#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA
#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA#1 ASI BOOSTER TERUJI ILMIAH DI INDONESIA
Momuung.com – Bayi tiba-tiba menolak menyusu? Jangan langsung panik, Mom. Si Kecil yang menangis, memalingkan kepala, atau menolak payudara bisa membuat Mommy bertanya-tanya, “ASI-ku kurang, ya?” atau “Kenapa Si Kecil nggak mau nyusu lagi?”
Kondisi ini bisa disebut nursing strike dan penyebabnya cukup beragam. Jadi, sebelum buru-buru memberikan ASI lewat dot, yuk cari tahu dulu apa yang mungkin membuat Si Kecil menolak menyusu dan bagaimana cara menghadapinya dengan tepat.
Baca artikel ini selengkapnya untuk memahami penyebab bayi menolak menyusu dan tips mengatasinya.
Bayi Terlanjur Menolak Menyusu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Ketika Si Kecil tiba-tiba menolak menyusu, Mommy tidak perlu langsung menganggap bahwa ia sudah tidak mau ASI atau ingin berhenti menyusu. Jika sebelumnya bayi menyusu dengan baik lalu mendadak menolak payudara, kondisi ini dapat disebut nursing strike.
Nursing strike biasanya hanya berlangsung sementara. Menurut La Leche League International, sebagian besar bayi dapat kembali menyusu dalam beberapa hari, meskipun penyebabnya tidak selalu dapat diketahui dengan pasti (La Leche League International [LLLI], 2026).
Ada berbagai hal yang dapat memicu nursing strike, mulai dari kondisi fisik bayi hingga perubahan yang terjadi pada Mommy atau rutinitas menyusui. Beberapa di antaranya meliputi:
Bayi sedang sakit atau merasa tidak nyaman Hidung tersumbat, infeksi telinga, thrush atau jamur mulut, luka di dalam mulut, hingga rasa tidak nyaman saat tumbuh gigi dapat membuat proses mengisap terasa sakit atau tidak nyaman sehingga bayi sementara menolak menyusu (LLLI, 2026).
Perubahan rutinitas atau lingkungan Mulai bekerja kembali, bepergian, lebih sering bersama pengasuh, atau perubahan rutinitas menyusui dapat memengaruhi kenyamanan bayi. Stres atau suasana yang lebih ramai juga dapat membuat proses menyusu terganggu. Selain itu, mulai sekitar usia 3-4 bulan, Si Kecil biasanya semakin tertarik dengan lingkungan di sekitarnya sehingga lebih mudah terdistraksi saat menyusu. Mommy bisa mencoba menyusui di tempat yang lebih tenang dengan distraksi minimal.
Perubahan pada aroma Mommy Bayi dapat menyadari perubahan aroma tubuh Mommy, misalnya setelah menggunakan sabun, parfum, losion, atau deodoran yang berbeda. Perubahan aroma ini terkadang dapat membuat Si Kecil kurang nyaman atau enggan menyusu untuk sementara waktu.
Perubahan pengalaman saat menyusu Berbagai pengalaman saat menyusu dapat memengaruhi kenyamanan bayi dan membuatnya sementara menolak payudara. Beberapa di antaranya meliputi:
Bayi dipaksa menyusu Memaksa bayi untuk menyusu ketika ia sedang menolak atau belum siap dapat membuat pengalaman menyusu terasa tidak nyaman. Karena itu, Mommy sebaiknya menghindari memaksa dan mencoba menawarkan payudara kembali saat Si Kecil sudah lebih tenang.
Perubahan dari menyusu langsung ke media lain Penggunaan botol atau empeng pada sebagian bayi dapat memengaruhi pola menyusu langsung, terutama jika frekuensi menyusu di payudara ikut berkurang. Kondisi ini perlu dievaluasi berdasarkan kebiasaan dan respons masing-masing bayi.
Perubahan produksi ASI Beberapa kondisi dapat menyebabkan produksi ASI menurun sementara, seperti kehamilan baru, ovulasi, berkurangnya frekuensi atau durasi memerah ASI, sedang sakit, atau penggunaan obat tertentu termasuk beberapa jenis kontrasepsi. Perubahan ini dapat memengaruhi pengalaman bayi saat menyusu.
Aliran ASI terlalu deras Strong or overactive let-down atau refleks pengeluaran ASI yang terlalu deras dapat membuat ASI keluar dengan cepat sehingga bayi merasa kewalahan, batuk, tersedak, atau sering melepas payudara. Jika pengalaman ini berulang, bayi dapat menjadi enggan menyusu untuk sementara.
