Perlukah Mengonsumsi ASI Booster sejak Hamil untuk Meningkatkan Produksi ASI ?

Saat hamil, wajar jika Mommy ingin mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin untuk Si Kecil, termasuk urusan menyusui. Apalagi bagi new mom, ada banyak kekhawatiran menjelang persalinan. Salah satunya, “Nanti ASI langsung keluar nggak, ya?”
ASI memang menjadi sumber nutrisi utama bayi, terutama selama 6 bulan pertama. Pemberian ASI eksklusif juga memberikan berbagai manfaat bagi bayi dan Mommy.
Menariknya, tubuh sebenarnya sudah mulai mempersiapkan produksi ASI sejak masa kehamilan. Kolostrum, yaitu ASI pertama yang kaya protein dan antibodi, mulai diproduksi selama kehamilan dan pada sebagian Mommy bisa keluar menjelang persalinan.
Namun, apakah itu berarti Mommy perlu minum ASI booster sejak hamil agar setelah melahirkan ASI langsung banyak?
Jawabannya, tidak harus. Yuk, pahami alasannya.
DAFTAR ISI
Apakah Perlu Minum ASI Booster Saat Hamil?
Menurut dr. Aini, mengonsumsi ASI booster selama kehamilan sebenarnya tidak diperlukan hanya untuk mempersiapkan produksi ASI setelah melahirkan.
“Tidak perlu konsumsi ASI booster saat hamil, cukup lengkapi ilmu tentang ASI sehingga nanti tidak galau kalau ASI belum keluar saat awal-awal melahirkan.”
Pada hari-hari pertama setelah melahirkan, ASI yang keluar memang biasanya masih berupa kolostrum dan jumlahnya relatif sedikit. Kondisi ini normal karena kapasitas lambung bayi baru lahir juga masih kecil.
Jadi, ASI yang belum terlihat banyak pada awal kelahiran bukan berarti tubuh Mommy gagal memproduksi ASI.
Daripada buru-buru mencari produk pelancar ASI, Mommy justru bisa mempersiapkan beberapa hal yang lebih penting selama kehamilan, seperti:
- belajar tentang proses menyusui;
- memahami posisi dan pelekatan bayi;
- mengetahui tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup;
- mempelajari cara melakukan skin-to-skin contact;
- menyiapkan dukungan menyusui setelah melahirkan.
Baca Juga:
Kapan Tubuh Mulai Memproduksi ASI?
Produksi ASI merupakan proses yang sudah dipersiapkan tubuh sejak masa kehamilan.
Selama hamil, perubahan hormon membantu payudara berkembang dan mempersiapkan produksi kolostrum. Setelah plasenta lahir, perubahan hormon tersebut kemudian membantu tubuh beralih menuju produksi ASI dalam jumlah yang lebih banyak.
Karena itu, Mommy tidak perlu menunggu ASI keluar banyak saat hamil untuk memastikan nantinya bisa menyusui.
Bahkan, ada Mommy yang tidak melihat kolostrum keluar selama hamil, tetapi tetap dapat menyusui setelah bayi lahir.
Bagaimana dengan ASI yang Belum Banyak Keluar Setelah Melahirkan?
Ini adalah salah satu kekhawatiran yang paling sering dirasakan new mom.
Pada beberapa hari pertama, ASI yang keluar memang masih berupa kolostrum. Warnanya bisa kekuningan atau bening, teksturnya lebih kental, dan jumlahnya tidak sebanyak ASI matur.
Namun, kolostrum memiliki kandungan yang penting untuk bayi, termasuk protein dan komponen imun.
Jadi, jangan langsung menganggap ASI tidak cukup hanya karena jumlahnya terlihat sedikit.
Yang perlu diperhatikan justru apakah bayi menyusu dengan efektif dan menunjukkan tanda mendapatkan ASI yang cukup.
Apa yang Lebih Penting Dilakukan Saat Hamil?
Daripada terlalu fokus mencari cara agar ASI langsung melimpah setelah melahirkan, masa kehamilan justru bisa Mommy manfaatkan untuk mempersiapkan dasar menyusui sejak dini. Persiapan ini akan membantu Mommy lebih siap ketika menghadapi hari-hari pertama menyusui yang mungkin penuh penyesuaian.
1. Pelajari Dasar-Dasar Menyusui
Pengetahuan tentang menyusui bisa menjadi bekal penting, terutama bagi new mom. Mommy bisa mulai memahami pelekatan (latch) yang benar, posisi menyusui, frekuensi menyusu, hingga tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup.
Beberapa hal yang bisa dipelajari sejak hamil:
- Bagaimana posisi mulut bayi saat melakukan pelekatan.
