
Momuung.com – Melihat Si Kecil memuntahkan ASI yang tampak kental, menggumpal, atau seperti susu basi memang bisa bikin Mommy khawatir. Apalagi kalau bayi terlihat muntah cukup banyak setelah menyusu.
Namun, ASI yang keluar dalam bentuk kental atau menggumpal tidak selalu berarti bayi sedang sakit. Setelah masuk ke lambung, ASI akan bercampur dengan cairan lambung dan mengalami proses pencernaan. Karena itu, susu yang keluar kembali beberapa saat setelah menyusu bisa terlihat lebih kental dibandingkan saat pertama diminum.
Yang juga penting, gumoh dan muntah sebenarnya berbeda. Gumoh biasanya keluar dengan mudah tanpa gerakan mengejan yang kuat, sedangkan muntah cenderung keluar dengan dorongan yang lebih kuat dan bayi bisa terlihat tidak nyaman. Pada bayi, gumoh atau refluks ringan sangat umum terjadi dan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia.
Lalu, apa saja penyebab Bayi muntah ASI kental dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak sampai selesai, Mom.
Ada beberapa kondisi yang dapat membuat bayi lebih sering mengeluarkan kembali ASI setelah menyusu. Tidak semuanya berbahaya, tetapi penting bagi Mommy untuk mengenali pola dan gejalanya.
Salah satu penyebab paling umum bayi mengeluarkan kembali ASI adalah gastroesophageal reflux (GER) atau refluks.
Pada bayi, katup antara kerongkongan dan lambung masih dalam proses pematangan. Akibatnya, sebagian isi lambung dapat naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut, terutama setelah bayi menyusu. Kondisi ini sangat umum pada bulan-bulan pertama kehidupan dan biasanya membaik seiring sistem pencernaan semakin matang.
Kalau ASI sudah beberapa saat berada di dalam lambung sebelum keluar kembali, bentuknya bisa terlihat lebih kental atau menggumpal. Jadi, tekstur tersebut sendiri bukan tanda bahwa bayi mengalami penyakit tertentu.
Gumoh akibat GER biasanya tidak membuat bayi sangat kesakitan. Si Kecil tetap terlihat sehat, mau menyusu, dan pertumbuhannya berjalan dengan baik.
Bayi juga bisa mengeluarkan kembali ASI ketika banyak udara ikut masuk ke dalam perut saat menyusu.
Hal ini dapat terjadi ketika bayi menyusu terlalu cepat, sering terlepas dari payudara, menangis saat menyusu, atau kesulitan mengikuti aliran ASI yang deras. Perut yang sudah terisi ASI dan udara dapat menjadi lebih mudah penuh sehingga sebagian isinya keluar kembali saat bayi bersendawa atau berubah posisi.
Biasanya kondisi ini lebih mirip gumoh daripada muntah yang sebenarnya. Mommy mungkin melihat ASI keluar sedikit bersamaan dengan sendawa.
Untuk membantu menguranginya, pastikan posisi bayi nyaman saat menyusu dan bantu Si Kecil bersendawa pada jeda alami selama atau setelah menyusu.
Posisi menyusui dan perlekatan (latch) yang kurang tepat dapat membuat Si Kecil lebih sulit menyusu dengan nyaman. Bayi juga bisa lebih sering terlepas dari payudara atau tanpa sengaja menelan lebih banyak udara selama menyusu, sehingga lebih mudah gumoh setelahnya.
Coba pastikan mulut bayi terbuka cukup lebar, sebagian besar areola masuk ke dalam mulut, dagu menempel pada payudara, dan tubuh bayi menghadap ke tubuh Mommy. Saat perlekatan sudah baik, proses menyusu biasanya terasa lebih nyaman dan suara mengecap atau clicking tidak terdengar terus-menerus.
Kalau puting terasa sangat nyeri, bayi sering terlepas, atau Mommy merasa Si Kecil kesulitan mendapatkan posisi yang nyaman, jangan ragu meminta bantuan konselor laktasi atau tenaga kesehatan untuk mengevaluasi posisi dan perlekatannya.
Selain posisi menyusui seperti duduk atau digendong, beberapa Mommy mungkin merasa lebih nyaman menyusui dalam posisi sambil tiduran, terutama saat malam hari atau ketika tubuh sedang lelah. Namun, posisi ini tetap perlu dilakukan dengan cara yang aman dan memastikan Si Kecil menyusu dengan posisi yang nyaman. Mommy bisa mengetahui panduan selengkapnya melalui artikel Bayi Baru Lahir Boleh Menyusu Sambil Tiduran?.
Bayi dapat mengalami gumoh atau muntah ketika perutnya terlalu penuh, misalnya karena mendapatkan asupan dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Overfeeding dapat membuat gumoh semakin sering pada sebagian bayi.
Namun, Mommy tidak perlu berpatokan pada angka volume atau durasi menyusu tertentu. Kebutuhan setiap bayi berbeda dan lama menyusu dapat berubah-ubah.
Lebih baik perhatikan tanda lapar dan kenyang Si Kecil. Saat sudah cukup, bayi biasanya akan memperlambat hisapan, melepaskan payudara, atau tampak rileks setelah menyusu.
Kalau bayi sering gumoh dalam jumlah banyak, diskusikan pola menyusunya dengan tenaga kesehatan agar dapat dinilai apakah frekuensi, posisi, atau cara pemberian ASI perlu disesuaikan.
Pada sebagian bayi, muntah berulang dapat berkaitan dengan alergi protein susu sapi (APSS/CMPA). Kondisi ini berbeda dengan intoleransi laktosa.
Bayi dengan alergi protein susu sapi dapat mengalami gejala pada saluran pencernaan, seperti muntah, diare, BAB berlendir atau berdarah, serta sulit naik berat badan. Sebagian bayi juga dapat mengalami eksim atau gejala alergi lainnya.
Pada bayi yang mendapatkan ASI, protein susu sapi dari makanan ibu dapat masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan pada bayi yang alergi dapat memicu gejala. Namun, jangan langsung menghilangkan semua produk susu dari pola makan Mommy tanpa evaluasi tenaga kesehatan, karena diagnosis alergi perlu dilakukan dengan tepat dan kebutuhan nutrisi ibu maupun bayi tetap harus terpenuhi.
Kalau Si Kecil masih terlihat sehat, tetap aktif, mau menyusu, dan berat badannya bertambah sesuai harapan, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi gumoh atau refluks.
Pastikan kepala, leher, dan tubuh Si Kecil berada dalam posisi yang nyaman dan sejajar saat menyusu. Perlekatan yang baik juga membantu bayi menyusu dengan lebih efektif sekaligus dapat mengurangi udara yang tertelan selama menyusu.
Kalau Mommy merasa Si Kecil sering gumoh, muntah setelah menyusu, atau tampak tidak nyaman saat makan, coba perhatikan juga pola dan gejalanya. Memahami apakah kondisi tersebut masih termasuk gumoh yang normal atau justru mengarah pada refluks yang perlu diperhatikan bisa membantu Mommy menentukan langkah selanjutnya.
Supaya tidak bingung membedakannya, Mommy bisa membaca Gumoh Biasa atau Gejala GERD? Kenali Perbedaannya pada Bayi untuk mengetahui ciri-ciri yang perlu diperhatikan dan kapan Si Kecil sebaiknya diperiksa oleh dokter.
Coba berikan kesempatan pada Si Kecil untuk menyusu dengan ritme yang lebih tenang. Bila aliran ASI sangat deras, bayi dapat lebih mudah tersedak atau menelan banyak udara.
Posisi menyusui yang membuat tubuh Mommy lebih rileks, seperti posisi laid-back, bisa menjadi salah satu pilihan yang dapat dicoba untuk membantu bayi mengikuti aliran ASI dengan lebih nyaman.
Saat menyusu, sebagian bayi bisa ikut menelan udara. Jika udara menumpuk di dalam perut, Si Kecil mungkin menjadi lebih mudah rewel, menggeliat, atau mengeluarkan kembali sebagian ASI setelah menyusu.
Karena itu, Mommy bisa mencoba membantu bayi bersendawa setelah menyusu atau pada jeda alami selama menyusui. Namun, tidak semua bayi selalu perlu bersendawa setiap kali selesai menyusu, jadi tidak perlu memaksakannya bila Si Kecil sudah terlihat nyaman.
Supaya prosesnya lebih mudah, Mommy bisa mencoba beberapa posisi yang sesuai dengan kondisi Si Kecil. Cari tahu langkah dan posisi yang bisa dilakukan melalui Bayi Sering Gumoh? Ini 3 Cara Menyendawakan Bayi Setelah Menyusu agar Tidak Rewel.
Setelah menyusu, gendong bayi dalam posisi tegak selama sekitar 20-30 menit bila memungkinkan dan tetap awasi Si Kecil. Cara ini dapat membantu mengurangi gejala refluks pada sebagian bayi.
Hindari langsung melakukan aktivitas yang banyak membuat bayi bergerak atau menekan area perut setelah menyusu.
Namun, saat waktunya tidur, tetap letakkan bayi telentang di permukaan yang datar dan keras, meskipun Si Kecil memiliki refluks. Jangan menidurkan bayi tengkurap, miring, atau dengan posisi kasur yang ditinggikan untuk mencegah gumoh karena posisi tersebut tidak lebih aman untuk tidur.
Coba catat kapan Si Kecil menyusu, seberapa sering gumoh atau muntah, apakah keluar sedikit atau banyak, serta apakah ada gejala lain.
Catatan sederhana ini bisa membantu Mommy melihat pola dan memudahkan dokter melakukan evaluasi bila muntah terjadi berulang.
Perhatikan juga tanda kecukupan ASI seperti jumlah popok basah dan pertambahan berat badan. Bila bayi sulit naik berat badan atau jumlah popok basah berkurang, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter.
Sebagian besar gumoh ringan pada bayi tidak berbahaya. Namun, muntah yang berbeda dari biasanya atau disertai gejala tertentu perlu segera diperiksa.
Segera bawa Si Kecil ke dokter atau fasilitas kesehatan apabila bayi mengalami:
Khusus pada bayi yang masih sangat kecil, terutama di bawah 1 bulan, muntah yang benar-benar kuat atau perubahan kondisi yang mendadak perlu mendapat perhatian medis lebih cepat. Muntah menyemprot berulang pada bayi usia beberapa minggu juga dapat menjadi tanda kondisi tertentu, seperti pyloric stenosis, sehingga perlu diperiksa dokter.

Bisa saja, Mom. ASI yang keluar kembali dan tampak kental atau menggumpal sering kali terjadi karena ASI sudah bercampur dengan isi lambung selama proses pencernaan. Kondisi ini terutama sering terlihat pada bayi yang mengalami gumoh atau refluks ringan.
Selama Si Kecil tetap terlihat sehat, mau menyusu, tidak mengalami muntah yang menyemprot, dan pertumbuhannya berjalan baik, Mommy biasanya tidak perlu langsung panik.
Yang terpenting adalah membedakan gumoh biasa dengan muntah yang perlu diperiksa. Perhatikan frekuensi, jumlah, warna muntahan, kondisi bayi setelah muntah, serta pertumbuhan dan jumlah popok basahnya.
Kalau muntah semakin sering, bayi tampak kesakitan, sulit menyusu, berat badan tidak bertambah, atau muncul tanda bahaya seperti muntah hijau maupun berdarah, segera konsultasikan dengan dokter anak.
Dengan mengenali penyebab dan tanda bahayanya, Mommy bisa lebih tenang dalam menghadapi Si Kecil yang sesekali muntah setelah menyusu.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.