
Momuung.com – Setelah melahirkan, Mommy mungkin pernah mendengar berbagai tradisi yang berkaitan dengan ari-ari atau plasenta. Salah satunya adalah ritual menanam ari-ari bayi. Bagi sebagian keluarga, menguburkan ari-ari merupakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun, bahkan dianggap sebagai bagian penting dari rangkaian kelahiran.
Tradisi ini memang memiliki tempat tersendiri dalam sejumlah budaya di Indonesia. Dalam beberapa komunitas Jawa, misalnya, ari-ari dipercaya sebagai bagian dari saudara atau pendamping bayi sehingga perlu diperlakukan dengan baik. Sementara itu, di daerah lain terdapat tradisi yang berbeda. Masyarakat Bayung Gede di Bali, misalnya, memiliki tradisi Ari-Ari Megantung, yaitu menempatkan ari-ari di dalam batok kelapa dan menggantungkannya di area khusus. Artinya, cara memperlakukan ari-ari tidak sama di setiap daerah dan memiliki makna budaya masing-masing.
Lalu, apakah menanam ari-ari memang wajib dilakukan agar bayi tumbuh sehat atau memiliki kehidupan yang baik? Yuk, bedakan mana fakta medis dan mana yang merupakan bagian dari tradisi.
Sebelum membahas ritualnya, Mommy perlu tahu bahwa ari-ari atau plasenta memang memiliki peran yang sangat penting selama kehamilan.
Plasenta merupakan organ yang terbentuk selama kehamilan dan menjadi tempat pertukaran berbagai zat antara ibu dan janin. Melalui plasenta, oksigen dan nutrisi dari tubuh ibu dapat disalurkan kepada janin, sementara karbon dioksida dan berbagai produk sisa dari janin dikembalikan melalui sirkulasi ibu. Plasenta juga menghasilkan sejumlah hormon yang mendukung kehamilan.
Namun, setelah bayi lahir dan plasenta sudah keluar dari rahim, fungsi tersebut sudah selesai. Bayi tidak lagi bergantung pada plasenta untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi karena kebutuhan tersebut dipenuhi melalui pernapasan dan pemberian makanan setelah lahir.
Jadi, secara medis, tidak ada keharusan untuk menanam atau menguburkan ari-ari agar bayi dapat tumbuh sehat. Penanaman ari-ari lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi atau ritual budaya yang memiliki makna tertentu bagi keluarga.

Tradisi menanam ari-ari dapat memiliki berbagai bentuk. Ada keluarga yang menguburkannya di sekitar rumah, memasukkannya ke dalam wadah tertentu, memberikan lampu, atau menambahkan berbagai benda dan rempah. Makna di balik setiap ritual pun dapat berbeda sesuai adat dan kepercayaan yang dianut.
Berikut beberapa hal yang sering ditemui dalam tradisi tersebut:
Dalam sejumlah tradisi Jawa, ari-ari dipercaya memiliki hubungan simbolis dengan bayi. Karena itu, ari-ari biasanya dikuburkan di sekitar rumah, bahkan pada lokasi tertentu yang dianggap sesuai.
Ada pula kepercayaan bahwa lokasi tersebut dapat memengaruhi hubungan bayi dengan rumah atau keluarganya. Namun, tidak ada bukti medis bahwa tempat ari-ari dikuburkan dapat menentukan kedekatan anak dengan keluarga, karakter anak, ataupun kehidupannya di masa depan.
Pemilihan lokasi lebih berkaitan dengan aturan adat dan makna simbolis yang diwariskan dalam keluarga. Bahkan, tradisi setiap daerah tidak selalu sama. Ada masyarakat yang menguburkan ari-ari, sementara tradisi lain memiliki cara berbeda untuk memperlakukannya.
Dalam beberapa tradisi Jawa, makam ari-ari dapat diberi penerangan selama periode tertentu. Bagi sebagian masyarakat, lampu tersebut memiliki makna simbolis sebagai pepadhang atau penerang bagi kehidupan bayi. Ada pula kepercayaan bahwa ari-ari perlu dijaga karena dianggap sebagai saudara atau pendamping bayi.
Makna tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan filosofi budaya, bukan kebutuhan medis bayi. Tidak ada bukti bahwa memberikan lampu pada tempat ari-ari dapat membuat bayi lebih sehat, lebih tenang, atau terhindar dari gangguan tertentu.
Jadi, apabila keluarga memilih melakukan ritual tersebut sebagai bagian dari tradisi, maknanya dapat dipahami sebagai simbol atau bentuk penghormatan terhadap adat, bukan sebagai tindakan medis untuk melindungi bayi.
Sebagian tradisi juga melibatkan berbagai rempah, bunga, beras, atau benda tertentu ketika ari-ari dikuburkan. Benda-benda tersebut dapat memiliki makna simbolis yang berbeda, misalnya sebagai perlambang kesejahteraan, keselamatan, kesuburan, atau harapan baik untuk masa depan anak.
Namun, tidak ada bukti medis bahwa rempah atau benda yang diletakkan bersama ari-ari dapat memengaruhi kesehatan, kecerdasan, karakter, atau keberuntungan bayi.
Makna yang melekat pada benda-benda tersebut berasal dari filosofi dan kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi. Dalam kajian tentang ritual ari-ari di beberapa daerah, berbagai perlengkapan memang digunakan sebagai simbol yang berkaitan dengan harapan terhadap kehidupan bayi.
Menanam ari-ari sebenarnya tidak memiliki satu bentuk ritual yang berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia. Setiap daerah dapat memiliki tata cara, perlengkapan, lokasi, dan makna yang berbeda.
Pada sebagian masyarakat Jawa, misalnya, ari-ari dapat dimasukkan ke dalam kendil atau wadah tertentu sebelum dikuburkan dan kemudian diberi penerangan. Sementara itu, masyarakat Bayung Gede di Bali memiliki tradisi Ari-Ari Megantung, yaitu menempatkan ari-ari di dalam batok kelapa dan menggantungkannya di lokasi yang telah ditentukan.
Hal ini menunjukkan bahwa ritual ari-ari merupakan bagian dari keragaman budaya dan adat istiadat, bukan prosedur medis yang memiliki satu aturan baku.
Yang paling menentukan kesehatan dan tumbuh kembang Si Kecil setelah lahir bukanlah lokasi ari-ari dikuburkan atau ritual apa yang dilakukan, melainkan kebutuhan dasar bayi yang terpenuhi.
Mommy dapat lebih fokus pada hal-hal yang memang berperan terhadap kesehatan Si Kecil, seperti pemberian ASI atau nutrisi yang sesuai, pemantauan pertumbuhan, imunisasi, tidur yang cukup, kebersihan, serta pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Jadi, Mommy tidak perlu merasa bersalah atau khawatir apabila tidak menjalankan ritual menanam ari-ari sesuai tradisi keluarga. Tidak melakukan ritual tersebut tidak berarti bayi akan mengalami masalah dalam tumbuh kembangnya.
Secara medis, tidak ada kewajiban untuk menanam ari-ari dengan ritual tertentu setelah persalinan. Bagi keluarga yang memegang adat atau tradisi tertentu, ritual tersebut dapat dilakukan sebagai bentuk penghormatan, simbol rasa syukur, atau bagian dari warisan budaya.
Yang perlu diperhatikan adalah penanganan ari-ari tetap dilakukan dengan cara yang bersih dan aman. Bila persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan, Mommy dapat mengikuti arahan tenaga kesehatan mengenai penanganan atau pemulangan plasenta sesuai kebijakan fasilitas tersebut.
Jadi, tidak perlu mempertentangkan tradisi dengan medis. Mommy tetap bisa menghargai tradisi keluarga selama ritual tersebut tidak menggantikan perawatan medis, tidak membahayakan ibu maupun bayi, dan tidak dijadikan dasar untuk mengabaikan anjuran tenaga kesehatan.
Ritual menanam ari-ari merupakan salah satu Tradisi Kelahiran yang memiliki makna berbeda-beda di berbagai daerah Indonesia. Sebagian masyarakat memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap ari-ari, simbol hubungan bayi dengan keluarga, atau doa dan harapan untuk kehidupan Si Kecil.
Secara medis, plasenta memang memiliki fungsi penting selama kehamilan karena membantu pertukaran oksigen, nutrisi, dan zat sisa antara ibu dan janin. Namun, setelah bayi lahir, fungsi tersebut telah selesai sehingga tidak ada bukti bahwa ritual menanam ari-ari menentukan kesehatan, karakter, kecerdasan, atau masa depan anak.
Jadi, apabila Mommy ingin mengikuti tradisi menanam ari-ari, ritual tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari budaya dan nilai keluarga. Sementara untuk menjaga kesehatan Si Kecil, tetap utamakan perawatan bayi, pemenuhan kebutuhan nutrisinya, pemantauan tumbuh kembang, dan anjuran dari tenaga kesehatan.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.