disebut sebagai pelopor lahirnya pompa ASI pertama di dunia, yaitu O.H. Needham.
Yuk, kenalan lebih dekat dengan sosok yang berjasa membuka jalan bagi perkembangan teknologi pompa ASI hingga seperti sekarang.
Sebelum pertengahan abad ke-19, pilihan ibu yang mengalami kesulitan menyusui sebenarnya cukup terbatas.
Ketika bayi lahir prematur, kesulitan menyusu langsung, atau saat ibu mengalami payudara bengkak dan produksi ASI berlebih, ASI biasanya dikeluarkan secara manual menggunakan tangan. Pada beberapa kasus, digunakan pula alat sederhana yang belum tentu nyaman dan sering kali sulit dibersihkan.
Karena itu, kebutuhan akan alat yang dapat membantu mengeluarkan ASI dengan lebih efektif dan aman mulai menjadi perhatian para tenaga kesehatan pada masa itu.
Dari sinilah cikal bakal pompa ASI mulai berkembang.
Menurut berbagai catatan sejarah, O.H. Needham dikenal sebagai orang yang mematenkan pompa ASI pertama pada tanggal 20 Juni 1854.
Pada masanya, penemuan ini dianggap sebagai terobosan besar karena memberikan cara baru bagi ibu untuk mengeluarkan ASI tanpa harus selalu memerah secara manual.
Pompa ASI buatan Needham masih sangat sederhana jika dibandingkan dengan pompa ASI modern saat ini. Alat tersebut dioperasikan menggunakan tangan dan bekerja dengan prinsip vakum atau hisapan untuk membantu mengeluarkan ASI dari payudara.
Beberapa karakteristik pompa ASI rancangan O.H. Needham antara lain:
Meskipun desainnya sederhana, konsep dasar yang digunakan Needham masih menjadi fondasi hampir seluruh pompa ASI modern hingga sekarang.
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran dan penelitian laktasi, desain pompa ASI terus mengalami penyempurnaan.
Pada awal tahun 1920-an, seorang peneliti bernama Edward Lasker mengembangkan desain pompa mekanis yang lebih baik. Tujuannya adalah membuat gerakan pompa lebih menyerupai pola hisapan alami bayi saat menyusu.
Perkembangan berikutnya datang dari penelitian yang dilakukan oleh Einar Egnell. Ia mempelajari secara mendalam bagaimana proses pengeluaran ASI terjadi di dalam payudara.
Hasil penelitiannya menjadi dasar bagi banyak teknologi pompa ASI yang digunakan hingga saat ini.
Sejak saat itu, pompa ASI terus berevolusi:
Pompa mulai dilengkapi dengan wadah atau botol penampung ASI sehingga penggunaannya menjadi lebih praktis.
Desain pompa dibuat lebih nyaman dan mulai meniru ritme hisapan bayi.
Mulai muncul pompa ASI elektrik yang banyak digunakan di rumah sakit untuk membantu ibu dan bayi yang mengalami kesulitan menyusui.
Kini tersedia berbagai jenis pompa ASI, mulai dari:
Meski tampilannya jauh berbeda, prinsip dasarnya tetap berasal dari konsep yang diperkenalkan Needham lebih dari 170 tahun lalu.
Banyak orang mengira pompa ASI bekerja dengan cara “menyedot” ASI keluar dari payudara.
Padahal, tujuan utama pompa ASI bukanlah menyedot ASI secara paksa.
Pompa ASI dirancang untuk membantu memicu refleks pengeluaran ASI (let-down reflex) yang secara alami terjadi saat bayi menyusu.
Ketika hisapan dari pompa menstimulasi puting dan areola, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin yang membantu ASI mengalir keluar dari saluran ASI.
Meskipun teknologi pompa terus berkembang, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi masih lebih efektif dalam mengeluarkan ASI dibandingkan pompa.
Hal ini karena bayi tidak hanya mengandalkan hisapan, tetapi juga menggunakan gerakan lidah dan rahang yang sangat kompleks saat menyusu.
Secara umum, ada dua sistem mekanisme yang banyak digunakan pada pompa ASI modern.
Pompa jenis ini bekerja menggunakan membran atau diafragma yang menghasilkan tekanan hisap.
Kelebihannya:
Kekurangannya:
Pompa piston biasanya digunakan pada pompa ASI kelas premium.
Kelebihannya:
Karena alasan tersebut, sistem piston sering ditemukan pada pompa ASI yang dirancang untuk penggunaan jangka panjang.
Saat memilih pompa ASI, Mommy mungkin pernah menemukan istilah open system dan closed system.
Pada sistem ini, udara dari pompa memiliki jalur yang terhubung dengan selang dan wadah penampung ASI.
Karena itu, ada kemungkinan ASI masuk ke dalam selang jika terjadi kebocoran atau penggunaan yang kurang tepat.
Jika menggunakan sistem terbuka, selang perlu dibersihkan secara rutin untuk mencegah pertumbuhan jamur atau bakteri.
Pada sistem tertutup terdapat penghalang khusus yang mencegah ASI masuk ke dalam selang dan mesin pompa.
Karena itu, sistem ini sering dianggap lebih praktis untuk perawatan sehari-hari.
Meski demikian, yang paling penting tetaplah menjaga kebersihan seluruh bagian pompa sesuai petunjuk penggunaan masing-masing produk.
Kalau kita lihat pompa ASI yang digunakan saat ini, memang sudah jauh lebih modern, praktis, dan nyaman dibandingkan dengan rancangan awal O.H. Needham. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, justru penemuan sederhana inilah yang menjadi awal dari berkembangnya teknologi pompa ASI seperti sekarang.
Tanpa adanya inovasi pertama tersebut, mungkin Mommy tidak akan memiliki banyak pilihan alat pumping yang bisa membantu proses menyusui jadi lebih fleksibel, baik saat di rumah maupun ketika harus kembali beraktivitas di luar.
Seiring perkembangan teknologi tersebut, penggunaan pompa ASI juga semakin disesuaikan dengan kebutuhan ibu menyusui, termasuk hal-hal teknis seperti ukuran corong yang tepat agar proses pumping lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal. Kalau Mommy ingin memahami lebih detail tentang hal ini, Mommy juga bisa membaca artikel “3 Cara Memilih Ukuran Corong Pompa ASI yang Pas agar Produksi ASI Maksimal” sebagai panduan tambahan sebelum memilih pompa ASI yang sesuai.
Jadi, setiap kali Mommy menggunakan pompa ASI, sebenarnya ada perjalanan sejarah panjang di baliknya. Dari alat manual sederhana pada tahun 1854 hingga pompa ASI modern yang bisa dipakai tanpa tangan, semuanya berangkat dari satu tujuan yang sama yaitu membantu ibu menyusui memberikan ASI dengan cara yang lebih mudah, nyaman, dan optimal untuk si Kecil.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.