
Momuung.com – Mengalami diare saat sedang menyusui tentu bisa membuat Ibu khawatir. Selain harus memikirkan kondisi tubuh sendiri, Ibu mungkin juga bertanya-tanya, apakah tetap boleh menyusui, apa yang aman dikonsumsi, dan apakah diare bisa membuat ASI berkurang?
Kabar baiknya, diare pada ibu menyusui umumnya tidak mengharuskan Ibu berhenti menyusui. Yang paling penting adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan memperhatikan tanda-tanda dehidrasi. Infeksi saluran cerna yang menyebabkan diare juga umumnya tidak menular melalui ASI. Penularan lebih sering terjadi melalui tangan, makanan, atau permukaan yang terkontaminasi, sehingga kebersihan perlu menjadi perhatian utama.
Lantas, apa yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama diare pada ibu menyusui? Yuk, simak langkah-langkahnya berikut ini.
Diare merupakan kondisi ketika seseorang buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi tinja yang lebih cair atau lembek. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus atau bakteri, makanan yang terkontaminasi, efek samping obat, hingga kondisi tertentu pada saluran pencernaan.
Pada kebanyakan kasus akut, diare dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, hal yang paling perlu diwaspadai adalah dehidrasi. Saat diare, tubuh kehilangan air dan elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, Ibu bisa mengalami lemas, pusing, mulut kering, hingga penurunan jumlah urine.
Karena itu, pertolongan pertama tidak hanya bertujuan membuat frekuensi buang air besar berkurang, tetapi terutama membantu tubuh mengganti cairan yang hilang.
Langkah pertama yang paling penting ketika mengalami diare adalah memperbanyak asupan cairan.
Ibu bisa minum air putih secara berkala. Jika diare cukup sering atau disertai banyak kehilangan cairan, oralit atau oral rehydration solution (ORS) dapat membantu menggantikan air dan elektrolit yang hilang.
Tidak perlu langsung minum dalam jumlah banyak sekaligus. Jika perut terasa tidak nyaman, cobalah minum sedikit-sedikit tetapi lebih sering. Dengan cara ini, tubuh tetap mendapatkan cairan tanpa membuat lambung terasa semakin penuh.
Selain itu, jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk mulai minum. Rasa haus, mulut kering, urine yang lebih sedikit atau berwarna lebih pekat, pusing, dan tubuh terasa sangat lemas dapat menjadi tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
WHO menempatkan rehidrasi sebagai salah satu langkah utama dalam menangani diare karena kehilangan cairan dan elektrolit merupakan risiko terbesar dari kondisi ini.
Diare pada Ibu bukan alasan otomatis untuk menghentikan menyusui.
Jika kondisi tubuh memungkinkan dan bayi tetap dapat menyusu dengan baik, Ibu dapat melanjutkan pemberian ASI seperti biasa. WHO merekomendasikan pemberian ASI tetap dilanjutkan karena ASI merupakan sumber nutrisi penting bagi bayi.
Namun, Ibu perlu lebih memperhatikan kebutuhan cairan selama sakit. Menyusui sendiri tidak menyebabkan diare menjadi lebih parah, tetapi tubuh Ibu tetap membutuhkan cairan yang cukup untuk mendukung kondisi tubuh dan proses menyusui.
Selama Ibu masih mampu menyusui, usahakan tetap memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi dan tidak terburu-buru menggantinya dengan pengganti ASI hanya karena sedang mengalami diare. Frekuensi menyusui yang tetap terjaga juga membantu mempertahankan stimulasi produksi ASI. Jika Ibu merasa ASI berkurang atau khawatir bayi belum mendapatkan cukup ASI, sebaiknya cari tahu terlebih dahulu penyebabnya dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Ibu juga bisa membaca lebih lanjut mengenai Dampak Pemberian Susu Formula Tanpa Indikasi yang Bisa Mengganggu Produksi ASI agar lebih memahami kapan pemberian sufor memang diperlukan dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses menyusui.
Jangan lupa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum menyentuh bayi atau menyiapkan makanan. Langkah ini penting jika diare disebabkan oleh infeksi karena kuman penyebab diare dapat menyebar melalui tangan dan permukaan yang terkontaminasi.
Saat diare, Ibu mungkin kehilangan selera makan. Meski begitu, tubuh tetap membutuhkan energi dan nutrisi untuk membantu proses pemulihan.
Tidak perlu menjalani diet yang sangat ketat. Jika masih mampu makan, pilih makanan yang lebih mudah ditoleransi tubuh, seperti nasi, kentang, pisang, roti, sup, telur, atau sumber protein lain yang tidak terlalu berlemak dan tidak terlalu berbumbu.