- Bagaimana mengenali tanda bayi lapar melalui tanda bayi.
- Seberapa sering bayi biasanya menyusu.
- Tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup.
- Apa yang perlu dilakukan jika bayi sulit melekat atau menyusu.
Dengan bekal ini, Mommy tidak perlu terlalu panik ketika menemukan tantangan menyusui setelah persalinan.
2. Siapkan Skin-to-Skin Contact
Setelah bayi lahir, kontak kulit ke kulit antara Mommy dan Si Kecil dapat membantu membangun kedekatan sekaligus mendukung proses menyusui.
Jika kondisi Mommy dan bayi memungkinkan, skin-to-skin contact dapat dilakukan sesegera mungkin setelah persalinan sesuai kondisi medis dan prosedur fasilitas kesehatan.
Mommy bisa mendiskusikan rencana ini sejak masa kehamilan dengan dokter atau bidan, terutama jika ingin melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).
3. Utamakan Nutrisi Selama Kehamilan
Selama hamil, fokus utama Mommy adalah memenuhi kebutuhan nutrisi untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung tumbuh kembang janin.
Pastikan makanan sehari-hari tetap beragam dan seimbang, misalnya dari:
- Protein: ikan, telur, daging, tahu, dan tempe.
- Karbohidrat: nasi, kentang, oat, jagung, atau umbi-umbian.
- Lemak sehat: ikan, alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
- Sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat.
- Cairan yang cukup sesuai kebutuhan tubuh.
Tidak ada satu makanan atau minuman tertentu yang bisa menjamin ASI langsung melimpah setelah melahirkan. Jadi, Mommy tidak perlu memaksakan konsumsi makanan tertentu hanya karena dianggap bisa membuat ASI lebih banyak.
4. Siapkan Support System
Menyusui bukan hanya tanggung jawab Mommy. Dukungan dari orang-orang terdekat juga bisa membuat perjalanan menyusui terasa lebih ringan.
Sejak hamil, Mommy bisa mulai berdiskusi dengan:
- pasangan;
- keluarga;
- dokter atau bidan;
- konselor laktasi;
- atau tenaga kesehatan lainnya.
Dukungan ini akan sangat membantu ketika Mommy menghadapi situasi seperti bayi sulit latch, puting terasa sakit, jadwal menyusui terasa melelahkan, atau Mommy mulai khawatir dengan produksi ASI.
Bahkan, pasangan juga bisa ikut belajar tentang menyusui agar tahu bagaimana cara memberikan dukungan saat Mommy menyusui.
Jadi, Bolehkah Minum ASI Booster Saat Hamil?
Jawabannya tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”.
ASI booster atau suplemen tertentu tidak perlu dikonsumsi selama kehamilan hanya dengan tujuan agar ASI nantinya langsung banyak. Bukti mengenai efektivitas galaktagog selama kehamilan juga terbatas, dan keamanan setiap produk bergantung pada bahan serta dosisnya.
Jika Mommy sedang mempertimbangkan ASI booster saat hamil, jangan hanya melihat label “alami” atau klaim pelancar ASI. Periksa kandungan dan konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan atau tenaga kesehatan yang menangani kehamilan.
Terlebih, beberapa herbal atau bahan aktif tertentu belum tentu aman untuk semua ibu hamil.
Jadi, selama kehamilan, lebih baik fokus pada nutrisi yang seimbang, kesehatan kehamilan, serta persiapan menyusui. Setelah bayi lahir, jika Mommy mengalami kendala produksi ASI, penyebabnya sebaiknya dievaluasi terlebih dahulu sebelum menggunakan produk penambah ASI.
Kesimpulan
Tidak perlu minum ASI booster saat hamil hanya agar ASI langsung lancar setelah melahirkan.
Tubuh Mommy sudah mempersiapkan proses menyusui sejak masa kehamilan. Pada awal kelahiran, kolostrum memang keluar dalam jumlah kecil, tetapi kondisi tersebut normal dan sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
Yang bisa Mommy persiapkan sejak hamil justru:
- memahami dasar-dasar menyusui;
- belajar tentang pelekatan dan posisi menyusui;
- mempersiapkan skin-to-skin contact;
- menjaga nutrisi selama kehamilan;
- dan menyiapkan support system untuk perjalanan menyusui.
Jika setelah melahirkan Mommy merasa ASI belum cukup, jangan langsung menyalahkan diri sendiri atau buru-buru mengonsumsi ASI booster. Cari tahu dulu penyebabnya dan dapatkan bantuan dari konselor laktasi atau tenaga kesehatan.




Komentar
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!