Bayi Berkeringat Saat Menyusu, Normal atau Tanda ASI Kurang?

Momuung.com – Pernah nggak saat menyusui, Si Kecil tiba-tiba berkeringat di dahi atau leher sampai terlihat lepek? Banyak yang langsung mengaitkan kondisi ini dengan ASI kurang, padahal itu adalah mitos ya, Mom. Bayi berkeringat saat menyusu bisa terjadi karena berbagai hal yang normal secara medis.
Yuk pahami fakta lengkapnya supaya Mommy nggak perlu lagi cemas atau merasa bersalah saat menyusui. Buibu, baca selengkapnya di sini ya!
DAFTAR ISI
Mengapa Bayi Berkeringat Saat Menyusu?
Bayi berkeringat saat menyusu adalah hal yang cukup sering terjadi dan umumnya masih normal ya, Mom. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini biasanya bukan tanda ASI kurang, melainkan respons alami tubuh bayi yang masih berkembang.
Saat menyusu, tubuh bayi bekerja lebih aktif dari yang kita bayangkan. Menurut American Academy of Pediatrics (2012), proses menyusu melibatkan koordinasi tiga fungsi sekaligus, yaitu mengisap, menelan, dan bernapas. Aktivitas ini membutuhkan energi yang cukup besar sehingga metabolisme bayi meningkat dan menghasilkan panas. Sebenarnya, tubuh bayi lebih sering melepaskan panas melalui evaporasi, yaitu penguapan panas dari permukaan kulit. Karena itu, peningkatan suhu tubuh saat menyusu tidak selalu membuat bayi berkeringat. Namun, pada beberapa bayi, terutama jika suhu lingkungan hangat atau aktivitas menyusunya lebih berat, panas tersebut juga dapat dikeluarkan melalui kelenjar keringat sehingga Mommy melihat kepala atau leher bayi tampak berkeringat.
Selain itu, kemampuan mengatur suhu tubuh atau thermoregulation pada bayi baru lahir belum sempurna. Open Recources for Nursing (2025) dalam NCBI menjelaskan bahwa bayi lebih mudah mengalami perubahan suhu, terutama di area kepala dan leher yang memang memiliki aktivitas kelenjar keringat lebih tinggi.
Kontak kulit saat menyusu atau skin-to-skin contact juga dapat berpengaruh. Kontak ini membantu stabilisasi bayi dan bonding, tetapi juga bisa membuat suhu tubuh bayi sedikit meningkat secara sementara karena adanya transfer panas dari tubuh Mommy.
Ringkasnya, kondisi ini terjadi karena:
- Menyusu adalah aktivitas fisik yang menguras energi dan meningkatkan metabolisme
- Sistem thermoregulation bayi belum matang sehingga mudah bereaksi terhadap perubahan suhu
- Skin-to-skin contact dapat menambah kehangatan pada tubuh bayi
3 Cara Mengurangi Bayi Gerah dan Berkeringat Saat Menyusu
Keringat saat menyusu memang normal, tetapi jika bayi terlihat terlalu basah atau tidak nyaman, Mommy bisa membantu mengurangi rasa gerahnya dengan beberapa penyesuaian berikut ini.
1. Pilih Pakaian dengan bahan tipis dan Menyerap Keringat
Saat menyusui, pastikan Si Kecil memakai pakaian yang nyaman dan tidak membuatnya terlalu panas.
- Gunakan bahan katun yang lembut dan breathable
- Hindari pakaian berlapis saat di dalam ruangan
- Lepaskan bedong, sarung tangan, atau topi jika tidak diperlukan
2. Perbaiki Posisi Menyusui dan Deep Latch
Posisi dan pelekatan menyusui yang kurang optimal dapat membuat proses menyusu menjadi kurang efisien. Akibatnya, bayi berusaha lebih keras untuk mendapatkan ASI sehingga energi yang dikeluarkan menjadi lebih banyak dan keringat dapat muncul lebih sering saat menyusu. menyusui yang kurang tepat sering membuat bayi harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk mendapatkan ASI.
