
Momuung.com – Hiperlaktasi atau Produksi ASI berlebih memang bisa membuat Mommy merasa ASI sangat melimpah. Namun, kondisi ini juga dapat menyebabkan payudara terasa penuh, ASI sering bocor, hingga membuat Si Kecil kesulitan menyusu karena aliran ASI yang terlalu deras.
Yuk, kenali tanda-tanda hiperlaktasi serta cara mengatasinya agar proses menyusui tetap nyaman untuk Mommy dan Si Kecil!
Hiperlaktasi adalah kondisi ketika tubuh memproduksi ASI lebih banyak daripada yang dibutuhkan Si Kecil. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai hyperlactation syndrome atau oversupply ASI.
Pada awal masa menyusui, produksi ASI memang biasanya masih sangat banyak. Hal ini normal karena tubuh sedang belajar menyesuaikan jumlah ASI dengan kebutuhan bayi. Lama-kelamaan, produksi ASI akan mengikuti prinsip supply and demand, yaitu semakin sering ASI dikeluarkan melalui proses menyusui atau dipompa, semakin banyak pula ASI yang diproduksi.
Namun, pada sebagian Mommy proses penyesuaian tersebut tidak berjalan dengan optimal sehingga tubuh terus memproduksi ASI dalam jumlah berlebih. Akibatnya, payudara bisa terasa sangat penuh, ASI sering bocor, hingga aliran ASI menjadi terlalu deras sehingga membuat proses menyusui kurang nyaman, baik untuk Mommy maupun Si Kecil.
Tidak semua kasus hiperlaktasi memiliki penyebab yang jelas. Namun, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko produksi ASI berlebih, di antaranya:
Produksi ASI yang berlebih dapat menimbulkan beberapa tanda yang bisa Mommy rasakan sehari-hari. Gejalanya bisa berbeda pada setiap ibu, tetapi berikut beberapa yang paling sering terjadi.
Salah satu tanda hiperlaktasi yang paling sering dirasakan adalah payudara yang terasa sangat penuh, tegang, atau keras meski Si Kecil baru saja selesai menyusu.
Kondisi ini terjadi karena tubuh memproduksi ASI lebih cepat daripada yang dikeluarkan. Akibatnya, Mommy mungkin merasakan:
ASI yang merembes dari payudara memang masih tergolong normal, terutama pada minggu-minggu awal setelah melahirkan. Namun, bila ASI sering mengalir sendiri dalam jumlah banyak, bahkan saat Si Kecil tidak sedang menyusu, hal ini bisa menjadi tanda produksi ASI berlebih.
Setelah menyusu, biasanya payudara akan terasa lebih ringan karena sebagian ASI sudah dikeluarkan. Namun, pada Mommy yang mengalami hiperlaktasi, payudara bisa kembali terasa penuh hanya dalam waktu singkat.
Akibatnya, Mommy mungkin merasa seolah-olah payudara tidak pernah benar-benar kosong, meskipun Si Kecil sudah menyusu dengan baik.
Produksi ASI yang terlalu banyak juga dapat meningkatkan risiko saluran ASI tersumbat (plugged milk duct). Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi mastitis, yaitu peradangan atau infeksi pada jaringan payudara.
Beberapa tanda yang perlu Mommy waspadai antara lain:
Jika disertai demam, tubuh terasa menggigil, atau muncul gejala seperti flu, segera konsultasikan dengan dokter karena bisa menjadi tanda mastitis yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Saat aliran ASI keluar terlalu deras (forceful let-down), Si Kecil mungkin kesulitan mengikuti derasnya aliran ASI. Akibatnya, bayi bisa sering melepas pelekatan, batuk, tersedak, atau menarik puting berulang kali saat menyusu.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan puting Mommy menjadi:
Produksi ASI yang terlalu banyak tidak hanya membuat Mommy merasa kurang nyaman, tetapi juga dapat memengaruhi cara Si Kecil menyusu. Aliran ASI yang terlalu deras membuat sebagian bayi kesulitan mengatur ritme mengisap dan menelan.
Beberapa tanda yang bisa Mommy perhatikan antara lain:
Saat ASI mengalir terlalu deras, Si Kecil mungkin belum sempat menelan dengan baik. Akibatnya, bayi bisa:
Bayi yang mengalami aliran ASI terlalu deras sering kali terlihat kurang nyaman selama menyusu.
Misalnya, Si Kecil mungkin:
Karena aliran ASI keluar terlalu cepat, bayi bisa beberapa kali melepas payudara untuk mengatur napas atau menelan terlebih dahulu.