Pelekatan (latch) atau posisi menyusui kurang nyaman Posisi atau pelekatan yang kurang optimal dapat membuat bayi lebih sulit mendapatkan ASI dan membuat proses menyusu terasa tidak nyaman. Jika Mommy mengalami puting nyeri atau lecet, teknik pelekatan juga sebaiknya dievaluasi.
Jika Si Kecil masih menolak menyusu langsung, ASI perah dapat diberikan dengan metode pemberian makan alternatif. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah finger feeding, yaitu memberikan ASI perah menggunakan selang kecil yang ditempatkan di sepanjang jari. Bayi kemudian mengisap jari tersebut sambil menerima ASI melalui selang.
Sebagai catatan tidak semua bayi yang mengalami nursing strike perlu atau cocok menggunakan finger feeding. Pemilihan metode pemberian ASI perah perlu disesuaikan dengan kondisi bayi, penyebab nursing strike, kemampuan oral-motor, serta situasi menyusu secara keseluruhan.
Jika bayi mengalami nursing strike, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi agar dapat dicari penyebabnya dan dipilih metode pemberian ASI yang paling sesuai.
Finger feeding adalah metode pemberian ASI perah atau suplementasi menggunakan jari dan selang kecil (feeding tube). Bayi mengisap jari yang sudah bersih, sementara ASI dialirkan melalui selang yang ditempatkan di sepanjang jari (Pearson-Glaze, 2025).
Metode ini dapat dipertimbangkan dalam beberapa kondisi, terutama ketika bayi belum dapat menyusu langsung dengan optimal. Beberapa penggunaannya antara lain:
Bayi belum dapat melakukan pelekatan (latch) dengan baik Finger feeding dapat menjadi alternatif sementara ketika bayi masih kesulitan melekat pada payudara.
Ibu sedang melakukan relaktasi Pada proses relaktasi, finger feeding dapat digunakan sebagai salah satu metode sementara untuk memberikan ASI perah ketika bayi belum kembali menyusu langsung secara optimal. Bayi tetap mendapat kesempatan untuk mengisap sambil Mommy terus berupaya meningkatkan kembali frekuensi menyusu atau memerah ASI sesuai kebutuhannya.
Bayi perlu mendapatkan suplementasi ASI perah atau tambahan asupan dapat diberikan melalui finger feeding ketika bayi belum mendapatkan asupan yang cukup melalui menyusu langsung.
Mendukung latihan mengisap (suck training) Finger feeding memungkinkan bayi berlatih mengisap sambil mendapatkan ASI. Gerakan mengisap pada jari juga dapat membantu bayi berlatih koordinasi mengisap dan menelan sebagai bagian dari proses menuju menyusu langsung (Pearson-Glaze, 2025).
Salah satu hal yang membuat metode ini dapat dipertimbangkan adalah bayi tetap aktif mengisap untuk mendapatkan ASI. Aliran ASI dapat mengikuti isapan bayi, sehingga pemberian tidak berlangsung terus-menerus ketika bayi sedang berhenti mengisap.
Apa itu finger feeding?
Cara Melakukan Finger Feeding yang Aman di Rumah
Finger feeding perlu dilakukan dengan teknik yang tepat agar Si Kecil dapat mengisap ASI dengan nyaman sekaligus tetap mampu mengatur ritme mengisap, menelan, dan bernapas. Berikut langkah yang dapat Mommy ikuti:
Siapkan tangan dan peralatan Cuci tangan hingga bersih dan pastikan kuku jari yang digunakan sudah pendek agar tidak melukai mulut Si Kecil. Siapkan ASI perah dan feeding tube berukuran kecil yang sesuai.
Posisikan Si Kecil dengan nyaman Gendong bayi dalam posisi semi-tegak dengan kepala stabil dan sedikit menengadah. Pastikan tubuh dan kepala bayi tersangga dengan baik agar ia dapat mengisap jari dengan nyaman.
Arahkan bayi untuk membuka mulut lebar Sentuhkan jari secara lembut pada bibir bayi untuk merangsang bayi membuka mulut. Jangan langsung memasukkan jari secara paksa. Tunggu hingga mulut Si Kecil terbuka cukup lebar sebelum jari dimasukkan.
Letakkan jari dengan posisi yang tepat Masukkan jari secara perlahan dengan bagian bantalan jari menghadap ke atas dan sisi kuku menghadap ke arah lidah. Biarkan Si Kecil menarik jari masuk sesuai kenyamanannya. Jari tidak perlu dimasukkan terlalu dalam karena dapat membuat bayi tersedak atau muntah.