Agar proses menyusui lebih nyaman dan efisien, Mommy bisa memperhatikan beberapa hal berikut:
- Posisikan kepala dan leher bayi sejajar serta tersanggah dengan baik
Pastikan kepala bayi tidak menoleh terlalu jauh ke samping atau menunduk. Gunakan tangan atau bantal menyusui agar kepala dan lehernya berada dalam posisi lurus dan stabil, sehingga bayi tidak perlu “berjuang” saat menyusu. - Jaga agar hidung bayi tetap bebas
Pastikan hidung bayi tidak tertutup atau tertekan oleh payudara saat menyusu. Dengan begitu, bayi dapat bernapas dengan lebih nyaman tanpa harus sering melepaskan pelekatan untuk mengambil napas. Posisi ini juga membantu proses menyusu menjadi lebih tenang, efektif, dan tidak membuat bayi mengeluarkan energi berlebihan. - Pastikan deep latch terbentuk dengan benar
Deep latch atau pelekatan dalam terjadi ketika mulut bayi terbuka lebar dan tidak hanya mengenai puting, tetapi juga sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Tanda pelekatan yang baik biasanya terlihat dari bibir bayi yang melengkung keluar (dower), dagu yang menempel ke payudara, serta isapan yang terlihat ritmis (La Leche League Great Britain [LLLGB], 2026).

3. Jaga Suhu Ruangan Tetap Nyaman
Kenyamanan ruangan saat menyusui juga berpengaruh pada kenyamanan Si Kecil. Jika ruangan terlalu panas, bayi bisa lebih mudah berkeringat, rewel, dan cepat lelah saat menyusu. Sebaliknya, ruangan yang terlalu dingin juga dapat membuat bayi merasa tidak nyaman.
Selain suhu ruangan, jenis pakaian yang dikenakan bayi juga memengaruhi suhu tubuhnya. Karena itu, Mommy tidak perlu terpaku pada satu angka suhu tertentu. Yang terpenting, sesuaikan suhu ruangan dengan pakaian bayi dan perhatikan tanda-tanda kenyamanannya (Layla Sleep, 2025).
Agar Si Kecil tetap nyaman saat menyusu, Mommy bisa memperhatikan beberapa hal berikut:
Sesuaikan suhu ruangan dengan pakaian bayi
- Suhu 24-26°C umumnya sudah cukup nyaman di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Pada suhu ini, bayi cukup mengenakan popok saja atau short sleeve bodysuit (baju lengan pendek) berbahan katun tipis (Layla Sleep, 2024).
- Suhu 22-24°C cocok dipadukan dengan short sleeve bodysuit atau long sleeve bodysuit berbahan katun tipis.
- Suhu 20-22°C biasanya memerlukan long sleeve bodysuit yang dipadukan dengan sleep sack atau pakaian tidur agar bayi tetap hangat.
- Suhu 16-20°C dapat menggunakan long sleeve bodysuit ditambah sleep sack atau pakaian tidur, terutama bila ruangan menggunakan AC dengan suhu cukup rendah.
Ventilasi udara harus tetap berjalan baik
Artinya udara di dalam ruangan tidak terjebak dan pengap. Bisa dilakukan dengan:
- Membuka jendela secara berkala untuk pertukaran udara segar
- Menggunakan ventilasi silang (cross ventilation) agar udara masuk dan keluar dari arah berbeda
- Memastikan ruangan tidak terlalu lembap atau terlalu tertutup dalam waktu lama
Penggunaan AC atau kipas perlu diatur dengan tepat
- Boleh digunakan untuk membantu menjaga suhu ruangan tetap nyaman.
- Hindari mengarahkan hembusan udara langsung ke wajah atau tubuh bayi. kepala bayi
- Gunakan aliran udara yang lembut agar bayi tetap nyaman dan tidak kedinginan.

Kapan Mommy Harus Waspada? Perhatikan Tanda-Tanda Ini
Pada sebagian besar kasus, bayi berkeringat saat menyusu merupakan kondisi yang normal dan tidak selalu menandakan adanya masalah pada proses menyusui. Namun, jika keringat muncul bersamaan dengan tanda-tanda berikut, Mommy perlu memperhatikan kemungkinan adanya kendala pada proses menyusu atau kondisi kesehatan lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
- Bayi terlihat menyusu cepat dan terus-menerus, tetapi suara menelan ASI sangat jarang terdengar
- Sering melepas dan menempel kembali ke payudara, tampak mudah frustasifrustrasi saat menyusu
- Terdengar bunyi “klik” saat bayi menghisap
- Pipi bayi tampak masuk ke dalam saat proses menyusu
- Durasi menyusu cukup lama (lebih dari 45 menit), tapi bayi tetap terlihat belum puas
- Bayi tampak sangat rewel, frustrasi, atau justru langsung tertidur karena kelelahan, bukan karena sudah kenyang
Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya dilakukan evaluasi lebih lanjut bersama konselor laktasi atau dokter anak untuk melihat kemungkinan penyebab seperti pelekatan yang kurang tepat, kekuatan hisapan bayi, atau kondisi oral tertentu.
