
Momuung.com – Si Kecil lebih suka menyusu di satu payudara? Kondisi ini cukup sering membuat Mommy bertanya-tanya, terutama jika bayi selalu menolak saat ditawarkan payudara di sisi lainnya.
Sebagian orang kemudian mengaitkannya dengan tortikolis atau kondisi leher yang terlihat kaku. Tapi, apakah menyusu hanya di satu sisi bisa menyebabkan tortikolis?
Jawabannya, belum ada bukti bahwa menyusu hanya di satu sisi payudara secara langsung menyebabkan tortikolis. Justru, bayi yang mengalami tortikolis bisa memiliki preferensi menyusu di satu sisi karena posisi tersebut terasa lebih nyaman bagi lehernya.
Jadi, kalau Si Kecil selalu memilih satu payudara, Mommy tidak perlu langsung panik. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah preferensi tersebut mungkin berkaitan dengan keterbatasan gerak leher.
Pada bayi dengan tortikolis, gerakan leher bisa menjadi tidak seimbang. Misalnya, bayi lebih mudah menoleh ke satu arah dan kesulitan saat harus menghadap ke arah lainnya.
Kondisi ini dapat membuat posisi menyusu tertentu terasa tidak nyaman. Akibatnya, bayi mungkin lebih menyukai salah satu payudara karena posisi tersebut memungkinkan kepala dan lehernya tetap berada pada arah yang terasa nyaman.
Pedoman APTA juga menyebutkan bahwa bayi dengan congenital muscular torticollis (CMT) dapat mengalami tantangan saat menyusu, termasuk preferensi menyusu di satu sisi.
Namun, bayi menyusu satu sisi tidak otomatis berarti mengalami tortikolis. Preferensi payudara juga dapat dipengaruhi oleh hal lain, seperti:
Karena itu, Mommy perlu melihat apakah preferensi menyusu tersebut disertai tanda lain pada gerakan kepala dan leher.
Tortikolis adalah kondisi ketika posisi atau gerakan kepala dan leher bayi tampak tidak simetris. Bayi bisa terlihat terus memiringkan kepala ke satu sisi atau lebih sulit menoleh ke arah tertentu.
Salah satu jenis yang paling sering ditemukan pada bayi adalah congenital muscular torticollis (CMT). Pada kondisi ini, otot sternocleidomastoid atau SCM di salah satu sisi leher mengalami pemendekan atau ketegangan sehingga gerakan kepala menjadi terbatas.
Meski disebut congenital, tanda CMT dapat terlihat sejak lahir maupun mulai tampak dalam beberapa minggu pertama kehidupan.
Tortikolis juga tidak selalu disebabkan oleh otot. Keterbatasan gerak leher dapat berkaitan dengan kondisi lain, termasuk masalah penglihatan, kelainan struktur tulang, gangguan neurologis, nyeri, atau kondisi medis lainnya. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Beberapa hal yang bisa Mommy perhatikan antara lain:
Jika beberapa tanda tersebut muncul bersamaan, sebaiknya Mommy tidak hanya memperhatikan perilaku menyusunya, tetapi juga gerakan kepala dan lehernya.
Tortikolis pada bayi memiliki beberapa kemungkinan penyebab. Pada CMT, masalah utamanya berkaitan dengan otot leher, tetapi faktor lain juga bisa berperan.
Pada CMT, otot SCM di salah satu sisi leher menjadi lebih pendek atau tegang. Kondisi tersebut membuat bayi cenderung mempertahankan kepala pada posisi tertentu dan memiliki keterbatasan gerak ke arah lainnya.
Beberapa kondisi yang sering ditemukan bersamaan dengan CMT antara lain posisi janin tertentu, ruang gerak yang terbatas, kehamilan kembar, serta persalinan yang sulit. Namun, faktor-faktor tersebut bukan berarti pasti menyebabkan tortikolis.
Ada bayi yang memang lebih sering melihat atau mempertahankan kepala pada satu arah. Kondisi ini disebut positional preference.
Preferensi posisi dan tortikolis dapat ditemukan bersamaan, tetapi keduanya tidak selalu sama.
Jika kepala bayi terus berada pada posisi yang sama, tekanan pada salah satu sisi kepala juga dapat meningkat dan berhubungan dengan risiko positional plagiocephaly, yaitu kepala tampak lebih datar di salah satu sisi.
Tidak semua keterbatasan gerak leher berasal dari SCM. Karena itu, bila posisi kepala bayi tampak tidak simetris, tenaga kesehatan juga dapat mempertimbangkan kondisi lain seperti gangguan penglihatan, kelainan tulang, masalah neurologis, nyeri, atau kondisi medis tertentu.
Coba amati Si Kecil saat menyusu maupun saat bermain.
Perhatikan apakah ia:
Satu tanda saja belum tentu menunjukkan tortikolis. Namun, jika beberapa tanda muncul bersamaan dan berlangsung terus-menerus, sebaiknya Mommy berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis anak.