Pasang feeding tube di sepanjang jari Letakkan ujung feeding tube di sisi jari dan posisikan ujungnya dekat dengan ujung jari, tetapi tidak melewatinya. Ujung selang yang lain ditempatkan ke dalam wadah berisi ASI perah. Pastikan selang tidak menggesek langit-langit mulut bayi atau mengganggu jalan napas.
Perhatikan pelekatan bibir dan lidah Usahakan bibir bayi menutup jari dengan baik sehingga terbentuk seal. Bibir atas berada di atas jari, sementara bibir bawah sebaiknya tidak terlipat ke dalam. Posisi jari tetap lurus dan tidak perlu menekan langit-langit mulut bayi. Kontak lembut antara jari dan lidah membantu memberikan sensasi yang menyerupai posisi payudara di dalam mulut bayi (Pearson-Glaze, 2025).
Biarkan ASI mengikuti ritme isapan bayi Saat Si Kecil mengisap, ASI akan mengalir melalui feeding tube sesuai ritme isapannya. Ketika bayi berhenti mengisap atau lidahnya bergerak ke belakang, aliran ASI perlu berhenti. Aliran dapat kembali ketika bayi mulai mengisap lagi. Dengan cara ini, bayi dapat mengatur sendiri kapan ia mengisap, menelan, dan beristirahat.
Amati respons Si Kecil selama pemberian Perhatikan tanda-tanda bayi mulai stres atau kesulitan, seperti mengerutkan wajah, merentangkan jari-jari tangan, memalingkan kepala, batuk, atau tersedak. Pastikan bayi tetap mampu mengatur koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas dengan baik. Jika bayi terlihat kesulitan atau tidak nyaman, hentikan pemberian dan evaluasi kembali tekniknya.
Jika Si Kecil belum cukup kuat mengisap untuk menarik ASI melalui selang, metode finger feeding mungkin perlu disesuaikan. Pada kondisi tertentu, ASI dapat terlebih dahulu dimasukkan ke dalam selang menggunakan spuit (syringe) dengan ujung tumpul. Namun, penggunaan spuit untuk membantu mengalirkan ASI sebaiknya dilakukan setelah Mommy mendapatkan arahan dari tenaga kesehatan agar alirannya tidak terlalu cepat untuk kemampuan bayi (Pearson-Glaze, 2025).
Untuk Mommy yang baru pertama kali mencoba, terutama jika Si Kecil masih newborn, lahir prematur, atau memiliki kesulitan mengisap dan menelan, sebaiknya lakukan dengan pendampingan konselor laktasi atau tenaga kesehatan terkait. Pendampingan langsung akan membantu memastikan posisi bayi, jari, dan feeding tube sudah tepat serta sesuai dengan kemampuan Si Kecil.
Setelah Finger Feeding, Bagaimana Membantu Si Kecil Kembali Menyusu?
Finger feeding dapat digunakan sementara untuk memberikan ASI ketika Si Kecil belum mau atau belum bisa menyusu langsung. Sambil memastikan kebutuhan ASI tetap terpenuhi, Mommy bisa perlahan membantu Si Kecil kembali merasa nyaman dengan payudara.
Proses kembali menyusu mungkin membutuhkan waktu. Karena itu, hindari memaksakan pelekatan pada Si Kecil. Bayi yang sudah terlalu lapar justru bisa lebih mudah frustrasi ketika kesulitan menyusu. Tetap berikan ASI yang cukup sambil menjadikan latihan menyusu sebagai pengalaman yang tenang dan positif (Pearson-Glaze, 2024).
Berikut beberapa cara yang bisa Mommy coba:
Mulai dengan skin-to-skin contact. Dekap Si Kecil hanya dengan popok di dada Mommy yang terbuka. Mommy tidak perlu langsung menawarkan payudara atau meminta bayi untuk latch. Biarkan ia berada dekat payudara, mencium aromanya, dan merasa nyaman terlebih dahulu. Skin-to-skin contact juga dapat mendukung hormon yang berperan dalam produksi ASI (Pearson-Glaze, 2024).
Pilih waktu saat Si Kecil tenang dan terjaga. Bayi biasanya lebih mudah diajak berlatih menyusu ketika sedang tenang. Mommy bisa berbicara dengan lembut, melakukan kontak mata, dan tetap rileks agar suasananya tidak terasa seperti paksaan. Jika Si Kecil mulai menangis atau terlihat stres, berhenti sejenak dan coba lagi pada waktu berikutnya (Pearson-Glaze, 2024).
