
Momuung.com – Pernahkah Mommy merasa berat badan Si Kecil sudah beberapa kali ditimbang, tetapi kenaikannya terlihat sangat sedikit atau bahkan cenderung tetap?
Kondisi seperti ini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai variasi pertumbuhan biasa. Jika berat badan Si Kecil mengalami perlambatan atau tidak mengikuti pola pertumbuhannya, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan dievaluasi lebih lanjut. Salah satu istilah yang digunakan tenaga kesehatan untuk menggambarkan kondisi ini adalah Weight faltering atau perlambatan pertambahan berat badan.
Weight faltering dapat berkembang secara perlahan dan tidak selalu terlihat dari penampilan Si Kecil. Karena itu, pemantauan pertumbuhan secara rutin penting untuk membantu menemukan perubahan sejak dini. Penilaiannya dilakukan dengan melihat berat badan dan pengukuran pertumbuhan lain secara berkala, kemudian membandingkannya dengan kurva pertumbuhan yang sesuai.
Lalu, apa sebenarnya weight faltering, apa penyebabnya, dan kapan Mommy perlu membawa Si Kecil untuk diperiksa? Yuk, pahami selengkapnya.
Weight faltering adalah kondisi ketika pertambahan berat badan anak melambat atau pola pertumbuhannya mengalami penurunan yang perlu dievaluasi.
Jadi, kondisi ini bukan sekadar berarti Si Kecil memiliki berat badan yang rendah. Seorang anak bisa saja memiliki berat badan yang berada di bawah rata-rata tetapi tetap mengikuti pola pertumbuhannya dengan baik. Sebaliknya, anak yang sebelumnya tumbuh sesuai polanya kemudian mengalami perlambatan atau penurunan pada grafik pertumbuhan dapat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
AAP dalam pedoman klinis terbarunya menggunakan istilah faltering weight untuk menggantikan istilah lama failure to thrive (gagal tumbuh). Istilah baru ini lebih deskriptif dan menekankan bahwa perlambatan pertumbuhan merupakan sinyal yang perlu dicari penyebabnya, bukan label bahwa anak “gagal” tumbuh.
Keduanya merujuk pada masalah pertumbuhan dan kenaikan berat badan, tetapi istilah yang digunakan sekarang mulai bergeser.
Failure to thrive (FTT) merupakan istilah yang sudah lama digunakan untuk menggambarkan anak dengan pertumbuhan yang tidak sesuai harapan. Namun, istilah tersebut dianggap kurang tepat karena dapat terkesan memberi label negatif kepada anak dan tidak memiliki satu definisi yang seragam.
Karena itu, istilah weight faltering semakin digunakan untuk menggambarkan perlambatan atau perubahan pola pertumbuhan berat badan yang memerlukan evaluasi. AAP merekomendasikan istilah ini dalam pedoman klinis terbarunya.
Artinya, ketika dokter menyebut weight faltering, hal tersebut tidak otomatis berarti Si Kecil mengalami malnutrisi atau penyakit tertentu. Kondisi tersebut merupakan langkah awal untuk mencari tahu apa yang menyebabkan pertumbuhannya melambat.
Tidak sama, Mom.
Weight faltering berfokus pada perlambatan atau perubahan pola pertambahan berat badan, sedangkan stunting merupakan kondisi ketika panjang atau tinggi badan menurut usia berada jauh di bawah standar pertumbuhan.
Menurut standar pertumbuhan WHO, stunting pada anak di bawah 5 tahun ditentukan berdasarkan indikator panjang atau tinggi badan menurut usia (PB/U atau TB/U) dengan nilai di bawah -2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan WHO.
Keduanya memang dapat berkaitan karena masalah asupan dan pertumbuhan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan linier anak. Namun, tidak tepat mengatakan bahwa setiap anak dengan weight faltering pasti akan mengalami stunting.
Justru, menemukan perlambatan pertumbuhan lebih awal memberikan kesempatan untuk mencari penyebab dan memberikan penanganan yang sesuai sebelum masalah pertumbuhan berlanjut.

Tidak ada satu batas waktu sederhana seperti “berat badan tidak naik selama tiga bulan” yang dapat digunakan untuk memastikan seorang anak mengalami weight faltering.
