
Momuung.com – Melihat Si Kecil mengeluarkan kembali ASI atau susu setelah menyusu memang bisa bikin Mommy khawatir. Apalagi kalau gumoh terjadi beberapa kali dalam sehari. Sebenarnya, bayi sering gumoh cukup umum terjadi, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan.
Gumoh adalah kondisi ketika sebagian isi lambung naik kembali ke kerongkongan lalu keluar melalui mulut. Pada banyak bayi, gumoh terjadi tanpa disertai rasa sakit dan bayi tetap terlihat nyaman, mau menyusu, serta tumbuh dengan baik. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan sistem pencernaan yang masih berkembang dan akan semakin jarang seiring bertambahnya usia.
Jadi, Bayi Sering Gumoh Apakah Normal? Dalam banyak kasus, iya. Namun, Mommy tetap perlu tahu seperti apa gumoh yang masih wajar, apa penyebabnya, bagaimana cara menguranginya, dan kapan gumoh perlu diperiksakan.
Ya, Gumoh pada bayi umumnya normal, terutama pada usia di bawah 6 bulan. Gastroesophageal reflux (GER) terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Hal ini umum karena saluran cerna dan katup di antara kerongkongan dan lambung bayi masih berkembang.
Gumoh yang normal biasanya memiliki beberapa ciri berikut:
Keluar dalam jumlah sedikit atau seperti aliran susu yang mengalir dari mulut.
Terjadi saat atau tidak lama setelah menyusu.
Bayi tetap terlihat nyaman dan tidak kesakitan.
Bayi masih mau menyusu seperti biasa.
Berat badan tetap bertambah sesuai pertumbuhannya.
Frekuensi gumoh juga bisa berbeda-beda pada setiap bayi. Jadi, tidak ada jumlah pasti yang harus dianggap normal. Ada bayi yang hanya sesekali gumoh, sementara bayi lain bisa mengalaminya setiap hari.
Pada sebagian besar bayi, gumoh akan semakin berkurang seiring perkembangan sistem pencernaan dan kemampuan tubuh untuk tetap tegak. Kebanyakan bayi tidak lagi mengalami gejala refluks secara bermakna pada usia sekitar 12–14 bulan.
Ada beberapa alasan yang bisa membuat bayi sering gumoh, terutama pada masa awal kehidupannya.
Salah satu penyebab utama gumoh adalah katup di antara kerongkongan dan lambung yang belum bekerja sekuat pada anak yang lebih besar. Akibatnya, isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.
Kondisi ini merupakan bagian dari perkembangan normal pada banyak bayi dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia.
Saat menyusu, bayi bisa ikut menelan udara. Jika udara cukup banyak terkumpul di lambung, bayi dapat lebih mudah mengeluarkan susu kembali, terutama saat bersendawa.
Hal ini bisa terjadi saat bayi menyusu terlalu cepat, banyak menangis sebelum menyusu, atau pelekatan ke payudara maupun botol kurang optimal.
Lambung bayi masih kecil sehingga mudah terasa penuh. Ketika jumlah susu yang masuk terlalu banyak, isi lambung lebih mudah naik kembali dan menyebabkan gumoh.
Pada bayi yang minum menggunakan botol, aliran susu juga dapat membuat bayi minum lebih cepat sehingga Mommy perlu memperhatikan tanda-tanda kenyangnya. Bayi yang menyusu langsung juga tetap bisa mengalami hal serupa jika terus menyusu setelah menunjukkan tanda kenyang.
Posisi menyusu yang kurang nyaman atau pelekatan (latch) yang kurang tepat dapat membuat bayi lebih banyak menelan udara.
Mommy bisa memperhatikan apakah mulut Si Kecil melekat dengan baik pada payudara atau dot, apakah ia terdengar menelan dengan nyaman, dan apakah proses menyusu membuatnya sering terlepas atau tersedak.
Mengajak bayi bermain terlalu aktif atau memberikan tekanan pada perut segera setelah menyusu dapat membuat isi lambung lebih mudah naik kembali.
Setelah menyusu, lebih baik berikan waktu untuk aktivitas yang tenang dan hindari menekan perut Si Kecil.
Gumoh pada bayi sering kali merupakan bagian dari gastroesophageal reflux (GER). GER adalah kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Pada bayi, GER sangat umum dan biasanya tidak membutuhkan obat selama Si Kecil tetap sehat, nyaman, dan tumbuh dengan baik.