Coba saat Si Kecil mengantuk atau sedang tidur ringan. Beberapa bayi justru lebih mudah kembali melakukan latch ketika tubuhnya rileks dan tidak terlalu fokus pada proses menyusu. Mommy bisa memanfaatkan momen ini sambil tetap melakukan skin-to-skin contact (Pearson-Glaze, 2024).
Jangan sengaja membuat Si Kecil lapar agar mau menyusu. Rasa lapar tidak akan otomatis membuat bayi yang sedang enggan menyusu kembali ke payudara. Sebaliknya, bayi yang sudah terlalu lapar dan frustrasi justru dapat semakin sulit diajak latch. Karena itu, penting bagi Mommy untuk mengenali tanda lapar Si Kecil sejak dini dan menawarkan ASI sebelum ia mulai menangis. Yuk, kenali lebih jauh refleks rooting dan tanda bayi lapar agar Mommy bisa lebih mudah mengetahui kapan Si Kecil siap menyusu. Pastikan kebutuhan ASI tetap terpenuhi melalui metode pemberian yang sesuai sambil terus memberikan kesempatan untuk menyusu langsung (Pearson-Glaze, 2024).
Bantu bayi kembali menyusu langsung. Untuk mengurangi penggunaan finger feeding, Mommy dapat menggunakan Supplemental Nursing System (SNS), yaitu selang kecil yang ditempatkan di dekat puting sehingga ASI dapat diberikan saat bayi menyusu langsung. Cara ini memungkinkan Si Kecil berlatih latch sambil tetap mendapatkan asupan.
Setelah Si Kecil berhasil latch, usahakan ASI dapat mengalir dengan mudah agar bayi segera mendapat ASI saat mulai mengisap. Mommy bisa menawarkan payudara ketika terasa cukup penuh atau melakukan sedikit pemerahan terlebih dahulu hingga refleks let-down mulai terjadi. Breast compression juga dapat membantu meningkatkan aliran ASI selama bayi mengisap (Pearson-Glaze, 2024).
Bantu payudara agar lebih mudah masuk ke mulut bayi. Payudara yang terlalu penuh dapat terasa lebih keras dan lebih sulit digenggam oleh bayi. Mommy bisa memerah sedikit ASI terlebih dahulu agar payudara terasa lebih lembut. Saat membantu latch, payudara juga dapat dibentuk atau sedikit ditekan agar lebih mudah masuk ke mulut Si Kecil (Pearson-Glaze, 2024).
Coba posisi yang memberi Si Kecil lebih banyak kontrol. Posisi laid-back atau posisi menyusui sambil bersandar dapat dicoba karena memungkinkan bayi berada dekat dengan tubuh Mommy dan lebih bebas mencari posisi untuk latch. Mommy juga bisa mencoba tempat atau posisi yang berbeda agar proses menyusu terasa lebih santai dan tidak penuh tekanan (Pearson-Glaze, 2024).
Berikan jeda ketika Si Kecil mulai rewel atau tidak nyaman. Tidak semua percobaan harus berakhir dengan bayi berhasil menyusu. Jika Si Kecil mulai menangis, menjauh, atau terlihat semakin tidak nyaman, Mommy bisa menghentikan percobaan dan kembali melakukan skin-to-skin contact tanpa tekanan. Setelah suasana lebih tenang, coba lagi di waktu yang berbeda. Pada beberapa bayi, jeda selama beberapa hari dari latihan latch sambil tetap memperbanyak kontak kulit dapat membantu menciptakan kembali pengalaman positif dengan payudara (Pearson-Glaze, 2024).
Tetap jaga produksi ASI. Jika Si Kecil belum menyusu secara efektif, Mommy tetap perlu memerah ASI secara rutin sesuai kebutuhan. Pengeluaran ASI melalui pompa atau hand expression membantu memberikan stimulasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi ASI. Jika produksi ASI memang sedang rendah, Mommy mungkin juga membutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan produksi atau melakukan relactation (Pearson-Glaze, 2024).
Kapan Perlu Diperiksakan?
Nursing strike memang sering kali hanya berlangsung sementara. Namun, selama Si Kecil belum kembali menyusu langsung, Mommy tetap perlu memastikan ia mendapatkan cukup ASI dan produksi ASI tetap terjaga. Penolakan menyusu juga perlu diperhatikan lebih serius jika disertai tanda bahwa Si Kecil mungkin tidak mendapatkan asupan yang cukup atau merasa tidak nyaman saat menyusu (Pearson-Glaze, 2024).
Mommy sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak, konselor menyusui, atau IBCLC (International Board Certified Lactation Consultant) jika:
Si Kecil terus menolak menyusu dan asupan ASI berkurang. Jangan hanya melihat seberapa lama bayi menolak payudara, tetapi perhatikan juga apakah ia tetap mendapatkan jumlah ASI yang sesuai kebutuhannya.
Popok basah berkurang atau urine tampak lebih gelap. Perubahan ini dapat menjadi tanda Si Kecil tidak mendapatkan cukup cairan. Pada bayi yang sudah berusia sekitar 5 sampai 7 hari, kurang dari sekitar 6 popok basah per hari perlu diperhatikan, terutama jika terjadi bersamaan dengan tanda lain bahwa asupan ASI kurang (American Academy of Pediatrics [AAP], 2024).
Berat badan tidak bertambah sesuai harapan. Kenaikan berat badan merupakan salah satu cara penting untuk mengetahui apakah kebutuhan nutrisi Si Kecil terpenuhi. Pada bayi baru lahir, berat badan yang belum kembali ke berat lahir sekitar usia 2 minggu juga perlu dievaluasi.
Si Kecil tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan. Bayi yang terlihat jauh lebih mengantuk dari biasanya, sulit dibangunkan untuk menyusu, atau tidak mampu menyusu dengan baik membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.
Si Kecil tampak kesakitan atau semakin rewel saat didekatkan ke payudara. Misalnya, selalu menangis, menarik diri, atau menolak setiap kali ditawarkan payudara. Kondisi ini bisa menunjukkan adanya rasa tidak nyaman yang perlu dicari penyebabnya.
Mommy mengalami masalah saat menyusui. Nyeri yang berat, puting lecet atau luka, atau latch yang tidak nyaman dapat menjadi tanda bahwa ada masalah pada posisi atau pelekatan yang perlu diperbaiki. Konselor laktasi dapat membantu mengevaluasi proses menyusu secara langsung (AAP, 2024; Pearson-Glaze, 2024).
Produksi ASI terasa menurun. Ketika Si Kecil jarang menyusu atau berhenti menyusu sementara, frekuensi pengeluaran ASI juga dapat berkurang. Karena itu, Mommy mungkin membutuhkan bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi ASI.
Kesimpulan
Bayi yang tiba-tiba menolak menyusu tidak selalu berarti Si Kecil sudah tidak mau ASI atau produksi ASI Mommy berkurang. Kondisi seperti nursing strike dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari bayi sedang tidak nyaman, perubahan rutinitas, hingga masalah aliran ASI atau pelekatan.
Jika Si Kecil belum mau menyusu langsung, Mommy tetap bisa memberikan ASIP melalui metode alternatif, salah satunya finger feeding. Metode ini dapat menjadi pilihan sementara sambil tetap memberikan kesempatan Si Kecil untuk kembali menyusu langsung dan menjaga produksi ASI.
Jika Si Kecil terus menolak menyusu, asupan ASI berkurang, popok basah lebih sedikit, atau terlihat lemas dan tidak nyaman, jangan ragu untuk mencari bantuan. Mommy juga bisa berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung yang siap membantu secara GRATIS 24 jam untuk mendapatkan pendampingan sesuai kondisi Mommy dan Si Kecil.
Finger feeding adalah metode memberikan ASI perah atau suplementasi menggunakan jari yang bersih dan feeding tube. Bayi mengisap jari sambil menerima ASI melalui selang yang ditempatkan di sepanjang jari.
Kapan finger feeding bayi dapat digunakan?
Finger feeding dapat dipertimbangkan ketika bayi belum dapat menyusu langsung secara optimal, misalnya mengalami kesulitan latch atau membutuhkan pemberian ASI perah sementara. Metode ini juga digunakan dalam beberapa kondisi untuk mendukung keterampilan mengisap dan proses transisi kembali ke menyusu langsung.
Apakah finger feeding bisa diberikan untuk bayi yang menolak menyusu?
Bisa pada kondisi tertentu, tetapi tidak semua bayi yang mengalami nursing strike cocok menggunakan finger feeding. Pemilihannya perlu mempertimbangkan kondisi bayi, kemampuan mengisap dan menelan, penyebab penolakan menyusu, serta kebutuhan asupannya.
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.