Menyusu hanya dari satu payudara tidak menyebabkan tortikolis, tetapi frekuensi menyusu atau memerah memang dapat memengaruhi produksi ASI pada masing-masing payudara.
Payudara yang lebih sering mendapatkan stimulasi dan dikosongkan akan menerima sinyal untuk terus memproduksi ASI. Sebaliknya, payudara yang lebih jarang dikosongkan dapat mengalami penurunan produksi secara bertahap.
Karena itu, jika Si Kecil terus menyusu dari satu sisi, Mommy mungkin melihat:
Untuk menjaga kenyamanan, Mommy dapat memerah payudara yang jarang digunakan sesuai kebutuhan.
Kalau Si Kecil hanya mau menyusu di satu sisi, fokus utamanya bukan memaksa bayi berpindah payudara, tetapi mencari tahu mengapa posisi tertentu terasa lebih nyaman baginya.
Beberapa posisi menyusui dapat dicoba untuk mencari posisi yang membuat bayi lebih nyaman.
Football hold atau rugby hold menempatkan tubuh bayi di samping tubuh Mommy, sementara kepala dan leher bayi tetap disangga.
Posisi ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk mencoba menawarkan payudara dari sisi yang sebelumnya ditolak, selama bayi tetap nyaman dan pelekatan baik.
Side-lying position juga dapat dicoba saat Mommy dan bayi sedang terjaga. Pastikan wajah dan hidung bayi tetap bebas sehingga jalan napas tidak tertutup.
Yang perlu diingat, posisi menyusui sambil menyamping berbeda dengan posisi tidur menyamping. Untuk tidur, bayi tetap perlu diletakkan telentang di permukaan tidur yang datar dan aman.
Saat bayi sedang terjaga, Mommy bisa mengajak Si Kecil melihat ke kanan dan kiri secara alami.
Caranya bisa sederhana:
Tidak perlu memutar kepala bayi secara paksa. Tujuannya adalah memberikan kesempatan untuk bergerak ke kedua sisi dengan nyaman.
Tummy time merupakan aktivitas sederhana yang dapat membantu melatih kekuatan otot leher, bahu, dan tubuh bayi sekaligus mendukung perkembangan motoriknya.
Lakukan saat Si Kecil sedang terjaga dan selalu dalam pengawasan. Mommy bisa memulainya dari durasi singkat, lalu menyesuaikannya secara bertahap sesuai kemampuan dan kenyamanan bayi.
Supaya tummy time terasa lebih menyenangkan, Mommy bisa:
Kalau Si Kecil justru sering menangis atau rewel saat tummy time, jangan langsung berhenti mencoba, ya, Mommy. Bisa jadi ada beberapa hal dalam pelaksanaannya yang membuat bayi kurang nyaman. Mommy bisa cek juga 5 Kesalahan Tummy Time yang Sering Bikin Bayi Menangis & Rewel agar aktivitas ini tetap terasa nyaman dan menyenangkan untuk Si Kecil.
Kalau Mommy mencurigai tortikolis, hindari melakukan gerakan peregangan leher secara paksa tanpa arahan tenaga kesehatan.
Pada bayi dengan CMT, fisioterapis dapat memberikan latihan gerak dan strategi posisi yang disesuaikan dengan kondisi Si Kecil. Pedoman APTA merekomendasikan penanganan yang mencakup latihan gerak leher, gerakan aktif, stimulasi gerak yang lebih simetris, penyesuaian lingkungan, serta edukasi untuk orang tua.
Sebaiknya konsultasikan ke dokter jika Mommy melihat:
Pemeriksaan lebih lanjut penting untuk mengetahui apakah bayi mengalami CMT atau justru memiliki penyebab lain yang membutuhkan penanganan berbeda. APTA juga merekomendasikan evaluasi lebih awal ketika ditemukan postural preference, keterbatasan gerak leher, atau tanda asimetri lainnya.
Menyusu hanya di satu payudara tidak terbukti menjadi penyebab langsung tortikolis. Justru, bayi yang mengalami keterbatasan gerak leher dapat lebih menyukai satu payudara karena posisi tersebut terasa lebih nyaman.
Jadi, kalau Si Kecil hanya mau menyusu di satu sisi, Mommy tidak perlu langsung menganggapnya sebagai tortikolis.
Coba perhatikan apakah ada tanda lain seperti kepala yang selalu miring, kesulitan menoleh ke satu arah, atau ketidaknyamanan saat mengubah posisi kepala. Jika tanda-tanda tersebut muncul dan menetap, pemeriksaan oleh dokter atau fisioterapis anak dapat membantu mengetahui penyebabnya lebih dini.
Selama prosesnya, Mommy bisa tetap mendukung gerakan tubuh yang simetris melalui variasi posisi menyusui, stimulasi kedua sisi, dan tummy time yang dilakukan dengan aman dan sesuai usia.
Untuk masalah posisi menyusui atau Si Kecil yang terus menolak salah satu payudara, Mommy juga bisa berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung untuk mendapatkan pendampingan sesuai kondisi Mommy dan Si Kecil.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.