Mommy juga perlu segera berkonsultasi dengan dokter anak apabila keringat saat menyusu disertai tanda-tanda berikut:
- Keringat muncul sangat banyak dan terjadi hampir setiap kali menyusu.
- Napas tampak lebih cepat dari biasanya atau bayi terlihat sesak saat menyusu.
- Bibir, lidah, atau kuku tampak kebiruan.
- Berat badan sulit naik atau tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan.
- Bayi tampak sangat mudah lelah, sering berhenti menyusu, atau tidak mampu menyusu dalam waktu yang cukup.
Kalau Si Kecil juga sering terlihat tidak nyaman atau menangis di luar waktu menyusu, Mommy bisa lanjut membaca artikel “Bayi Terbangun dan Menangis Setelah Menyusu? Ini 4 Penyebabnya” untuk membantu memahami kemungkinan faktor lain yang memengaruhi kenyamanan bayi.
Kesimpulan
Pada sebagian besar kasus, bayi berkeringat saat menyusu merupakan kondisi yang normal dan tidak selalu berkaitan dengan masalah pertumbuhan maupun kenaikan berat badan. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apakah pelekatan sudah tepat dan tanda-tanda kecukupan ASI pada bayi sudah terpenuhi.
Beberapa tanda bahwa Si Kecil mendapatkan ASI yang cukup antara lain:
- Buang air kecil (BAK) minimal 6 kali dalam 24 jam setelah usia bayi lebih dari 5 hari.
- Berat badan bertambah sesuai kurva pertumbuhan.
- Bayi tampak aktif dan responsif saat terjaga.
- Bayi terlihat puas dan lebih tenang setelah menyusu.
- Terdengar suara menelan selama proses menyusu.
- Frekuensi menyusu sesuai kebutuhan bayi dan berlangsung efektif.
Untuk membedakan apakah bayi tertidur karena kenyang atau karena kelelahan saat menyusu, Mommy juga bisa memperhatikan beberapa tanda sederhana. Bayi yang sudah kenyang biasanya akan melepas payudara dengan sendirinya, tubuh tampak lebih rileks, telapak tangan terbuka, dan tetap menunjukkan tanda-tanda kecukupan ASI seperti popok basah yang cukup serta pertumbuhan yang baik. Sebaliknya, bayi yang kelelahan saat menyusu dapat tertidur sebelum sesi menyusu selesai, masih menempel pada payudara, atau tampak belum puas setelah terbangun kembali.
Apabila bayi sering berkeringat saat menyusu disertai kesulitan menyusu, kenaikan berat badan yang kurang optimal, atau Mommy merasa ragu apakah proses menyusui sudah berjalan efektif, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi dari Mom Uung untuk mendapatkan pendampingan yang lebih sesuai dengan kondisi Si Kecil.
Sumber
- La Leche League Great Britain. (2026). Positioning & attachment. https://laleche.org.uk/positioning-attachment/
- Layla Sleep. (2024). What is the ideal room temperature for babies? https://laylasleep.com/blog/sleep-issues-solutions/ideal-room-temperature-babies/?srsltid=AfmBOoqlDGWai4u5OwBqCLwnyDoAgdqJcT0JWo2tJiIgNFlECDOIWYZG
- Open Resources for Nursing. (2025). Healthy newborn care (Chapter 12). In K. Ernstmeyer & E. Christman (Eds.), Nursing health promotion. Chippewa Valley Technical College. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK615345/
- Section on Breastfeeding, Eidelman, A. I., Schanler, R. J., Johnston, M., Landers, S., Noble, L., Szucs, K., & Viehmann, L. (2012). Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics, 129(3), e827-e841. https://publications.aap.org/pediatrics/article/129/3/e827/31785/Breastfeeding-and-the-Use-of-Human-Milk?autologincheck=redirected
- WebMD. (2025). What’s the right room temperature for a baby? https://www.webmd.com/baby/what-is-the-right-room-temperature-for-a-baby
Komentar / Tanya Dokter Spesialist
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









