
Momuung.com – Bayi demam tentu bisa bikin Mommy khawatir. Apalagi kalau si Kecil terlihat lebih rewel, lemas, atau tidak mau menyusu seperti biasanya.
Sebelum panik, ketahui dulu bahwa demam adalah tanda tubuh sedang merespons suatu penyakit atau infeksi. Jadi, tujuan utama perawatan di rumah bukan sekadar membuat angka pada termometer kembali normal, tetapi membantu bayi tetap nyaman, cukup cairan, dan memantau apakah ada tanda yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Yuk, simak cara merawat bayi yang sedang demam dengan aman berikut ini, Mommy!
Sebagian besar demam pada bayi berkaitan dengan infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga, infeksi saluran kemih, atau penyakit infeksi lainnya. Demam juga bisa muncul setelah imunisasi.
Sementara itu, tumbuh gigi tidak menyebabkan demam yang sebenarnya. Suhu tubuh bayi mungkin sedikit meningkat saat tumbuh gigi, tetapi suhu 38°C atau lebih sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai efek tumbuh gigi karena bisa menjadi tanda adanya penyakit atau infeksi lain.
Bayi yang terlalu banyak memakai pakaian atau berada di lingkungan yang terlalu panas juga bisa mengalami peningkatan suhu tubuh. Namun, kondisi akibat kepanasan perlu dibedakan dari demam karena infeksi.
Secara umum, suhu tubuh 38°C atau lebih dianggap sebagai demam, terutama bila diukur melalui rektum. Pengukuran melalui rektum merupakan salah satu metode yang paling akurat, terutama untuk bayi di bawah 3 bulan. Termometer dahi juga dapat digunakan, sedangkan pengukuran di ketiak cenderung kurang akurat.
Untuk bayi di bawah 3 bulan, suhu 38°C atau lebih memerlukan pemeriksaan medis segera, meskipun bayi terlihat baik-baik saja.
Sebaiknya gunakan termometer digital dan hindari termometer merkuri karena dapat pecah dan menyebabkan paparan merkuri yang berbahaya.
Saat demam, jangan membungkus bayi dengan pakaian atau selimut berlapis-lapis. Bayi cukup dipakaikan pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal agar panas tubuhnya tidak terperangkap.
Namun, Mommy juga tidak perlu sengaja membuat tubuh bayi kedinginan. Prinsipnya adalah menjaga bayi tetap nyaman, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin.
Demam dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan. Karena itu, pastikan bayi tetap mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya.
Mommy dapat menawarkan ASI lebih sering, terutama jika si Kecil sedang lebih haus atau menyusu dalam jumlah yang lebih sedikit dari biasanya. ASI juga membantu memenuhi kebutuhan cairan bayi.
Untuk bayi di bawah 6 bulan, tidak perlu memberikan air putih sebagai pengganti ASI. ASI sudah menyediakan cairan yang dibutuhkan bayi.
Waspadai tanda dehidrasi seperti popok basah yang jauh lebih sedikit dari biasanya, mulut tampak kering, tidak ada air mata saat menangis, atau bayi tampak sangat lemas.
Pastikan kamar bayi tidak terlalu panas atau pengap. Buat suhu ruangan tetap nyaman dengan sirkulasi udara yang baik.
Tidak perlu menyalakan kipas atau AC terlalu dingin. Yang penting, bayi tidak kepanasan dan tetap merasa nyaman saat beristirahat.
Tubuh bayi membutuhkan energi untuk melawan penyebab demam. Karena itu, biarkan si Kecil tidur dan beristirahat sesuai kebutuhannya.
Mommy tidak perlu membangunkan bayi hanya untuk membuat suhu tubuhnya kembali normal. Namun, bayi tetap perlu dipantau, terutama apakah ia masih bisa menyusu, mudah dibangunkan, dan menunjukkan respons seperti biasanya.
Bayi yang sulit dibangunkan, tidak responsif, atau tampak sangat lemas justru membutuhkan pemeriksaan medis segera.
Untuk bayi yang sudah mulai MPASI, Mommy tetap boleh menawarkan makanan seperti biasanya.
Tidak perlu memaksa bayi menghabiskan makanan saat sedang tidak enak badan. Utamakan cairan dan tawarkan makanan dalam jumlah kecil sesuai kemampuan dan selera si Kecil.
Jadi, fokusnya bukan mencari makanan yang bisa langsung menurunkan demam, tetapi membantu bayi tetap mendapatkan energi dan nutrisi selama sakit.
Obat penurun demam dapat dipertimbangkan ketika bayi mengalami demam dan terlihat tidak nyaman atau kesakitan, bukan semata-mata untuk membuat angka suhu menjadi normal.
Parasetamol dapat digunakan pada anak sesuai usia dan berat badan, tetapi untuk bayi yang masih sangat kecil, terutama di bawah 3 bulan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Dosis obat harus mengikuti berat badan dan petunjuk tenaga kesehatan atau kemasan obat.
Sementara itu, ibuprofen umumnya tidak diberikan pada bayi di bawah 6 bulan kecuali atas anjuran dokter.
Jangan memberikan aspirin kepada bayi atau anak tanpa arahan dokter.
Saat bayi demam, Mommy mungkin ingin mencoba berbagai cara agar suhu tubuh si Kecil cepat turun. Namun, tidak semua cara yang sering dilakukan di rumah terbukti membantu. Salah satunya adalah mengompres atau melakukan tepid sponging dengan menyeka tubuh menggunakan air suam-suam kuku. Cara ini tidak direkomendasikan sebagai terapi untuk menurunkan demam.
Begitu juga dengan kompres menggunakan air es atau air yang sangat dingin. Suhu yang terlalu dingin dapat membuat bayi menggigil dan justru merasa semakin tidak nyaman.
Kalau si Kecil memang sudah waktunya mandi, Mommy tetap boleh memandikannya seperti biasa menggunakan air dengan suhu yang nyaman. Namun, perlu diingat bahwa mandi bukanlah cara untuk mengobati atau menurunkan demam.
Selain menghindari cara tersebut, ada beberapa kebiasaan lain yang juga sebaiknya tidak dilakukan saat si Kecil demam. Yuk, kenali 3 Pantangan Saat Bayi Demam yang Sering Dilakukan Tanpa Sadar agar Mommy bisa memberikan perawatan yang lebih aman dan tepat di rumah.

Sebagian besar demam pada bayi tidak selalu membutuhkan perawatan di rumah sakit. Namun, Mommy tetap perlu memperhatikan kondisi si Kecil secara keseluruhan karena beberapa tanda bisa menunjukkan bahwa bayi membutuhkan pemeriksaan medis segera.
Segera bawa bayi untuk mendapatkan pemeriksaan medis jika:
Salah satu tanda yang perlu Mommy perhatikan adalah perubahan pada pola napas. Jika napas si Kecil terlihat lebih cepat, berbunyi tidak seperti biasanya, atau disertai tanda kesulitan bernapas, jangan abaikan kondisi tersebut. Mommy juga bisa mengenali lebih jauh tanda-tandanya melalui artikel Napas Bayi Cepat dan Berbunyi, Apakah Normal? agar lebih mudah mengetahui kapan perubahan napas perlu diperiksakan.
Pada bayi yang lebih besar, pemeriksaan medis juga diperlukan jika demam menetap, berulang, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan. Jadi, jangan hanya berpatokan pada tinggi atau lamanya demam. Perhatikan juga apakah si Kecil masih mau menyusu, cukup buang air kecil, mudah dibangunkan, dan tetap menunjukkan respons seperti biasanya.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.