Akibatnya, Mommy mungkin melihat Si Kecil:
Saat menyusu dengan tergesa-gesa, bayi cenderung ikut menelan lebih banyak udara. Hal ini dapat membuat Si Kecil:
Pada sebagian bayi, produksi ASI yang berlebihan membuat mereka lebih banyak mendapatkan foremilk, yaitu ASI yang keluar pada awal sesi menyusui dan mengandung lebih banyak laktosa. Sementara itu, bayi bisa mendapatkan lebih sedikit hindmilk, yaitu ASI yang keluar di akhir sesi dan mengandung lebih banyak lemak.
Akibatnya, feses bayi dapat:
Kabar baiknya, hiperlaktasi umumnya dapat diatasi tanpa harus berhenti menyusui. Dengan penanganan yang tepat, produksi ASI biasanya akan menyesuaikan kebutuhan Si Kecil secara bertahap.
Cara paling sederhana adalah tetap menyusui sesuai tanda lapar yang ditunjukkan Si Kecil (feeding on demand).
Biarkan tubuh menyesuaikan produksi ASI secara alami berdasarkan kebutuhan bayi, bukan berdasarkan jadwal yang terlalu kaku. Semakin seimbang jumlah ASI yang dikeluarkan dengan kebutuhan Si Kecil, produksi ASI biasanya akan lebih stabil seiring waktu.
Kalau Mommy rutin memompa ASI padahal Si Kecil sudah menyusu langsung dengan baik, coba evaluasi kembali kebiasaan tersebut.
Semakin sering payudara dikosongkan melalui pompa, tubuh akan menganggap ASI yang dibutuhkan semakin banyak sehingga produksi terus meningkat.
Jika ingin mengurangi sesi memompa, lakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk menyesuaikan produksi ASI. Mengurangi pompa secara mendadak dapat meningkatkan risiko saluran ASI tersumbat atau mastitis.
Pada kondisi tertentu, dokter atau konselor laktasi mungkin menyarankan block feeding, yaitu menyusui dari satu payudara saja selama periode waktu tertentu sebelum berpindah ke sisi lainnya.
Cara ini bertujuan untuk:
Karena tidak cocok untuk semua ibu menyusui dan berisiko menurunkan produksi ASI bila dilakukan kurang tepat, teknik ini sebaiknya hanya dilakukan atas pendampingan tenaga kesehatan.
Jika aliran ASI terasa terlalu deras, mengubah posisi menyusui bisa membantu Si Kecil menyusu dengan lebih nyaman.
Beberapa posisi yang dapat dicoba antara lain:
Posisi-posisi tersebut juga dapat membantu mengurangi risiko bayi batuk, tersedak, atau sering melepas payudara saat menyusu karena aliran ASI yang terlalu deras.
Kalau Mommy masih bingung bagaimana cara melakukan posisi laid-back breastfeeding yang benar, yuk baca juga artikel Mengenal Posisi Menyusui Laid-Back, Alternatif untuk Membantu Pelekatan Bayi. Di sana, Mommy bisa mempelajari langkah-langkahnya secara lebih lengkap agar proses menyusui terasa lebih nyaman, baik untuk Mommy maupun Si Kecil.
Jika produksi ASI tetap sangat banyak hingga membuat Mommy sering mengalami payudara bengkak, saluran ASI tersumbat, atau Si Kecil terus kesulitan menyusu, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Dokter atau konselor laktasi dapat membantu:
Tidak semua kasus hiperlaktasi dapat dicegah, terutama bila dipengaruhi faktor genetik atau hormonal.
Namun, Mommy dapat membantu mengurangi risikonya dengan beberapa cara berikut:
Segera periksakan diri apabila Mommy mengalami:
Keluhan tersebut bisa menjadi tanda komplikasi, seperti mastitis, yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
Hiperlaktasi adalah kondisi ketika produksi ASI melebihi kebutuhan bayi. Meskipun terdengar menguntungkan, kondisi ini dapat menyebabkan berbagai keluhan, mulai dari payudara terasa penuh dan nyeri hingga bayi kesulitan menyusu karena aliran ASI yang terlalu deras.
Kabar baiknya, hiperlaktasi umumnya bisa dikelola dengan penyesuaian pola menyusui, mengurangi sesi memompa yang tidak diperlukan, serta pendampingan dari tenaga kesehatan bila diperlukan.
Kalau Mommy merasa produksi ASI terlalu banyak atau proses menyusui terasa kurang nyaman, jangan ragu berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung. Layanan konsultasi gratis 24 jam siap membantu Mommy menemukan solusi yang sesuai agar proses menyusui tetap nyaman untuk Mommy dan Si Kecil.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Beberapa tanda hiperlaktasi yang umum meliputi:
Bayi yang menyusu dari ibu dengan hiperlaktasi dapat mengalami: