Pembukaan 1-10 cm Saat Melahirkan, Ini Tahapannya

Momuung.com – Mendekati HPL, wajar kalau Mommy mulai deg-degan membayangkan proses persalinan, apalagi saat mendengar istilah pembukaan 1 hingga pembukaan lengkap. Sebenarnya, seperti apa gambaran ukuran Pembukaan Persalinan dalam konteks kehamilan dan menyusui | Mom Uung" class="glossary-link">pembukaan persalinan dan apa yang perlu Mommy lakukan di setiap tahapnya?
Yuk, kenali gambaran pembukaan 1-10 cm dan panduan yang perlu Mommy tahu agar lebih siap menghadapi hari-H. Baca artikel selengkapnya, yuk, Mom!
DAFTAR ISI
Gambaran Ukuran Pembukaan Persalinan 1-10 cm
Pembukaan persalinan menunjukkan seberapa lebar serviks atau leher rahim membuka selama proses persalinan. Pengukurannya dilakukan dalam sentimeter (cm), mulai dari pembukaan awal hingga 10 cm, yang disebut pembukaan lengkap (complete cervical dilation).
Agar lebih mudah dibayangkan, Mommy bisa melihat gambaran sederhananya berikut:
- 1 cm: pembukaan masih sangat kecil, kira-kira selebar ujung jari.
- 2 cm: mulai terbuka lebih lebar dibandingkan pembukaan awal.
- 3 cm: serviks mulai mengalami pembukaan yang lebih nyata.
- 4 cm: pembukaan sudah cukup besar dan pada beberapa pedoman dapat menjadi awal established first stage.
- 5 cm: pembukaan semakin berkembang dan persalinan biasanya mulai menunjukkan perubahan yang lebih cepat.
- 6 cm: sekitar sebesar diameter bagian atas kaleng minuman. Menurut ACOG, 6 cm menjadi batas dimulainya Fase Aktif Persalinan.
- 7 cm: serviks semakin mendekati pembukaan lengkap.
- 8 cm: pembukaan sudah sangat lebar dan kontraksi biasanya semakin kuat.
- 9 cm: serviks hampir membuka sepenuhnya.
- 10 cm: serviks sudah membuka lengkap dan Mommy dapat memasuki kala II persalinan, yaitu tahap ketika bayi dilahirkan (ACOG, 2024).

Pembukaan 1-4 cm: Fase Awal Persalinan
Pada tahap awal, tubuh mulai mempersiapkan jalan lahir. Serviks perlahan menjadi lebih lunak, menipis (effacement), kemudian membuka (dilation). Kontraksi bisa masih ringan, tidak teratur, dan intensitasnya dapat berubah-ubah.
Menurut NICE, fase laten (latent first stage) berlangsung ketika Mommy sudah mengalami kontraksi dan mulai terjadi perubahan pada serviks, termasuk penipisan dan pembukaan hingga sekitar 4 cm. Setelah itu, NICE mendefinisikan established first stage sebagai kontraksi yang teratur disertai pembukaan serviks yang terus berkembang mulai dari 4 cm (NICE, 2023).
Namun, ACOG menggunakan batas yang berbeda. Menurut ACOG, fase aktif dimulai pada pembukaan 6 cm. Artinya, pembukaan 4 atau 5 cm belum tentu berarti Mommy sudah berada dalam fase aktif (ACOG, 2024).
Apa yang Bisa Mommy Lakukan?
Kalau kondisi Mommy dan Si Kecil baik dan tenaga kesehatan belum meminta Mommy segera ke fasilitas kesehatan, manfaatkan fase ini untuk beristirahat, menjaga energi, dan membuat tubuh senyaman mungkin. Pada persalinan yang berlangsung normal, asupan cairan dan makanan melalui mulut dapat diberikan selama kondisi Mommy memungkinkan, tetapi tetap mengikuti aturan dari dokter atau bidan.
- Istirahat sebanyak mungkin.
Gunakan jeda antara kontraksi untuk berbaring, tidur, atau sekadar memejamkan mata. Mommy tidak perlu terus bergerak untuk “mempercepat” pembukaan. Menyimpan energi justru penting karena persalinan membutuhkan tenaga. - Minum sedikit tetapi sering.
Tidak ada angka khusus yang wajib diminum setiap jam selama persalinan karena kebutuhan cairan tiap Mommy berbeda. Sebagai gambaran kebutuhan selama kehamilan, ACOG merekomendasikan sekitar 8-12 cangkir atau 1,9-2,8 liter cairan per hari, tetapi saat persalinan sebaiknya minum sesuai rasa haus dan arahan tenaga kesehatan.