Penilaian dilakukan berdasarkan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu, usia anak, hasil pengukuran, serta kondisi klinisnya. AAP saat ini menggunakan beberapa kriteria berdasarkan z-score, termasuk perlambatan kecepatan kenaikan berat badan pada anak di bawah 2 tahun, penurunan nilai berat badan atau berat badan menurut panjang badan, serta nilai berat badan menurut panjang badan atau BMI menurut usia yang berada di bawah ambang tertentu.
Karena itu, apabila grafik pertumbuhan Si Kecil mulai mendatar, turun, atau berpindah melewati beberapa garis pertumbuhan, tenaga kesehatan perlu menilai kembali berat badan, panjang badan, pola makan atau menyusu, dan kemungkinan penyebab lainnya. NICE juga menekankan pentingnya memplot hasil pengukuran saat ini bersama pengukuran sebelumnya untuk melihat perubahan pertumbuhan secara menyeluruh.
Weight faltering tidak selalu memiliki gejala yang mudah dikenali di rumah. Beberapa tanda berikut dapat menjadi alasan bagi Mommy untuk melakukan pemantauan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Tanda yang paling utama adalah adanya perlambatan pada pertumbuhan berat badan.
Misalnya, berat badan Si Kecil yang sebelumnya bertambah secara konsisten kemudian mulai naik sangat sedikit, berhenti bertambah, atau justru menurun. Perubahan tersebut perlu dilihat bersama hasil penimbangan sebelumnya, bukan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Karena itu, pencatatan berat badan secara berkala di Posyandu atau fasilitas kesehatan sangat penting. Dari sana, tenaga kesehatan dapat melihat apakah pola pertumbuhannya masih sesuai atau mulai menyimpang. Mommy juga perlu memahami seperti apa kenaikan berat badan yang sesuai dengan usia Si Kecil agar lebih mudah mengenali perubahan pada pola pertumbuhannya.
Untuk mengetahui patokan kenaikan berat badan bayi berdasarkan usianya, Mommy bisa membaca 5 Panduan Kenaikan Berat Badan Bayi Sesuai Buku KIA.
Ketika terdapat masalah pertambahan berat badan, tenaga kesehatan tidak hanya melihat berat badan. Panjang badan atau tinggi badan juga perlu diukur untuk mendapatkan gambaran pertumbuhan yang lebih lengkap.
Perlambatan pertumbuhan panjang badan dapat menunjukkan bahwa masalah pertumbuhan perlu dievaluasi lebih lanjut, terutama jika terjadi secara konsisten.
Pada bayi yang menyusu langsung, masalah kenaikan berat badan dapat berkaitan dengan proses menyusu yang belum efektif.
Misalnya, Si Kecil mudah tertidur sebelum menyelesaikan sesi menyusu, sulit mempertahankan pelekatan, atau tidak terlihat maupun terdengar menelan secara teratur. Kondisi seperti ini dapat menjadi tanda bahwa asupan yang masuk perlu dievaluasi, terutama jika disertai pertambahan berat badan yang kurang.
Selain mudah tertidur atau cepat lelah saat menyusu, perubahan pola menyusu lainnya juga perlu diperhatikan. Ada kalanya bayi yang sebelumnya menyusu dengan baik tiba-tiba menjadi lebih sulit menyusu atau bahkan menolak payudara. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai faktor dan perlu dipahami penyebabnya agar kebutuhan ASI Si Kecil tetap terpenuhi.
Untuk mengetahui berbagai kemungkinan penyebabnya, Mommy bisa membaca Kenapa Bayi Tiba-Tiba Tidak Mau Menyusu? Ini Penyebabnya.
Bayi yang tetap tampak lapar atau rewel setelah sebagian besar sesi menyusu dapat membutuhkan evaluasi lebih lanjut, terutama jika berat badannya juga sulit bertambah.
Namun, rewel saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa bayi mengalami weight faltering. Pola menyusu, jumlah popok, hasil penimbangan, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
Pada bayi baru lahir, jumlah popok basah dapat membantu memberikan gambaran apakah asupan ASI cukup.
Setelah sekitar hari ke-5 sampai ke-7 kehidupan, bayi yang mendapatkan ASI dengan baik umumnya memiliki setidaknya 6 popok basah per hari, meskipun kondisi setiap bayi tetap perlu dinilai secara keseluruhan.
Jika jumlah urine berkurang dan disertai bayi sulit menyusu atau berat badan tidak bertambah, sebaiknya segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Weight faltering dapat disebabkan oleh banyak faktor. Penyebabnya tidak selalu karena Mommy kurang memberikan makanan atau ASI. Tenaga kesehatan biasanya akan mengevaluasi asupan yang masuk, proses makan atau menyusu, penyerapan nutrisi, kebutuhan energi tubuh, serta kondisi medis yang mungkin mendasari.
Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya.
Pada bayi yang mendapatkan ASI, salah satu hal pertama yang perlu dievaluasi adalah proses menyusunya.
Pelekatan (latch) yang kurang tepat dapat membuat bayi kesulitan mengambil ASI secara efektif. Tandanya dapat berupa bayi sering terlepas dari payudara, terdengar suara clicking, tidak terdengar menelan, atau Mommy mengalami nyeri dan luka pada puting.
Karena itu, apabila berat badan Si Kecil sulit bertambah, evaluasi posisi dan pelekatan dapat menjadi bagian penting dari pemeriksaan.
Selain masalah pelekatan, jumlah ASI yang masuk juga perlu diperhatikan.
Bayi baru lahir umumnya menyusu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam. Frekuensi menyusu yang jauh lebih jarang, tidak terdengar menelan, atau bayi tetap menunjukkan tanda belum cukup mendapatkan ASI perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Penyebabnya bisa beragam dan tidak selalu berarti tubuh Mommy tidak mampu memproduksi ASI. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mengetahui apakah masalahnya terletak pada produksi, transfer ASI, frekuensi menyusu, atau faktor lain.
Pada bayi yang sudah mendapatkan MPASI, asupan energi dan zat gizi dari makanan mulai menjadi bagian penting dari pertumbuhan.
Porsi, frekuensi, tekstur, variasi makanan, serta kemampuan Si Kecil makan semuanya perlu diperhatikan. Masalah makan tertentu juga dapat membuat anak kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Karena itu, ketika berat badan tidak bertambah, evaluasi bukan hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana Si Kecil makan.
Dalam beberapa kasus, Si Kecil sudah mendapatkan asupan yang cukup tetapi tubuhnya mengalami kesulitan menyerap atau memanfaatkan nutrisi secara optimal.
Kondisi saluran pencernaan tertentu, alergi atau intoleransi makanan, maupun gangguan kesehatan lain dapat menjadi bagian dari penyebabnya. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah faktor medis tersebut memang berperan.
Beberapa kondisi medis dapat membuat kebutuhan energi Si Kecil meningkat atau tubuh menggunakan lebih banyak energi dari biasanya.
Contohnya dapat meliputi penyakit jantung bawaan, penyakit paru tertentu, gangguan metabolisme, atau kondisi medis lainnya. Namun, penyebab seperti ini tidak bisa dipastikan hanya dari grafik berat badan dan perlu pemeriksaan dokter.
Dampak weight faltering sangat bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan berapa lama kondisi tersebut berlangsung.
Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi secara terus-menerus, pertumbuhan anak dapat ikut terganggu. Pada kondisi yang lebih berat atau berkepanjangan, anak dapat mengalami kekurangan energi dan zat gizi yang kemudian memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan perkembangannya.
Karena itu, weight faltering penting dikenali sedini mungkin. Tujuannya bukan sekadar menaikkan angka pada timbangan, tetapi memastikan Si Kecil mendapatkan asupan dan penanganan yang sesuai dengan penyebab masalah pertumbuhannya.
Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua anak. Penanganan bergantung pada penyebab yang ditemukan setelah dilakukan evaluasi.
Jika Mommy melihat pola pertumbuhan Si Kecil mulai melambat, mendatar, atau menurun, sebaiknya lakukan pemeriksaan.
Dokter akan melihat riwayat berat dan panjang badan, pola menyusu atau makan, perkembangan anak, serta kondisi kesehatan lainnya. Bila terdapat indikasi tertentu, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Untuk bayi yang menyusu langsung, konselor laktasi dapat membantu mengevaluasi posisi, pelekatan, serta proses transfer ASI.
