
Momuung.com – Menjelang persalinan, banyak Mommy berharap proses menyusui bisa langsung berjalan lancar. Mulai dari melakukan IMD, rawat gabung dengan si Kecil, sampai melihat ASI keluar dengan baik sejak hari pertama kelahiran.
Namun, tidak sedikit ibu baru yang merasa bingung atau cemas ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Salah satu hal yang sering luput disiapkan adalah pemahaman tentang kapan bayi benar-benar membutuhkan susu formula dan kapan sebenarnya ASI masih bisa terus diupayakan.
Yuk, kenali satu keputusan yang sering dianggap sepele tetapi bisa memengaruhi perjalanan menyusui ke depannya, supaya Mommy bisa lebih tenang dan percaya diri dalam mengambil keputusan terbaik untuk si Kecil. Buibu, wajib baca sampai selesai ya!
Kolostrum adalah ASI pertama yang diproduksi tubuh Mommy pada beberapa hari pertama setelah melahirkan. Cairan ini biasanya berwarna kekuningan hingga keemasan dengan tekstur yang lebih kental dibandingkan ASI matur.
Banyak Mommy khawatir karena jumlah kolostrum yang keluar terlihat sedikit. Padahal, kondisi ini sangat normal. Lambung bayi baru lahir masih berukuran sangat kecil, sehingga kolostrum yang diproduksi tubuh umumnya sudah sesuai dengan kebutuhan Si Kecil di hari-hari pertama kehidupannya.
Selain itu, kolostrum memang dirancang lebih pekat dan kaya nutrisi dibandingkan ASI matur. Artinya, meskipun volumenya tidak banyak, kandungan gizi dan komponen bioaktif di dalamnya sangat padat sehingga tetap mampu membantu memenuhi kebutuhan awal bayi baru lahir.
Kolostrum juga dikenal sebagai “cairan emas” (liquid gold) karena mengandung berbagai zat penting, seperti antibodi, sel imun, protein, vitamin, dan faktor pertumbuhan yang berperan dalam membantu melindungi bayi dari infeksi serta mendukung perkembangan sistem kekebalannya sejak hari pertama kehidupan (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2026).
Banyak Mommy membayangkan bisa langsung melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan menjalani rawat gabung (rooming-in) bersama si Kecil setelah persalinan. Namun, pada beberapa kondisi tertentu, Mommy dan bayi mungkin perlu dirawat terpisah untuk sementara waktu.
Jika hal ini terjadi, Mommy tidak perlu merasa bersalah atau menganggap diri gagal memberikan ASI. Keputusan untuk merawat ibu dan bayi secara terpisah dilakukan demi memastikan keduanya mendapatkan pemantauan dan perawatan yang paling sesuai dengan kondisi medis masing-masing.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan Mommy dan bayi belum bisa langsung rawat gabung antara lain:
Meski Si Kecil belum bisa menyusu langsung, Mommy tetap dapat memberikan manfaat kolostrum melalui pemerahan kolostrum dini (early hand expression of colostrum) sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kolostrum yang diperah dapat diberikan kepada bayi sesuai kondisi medisnya, sehingga ia tetap mendapatkan manfaat dari ASI pertama Mommy sekaligus membantu menggantikan stimulasi menyusui yang belum dapat dilakukan secara langsung.
Meskipun tidak semua kondisi bisa diprediksi, memilih fasilitas kesehatan yang mendukung proses menyusui tetap menjadi salah satu langkah penting yang dapat dipersiapkan sejak masa kehamilan. Rumah sakit yang pro ASI umumnya memiliki kebijakan yang mendukung IMD, rawat gabung, serta pendampingan laktasi apabila Mommy dan si Kecil perlu dirawat terpisah sementara waktu.
Kalau Mommy masih bingung menentukan tempat bersalin, yuk baca juga artikel “5 Tanda Rumah Sakit Pro ASI dan Tips Memilih Tempat Bersalin yang Tepat” agar dapat menyusun rencana persalinan dengan lebih tenang dan matang.
Mommy, penting untuk diingat bahwa pemberian susu formula tidak selalu salah. Pada kondisi medis tertentu, dokter spesialis anak (DSA) dapat merekomendasikan pemberian PASI untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil atau mendukung kondisi kesehatannya.
Namun, bila tidak ada indikasi medis yang jelas, pemberian susu formula pada hari-hari pertama kehidupan sebaiknya dipertimbangkan dengan matang. Menurut rekomendasi WHO, apabila bayi membutuhkan tambahan asupan dan ASI dari ibu belum dapat diberikan secara optimal, pilihan yang diutamakan adalah ASI perah dari ibu sendiri, kemudian ASI donor yang aman dan terpantau, baru setelah itu PASI sebagai pilihan terakhir.