GER berbeda dengan gastroesophageal reflux disease (GERD). GERD digunakan ketika refluks menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi, misalnya kesulitan makan atau kenaikan berat badan yang tidak sesuai.

Gumoh dan muntah memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda.
Gumoh biasanya terjadi tanpa usaha yang kuat. Susu hanya mengalir atau keluar perlahan dari mulut, dan bayi biasanya tetap terlihat nyaman.
Sementara itu, muntah umumnya keluar dengan tenaga atau kontraksi otot yang lebih kuat dan dapat membuat bayi tampak tidak nyaman.
Perbedaan ini penting karena muntah yang berulang, sangat kuat, atau disertai gejala lain dapat menjadi tanda adanya kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis.
Sebagian besar bayi dengan gumoh normal tidak membutuhkan pengobatan khusus. Namun, beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi frekuensi atau jumlah gumoh.
Saat menyusu, usahakan posisi kepala dan tubuh bayi sejajar serta pelekatan ke payudara atau dot dilakukan dengan baik.
Pelekatan yang tepat dapat membantu bayi menyusu dengan lebih efektif dan mengurangi udara yang ikut tertelan.
Perhatikan tanda-tanda Si Kecil sudah kenyang, seperti memperlambat isapan, melepaskan payudara atau dot, menutup mulut, atau memalingkan wajah.
Pada bayi yang minum dengan botol, hindari memaksa Si Kecil menghabiskan susu jika ia sudah menunjukkan tanda kenyang.
Untuk bayi yang sering gumoh, dokter juga dapat menyarankan porsi yang lebih kecil dan lebih sering pada kondisi tertentu. Namun, perubahan pola minum sebaiknya disesuaikan dengan usia, kebutuhan nutrisi, dan pertumbuhan bayi.
Setelah menyusu, Mommy bisa membantu Si Kecil bersendawa untuk mengeluarkan udara yang mungkin ikut tertelan selama menyusu. Bila bayi menyusu langsung, Mommy bisa mencoba menyendawakannya saat berganti payudara atau setelah selesai menyusu, terutama jika Si Kecil terlihat tidak nyaman atau banyak menelan udara.
Untuk bayi yang minum dengan botol, Mommy juga bisa memberikan jeda di tengah sesi menyusu untuk membantu Si Kecil bersendawa. Namun, tidak semua bayi harus selalu bersendawa setiap kali selesai menyusu. Jadi, perhatikan respons Si Kecil dan jangan memaksanya jika ia sudah terlihat nyaman.
Proses menyendawakan bayi juga bisa dilakukan bersama Ayah, lho. Selain membantu mengeluarkan udara setelah menyusu, aktivitas ini bisa menjadi salah satu cara Ayah ikut terlibat dalam merawat Si Kecil. Yuk, pelajari 5 Langkah Ajarin Ayah Sendawain Bayi Pakai Teknik Gerak, Ampuh Cegah Gumoh! supaya Ayah juga tahu cara menyendawakan bayi dengan gerakan yang tepat dan nyaman.
Jika memungkinkan, gendong Si Kecil dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit setelah menyusu.
Cara ini dapat membantu mengurangi refluks pada sebagian bayi. Namun, waktu menggendong tegak bukan berarti bayi boleh tidur dalam posisi duduk atau setengah duduk.
Setelah menyusu, hindari mengayun bayi dengan kuat atau melakukan aktivitas yang memberi banyak tekanan pada perut.
Berikan waktu untuk tenang sebelum melakukan aktivitas bermain yang lebih aktif.
Asap rokok dapat memperburuk gejala refluks pada bayi. Karena itu, jangan merokok di dalam rumah, mobil, atau di sekitar Si Kecil.
Kalau gumoh sangat sering, Mommy mungkin tergoda mengganti susu, mengentalkan susu, atau memberikan obat refluks sendiri.
Sebaiknya jangan dilakukan tanpa arahan dokter. Pada kondisi tertentu, dokter memang dapat merekomendasikan perubahan pola makan atau formula, tetapi keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi bayi.
Boleh dan tetap harus.
Bayi dengan refluks atau yang sering gumoh tetap perlu ditidurkan telentang di permukaan yang rata dan keras. Jangan menidurkan bayi tengkurap, memiringkan tubuhnya, atau meninggikan posisi kasur untuk mencegah gumoh.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa bayi sehat, termasuk yang mengalami refluks, tetap paling aman tidur telentang. Bayi memiliki refleks yang membantu melindungi jalan napas ketika gumoh, sementara tidur tengkurap justru meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome atau SIDS).
Jadi, jangan mengorbankan keamanan tidur hanya karena takut Si Kecil tersedak saat gumoh.
Tidak semua gumoh perlu dikhawatirkan. Namun, beberapa kondisi berikut perlu mendapat perhatian lebih.
Muntah yang keluar dengan sangat kuat atau menyemprot secara berulang, terutama pada bayi kecil, perlu diperiksakan.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan muntah proyektil adalah stenosis pilorus, yaitu penyempitan pada bagian bawah lambung sehingga makanan sulit masuk ke usus. Kondisi ini biasanya muncul pada beberapa minggu pertama kehidupan dan membutuhkan penanganan medis.
Muntah berwarna hijau atau kuning kehijauan dapat menunjukkan adanya empedu dan perlu segera diperiksa karena dapat berkaitan dengan sumbatan pada saluran pencernaan.
Begitu juga jika cairan yang keluar mengandung darah atau tampak seperti ampas kopi.
Segera cari pertolongan medis jika gumoh atau muntah disertai kesulitan bernapas, napas berbunyi, tersedak berulang, atau bayi tampak kesulitan bernapas.
Gumoh yang disertai berat badan sulit naik atau justru turun perlu dievaluasi. Kondisi ini dapat menunjukkan bahwa bayi tidak mendapatkan cukup asupan atau terdapat masalah lain yang memengaruhi pertumbuhannya.
Bayi yang sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, atau menunjukkan tanda dehidrasi membutuhkan pemeriksaan medis.
Salah satu tanda dehidrasi pada bayi adalah jumlah popok basah yang jauh berkurang dibanding biasanya.
Kalau Mommy ingin membantu mengurangi gumoh dari hal sederhana, jangan lupa juga memperhatikan cara menyendawakan Si Kecil setelah menyusu. Tidak semua bayi harus bersendawa sampai terdengar suara, sehingga yang lebih penting adalah melihat apakah udara yang tertelan sudah keluar dan Si Kecil terlihat nyaman. Mommy bisa pelajari lebih lanjut tentang Menyendawakan Bayi Setelah Menyusu, Perlukah Sampai Bersuara? agar tidak perlu khawatir saat Si Kecil tidak selalu bersendawa dengan suara yang terdengar.
Mommy sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika gumoh:
Terjadi sangat sering dan mulai mengganggu aktivitas bayi.
Membuat Si Kecil sulit menyusu atau menolak makan.
Disertai berat badan sulit naik atau turun.
Disertai muntah yang kuat atau menyemprot.
Berwarna hijau, kuning kehijauan, berdarah, atau seperti ampas kopi.
Disertai sesak atau gangguan pernapasan.
Disertai tanda dehidrasi.
Membuat bayi tampak sangat kesakitan, lemas, atau sulit dibangunkan.
Jika gumoh masih terjadi tetapi Si Kecil tetap aktif, mau menyusu, tidak tampak kesakitan, dan tumbuh dengan baik, biasanya kondisi tersebut tidak memerlukan pemeriksaan atau obat khusus.
Dokter akan menilai pola gumoh, cara bayi menyusu, pertumbuhan, serta gejala lain yang menyertainya. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari kemungkinan GERD atau penyebab lain.
Bayi sering gumoh umumnya normal, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Kondisi ini biasanya terjadi karena sistem pencernaan bayi masih berkembang dan isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan. Pada sebagian besar bayi, gumoh akan berkurang seiring bertambahnya usia.
Mommy dapat membantu mengurangi gumoh dengan memastikan posisi dan pelekatan menyusu nyaman, tidak memaksa bayi minum berlebihan, membantu bayi bersendawa bila diperlukan, serta menggendongnya dalam posisi tegak sekitar 20–30 menit setelah menyusu.
Yang paling penting, jangan mengubah posisi tidur bayi demi mencegah gumoh. Meskipun Si Kecil sering gumoh, bayi tetap perlu tidur telentang di permukaan yang rata dan keras.
Segera periksakan Si Kecil jika gumoh berubah menjadi muntah yang menyemprot, berwarna hijau atau mengandung darah, disertai sesak, dehidrasi, berat badan tidak bertambah, atau bayi tampak sangat lemas dan sulit menyusu.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.