Pilih:
- Air putih sebagai pilihan utama.
- Air mineral dingin atau suhu ruang jika lebih nyaman.
- Cairan bening lain sesuai anjuran tenaga kesehatan, terutama jika persalinan berlangsung cukup lama.
Tidak perlu memaksakan minum dalam jumlah banyak sekaligus. Lebih nyaman jika Mommy minum beberapa teguk secara berkala, terutama setelah kontraksi.
- Makan dalam porsi kecil jika masih diperbolehkan.
Jika Mommy masih berada pada fase awal persalinan dan tenaga kesehatan mengizinkan makan, pilih makanan yang ringan, mudah dicerna, dan memberikan energi, misalnya:
- Pisang atau buah lunak lainnya.
- Roti tawar atau biskuit.
- Oatmeal.
- Bubur.
- Yogurt pasteurisasi.
- Kentang atau nasi dalam porsi kecil.
- Sup ringan.
- Makanan sumber protein yang mudah dicerna, sesuai toleransi Mommy.
Tidak perlu makan dalam porsi besar. Tujuannya adalah membantu menjaga energi tanpa membuat perut terasa terlalu penuh. WHO juga merekomendasikan makanan dan cairan melalui mulut pada ibu dengan kondisi risiko rendah selama persalinan, sementara kebijakan makan dan minum dapat berbeda jika Mommy memiliki kondisi tertentu atau berpotensi membutuhkan tindakan operasi.
- Hindari makanan yang berisiko mengganggu kondisi Mommy.
Pilih makanan matang dan bersih, serta hindari makanan mentah atau kurang matang selama kehamilan, seperti telur, daging, atau seafood yang belum matang sempurna. - Bergerak sesuai kemampuan.
Jika tubuh masih nyaman, Mommy bisa berjalan perlahan, berdiri, duduk tegak, atau berganti posisi. Tidak perlu memaksakan aktivitas jika mulai lelah atau kontraksi terasa semakin kuat. - Atur nafas saat kontraksi datang.
Tarik napas perlahan melalui hidung, kemudian hembuskan dengan panjang dan rileks. Fokus pada nafas dapat membantu Mommy menghadapi rasa tidak nyaman tanpa ikut menegangkan tubuh. - Catat pola kontraksi.
Perhatikan jarak antara kontraksi, durasi setiap kontraksi, dan apakah intensitasnya semakin kuat. Catatan ini bisa membantu Mommy dan tenaga kesehatan menentukan perkembangan persalinan (ACOG, 2024).
Yang perlu Mommy ingat, pembukaan serviks tidak harus bertambah 1 cm setiap jam. Kecepatan pembukaan dapat berbeda pada setiap ibu, sehingga perkembangan persalinan perlu dinilai berdasarkan kondisi Mommy dan Si Kecil secara keseluruhan, bukan hanya angka pembukaan atau patokan waktu tertentu. ACOG saat ini mendefinisikan fase aktif persalinan mulai sekitar pembukaan 6 cm, bukan 4 cm seperti yang digunakan dalam beberapa patokan lama (WHO, 2020).
Pembukaan 5-9 cm: Persalinan Semakin Berkembang
Memasuki pembukaan yang lebih lebar, kontraksi umumnya menjadi semakin kuat, teratur, dan lebih dekat jaraknya. Serviks juga terus menipis dan membuka hingga mencapai pembukaan lengkap.
Karena itu, tenaga kesehatan tidak hanya melihat angka pembukaan. Mereka juga akan mempertimbangkan:
- Pola dan kekuatan kontraksi.
- Perubahan pembukaan serviks dari waktu ke waktu.
- Penipisan serviks (effacement).
- Posisi dan penurunan kepala bayi.
- Kondisi Mommy.
- Denyut jantung dan kondisi Si Kecil.
Apa yang Bisa Mommy Lakukan?
Jika Mommy sudah berada di fasilitas kesehatan, ikuti arahan bidan atau dokter. Untuk membantu tetap nyaman selama persalinan, Mommy dapat:
- Mengatur nafas secara perlahan saat kontraksi datang.
- Mengganti posisi sesuai kenyamanan, misalnya berdiri, berjalan ringan, duduk, berlutut, atau miring.
- Meminta dukungan pasangan atau pendamping persalinan.
- Menggunakan metode pereda nyeri yang tersedia dan sesuai kondisi Mommy.
- Tetap memenuhi kebutuhan cairan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Pembukaan 10 cm: Serviks Sudah Membuka Lengkap
Saat serviks sudah membuka 10 cm, pembukaan disebut lengkap. Ini menandai berakhirnya kala I persalinan dan dimulainya kala II, yaitu tahap ketika bayi dilahirkan.
Pada tahap ini, Mommy biasanya akan mendapatkan arahan dari bidan atau dokter mengenai proses mengejan. ACOG merekomendasikan mengejan setelah pembukaan serviks sudah lengkap, dengan tetap mempertimbangkan kondisi Mommy dan Si Kecil (ACOG, 2024).
Mommy akan dibantu untuk:
- Menentukan posisi yang nyaman untuk melahirkan.
- Mengatur nafas saat kontraksi.
- Mengikuti dorongan mengejan.
- Menyesuaikan teknik mengejan dengan arahan tenaga kesehatan.
- Memantau kondisi Mommy dan Si Kecil selama proses kelahiran.
Jadi, pembukaan 10 cm bukan berarti Mommy harus langsung mengejan sendiri tanpa arahan. Tenaga kesehatan akan membantu menentukan kapan dan bagaimana Mommy perlu mengejan berdasarkan kondisi persalinan.
Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Kenapa ada Mommy yang pembukaannya berlangsung cepat, sementara Mommy lainnya membutuhkan waktu lebih lama? Karena proses persalinan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya seberapa kuat kontraksi.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan persalinan antara lain:
- Kontraksi rahim
Kontraksi yang teratur membantu serviks mengalami penipisan (effacement) dan pembukaan (dilation). Namun, kekuatan dan pola kontraksi setiap Mommy bisa berbeda, sehingga proses pembukaannya pun tidak selalu sama. - Posisi dan penurunan bayi
Posisi kepala bayi, arah putaran kepala, serta seberapa jauh bayi turun ke panggul dapat mempengaruhi kemajuan persalinan. Karena itu, tenaga kesehatan tidak hanya melihat angka pembukaan, tetapi juga menilai penurunan dan posisi bayi selama persalinan (ACOG, 2024). - Kondisi serviks
Sebelum membuka, serviks perlu mengalami pelunakan dan penipisan terlebih dahulu. Proses ini bisa berlangsung dengan kecepatan yang berbeda pada setiap Mommy. Jadi, pembukaan tidak harus bertambah 1 cm setiap jam. - Posisi dan pergerakan Mommy
Jika kondisi Mommy memungkinkan, bergerak dan berganti posisi selama persalinan dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan kenyamanan. Mommy bisa berjalan, berdiri, duduk, berlutut, atau memilih posisi lain yang terasa nyaman. WHO mendukung mobilitas dan pilihan posisi selama persalinan pada ibu dengan kondisi yang sesuai (WHO, 2020). - Kondisi fisik dan emosional
Rasa nyaman, dukungan dari pasangan, serta teknik seperti pernapasan dan relaksasi dapat membantu Mommy menghadapi kontraksi. Namun, jangan merasa bahwa rasa takut atau cemas berarti Mommy akan mengalami persalinan yang sulit. Persalinan merupakan proses kompleks yang dipengaruhi banyak faktor.
4 Persiapan Persalinan yang Bisa Mommy Lakukan Sejak Dini
Persiapan persalinan bukan berarti harus mencari cara untuk membuat pembukaan lebih cepat. Fokusnya adalah menjaga kebugaran, memahami proses persalinan, dan mempersiapkan diri menghadapi hari-H.
1. Tetap Aktif Selama Kehamilan
Jika kehamilan Mommy sehat dan dokter tidak memberikan pembatasan aktivitas, olahraga dapat dilakukan secara rutin sesuai kemampuan.
Beberapa aktivitas yang bisa menjadi pilihan:
- Jalan kaki.
- Senam hamil.
- Prenatal yoga.
- Peregangan ringan.
- Latihan kekuatan dengan intensitas yang sesuai.
ACOG merekomendasikan sekitar 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu bagi ibu hamil yang tidak memiliki kontraindikasi. Durasi tersebut bisa dibagi menjadi beberapa sesi agar lebih nyaman (ACOG, 2020).
Namun, olahraga bukan cara yang menjamin kontraksi muncul atau pembukaan menjadi lebih cepat. Mommy juga tidak perlu meningkatkan intensitas olahraga secara tiba-tiba menjelang HPL. Selain menjaga tubuh tetap aktif, penting juga memperhatikan kebiasaan sehari-hari selama kehamilan karena beberapa kebiasaan dapat mempengaruhi kesehatan Mommy. Yuk, kenali juga Jangan Abaikan! 6 Kebiasaan yang Bisa Meningkatkan Risiko Preeklampsia Saat Hamil agar Mommy bisa lebih waspada dan menjaga kehamilan tetap sehat.
