
Momuung.com – Pernah merasa cemas karena sudah 12 bulan menikah tetapi belum juga mendapatkan momongan? Wajar kalau Mommy dan Papa mulai bertanya-tanya, apakah ada yang perlu diperiksa atau kapan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Tenang, belum hamil setelah satu tahun bukan berarti pasti ada masalah. Yuk, pahami kapan pemeriksaan Kesuburan diperlukan, apa saja yang biasanya diperiksa, dan langkah yang bisa Mommy dan Papa lakukan. Baca artikel selengkapnya, ya!
Pada pasangan dengan Mommy yang berusia di bawah 35 tahun, evaluasi kesuburan umumnya dianjurkan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara rutin tanpa kontrasepsi tetapi belum terjadi kehamilan (ASRM, 2021).
Sementara itu, batas waktunya bisa lebih singkat, yaitu 6 bulan, jika Mommy berusia lebih tua (> 35 tahun )atau memiliki kondisi tertentu yang berpotensi mempengaruhi kesuburan.
Pemeriksaan kesuburan bertujuan untuk mencari tahu apakah terdapat faktor yang dapat menghambat terjadinya kehamilan, sehingga dokter dapat menentukan langkah yang paling sesuai.
Yang juga penting, evaluasi kesuburan sebaiknya melibatkan kedua pasangan. Faktor perempuan, laki-laki, kombinasi keduanya, atau bahkan penyebab yang belum dapat ditemukan (unexplained infertility) dapat berperan dalam kesulitan mendapatkan kehamilan (ASRM, 2021).
Tidak semua pasangan perlu menunggu sampai 12 bulan. Ada kondisi tertentu yang membuat konsultasi lebih awal menjadi pilihan yang lebih tepat.
Selain lama mencoba hamil, dokter akan mempertimbangkan usia, pola menstruasi, riwayat kesehatan reproduksi, serta kondisi kesehatan Mommy dan Papa. Dengan begitu, pemeriksaan dapat dilakukan sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti batas waktu tertentu.
Usia merupakan salah satu faktor penting dalam kesuburan perempuan. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur (oocyte) cenderung menurun. Penurunan ini dapat membuat peluang untuk hamil berkurang dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kehamilan menjadi lebih lama (Mayo Clinic, 2025).
Karena itu, jika Mommy berusia 35 tahun atau lebih dan sudah mencoba hamil selama 6 bulan tanpa kontrasepsi tetapi belum berhasil, sebaiknya mulai berkonsultasi dengan dokter mengenai evaluasi kesuburan (ASRM, 2021).
Konsultasi lebih awal bukan berarti Mommy pasti mengalami gangguan kesuburan. Justru, langkah ini memberi kesempatan untuk mengetahui kondisi reproduksi lebih cepat jika memang terdapat faktor yang perlu ditangani.
Jika Mommy sudah berusia lebih dari 40 tahun, konsultasi sebaiknya dilakukan lebih segera dan tidak perlu menunggu sampai 6 atau 12 bulan.
Seiring bertambahnya usia, cadangan dan kualitas sel telur mengalami penurunan. Usia yang lebih tua juga berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran dan kelainan kromosom pada kehamilan (Mayo Clinic, 2025).
Karena itu, jika Mommy berusia lebih dari 40 tahun dan sedang merencanakan kehamilan, diskusikan kondisi kesehatan serta pilihan evaluasi kesuburan dengan dokter sejak awal.
Pola menstruasi dapat memberikan gambaran mengenai apakah ovulasi berlangsung secara teratur. Ovulasi adalah proses ketika ovarium melepaskan sel telur yang dapat dibuahi oleh sperma.
Jika siklus menstruasi sangat tidak teratur, jarak antara haid terlalu panjang, atau Mommy tidak mengalami menstruasi (amenorrhea), kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan ovulasi (ovulatory disorder) (Mayo Clinic, 2021).
Perhatikan beberapa tanda berikut:
Jika kondisi tersebut terjadi, Mommy tidak harus menunggu hingga 12 bulan untuk berkonsultasi. Dokter dapat mencari tahu penyebab gangguan menstruasi sekaligus menilai apakah ovulasi berlangsung dengan baik (ASRM, 2021).
Beberapa kondisi medis atau riwayat kesehatan dapat berkaitan dengan kesuburan. Jika Mommy sudah mengetahui memiliki kondisi tertentu, konsultasi lebih awal dapat membantu dokter menentukan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
Memiliki salah satu kondisi tersebut tidak otomatis berarti Mommy akan sulit hamil. Namun, informasi ini penting disampaikan kepada dokter agar evaluasi dapat disesuaikan dengan kondisi Mommy (ASRM, 2021; Mayo Clinic, 2021).
Kesuburan bukan hanya persoalan perempuan. Faktor laki-laki juga dapat berperan dalam infertilitas, sehingga Papa sebaiknya ikut dievaluasi, terutama jika memiliki riwayat kondisi yang dapat memengaruhi produksi atau fungsi sperma.
Beberapa hal yang perlu disampaikan kepada dokter antara lain:
Pada evaluasi awal, dokter dapat merekomendasikan analisis sperma (semen analysis) untuk melihat karakteristik sperma, termasuk konsentrasi, motilitas, dan morfologi (Schlegel et al., 2021).
Selain kondisi kesehatan reproduksi, selama merencanakan kehamilan atau menjalani masa kehamilan, Mommy mungkin juga menemukan berbagai informasi tentang perubahan tubuh yang dikaitkan dengan kondisi Si Kecil. Tidak semuanya berdasarkan fakta medis, lho. Salah satunya adalah anggapan bahwa asam lambung saat hamil menjadi tanda rambut bayi akan tumbuh lebat. Yuk, cari tahu penjelasan lengkapnya dalam artikel Asam Lambung Saat Hamil Tanda Rambut Bayi Lebat? Ini Faktanya.

Setelah mengetahui kapan perlu berkonsultasi, Mommy dan Papa mungkin bertanya, “Nanti yang diperiksa siapa?”
Jawabannya,WAJIB KEDUANYA.
Evaluasi kesuburan dilakukan untuk mencari kemungkinan faktor yang mempengaruhi kehamilan. Faktor tersebut bisa berasal dari sistem reproduksi perempuan, laki-laki, keduanya, atau pada sebagian pasangan penyebabnya belum dapat ditemukan meskipun pemeriksaan sudah dilakukan.
Pemeriksaan tidak selalu berarti Mommy harus menjalani banyak tes sekaligus. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan usia, siklus menstruasi, riwayat kesehatan, lama mencoba hamil, dan hasil pemeriksaan awal.
Beberapa pemeriksaan yang mungkin dipertimbangkan antara lain:
Evaluasi Papa biasanya dimulai dengan wawancara mengenai riwayat kesehatan dan reproduksi, kemudian dapat dilanjutkan dengan analisis sperma (semen analysis) sebagai salah satu pemeriksaan utama.
Pemeriksaan ini dapat menilai:
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan ulang atau evaluasi tambahan. Satu hasil analisis sperma juga tidak selalu dapat menggambarkan kesuburan Papa secara keseluruhan, sehingga hasilnya perlu dinilai bersama riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis (Schlegel et al., 2021).
Tidak selalu, Mom.
Pemeriksaan kesuburan bertujuan memahami kondisi Mommy dan Papa terlebih dahulu. Setelah penyebab atau faktor yang mungkin berperan diketahui, dokter akan membantu menentukan pilihan yang paling sesuai.
Penanganannya dapat berbeda pada setiap pasangan, misalnya:
Jadi, pemeriksaan kesuburan tidak otomatis berarti Mommy dan Papa harus menjalani bayi tabung atau prosedur medis lainnya. Langkah berikutnya ditentukan berdasarkan hasil evaluasi dan kondisi masing-masing pasangan.
Kalau ingin mengingatnya dengan lebih sederhana, gunakan panduan berikut:
Sudah 1 tahun menikah tetapi belum hamil bukan berarti Mommy atau Papa pasti mengalami masalah kesuburan. Namun, jika sudah rutin mencoba hamil tanpa kontrasepsi selama 12 bulan, atau lebih cepat jika Mommy berusia 35 tahun ke atas maupun memiliki faktor risiko tertentu, konsultasi dengan dokter dapat menjadi langkah yang tepat.
Pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan bersama Mommy dan Papa agar faktor yang mungkin mempengaruhi kehamilan dapat diketahui dengan lebih menyeluruh. Jadi, tidak perlu saling menyalahkan, ya, Mom. Kenali kondisinya, periksa bila diperlukan, dan jalani langkah berikutnya bersama-sama.
Sambil menjalani prosesnya, Mommy juga bisa mulai mengenali berbagai perubahan tubuh yang mungkin muncul ketika kehamilan akhirnya terjadi. Yuk, kenali lebih jauh Ciri-Ciri Hamil Muda yang Paling Umum, Kenali Tandanya agar Mommy dapat mengetahui tanda-tanda awal kehamilan dengan lebih baik.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Agus Heriyanto, Sp.OG., MARS.MM.CHt atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.