Karena itu, keputusan untuk memberikan susu tambahan sebaiknya didasarkan pada evaluasi medis yang menyeluruh, bukan semata-mata karena kekhawatiran bahwa ASI belum keluar banyak pada hari-hari pertama setelah persalinan.
Hal ini karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian susu formula sejak awal kehidupan dapat berkaitan dengan durasi menyusui eksklusif yang lebih pendek dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI sebagai sumber nutrisi utama sejak lahir. Karena itu, keputusan untuk memberikan susu tambahan sebaiknya didasarkan pada evaluasi medis yang menyeluruh, bukan hanya karena kekhawatiran bahwa ASI yang keluar pada hari-hari pertama masih sedikit.
Yang juga perlu Mommy ketahui, penggunaan PASI tidak selalu berarti perjalanan menyusui harus berhenti. Pada banyak kasus, produksi ASI masih dapat diupayakan dan ditingkatkan sehingga kebutuhan PASI dapat dikurangi secara bertahap sesuai kondisi ibu dan bayi. Karena itu, apabila Si Kecil memang membutuhkan tambahan asupan, Mommy juga disarankan berkonsultasi dengan konselor laktasi agar manajemen menyusui, pelekatan, frekuensi menyusu, serta stimulasi produksi ASI dapat dievaluasi dan diperbaiki. Dengan pendampingan yang tepat, banyak Mommy tetap dapat melanjutkan proses menyusui meskipun sebelumnya sempat membutuhkan PASI.
Lalu, pada kondisi seperti apa bayi memang mungkin membutuhkan susu tambahan?
Menurut Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) dalam penelitian oleh Kellams et al. (2017), beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan tenaga kesehatan antara lain:

Dalam kondisi tertentu, susu formula memang dapat diberikan atas pertimbangan dokter. Namun, pemberian susu formula pada bayi baru lahir tanpa indikasi medis yang jelas perlu dipertimbangkan dengan hati-hati karena dapat memengaruhi proses menyusui.
Mengapa demikian?
Pada hari-hari pertama setelah melahirkan, tubuh Mommy masih berada dalam fase menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan si Kecil. Proses ini bekerja berdasarkan prinsip supply and demand, yaitu semakin sering payudara dikosongkan melalui hisapan bayi atau pemerahan ASI, semakin kuat sinyal yang diterima tubuh untuk memproduksi ASI.
Ketika bayi mendapatkan susu tambahan, ia mungkin akan merasa kenyang lebih lama sehingga frekuensi menyusu langsung menjadi berkurang. Akibatnya, stimulasi pada payudara juga menjadi lebih sedikit. Jika kondisi ini terjadi berulang, tubuh dapat menerima sinyal bahwa kebutuhan ASI tidak terlalu tinggi sehingga peningkatan produksi ASI pada masa awal menyusui menjadi kurang optimal.
Selain itu, pemberian susu tambahan sering kali dilakukan menggunakan botol dan dot. Pada sebagian bayi, hal ini dapat meningkatkan risiko bingung puting (nipple confusion), yaitu kondisi ketika bayi mulai mengalami kesulitan beradaptasi antara cara menyusu dari payudara dan dari dot. Karena aliran susu dari dot umumnya lebih mudah dan cepat, beberapa bayi bisa menjadi kurang sabar saat menyusu langsung dari payudara.
Karena itu, jika tidak terdapat indikasi medis tertentu, Mommy dianjurkan untuk:
Dengan stimulasi yang optimal sejak awal, tubuh Mommy akan lebih mudah membangun produksi ASI sesuai kebutuhan si Kecil.
Mommy, rasa khawatir bahwa ASI belum cukup sebenarnya sangat umum terjadi, terutama pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Banyak ibu merasa cemas ketika melihat kolostrum yang keluar hanya sedikit atau saat Si Kecil tampak ingin menyusu lebih sering dari yang dibayangkan.
Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan bahwa produksi ASI Mommy bermasalah. Dalam dunia laktasi, kondisi ini dikenal sebagai Perceived Insufficient Milk Supply (PIMS), yaitu perasaan atau keyakinan bahwa ASI tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, meskipun pada kenyataannya produksi ASI belum tentu kurang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa PIMS merupakan salah satu alasan paling sering yang membuat ibu memberikan susu tambahan atau menghentikan pemberian ASI eksklusif lebih awal (Kent et al., 2020; Pérez-Escamilla et al., 2023).
Beberapa hal yang sering membuat Mommy mulai meragukan produksi ASI antara lain:
Ketika rasa ragu ini semakin besar, sebagian Mommy mungkin menjadi lebih cepat memutuskan untuk memberikan susu tambahan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Padahal, perasaan tidak percaya diri tersebut justru dapat memengaruhi proses menyusui karena Mommy mungkin:
Akibatnya, tubuh menerima lebih sedikit sinyal bahwa ASI dibutuhkan, sehingga produksi ASI bisa ikut terpengaruh. Sebab, produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand atau semakin sering ASI dikeluarkan, semakin banyak pula ASI yang diproduksi tubuh.