2. Gunakan Birthing Ball untuk Membantu Bergerak dengan Nyaman
Birthing ball dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk membantu Mommy menemukan posisi yang lebih nyaman selama kehamilan atau persalinan.
Mommy bisa mencoba:
- Duduk dengan kedua kaki menapak dan stabil.
- Menggerakkan panggul perlahan ke kanan dan kiri.
- Membuat gerakan melingkar kecil dengan panggul.
- Berpegangan pada pasangan jika membutuhkan bantuan keseimbangan.
Namun, birthing ball tidak menjamin panggul menjadi lebih lebar atau membuat kepala bayi langsung turun. Manfaat utamanya lebih berkaitan dengan membantu mobilitas dan memberikan pilihan posisi yang nyaman selama proses persalinan (ACOG, 2024).
Selain mempersiapkan tubuh untuk menghadapi persalinan, Mommy juga perlu memastikan kebutuhan nutrisi selama kehamilan tetap terpenuhi agar tumbuh kembang Si Kecil berjalan optimal. Mommy bisa cari tahu lebih lanjut lewat artikel 4 Kebiasaan Ibu Hamil agar Berat Badan Janin Cepat Naik dan Sehat, ya, Mom.
3. Kenali Tanda yang Membutuhkan Pemeriksaan
Selain mempersiapkan fisik, penting juga bagi Mommy untuk mengetahui kapan harus menghubungi dokter, bidan, atau pergi ke fasilitas kesehatan.
Segera cari pertolongan jika:
- Kontraksi semakin teratur, kuat, dan sering.
- Ketuban pecah.
- Terjadi perdarahan dari vagina.
- Gerakan Si Kecil berkurang dari biasanya.
- Muncul nyeri yang sangat kuat atau terasa tidak biasa.
- Muncul tanda persalinan sebelum usia kehamilan cukup bulan.
4. Siapkan Hospital Bag Lebih Awal
Hospital bag bisa Mommy siapkan sebelum mendekati HPL supaya tidak perlu terburu-buru ketika tanda persalinan mulai muncul.
Isi dengan kebutuhan penting seperti:
- Buku KIA dan dokumen yang diperlukan.
- Pakaian Mommy.
- Pakaian dan popok Si Kecil.
- Pembalut atau perlengkapan postpartum.
- Perlengkapan mandi.
- Charger dan kebutuhan pribadi.
- Perlengkapan lain sesuai arahan fasilitas kesehatan.
Kesimpulan
Memahami pembukaan persalinan 1-10 cm bisa membantu Mommy lebih siap menghadapi proses kelahiran Si Kecil. Namun, setiap persalinan memiliki perjalanan yang berbeda, sehingga angka pembukaan tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menilai kemajuan persalinan.
Yang terpenting, Mommy bisa fokus menjaga energi, tetap terhidrasi, bergerak sesuai kenyamanan, mengatur napas, dan mengikuti arahan dokter atau bidan. Jangan lupa kenali juga tanda-tanda yang membutuhkan pemeriksaan segera, seperti ketuban pecah, perdarahan, atau gerakan Si Kecil berkurang.
Jadi, tidak perlu terlalu fokus mengejar pembukaan tertentu, ya, Mom. Tubuh Mommy dan Si Kecil punya prosesnya masing-masing. Dengan persiapan yang cukup dan dukungan tenaga kesehatan, Mommy bisa menjalani hari-H dengan lebih tenang dan percaya diri.
Sumber
- American College of Obstetricians and Gynecologists. (2024). First and second stage labor management: ACOG clinical practice guideline no. 8. Obstetrics & Gynecology, 143(1), 144-162. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000005447
- American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Physical activity and exercise during pregnancy and the postpartum period: ACOG committee opinion, number 804. Obstetrics & Gynecology, 135(4), e178–e188. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003772
- National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Intrapartum care (NICE Guideline NG235). https://www.nice.org.uk/guidance/ng235
- Physical Activity and Exercise During Pregnancy and the Postpartum Period: ACOG Committee Opinion, Number 804 (2020). Obstetrics & Gynecology, 135(4), e178-e188. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003772
- World Health Organization. (2020). WHO labour care guide: User’s manual. World Health Organization. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/94326918-1f91-49a2-a857-12831cd51b91/content
Komentar / Tanya Dokter Spesialist
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Agus Heriyanto, Sp.OG., MARS.MM.CHt atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