Sebelumnya, diet BRAT, yaitu banana, rice, applesauce, dan toast, cukup populer sebagai pola makan saat diare. Namun, pola ini tidak dianjurkan untuk dijadikan satu-satunya pilihan makanan karena terlalu terbatas dan tidak menyediakan nutrisi yang cukup jika dilakukan terlalu lama.
Jadi, prinsipnya bukan hanya mencari makanan yang dapat “menghentikan diare”, tetapi tetap memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi secara bertahap sesuai toleransi tubuh.
Jika ada makanan tertentu yang membuat diare atau kram perut terasa lebih parah, Ibu dapat menghindarinya sementara waktu. Setelah kondisi membaik, pola makan dapat kembali diperluas secara bertahap.
Ibu mungkin pernah mendengar bahwa yoghurt atau makanan yang mengandung probiotik dapat membantu mengatasi diare.
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan saluran pencernaan. Namun, manfaat probiotik untuk diare dapat berbeda tergantung jenis strain, penyebab diare, dan kondisi masing-masing orang.
Karena itu, yoghurt atau produk probiotik dapat menjadi bagian dari pola makan jika Ibu dapat mentoleransinya. Namun, jangan menganggap probiotik sebagai pengganti cairan dan elektrolit. Saat diare, rehidrasi tetap menjadi prioritas utama.
Jika setelah mengonsumsi produk susu Ibu justru merasa perut semakin kembung atau diare bertambah, sebaiknya hentikan sementara dan pilih sumber makanan lain yang lebih mudah ditoleransi.
Mengurus bayi sambil mengalami diare tentu tidak mudah. Tubuh membutuhkan energi untuk menghadapi penyebab diare dan memperbaiki kondisi saluran pencernaan.
Karena itu, manfaatkan waktu yang ada untuk beristirahat. Jika memungkinkan, minta bantuan pasangan atau anggota keluarga untuk mengurus pekerjaan rumah, menyiapkan makanan, atau membantu menjaga Si Kecil.
Ibu tidak harus memaksakan diri melakukan semua pekerjaan seperti biasa. Meminta bantuan bukan berarti Ibu tidak mampu, justru dapat membantu tubuh mendapatkan waktu untuk pulih.
Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika Ibu mengalami diare. Jawabannya, tidak semua obat diare harus dihindari saat menyusui, tetapi pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi Ibu.
Sebagian obat dapat digunakan selama menyusui dengan pertimbangan tertentu. Misalnya, NHS menyatakan bahwa loperamide dapat digunakan saat menyusui karena hanya dalam jumlah sangat kecil yang masuk ke ASI. Namun, keamanan obat tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi dan penyebab diare, bukan hanya karena obat tersebut dijual bebas.
Karena itu, sebelum mengonsumsi obat diare, terutama jika diare cukup berat, berlangsung lama, disertai demam, muntah, atau darah dalam tinja, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker.
Hindari juga mengonsumsi obat herbal atau obat tradisional hanya karena dianggap “alami”. Tidak semua bahan herbal memiliki data keamanan yang memadai untuk ibu menyusui.
Mengetahui kemungkinan penyebab diare dapat membantu Ibu menentukan langkah berikutnya.
Penyebab yang paling umum adalah infeksi saluran cerna akibat virus, bakteri, atau parasit. Infeksi dapat terjadi setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi atau melalui kontak dengan orang maupun permukaan yang membawa kuman.
Selain infeksi, diare juga dapat muncul akibat:
Jika Ibu sedang mengonsumsi obat tertentu, beri tahu dokter bahwa Ibu sedang menyusui. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memilih penanganan yang sesuai.
Diare tidak secara langsung membuat tubuh berhenti memproduksi ASI. Namun, dehidrasi dan kondisi tubuh yang sedang sakit dapat membuat Ibu merasa lebih lemas dan berpotensi memengaruhi proses menyusui.
Ketika tubuh kehilangan banyak cairan, Ibu dapat mengalami dehidrasi. Kondisi ini dapat membuat tubuh terasa sangat lelah sehingga frekuensi menyusui atau memompa ASI bisa ikut berubah.
Karena itu, ketika mengalami diare, jangan hanya fokus menghentikan buang air besar. Pastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi dan terus menyusui atau memerah ASI sesuai kebutuhan bayi selama kondisi memungkinkan.
Jika Ibu merasa produksi ASI menurun secara nyata, bayi lebih jarang menyusu, atau muncul kekhawatiran mengenai kecukupan ASI, jangan ragu berkonsultasi dengan konselor laktasi atau tenaga kesehatan. Salah satu hal yang juga dapat dipantau adalah pertumbuhan berat badan bayi secara berkala. Dengan memantau kenaikan berat badan sesuai usianya, Ibu bisa mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai tumbuh kembang dan kecukupan asupan Si Kecil. Yuk, cari tahu selengkapnya melalui artikel 5 Panduan Kenaikan Berat Badan Bayi Sesuai Buku KIA.