Karena itu, jika Mommy mulai merasa khawatir dengan produksi ASI, jangan langsung menyimpulkan bahwa tubuh Mommy gagal menyusui, ya. Sebaiknya diskusikan kondisi tersebut dengan dokter, bidan, atau konselor laktasi agar dapat dievaluasi secara menyeluruh. Dengan pendampingan yang tepat, Mommy bisa mengetahui apakah ASI memang belum mencukupi atau justru kondisi yang dialami masih termasuk bagian normal dari proses adaptasi menyusui di awal kehidupan Si Kecil.
Jika kondisi medis membuat Mommy belum bisa langsung rawat gabung atau menyusui si Kecil, jangan khawatir, Mom. Bukan berarti perjalanan menyusui harus berhenti. Justru, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh tetap mendapatkan sinyal bahwa ASI dibutuhkan.
Apa yang bisa Mommy lakukan?
Pada minggu-minggu awal setelah melahirkan, tubuh Mommy sedang memasuki fase penting yang disebut lactogenesis II, yaitu masa ketika produksi ASI mulai meningkat dan “diatur” sesuai kebutuhan si Kecil. Di fase ini, payudara membutuhkan stimulasi secara teratur agar tubuh mendapatkan sinyal bahwa ASI memang diperlukan.
Jika bayi belum dapat menyusu langsung karena kondisi medis tertentu, Mommy dapat melakukan stimulasi melalui pemerahan tangan (hand expression), pompa ASI, atau kombinasi keduanya sesuai kenyamanan dan anjuran konselor laktasi atau tenaga kesehatan.
Secara umum, beberapa panduan laktasi menyarankan agar stimulasi dilakukan dengan frekuensi yang kurang lebih menyerupai pola menyusu bayi baru lahir, yaitu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024). Namun, angka ini bukan aturan yang harus dijalankan secara kaku oleh semua ibu.
Jika Mommy masih dalam masa pemulihan pascapersalinan, terutama setelah operasi Caesar atau sedang menjalani perawatan intensif, tidak apa-apa jika belum bisa langsung mencapai frekuensi tersebut. Yang terpenting adalah memulai sedini mungkin sesuai kondisi Mommy dan melakukannya secara konsisten dari hari ke hari.
Beberapa hal yang bisa Mommy ingat:
Jika si Kecil belum bisa menyusu langsung untuk sementara waktu, Mommy mungkin akan dianjurkan untuk melakukan stimulasi payudara agar tubuh tetap mendapatkan sinyal bahwa ASI dibutuhkan. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua Mommy harus melakukan pumping dengan cara yang sama. Kondisi fisik setelah melahirkan, kenyamanan, serta situasi medis yang dihadapi setiap ibu bisa sangat berbeda (Kellams et al., 2017).
Yang terpenting, Mommy tidak perlu memaksakan diri mengikuti pengalaman ibu lain. Pilihlah metode yang paling sesuai dengan kondisi Mommy saat itu.
Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan antara lain:
Mommy, jika untuk sementara waktu si Kecil belum bisa menyusu langsung karena harus dirawat terpisah, jangan khawatir. Kolostrum yang berhasil Mommy perah tetap bisa diberikan kepada bayi dengan bantuan tenaga kesehatan di rumah sakit.
Meskipun jumlahnya mungkin hanya beberapa tetes, kolostrum tetap sangat berharga karena mengandung berbagai komponen penting yang membantu melindungi bayi di masa awal kehidupannya, yang mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh bayi (WHO, 2020).
Umumnya, proses pemberian kolostrum di rumah sakit dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
Setiap perjalanan menyusui itu unik, Mom. Jika proses menyusui belum berjalan sesuai harapan di awal kelahiran, bukan berarti Mommy gagal. Kolostrum yang keluar sedikit pada hari-hari pertama merupakan hal yang normal. Yang terpenting adalah tetap memberikan stimulasi payudara sesuai kondisi Mommy, memahami kapan bayi memang membutuhkan susu tambahan berdasarkan indikasi medis, serta tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi tantangan menyusui.
Ingat, Mommy tidak harus menjalani semua ini sendirian. Jika masih bingung, galau, atau memiliki pertanyaan seputar teknik menyusui, pelekatan (latch), pumping, hingga cara menjaga produksi ASI setelah melahirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan konselor menyusui Mom Uung. Dengan pendampingan yang tepat, Mommy bisa merasa lebih tenang, percaya diri, dan menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan Mommy dan si Kecil.
Punya pertanyaan soal kehamilan & menyusui? Tanya langsung Dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC atau bagikan pengalamanmu di kolom komentar! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.