Pelekatan yang efektif membantu bayi mengambil ASI dengan lebih baik. Tanda yang dapat diamati antara lain mulut bayi terbuka lebar, bibir terbuka ke luar, dagu menempel pada payudara, dan terdengar atau terlihat bayi menelan.
Bagi Si Kecil yang sudah MPASI, tenaga kesehatan dapat mengevaluasi jenis makanan, frekuensi makan, tekstur, porsi, serta kemampuan anak menerima makanan.
Tujuannya adalah memastikan kebutuhan energi dan zat gizi dapat terpenuhi sesuai usia dan kondisi anak.
Jika ditemukan masalah kesehatan tertentu, dokter akan menentukan penanganan sesuai penyebabnya.
Misalnya, anak dengan gangguan saluran cerna, alergi makanan, atau kondisi medis tertentu dapat memerlukan pendekatan yang berbeda. Karena itu, hindari memberikan suplemen, mengganti susu, atau mengubah pola makan secara drastis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Tidak semua kasus weight faltering dapat dicegah karena sebagian dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Namun, pemantauan pertumbuhan dan pemberian asupan yang sesuai dapat membantu masalah pertumbuhan dikenali lebih cepat.
Untuk bayi yang mendapatkan ASI, perhatikan apakah Si Kecil dapat melekat dengan baik, menyusu secara efektif, dan menelan selama sesi menyusui.
Jika Mommy mengalami nyeri berkepanjangan, puting lecet, bayi sering terlepas, atau merasa Si Kecil tidak mendapatkan cukup ASI, jangan ragu meminta bantuan konselor laktasi atau tenaga kesehatan.
Selain melihat berat badan, Mommy dapat memperhatikan beberapa tanda seperti frekuensi menyusu, suara menelan, kondisi bayi setelah menyusu, serta jumlah popok basah.
Pada bayi usia sekitar 5–7 hari ke atas, setidaknya 6 popok basah dalam sehari merupakan salah satu tanda yang dapat membantu menunjukkan kecukupan asupan, tetapi tetap harus dilihat bersama pertumbuhan berat badan dan kondisi bayi secara keseluruhan.
Setelah memasuki usia MPASI, berikan makanan dengan komposisi yang beragam dan sesuai kebutuhan Si Kecil.
Pastikan makanan mengandung sumber energi dan zat gizi penting, termasuk protein, lemak, vitamin, dan mineral. Tekstur serta jumlah makanan juga perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan kemampuan makan anak.
Penimbangan secara berkala membantu Mommy melihat perubahan berat badan dari waktu ke waktu.
Jangan hanya melihat apakah angka berat badan berada pada satu kategori tertentu. Perhatikan juga arah grafik dan perubahan dibandingkan pengukuran sebelumnya. Jika ada penurunan atau perlambatan yang tidak biasa, lakukan evaluasi lebih lanjut.
Mommy sebaiknya segera berkonsultasi jika Si Kecil mengalami salah satu kondisi berikut:
Pada bayi baru lahir, penurunan berat badan memang dapat terjadi pada beberapa hari pertama kehidupan. Namun, bayi umumnya mulai mendapatkan kembali berat badannya setelah itu dan diharapkan kembali ke berat lahir sekitar hari ke-10 hingga 14. Jika berat badan terus turun atau belum kembali ke berat lahir dalam rentang tersebut, bayi perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Weight faltering bukan diagnosis yang bisa ditentukan hanya dengan melihat satu angka pada timbangan. Kondisi ini perlu dilihat dari pola pertumbuhan Si Kecil dari waktu ke waktu, kemudian dicocokkan dengan hasil pengukuran lain dan kondisi kesehatannya.
Karena penyebabnya sangat beragam, berat badan yang tidak naik bukan berarti Mommy melakukan kesalahan dalam merawat Si Kecil. Yang terpenting adalah menemukan penyebabnya sedini mungkin agar langkah yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan anak.
Jadi, jangan hanya menunggu sampai berat badan Si Kecil terlihat sangat rendah. Bila Mommy melihat kenaikan berat badan mulai melambat, grafik mendatar atau menurun, atau terdapat perubahan pada pola menyusu dan makan, segera konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan.
Pemantauan rutin dan penanganan sejak dini dapat membantu Si Kecil mendapatkan dukungan yang tepat untuk tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhannya.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.