Jika diare disebabkan oleh infeksi, kebersihan menjadi bagian penting dalam mencegah penularan kepada bayi dan anggota keluarga.
Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama:
Pastikan juga makanan dimasak hingga matang dan air minum berasal dari sumber yang aman. Hindari berbagi alat makan atau minum dengan anggota keluarga selama sedang mengalami infeksi saluran cerna.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu memutus rantai penularan karena sebagian besar infeksi penyebab diare menyebar melalui makanan, air, tangan, atau permukaan yang terkontaminasi.
Tidak ada daftar makanan yang wajib dihindari oleh semua orang ketika diare. Toleransi setiap Ibu bisa berbeda.
Namun, untuk sementara waktu, Ibu dapat membatasi makanan yang terasa memperburuk keluhan, terutama makanan yang sangat pedas, sangat berlemak, atau minuman yang mengandung banyak kafein.
Jika konsumsi produk susu membuat perut semakin kembung atau diare bertambah, Ibu juga dapat menguranginya sementara. Setelah pencernaan membaik, makanan dapat diperkenalkan kembali secara bertahap.
Yang tidak kalah penting, jangan sampai pantangan makanan justru membuat asupan Ibu terlalu sedikit. Selama tubuh masih membutuhkan energi untuk pulih dan menyusui, kebutuhan nutrisi tetap perlu diperhatikan.
Setelah diare mulai mereda, jangan langsung kembali mengabaikan kebutuhan nutrisi. Tubuh Ibu membutuhkan energi dan zat gizi untuk mendukung proses pemulihan sekaligus menjalani aktivitas menyusui.
Mulailah kembali dengan pola makan yang seimbang. Pastikan ada sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan lemak sehat dalam menu harian. Cairan juga tetap perlu diperhatikan sampai kondisi tubuh benar-benar kembali seperti biasa.
Bagi Ibu menyusui yang memiliki aktivitas padat dan terkadang kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi dari makanan utama saja, pilihan asupan yang praktis dapat membantu melengkapi pola makan sehari-hari.
Susu Mylkflow Mom Uung dapat menjadi salah satu pilihan minuman untuk melengkapi asupan nutrisi harian Ibu menyusui. Sementara itu, Cookie Mylkflow Mom Uung dapat menjadi pilihan camilan praktis yang bisa menemani aktivitas Ibu di sela-sela kesibukan.
Keduanya sebaiknya ditempatkan sebagai pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama dan bukan sebagai obat untuk mengatasi diare.
Jika pencernaan Ibu masih sensitif setelah diare, perhatikan respons tubuh terhadap setiap makanan atau minuman yang dikonsumsi. Bila keluhan kembali muncul atau kondisi belum membaik, lebih baik berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menambahkan produk atau suplemen tertentu ke dalam pola makan.
Sebagian kasus diare dapat membaik dengan perawatan di rumah. Namun, Ibu perlu lebih waspada jika kondisi tidak kunjung membaik atau muncul gejala yang mengarah pada dehidrasi maupun masalah kesehatan yang lebih serius.
Segera konsultasikan kondisi kepada dokter jika Ibu mengalami:
WHO juga merekomendasikan pemeriksaan tenaga kesehatan apabila diare berlangsung menetap, terdapat darah dalam tinja, atau muncul tanda-tanda dehidrasi.
Pertolongan pertama diare pada ibu menyusui pada dasarnya berfokus pada satu hal yang sangat penting, yaitu mencegah dehidrasi. Pastikan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi, tetap makan sesuai kemampuan tubuh, cukup beristirahat, dan tetap menyusui jika kondisi memungkinkan.
Diare juga tidak selalu berarti Ibu harus berhenti menyusui. Selama tidak ada kondisi medis tertentu yang mengharuskan sebaliknya, pemberian ASI dapat terus dilakukan. Yang perlu diperhatikan justru kondisi tubuh Ibu dan kecukupan cairannya.
Setelah kondisi mulai membaik, jangan lupa kembali memperhatikan pola makan bergizi seimbang untuk membantu tubuh memulihkan tenaga. Jika membutuhkan pilihan yang lebih praktis, Susu Mylkflow Mom Uung dan Cookie Mylkflow Mom Uung dapat menjadi pelengkap asupan nutrisi harian Ibu menyusui.
Namun, jika diare berlangsung lama, semakin berat, atau disertai tanda dehidrasi, darah dalam tinja, demam tinggi, maupun muntah terus-menerus, jangan menunda untuk mencari bantuan medis.
Karena saat sedang menyusui, menjaga kesehatan Ibu juga merupakan bagian penting dari menjaga perjalanan menyusui tetap berjalan dengan nyaman.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.